
Aryan bersandar di dinding memperhatikan seisi ruangan, Miya masih sibuk menyalami satu persatu tamunya. Sebenarnya dia bisa saja bergabung, tapi dia terlalu malas dengan urusan bisnis.
Mumpung tidak ada yang mengenalinya kan! Mending dia bersantai sejenak sebelum kembali ke rumah sakit.
Dia mengambil hapenya, memainka game yang sebenarnya tidak terlalu menarik tapi cukup untuk membuang waktu senggang. Sebenarnya bukan cuman itu, dia juga merasa risih karena beberapa perempuan berbisik sambil melirik ke arahnya.
Dia melirik ke samping saat seseorang ikut bersandar di sebelahnya, Manaf berdiri sambil melihat ke arah kakaknya. "Tidak menemani Miya?" tanya Manaf.
Aryan melihat Miya sekilas sebelum melihat ke gamenya, dia berbicara dengan enggan "dia harus terbiasa sendiri menghadapi orang lain, Miya bukan tipe yang suka diekori ke mana mana, dia gampang risih."
Manaf menatap pria yang main game itu, dia masih merasa kurang percaya saja kalau mereka berhubungan. Jujur saja dulu dia tidak menyukai Aryan, biar bagaimana pun ini tentang kekuatan.
Remaja laki laki paling benci kekalahan, tapi sekarang tidak lagi. Saat memikirkannya Manaf akan merasa geli sendiri, iri yang sama sekali tidak berguna.
"Kayaknya dia mulai suntuk!" ucap Manaf, Aryan mematikan ponselnya dan menatap Miya.
"Kakak lo memang rada aneh."
"Aneh tapi lo pacarin juga!" dengus Manaf, "serius, kok lo mau sama speaker elekton begitu! Enggak ada yang lain emang?"
Aryan memasukkan tangannya ke saku, dia menyeringai ke Manaf. "Sebenarnya banyak, tapi kasian entar kakak lo sama siapa? Kuping gue juga sudah kebal."
Manaf menatapnya dengan tatapan muak, "sama sama sinting rupanya."
Miya langsung menoleh mendengar suara kekehan Aryan, dia melihat adik dan pacarnya tengah mengobrol entah apa. Tapi yang membuat Miya kurang nyaman adalah Aryan menjadi pusat perhatian lawan jenis, dia membalikkan badannya mendekati mereka.
Miya berdiri di antara mereka berdua.
"Biasanya Mi, orang ketiga itu setan!" kata Aryan, Miya mendengus kearahnya.
"Wah... Setelah hom*an sama Kennan dan Dimas, lo ngelirik adek gue juga."
Aryan menaikkan sebelah alisnya, sudut bibir tertarik "Lo baru sadar?"
Miya menarik nafas, dengan kesal dia memukul lengan Aryan yang hanya tertawa. Manaf memilih melarikan diri, malas bersampingan dengan orang tidak waras.
"Akh...sakit Mi! Aduh!" Aryan menahan pergelangan tangan Miya dengan satu tangan, tangan lainnya mengelus lengan yang dipukuli Miya. "Kayaknya temen cewek yang gue kenal pelaku kekerasan semua!"
"Oh... Jadi gue temen?" ucap Miya dengan nada menyebalkan.
Aryan tersenyum manis, menundukkan kepalanya sampai keningnya menumpu di pundak Miya. "Gue sentil juga lo, Mi."
__ADS_1
Uhuk... Uhuk... Uhuk!
Aryan menegakkan tubuhnya mendengar batuk meledek, Miya langsung menoleh. Andin tersenyum meledek, dia menunggu momen seperti ini.
"Ekhem, tau kok masih baru. Tapi lihat tempat dong!" ucap Andin masih sambil mesem mesem tidak jelas.
Miya mendengus, tak lama dia menggandeng tangan teman serta rekannya itu. Dia berbisik pada Andin, "Ajak gih pak Griffin, kasian noh mojok sendirian kayak wallpaper dinding ganteng."
Mereka berdua langsung menoleh ke tempat yang Miya maksud, di pojokan ada Griffin berdiri seperti tidak ada gairah hidup.
"Neneknya sekarang dirawat intensif, karena tidak sadarkan diri." ucap Aryan yang menimbrung ucapan wanita wanita di depannya.
"Kok lo tau?" Miya bertanya, Aryan menepuk kepelanya.
"Gue yang bertanggung jawab atasnya." Miya dan Andin mengangguk bersamaan.
Tidak lama ruangan tiba tiba heboh, tiga orang masuk dengan beberapa bucket di tangan masing masing. Mereka mencari Miya, itu bunga untuknya.
