Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 28


__ADS_3

Setelah memastikan anak anak itu masuk, Aryan dan Miya juga berdampingan masuk ke dalam gedung di mana Rayna di rawat. Miya berjalan sambil membalas pesan nasabah yang bertanya tentang beberapa hal, sedangkan Aryan sibuk dengan catatan medis di tangannya.


Buk


"Aduh!" Miya mengaduh karena tiba tiba menabrak punggung Aryan, pria itu menoleh "Kenapa berhenti mendadak sih?"


"Sorry."


Miya mengangkat sebelah keningnya, karena penasaran dia mengintip dari belakang punggung Aryan. Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, terlihat dua dokter sedang berbicara.


Dia mendongak dan mendapati wajah serius Aryan, "Kenapa?"


Aryan tidak menjawab dan hanya memberi isyarat agar dia tidak bersuara, meski tidak tau kenapa tapi Miya tetap menuruti perintah Aryan. Yang Miya tangkap dari percakapan itu adalah tentang rapat saham, dia pikir hanya perusahaan saja yang seperti itu.


Ternyata rumah sakit juga ada.


"Gue bisa keluar ngak dari sini?" tanya Miya, Aryan melirik Miya dan melihat dua dokter itu lagi.


"Ayo!" Dia berjalan lebih dulu dari Miya, saat mendekati dua dokter itu menyapa mereka seolah tidak mendengar apapun. Miya yang melihatnya hanya takjub, Aryan bener bener dah.


"Apa itu kekasihmu, Ar?" salah satu dari mereka, dia menatap Miya dari bawah ke atas.


"Bu-"


"Iya!" Aryan menjawab memotong kalimat Miya, tapi tak lama mereka pamit.


Plak!


"Apa sih Mi?" Aryan mengelus lengannya, gadis itu menatapnya kesal.


"Lo apa apaan? Apa itu tadi?"


Aryan memiringkan kepalanya "Apa?"


"Ngak usah pura pura beg*, apa itu tadi?" Miya menendang kaki Aryan karena marah, pria itu menghela nafas panjang.


"Lo ngak lihat mata dia tadi? Lo ngak risih?" Dia menggaruk keningnya "Dia bukan orang yang baik, kalau ketemu dokter itu lagi abaikan saja."


"Kenapa?"


"Karena isi kepalanya tidak baik Miya, dengerin aja sih apa kata gue."


"Ya gimana gue mau dengerin kalau lo ngak ngejelasin bener bener."


Aryan menatap lurus ke dalam mata Miya, gadis itu membuang muka "Dia terkenal suka ngejar cewek cewek yang menarik perhatian dia, lo mau?"


"Tua bangka begitu?" Aryan menganggukkan kepalanya "Gimana kalau punya pacar atau suami?"

__ADS_1


"Beberapa masih dia kejar."


"Memang ada yang mau?"


Aryan membalikkan badannya dan berjalan lebih dulu, "Karena dia punya uang."


Miya terkejut tapi kemudian menyusul Aryan "Kayaan mana lo sama dia?"


"Dari duit sendiri tidak sebanyak dia, tapi kalau dihitung bersamaan dari duit bokap, masih kayaan gue."


Miya langsung memukul punggung Aryan sambil tertawa "Jadi utang uang kas lo gue kasih berbunga bunga ye."


"Apaan!"


Miya melewati Aryan dan berjalan di depannya "Lo kan tajir, Yan. Ya kali ngak kasihan sama pekerja biasa kayak gue?"


"Pekerja biasa!" Aryan mendengus "Mana ada pekerja biasa gaji gede? Lo juga punya saham di tempat lo kerja."


"sok tau!"


"Memang bokap lo bakal biarin lo tanpa itu?" Miya tidak menjawab, dia menyampirkan rambutnya yang tertiup angin yang melalui jendela.


"Entah," dia mengedikkan bahunya.


Miya kembali menghadap depan, berjalan dengan tangan di belakang yang saling bertaut. Tatapannya lurus ke depan, dia harus buru buru sampai di tempat Rayna.


"Apa?"


Miya meliriknya sebentar sebelum menatap jalannya lagi, "Lo masih ke sana? "


"ke sana mana?"


"Ke makam orang yang menjadi alasan lo jadi dokter." ucap Miya, Aryan menghentikan langkahnya membuat Miya menatapnya. "Jangan bilang lo ngak pernah ke sana!"


