Unfinished Story

Unfinished Story
EXTRA


__ADS_3

"Yaya! Mau ke mana?"


Alisa menahan tangan adik sepupunya yang keluar rawat inap dengan emosi, bukannya jawaban yang dia dapat tapi tepisan dari Aryan.


Alisa kembali menahannya, "Yaya!"


"Lepaskan!"


"Enggak! Sekarang ini kamu tidak baik baik saja."


"Lalu kenapa?"


Alisa tertegun, tatapan yang selalu lembut itu sekarang berubah. Adik sepupunya berubah dalam semalam, dia tidak bisa melihatnya.


"Tenang ok!" Alisa mendekatinya, tapi Aryan melangkah mundur dengan tatapan tajam."Kamu mau apa sekarang?"


"Apalagi? Mencari mereka dan membun*h mereka." ucapnya dengan nada penuh penekanan.


"Kamu tidak akan bisa," Aryan mendelik, "sekarang ini kamu tidak bisa. Berkelahi saja kamu tidak bisa mengalahkan ku, cobalah tenang dulu."


Mata bocah dua SMP itu makin tajam, "ibu ku meninggal dan ayahku koma, bagaimana aku bisa tenang? Alisa, kamu tidak akan pernah tahu rasanya."


Aryan langsung membalikkan badannya, dia meninggalkan Alisa yang mematung. Mata gadis itu menyendu, adik sepupunya tidak pernah sekeras ini.


"Itu tidak akan berhasil," Alisa membalikkan badannya dan mendapati seorang dokter muda, dokter itu memakan permen bergagang. "Tidak ada yang bisa menghentikannya sekarang. Mau permen?"


Alisa melihat permen itu, dengan tidak tahu malunya dia mengambilnya. "Kata Daddy aku tidak boleh mengambil permen dari orang asing, utamanya orang bule."


"Tapi kau mengambilnya, bocah!"


Alisa mengangkat sebelah alisnya, murid tiga SMP itu menyeringai dan berkata, "selalu ada pengecualian untuk orang ganteng."


"Ya, terserahmu lah, bocah." dia membalikkan badannya dan berjalan menjauh.


"Hei!" panggil Alisa, pria itu menoleh, "Siapa namamu?"


Tidak sopan!


"Libra." jawabnya malas.


"Karena lo bule pertama yang kasih gue permen, saat umur gue legal, gue akan nikahin lo." tunjuk Alisa pada Libra.


Libra menghela nafas dan berlalu, dia tidak menanggapi perkataan anak kecil. Melihat itu membuat Alisa mencak mencak, dia tidak terima.


Sementara itu Aryan tidak pergi jauh, dia hanya menuju halaman belakang rumah sakit di mana dia bisa menangis sepuasnya.


Bocah laki laki itu sekarang tidak tau harus apa, hidupnya serasa hancur dalam sehari. Tidak tahu akan ke mana setelah ini, dia tidak punya tempat untuk pulang.


Ibunya sudah pergi, bahkan Ayahnya seperti tidak berniat bangun. Dia ingin membalas orang orang jahat itu, tapi apa daya dia hanya anak kecil yang tidak punya kekuatan.


"ARGHHHHH..." Aryan memukul dadanya yang sesak, dia ingin semuanya menghilang.


"Hei jangan berisik! Ini rumah sakit."


Dengan wajah yang basah karena air mata, dia mengangkat wajahnya untuk melihat. Penglihatannya yang rabun karena air mata, berlahan menjadi jernih.


Seorang anak perempuan dengan pakaian rumah sakit, kepalanya di tutupi kupluk sehingga rambutnya tidak terlihat.


Gadis itu berkecak pinggang dengan wajah pucatnya.

__ADS_1


"Pergi!" usir Aryan, suaranya sudah parau.


Bukannya pergi, gadis itu malah berjongkok di depan Aryan. "Lo juga pengen mat* ya?"


Aryan tidak menjawab, gadis itu terkekeh dan mendudukkan dirinya tanpa alas.


"Gue juga, mungkin kalau gue mat*, Mami sama Papi tidak perlu repot cari uang untuk bayar rumah sakit."


Aryan tetap diam.


"Hei, lo punya snack gak?" tanyanya lagi, "suster Maya enggak ngizinin makan snack, tapi gue bosan sama makanan rumah sakit. Tapi apa alasan lo mau mat*?"


"Bukan urusan lo!" Aryan lantas berdiri dan meninggalkan tempatnya.


"HEI COWOK! NAMA GUE MIYA, INGAT YA, JANGAN SAMPAI LO LUPA!"


Aryan mendengus tidak peduli.


Sayangnya mulai sejak saat itu, setiap kali dia ke rumah sakit gadis itu pasti mengikutinya. Katanya dia tidak punya teman yang bersekolah, karena teman temannya yang sekarang sama sama di sana sejak kecil.


"Jangan ikutin gue!" Aryan berbalik dan menatap Miya kesal, tapi bukannya menyerah dia malah menyengir. "Gila!"


"Gue selalu cerita soal lo ke teman teman gue," Miya mengikuti langkah Aryan yang semakin cepat, "katanya mereka juga mau temenan sama l-akhh!"


Aryan mendorong Miya karena kesal, dia benci diikuti.


"Menyebalkan! Jangan muncul di depanku lagi." ucapnya kemudian berlari meninggalkan Miya yang terduduk sendiri di halaman belakang.


