
Setelah beberapa minggu sibuk di kantor, Miya akhirnya memiliki waktu untuk bertemu dengan adik iparnya. Sekarang mereka berada di resto Alga, dia merasa lebih leluasa saat berada di sini.
"Hanya ini Mi? Enggak ada menu lain?" Alga meletakkan menu terakhirnya di meja, Miya menggelengkan kepalanya. "Tumben!"
"Diet." jawabnya asal, "Thanks ya Ga."
"Ya." dia mengambil nampannya, "kalau ada apa apa, lo panggil mbak Wilsa."
"Iyaa..." ucap Miya gemas, "lo cerewet banget, kelamaan main sama Aryan lo."
"Gue mah masih mending, main doang. Lah elo malah tidur bareng."
Miya mengambil sedotan dan melemparnya ke Alga, "As* kerja sana!"
Alga tertawa dan berjalan masuk, pelanggan sedang ramai-ramainya. Dia juga tidak bisa lama lama, karena sepertinya Miya terlihat ingin bicara serius dengan orang di depannya.
Miya menyesap teh yang dia pesan, dia merindukan rasa ini.
"Lo kenal orang tadi?" tanya Rayna basa-basi.
Miya menganggukkan kepalanya, "dia yang nanggung katering waktu nikahan gue."
Semua makanan yang ada di pernikahan Miya semuanya gratis, jadi bagaimana bisa dia lupa soal itu. Yang dia tidak mengerti, kenapa pihak resto malah menggratiskannya?
"Oh!"
Miya meletakkan gelasnya, menatap serius ke teman yang merangkap jadi adik ipar itu. Miya sebenarnya ingin membahas apa yang diberitahukan oleh Aryan, tapi dia tidak tahu bagaimana memulainya.
Entah kenapa sekarang suasana tiba tiba akward.
Miya menarik nafas berlahan, "Gue sudah dengar."
Tangan yang tadinya ingin memasukkan makanan terhenti, Rayna langsung meletakkan makanannya dan menatap Miya.
"Soal itu aku tidak bermaksud," Miya menautkan kedua tangannya. "Sorry kalau lo tersinggung sama sikap gue."
"Gue boleh makan dulu, ngak?" tanya Rayna, dia berusaha mencairkan suasana dan juga memang dia lapar.
"Silahkan!"
Rayna makan dengan berlahan, merasa kalau permbicaraan mereka nanti serius antar ipar. Setelah Rayna menghabiskan makanan utama, Miya kembali memesan makanan pencuci mulut.
Kali ini dia akan membayar semuanya.
"Gue benar benar minta maaf kalau lo tersinggung!" Miya kembali membuka topik pembicaraan.
Rayna menatap kakak iparnya itu, "gue bukannya tersinggung, tapi entah kenapa gue merasa kalau lo enggak nganggep gue keluarga lo."
"Gue tidak begitu." ujar Miya, tangannya mengadukkan sendok ke dalam gelasnya. "Semenjak Manaf ngenalin lo sebagai pacar, gue tidak pernah mempermasalahkanmu."
__ADS_1
"Tapi gue merasa begitu!" Rayna memandang ke arah lain, "lo tidak pernah ngizinin gue buat manggil lo dengan panggilan yang sama seperti keluarga lo memanggil lo!"
Miya menggaruk pipinya dengan pelan, bagaimana dia menjelaskannya ya?
"Kalau soal nama, seharusnya lo ngak usah terlalu pikirin."
"Apa?"
Miya tersentak dengan seruan Rayna, untung dia cepat sadar kalau mereka di tempat umum.
"Sebenarnya, alasan gue ngak suka lo panggil Miya bukan karena tidak suka sama lo." Miya menggigit bibir bawahnya saat Rayna menatapnya tajam. "Gue sudah terbiasa dengan panggilan Sarina, kalau tiba tiba lo manggi Miya juga, rasanya sedikit jengkel."
"Tapi orang rumah manggil lo Miya, bahkan teman teman lo!" ucap Rayna dengan nada mencicit di kalimat terakhirnya.
Miya menghela nafas, "karena sejak awal mereka memanggil gue itu, tidak ada yang manggil gue Sarina." dia mengambil garpu kecil dan memotong potongan cake di depannya. "Tapi gue memang seperti ini orangnya, gue cuman bisa minta maaf kalau lo tidak nyaman."
"Gue bisa panggil lo Miya juga?"
"Terserah, senyaman lo saja." Miya tidak mau ambil pusing lagi.
Senyum wanita itu terangkat sesaat kue masuk ke mulutnya, benar benar sesuai seleranya. Miya tidak suka makanan kalau terlalu manis, rasa manis gampang bikin eneg.
"Mbak Wilsa!" Miya mencegah pegawai yang di kenalnya.
"Eh, Mbak Miya." serunya, "kenapa?"
"Mau pesan kue ini lagi mbak," Miya menunjuk piringnya yang hampir kosong, "bungkusin ya Mbak!"
