Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 20


__ADS_3

Aryan mengibaskan kerah jasnya karena kepanasan, dia baru saja dari ruang operasi dan sekarang berada di taman rumah sakit. Dia ingin istirahat sebentar, padahal kerjaannya masih sangat banyak.


Pandangannya tertuju ke atas langit, pemandangan yang tidak pernah berubah bahkan sejak dulu. Dia memejamkan matanya karena mengantuk, hari ini dia menjalankan tiga operasi dengan waktu yang tidak singkat.


Hari ini dia lelah mental dan fisik, karena satu diantara tiga pasien yang di operasi meniniggal. Pasien itu adalah pria renta yang akan melakukan pemasangan ring pada jantung, tapi belum sempat mereka melakukan operasi pasiennya sudah meninggal.


Padahal hari sebelumnya tidak masalah dan terlihat senang karena akan di masukkan ruang operasi.


Dia membuka matanya saat merasakan ada benda dingin di letakkan di keningnya, pandangan yang dia dapati adalah pria yang memakai jas yang sama dengannya. Dia mengambil kaleng soda di keningnya dan menegakkan duduknya, membiarkan orang yang menghampirinya duduk di sampingnya.


Cess...


Dia membuka kaleng dan langsung menyesap isinya, dia kembali menghela nafas panjang.


"Aku mendengarnya," Libra menoleh ke arah Aryan "Hari ini kamu kehilangan pasien."


Aryan menundukkan kepalanya "Ya, sebenarnya sejak awal memang sudah tidak ada harapan." dia menghela nafas panjang "Tapi beberapa hari belakangan, ada perubahan dalam kondisi beliau. Dan tidak ada yang salah kalau akan di operasi, tapi bahkan belum sempat di bius beliau meninggal."


"Itu pemandangan yang lumrah!" Libra juga menyesap minumannya "Sebagai dokter dan melihat pasien meninggal di depan mata membuat kita sesak, tapi hanya dokter manusia bukan Tuhan."


"Hn" hanya itu tanggapan Aryan.


"Oh iya, Yan!" Aryan menoleh ke arah Dokter Libra, dokter berperawakan bule itu menyeringai ke arahnya "Beberapa hari yang lalu kamu sepertinya membuat gempar rumah sakit."


Gempar rumah sakit? Aryan mengkerutkan keningnya, apa maksudnya.


Libra menyesap habis minumannya, kemudian melempar kaleng kosong ke tempat sampah terdekat "Soal senyum ke cewek!"


Aryan makin mengkerutkan keningnya "Bukannya itu hal yang biasa?" dia menggelengkan kepalanya, aneh!


Libra berdiri sambil meregangkan tubuhnya, "Ia benar, tapi akan aneh kalau itu kamu. Ah... Capeknya!" dia menggerakkan kepalanya ke samping kiri dan kanan.


"Di mana letak anehnya," Aryan ikut berdiri dan melempar kaleng juga ke dalam tong sampah "Otak mereka yang aneh, aku masuk duluan, dok!"

__ADS_1


Aryan melambai sambil masuk lebih dulu, rasa lelahnya sudah sedikit berkurang.


Libra menatap punggung Aryan yang berlalu, kemudian menatap bangunan yang tepat di hadapan mereka duduk tadi, gedung khusus pengidap kanker.


"Sama sama aneh!" dia meraih ponselnya dan menelfon orang rumah, mengatakan kalau dia akan pulang malam.


Aryan berjalan masuk masih sambil mengibaskan kerah bajunya, hari ini memang sangat panas sekali. Dia berencana kembali ke kamar istirahat untuk mandi, setidaknya mengurangi rasa panas yang menyengat sampai terasa ke dalam kulit.


"Dokter Aryan!" salah satu rekan yang tinggal di ruangan yang sama menyapa, "Baru selesai operasi dok?"


"Ya."


Aryan membuka jasnya dan melemparnya asal di atas kasur, dia mengambil handuk yang di gantung lalu masuk ke kamar mandi. Bersyukurnya rumah sakit itu menyediakan banyak fasilitas untuk dokter dan perawat, sehingga mereka tidak perlu bolak balik ke rumah dan rumah sakit.


Dia tidak membutuhkan banyak waktu untuk mandi, selain karena ini rumah sakit dia juga masih banyak yang harus di lakukan. Dia keluar dengan pakaian sudah di ganti, masih dengan handuk di kepala dia berjalan ke meja kerja dan membuka laptopnya.