Miya langsung mendekat, tentunya dia menarik Aryan mendekat. "Terima kasih," ucap Miya setelah bucket-bucket itu diletakkan di salah satu meja.
"Dari siapa?" Aryan bertanya, melihat setiap bunga ada kartu namanya mereka percaya bunga bunga itu dikirim oleh beberapa orang.
"Kayaknya dari anak-anak!" Miya memperlihatkan salah satu kartu ucapan selamat, pengirimnya dari Sasha.
"Padahal lebih bagus kalau ngirim duit ke rekening!" dengus Miya tapi dia tetap menerimanya dengan senyum merekah. "Ini pasti Zain yang tulis! Tulisannya jelek banget!"
Aryan ikut melihat ke kartu, seperti yang Miya katakan, itu tulisan Zain. Kening Aryan terangkat saat melihat isi kartu, dia dengan cepat mengambil dari tangan Miya.
*Dear Miya Biduan Kesayangan!
Mi, ini hadiahnya murah dulu ye. Setelah lo nikah sama si kutu kupret Aryan, gue hadiahin perabot mahal*.
Miya dan Aryan saling menatap, seolah mereka satu pikiran mereka langsung menyeringai. Kapan lagi coba?
"Gue berencana beli rumah setelah menikah, kayaknya memang butuh perabot!" ucap Aryan.
Miya juga memegang dagunya, "dari dulu gue pengen punya kulkas harga tiga digit."
Di kantornya, Zain merasa bulu kuduknya meremang.
Miya yang baru melihat isi kartu Zain, dia tiba-tiba punya ide cemerlang. Punya teman orang kaya itu harus di manfaatkan, kapan lagi ada kesempatan emas seperti ini.
__ADS_1
"Yan, lo mikirin apa yang gue pikirin enggak?" dia menoleh menatap Aryan, pria itu menganggukkan kepalanya.
"Kayaknya." sepertinya kali ini, Aryan akan memakai statusnya sebagai anak paling bungsu di kelas. "Anak bungsu, tidak buruk juga."
"Ke mane aje pak, kenapa baru sadar!" Miya meminta beberapa staff membawa bunga bunganya. "makanya Cia sama si Boim suka kalau jadi bontot."
Aryan mendengus "sesekali lo coba deh jadi bontot, utamanya bontotnya Alisa!"
Satu-satunya yang Aryan sesalkan dari orang tuanya, kenapa dia tidak dilahirkan sebelum Alisa. Meski hanya sepupuan, Alisa benar benar menikmati perannya sebagai kakak.
Mana mereka sama sama anak tunggal.
Mana Aryan dilarang memanggil nama, Alisa memintanya memanggil dirinya 'Yang Mulia' atau 'Tuan Putri'. Aryan bahkan memanggilnya seperti itu sampai mereka SMA, setelah lulus pun dia masih sesekali memanggil seperti itu.
"Memang Alisa kenapa? Kelihatan kok kalau lo itu dimanjain sama dia."
Aryan memasang wajah cemberut, memang Alisa cukup memanjakan Aryan, tapi Miya tidak tahu seberapa sering juga dia dihajar habis-habisan sama Alisa, ya memang salahnya juga.
"Tapi kenapa mereka kepikiran serentak beli bunga ya?" tanya Miya mengubah topik, tadi dia juga mendapatkannya dari Alisa dan Aryan. "Jangan jangan kalian janjian!"
Tidak tahu saja Miya, kalau mereka memang janjian mau kasih bunga.
"Itu bunga dari siapa tadi, kak? Banyak sekali." Maminya berjalan ke arah mereka.
Miya maupun Aryan langsung berdiri tegap.
"Dari teman-teman Miya, teman sekolah."
Wanita paru baya itu mengangguk mengerti, tadi dia juga sedikit terkejut dengan kedatangan setumpuk bunga bunga tersebut.
Dia kemudian menatap kedua sejoli di depannya, dia sudah memperhatikannya sejak tadi. Dari Aryan mendekatinya dengan sebucket bunga, sampai tadi mereka melihat siapa pengirim bunga bunga itu.
Dia menghela nafas, membalikkan badannya meninggalkan mereka. Miya dan Aryan saling menatap, mereka sama sama kebingungan.
Langkah Mami Miya terhenti, membuat pasangan yang tadi merasa lega kembali tegang.
"Aryan!"
"Iya tante?"
Mami Miya meliriknya, "bawa keluargamu secepatnya ke rumah, tidak baik pasangan belum menikah terlalu menempel. Apa kata orang nanti."
__ADS_1
Miya dan Aryan saling menatap, mereka kembali melihat punggung wanita paru baya itu tidak percaya.
Aryan dengan nada tegas menjawab, "baik."