Miya menganggukkan kepalanya. "Memang siapa lagi?".
Wilsa langsung tertawa, "aku tuh masih tidak percaya loh! Maksudku, kalian selalu bertengkar walau tidak separah mas Zain dan Mbak Cia. Tapi tetap saja..." dia menghela nafas panjang, "kalian bahkan tidak pernah terlihat seperti menjalin hubungan."
"Ya gimana ya mbak, Tuhan kasih aku jodohnya dia." keduanya kemudian tertawa "Tapi enggak rugi sih, dia ganteng sama kaya."
"Yee... Mbak Miya bisa saja. Ya sudah deh Mbak, saya siapin pesanan Mbak dulu." dia kemudian pamit ke dapur.
Miya menghilangkan senyumnya, senyum lama lama lumayan melelahkan sudut bibir. Dia kemudian memakan sisa kuenya, mubazir kalau tidak habis.
Mana bayarnya juga mahal.
Sambil memegang paper bag berisi kue, Miya dan Rayna berjalan keluar dari resto. Miya harus kembali ke rumah karena dia berencana membuat makan malam, sedangkan Rayna harus kembali karena dia hanya meninggalkan anaknya dengan pengasuhnya.
"Eh!"
Miya dan Rayna terkejut bersamaan, di pintu masuk mereka berpapasan dengan Aryan dan beberapa pria yang tampaknya seumuran. Aryan langsung berjalan mendekatinya, memeluk pinggangnya dan mencium pelipisnya.
"Hadeuh... Manten baru!" keluh Rayna.
Aryan terkekeh, tentunya membuat orang yang datang bersamanya kaget.
__ADS_1
"Bukannya lo di rumah sakit ya?" tanya Miya, dia melepaskan pelukan Aryan karena mereka tepat berada di pintu.
"Istirahat," dia melihat Miya "kalian mau pulang?"
"Iya."
"Kamu nyetir?" pasalnya pagi tadi Aryan yang mengantarnya, dia bertanya karena melihat kunci mobil di tangan Miya.
"Tentu saja!" dia menggoyangkan kunci di depan wajah Aryan, "lo ngak perlu jemput, gue mau langsung pulang sekarang."
Aryan sebenarnya cukup khawatir kalau Miya berkendara sendiri, soalnya di rumah sakit banyak pasien korban begal.
"Eh! Kamu yang waktu itu di acaranya Razakkan?" tanya Abdi setelah dari tadi memperhatikan Miya, "Astagaa...enggak nyangka gue."
"Sebenarnya yang bikin kaget itu bukan pasangan Aryan, tapi berita Aryan yang menikah." Reza menepuk pundak temannya itu, "siapa yang sangka manusia kutub utara-selatan ini akan menikah."
Miya menatap kedua teman Aryan dengan kening mengkerut, dia merasa kalau pernah melihat mereka. Tapi entah di mana, Miya melupakannya.
"Lo pernah ketemu di nikahan Zara dan Razak." beritahu Aryan saat melihat kebingungan Miya.
Miya langsung berseru ingat.
"Gue Abdi, ini teman gue Reza." dia mengulurkan tangannya untuk bersalaman, Miya tentu menyambutnya. "Maaf tidak bisa hadir ke pernikahan kalian, selain karena kupikir ini lelucon yang dibuat anak anak, kami juga bekerja di luar kota."
"Tidak masalah dan jangan terlalu dipikirkan, dan ya, saya Sarina." Miya memperkenalkan dirinya, tidak lupa dia melihat Rayna dan memperkenalkannya juga. "Ini adik Ipar saya, Rayna."
"Halo!" giliran Rayna yang saling bersambut uluran tangan.
"Maaf, sepertinya kami tidak bisa berlama lama." ucap Miya setelah saling lempar kode dengan Rayna.
"Iya, silahkan."
Aryan meminta kedua temannya masuk lebih dulu, sedangkan dia mengantarkan mereka ke parkiran.
"Hati-hati." ucap Aryan.
Miya membuka pintu mobilnya, "Iya. Sono masuk lu."
Aryan mencium pipi Miya, "Biar gue nanti yang jemput Ryan dari rumah temannya, lo langsung ke rumah." ujar Aryan yang diangguki Miya.
"Iya," saat hendak masuk, Miya kembali menatap Aryan. "Gue bakal masak malam ini, jangan terlalu kenyang kalau makan di luar."
Giliran Aryan yang menganggukkan kepalanya, Miya tersenyum puas dan langsung masuk mobil. Aryan masuk ke dalam Resto setelah memastikan Miya berangkat, betapa kagetnya dia saat Alga kebetulan ada di pintu.
"Beuhh... Angetnya manten baru!" ledeknya.
Aryan mengangkat sudut bibirnya, berjalan ke arah teman lamanya itu. Aryan menepuk pundaknya dan berbisik, "makanya nikah lagi saja sana."
"As* lo!"
__ADS_1
Aryan terbahak dan langsung berlari masuk, Alga bisa menendangnya kalau dia berlama lama di sana.