Dia harus menyerahkan hasil penelitian yang dia kerjakan beberapa hari lalu.


"Memang sudah tidak ada operasi lagi?" Rayhan—teman sekamarnya bertanya, Aryan menggelengkan kepalanya.


Dia sebenarnya bisa mengerjakannya lebih cepat, tapi banyak pasien yang harus di urusnya. Di tambah lagi, dalam waktu dekat ini akan ada pergantian direktur rumah sakit.


Jadi dokter dokter senior sibuk mencari relasi, jadinya dokter junior seperti mereka yang sibuk menangani pasien-pasiennya. Di tambah lagi beberapa dokter senior memilah pasiennya, mereka hanya mau menangani VIP saja.


Bang*ke memang, tapi beginilah realita dunia pekerjaan, apapun profesinya.


"Dokter Ar!" panggil Rayhan, "Apa Dokter pernah ke club?"


Aryan menghentikan tangannya yang mengetik, dia menoleh "Kenapa?"


Rayhan mengedikkan bahunya "Aku belum pernah kesana, apa dokter mau mencobanya?" Rayhan hanya penasaran.


"Tidak!"

__ADS_1


"Hidup dokter terlalu lurus." Rayhan berucap seolah dia pernah merasakan.


Tidak tahukah Rayhan, Aryan sudah melakukan banyak kenakalan di masa SMA nya? Masuk keluar ke club, tawuran, balap liar, mabuk mabukan dia pernah melakukan semuanya. Kecuali narkoba dan main perempuan, terima kasih kepada Alisa yang selalu keras kepadanya dan pacar yang sabar mendengarkan ocehannya kalau sudah mabuk.


Dan setelah semua itu, dia sudah bosan melakukannya. Tujuannya sekarang hidup lebih baik saja, cukup dia menghancurkan dirinya di SMA.


"Aku benar benar penasaran."


Aryan menutup laptopnya, dia berdiri dan mengambil jasnya bersiap keluar. "Sekali masuk akan sulit untuk keluar."


Rayhan menatap punggung Aryan yang berlalu, tidak mengerti kenapa seniornya mengatakan itu padanya.


"Apa itu tadi?" Rayhan memiringkan kepalanya "Wejangan?"


Aryan berjalan sambil melihat jam di tangannya, dia harus kembali memeriksa pasien yang baru saja dia operasi. Tidak butuh waktu lama karena beberapa perawat cukup cekatan, dia hanya perlu memastikan kalau mereka tidak salah.


"Dokter Ar!' Aryan yang berjalan ke arah finding machine menoleh, camelia berlari pelan ke arahnya. "Pemeriksaan rutin?"


"Ya." jawabnya singkat, dia kembali berjalan saat Camelia berjalan berdampingan.


"Apa ini shift malam dokter?" Aryan tidak menjawab tapi hanya melihatnya, mereka sudah berhenti di depan finding machine. Aryan mengeluarkan uangnya dan memasukkannya ke lubang di mana tempat uang dimasukkan. Menekan minuman yang akan dia beli. "Saya mau minta tolong."


Aryan menunduk mengambil minuman kaleng yang baru dia beli, "Apa?" dia berdiri tegap menatap Camelia.


Gadis itu menggenggam tangannya sedikit ragu "Saya harus dinas keluar, tidak jauh tapi saya merasa kurang aman karena harus berangkat malam. Sebenarnya saya sudah menanyakan beberapa orang untuk mengantar terutama supir rumah sakit, tapi semua sibuk. Apa Dokter bisa mengantar saya?"


"taksi?"


"Itu... Saya punya kenangan buruk dengan taksi, jadi saya tidak berani." Camelia tidak berbohong soal ini.


Aryan diam sebentar, tapi tak lama dia mengangguk setuju karena memang sangat bahaya di malam hari. Dia mengeluarkan telfon dan menelfon ke rumah, memberitahu Ryan kalau malam ini dia akan lambat pulang, bahkan berkemungkinan tidak akan pulang.


"Terima kasih, Dok!" seru Camelia saat Aryan mematikan panggilannya.

__ADS_1


Aryan mengangguk, bertanya kapan berangkat, setelah diberitahu dia hanya berkata 'Ya' dan berlalu.


__ADS_2