Seminggu setelahnya, Aryan kembali ke rumah sakit menemui Ayahnya yang tidak bangun bangun. Wajahnya babak belur karena berkelahi, dia tiba tiba menantang orang dewasa.


"Muka mu kenapa?" seorang suster hendak menyentuhnya, tapi dengan kasar dia menepis. "kamu harus di obati."


"Tidak usah!" dia langsung membalikkan badannya dan pergi.


Dia dengan cepat menuju tempat favoritnya, sebuah pohon besar yang teduh.


"Kamu temannya Miya kan?"


Aryan mendongak saat seseorang bicara padanya, remaja laki laki yang sepertinya seumuran dengannya. Dia juga memakai pakaian pasien, persis seperti Miya.


Sial! Kenapa gadis itu lagi?


"Minggu kemarin karena kehujanan, Miya koma sampai sekarang."


Deg


Aryan langsung berdiri, apa ini karenanya? Apa ini karena dia meninggalkannya sendirian sampai dia kehujanan?


Apa gadis itu juga akan mat*? apa dia akan menjadi pembun*h?


"Bagaimana bisa?" Aryan mencicit, dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau gadis itu kenapa-napa.


"Minggu lalu, setelah menemuimu, adiknya datang. " Aryan mengkerutkan keningnya, jadi ini tidak ada hubungan dengannya?


Syukurlah


"Miya di temukan pingsan di depan pintu masuk rumah sakit." jelas teman Miya.


"Kok?"

__ADS_1


"Adiknya membawanya keluar, dia juga membiarkan Miya pulang sendiri karena dia main dengan temannya."


Aryan mengepalkan tangannya, sejahat jahatnya dia, dia tidak akan membiarkan pasien keluar bersamanya tanpa ada dokter dalam jankauan terdekat.


"Nama lo siapa?" tanya Aryan.


"Dimas."


"oke, antar gue ke tempat Miya."


Dimas mengangguk setuju, dua remaja smp itu kemudian berjalan masuk. Mereka berdiri di depan kamar Miya, mengintip dari luar.


Miya terbaring di kasurnya, hidungnya terpasang selang untuk membantu pernapasan. Banyaknya juga kabel-kabel yang Aryan tidak tahu apa, di pasangkan di tubuh Miya.


"Hei, adiknya itu sekolah di mana? Kelas berapa dan siapa namanya?"


Meski bingung, Dimas tetap menjawab. Setelah mendengar jawaban yang ingin dia dengar, Aryan membalikkan badannya dan meninggalkan tempat itu.


Aryan menuju tempat di mana beberapa berandalan kecil berkumpul, meski wajahnya babak belur tapi tidak mengurungkan niatnya. Dia membuka gudang yang di jadikan markas, benar saja beberapa rremaja gantung sepertinya berkumpul di sana.


"Apa diantara kalian ada yang bernama Manaf?" Aryan bertanya, tapi mereka tidak ada yang menjawab. "Kalau kalian tidak menjawab, gue bakal lapor ke warga kalian berkumpul merokok dan minum di sini."


"Gue!"


Aryan melirik remaja yang mengangkat tangannya, dia terlihat sehat dan malah santai. Aryan berjalan ke arahnya, beberapa orang berniat menghalangi tapi dia tepis.


Grep!


Manaf kaget saat kerah bajunya di tarik, "Apa apaan ini? Siapa lo?"


"Miya koma sampai sekarang!"


"A-apa?" Aryan dengan jelas melihat wajah Manaf berlahan memucat.


"Karena lo, saudara lo koma." ucap Aryan dingin, matanya menatap tajam.


"Tidak, tidak mungkin!" Manaf mencoba melepaskan cengkraman Aryan di depannya. "Lo pasti bohong! Dia hanya sedikit berlari."


"Ya, berlari di bawah hujan deras." cibir Aryan bersamaan dengan sebuah bogeman menghantam wajah Manaf.


Teman teman Manaf terdiam, mereka seperti tidak berani bergerak.


"Biar kutebak!" Aryan melirik tempat sekitar, "lo minta dia bawain duit buat rokok kan?"


Manaf meringis, "apa yang salah dengan it- akhh!"


Aryan kembali memukulnya, kali ini jauh lebih keras. "Manusia bukan lo? Lo harusnya paling tau kondisinya. Breng*sek!"


Aryan terus memukulnya, seperti dugaanya tidak ada yang berani melerai. Mereka bahkan hanya diam melihat Manaf kena pukul, Aryan menyeringai meremehkan.


Pertengkara itu selesai setelah salah satu polisi lewat, mereka semua diangkut sampai ke kantor polisi. Untuk menambah efek jerah remaja yang suka tawuran, mereka menelfon wali mereka.


Aryan mengangkat kepalanya saat melihat pamannya, orang tua Manaf juga datang. Ibu Manaf memarahi Aryan, tapi Aryan merespon tidak peduli.


"Masih kecil sudah begini, mau jadi preman kamu?" marah Ibu dari Manaf. "Minta maaf ke anak saya!"


Aryan berdiri dan berjalan ke pamannya, "Paman urus ini, maaf merepotkan." setelah dia mengatakan itu dia langsung meninggalkan kantor.


Padahal belum ada perintah.

__ADS_1


Dia kembali ke rumah sakit, berjalan ke arah kamar di mana Miya terbaring. Dia memegang tangan Miya yang terkulai, menatap gadis yang seakan tertidur itu lama.


"Maaf! Maaf karena mendorongmu hari itu, lo terlalu menyebalkan soalnya."


__ADS_2