Aryan menghela nafas "Terakhir dua tahun lalu."


"Aryan Galih Ranggara, lo ngak pikir ini keterlaluan?" Miya menggelengkan kepalanya. "Lo hutang banyak tau sama dia."


"Tau," dia memasukkan tangannya ke saku, pandangannya beralih ke samping "Gue terlalu sibuk, bagaimana dengan lo?"


Miya kembali membalikkan badannya dab berjalan lurus "Setiap dia ulang tahun, gue selalu ke sana."


Aryan diam dan menatap punggung kecil itu. "Kannn...!"


Miya kembali terkekeh, begitu sampai di ruangan Rayna, Aryan langsung pamit karena ada pemeriksaan. Dia berjalan ke ruangan beberapa pasien, dia harus kembali memeriksa untuk memastikan kesehatan mereka.


Aryan memeriksa dengan sangat telaten, saat merasa pasien gugup dia akan mengajaknya bicara agar mereka nyaman.

__ADS_1


"Berapa umur anda dokter? Dokter sangat mudah," seorang nenek bertanya, Aryan tersenyum kecil.


"Dua puluh delapan, Nek!" dia menjawab dengan sangat singkat.


"Punya pacar?"


Aryan mengambil suntikan, dia hanya tersenyum mendengar pertanyaan itu. Semenjak lulus dari bangku perkuliahan, pacar bagi Aryan adalah hal yang tabuh.


Tepatnya dia tidak pernah memikirkannya lagi, mengingat banyaknya pasien yang datang silih berganti.


"Nenek punya cucu, cantik baru kemarin lulus kuliah. Mau nenek kenalkan?"


Aryan mendongak, ini bukan pertama kalinya ada pasien seperti ini. Aryan mengambil suntikan lain, dia akan memasukkan obat ke dalam botol infus, biasanya yang mengerjakan ini adalah suster tapi kali ini dia melakukannya sendiri karena datang seorang diri.


"Maaf nek, tapi saya punya tunangan." bohong tentu saja, tapi ini adalah alasan yang manusiawi untuk menolak.


Wajah nenek yang tadinya bersemangat langsung kecut, ini juga bukan pertama kali Aryan melihatnya.


"Benar, kamu kan ganteng tidak mungkin jomblo."


Jleb....


Sekarang dia merasa benar benar ngenes, dia memang tidak memiliki pasangan. Tapi yang dia pikirkan sebelumnya benar adanya, yang ada di kepalanya memang hanya pasien.


Aryan menghela nafas panjang begitu keluar dari ruangan itu, dia tidak suka berbasa basi terlalu lama. Dia berjalan menyusuri koridor rumah sakit, sambil membalas sapaan beberapa orang tanpa ekspresi.


"Hoamm.." dia menutup mulutnya saat menguap, Aryan belum tidur sama sekali.


"Dokter Ar!" Aryan menoleh dan melihat seorang suster berlari ke arahnya "Apa dokter memiliki operasi hari ini?"


"Tidak."


Perawat itu langsung tersenyum "Kalau begitu, apa dokter tidak keberatan membantu operasi dokter Camelia?"


"Tidak." bukan karena dia tidak peduli terhadap pasien, tapi kalau mengoperasi dengan kondisi seperti ini, semua bisa berakhir fatal kedepannya.


"Tapi Dok kam-" Aryan mengangkat tangannya menghentikan ucapan perawat itu "Dok!"


"Saya mengantuk!"


Aryan kembali berjalan sambil beberapa kali menguap, bahkan air matanyanya jatuh dari pelupuknya. Saat ini kalau Aryan duduk, dia bsa saja tidur di tempat itu.


Soalnya sudah dua hari dia hampir tak bisa tidur.


Sampai di tempat istirahat, Aryan hanya meletakkan catatan medis di meja lalu melemparkan dirinya ke kasur. Dia bahkan tidak melepaska jasnya, jangankan jas, sendal pun dia sama sekali tidak membukanya.


Rehan yang kebetulan melihat itu takjub, bagaimana ada orang yang bisa langsung tidur begitu kepalanya menyentuh bantal? Rehan bisa melihat kantung mata di bawah mata Aryan, pemandangan yang lumrah bagi seorang dokter.

__ADS_1


"Apa gue salah milih profesi ya?" Rehan menggaruk kepala dan berjalan keluar dari kamar, tinggal di dalam hanya akan menganggu istirahat rekannya.


__ADS_2