Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 33


__ADS_3

Sepulang kantor Miya langsung ke rumah Manaf, tadi pagi dia di hubungi oleh Ibunya berkata kalau dia akan memberinya sesuatu. Dia memang tidak ke rumah orang tuanya, terlebih belakangan mereka selalu bertemu di rumah Manaf.


"Eh tante Sari dah dateng!" sambut Rayna yang melihat Miya datang.


"Tante Sari tante Sari," Miya mendengus, tapi setelahnya dia tidak mengatakan apa apa dan berjalan untuk mencuci tangannya. Dia tidak bisa menggendong bayi kalau tangannya tidak bersih, kasihan bayinya.


"Lah, lagian lo dipanggil Miya tidak mau." ucap Rayna yang mengintilnya, Miya mengelap tangannya yang sudah bersih,


Menoleh ke arah Rayna dan berkata "Ponakan gue boleh!"


"Pilih kasih!"


Miya tidak mengubris, dia memilih berjalan ke tempat dimana Bayi di baringkan. Nayna—itulah nama yang disematkan untuk si bayi, nama itu tentunya emak-bapaknya yang ngasih.


Rayna duduk di kursi depan kasur, menatap lamat lamat teman yang merangkap jadi iparnya itu. Miya selalu terlihat pendiam, tapi cukup keras kepala.


"Gue juga mau, tanda tangan Kevin sama Fadly dong!" Miya mengangkat kepalanya dan menatap Rayna yang tiba tiba "Andin sudah ngasih tau gue."


"Kalau ketemu lagi." atensi Miya kembali ke ponakannya, dia menusuk nusuk pelan pipinya yang masih merah, terlihat sangat menggemaskan.


Miya mengeluarkan ponselnya, mengambil banyak gambar. Sayang sekali dia masih bayi, kalau saja dia sudah agak besaran dia akan membeli banyak pakaian imut.


Menurut Miya membeli pakaian saat masih bayi, itu sangat di sayangkan. Karena bayi cepat membesar, bahkan hanya saat tertiup angin jadi dia menahan dirinya dan cukup membeli baju bayi yang umum saja.


"kenapa lo ngak cerita kalau temenan sama artis?"


"untuk apa?" bagi Miya itu tidak penting, lagi pula baginya Kevin tetaplah Kevin begitu pula temannya yang lain.


Rayna menghela nafas "Setidaknya kami ada kesempatan bertemu," dia melihat jam setelahnya mengeluarkan asi yang ada di kulkas. "Sudah waktunya dia *****."


Miya mengambil Asi pompa yang diberikan oleh Rayna "Lain kali gue temuin kalian berdua."


"Serius Na?" Miya mengangguk dan berlalu, "Kalau begitu mulai sekarang gue panggil Miya ok-"


"Enggak!"


Rayna mencibir "Memang kenapa sih? Aneh tau cuman gue yang manggil lo Sarina."

__ADS_1


Miya tidak menyaut dia kembali ke baby Nayna.


Setelah puas bermain, barulah dia turun ke bawah. Dia menghampiri Manaf, duduk di samping sang adik dan menyandarkan kepalanya di pundak sang adik.


"Kenapa?"


"Capek!" Miya memejamkan matanya, dia tidak bermaksud ikut dalam pemicaraan orang orang yang ada di ruangan itu.


Miya membuka matanya saat Mamimya memanggil namanya, "Kalau mau tidur, kenapa tidak di kamar?"


Miya menggelengkan kepalanya. "Aku mau pulang nanti."


"Kenapa sih kamu ngotot tetap mau tinggal di kos, padahal kantormu juga dekat dari sini sekalian bisa bantuin adikmu jaga Nayna." Miya tidak menjawab.


Miya tidak tinggal di sana karena merasa kurang nyaman, rumah itu milik adiknya dan istrinya. Dia bekerja hingga sore dan terkadang lembur, kalau langsung tidur saat pulang... Betapa tidak sopannya dia.


"Sudahlah! Ini untuk kamu." Mamanya berucap sambil meletakkan undangan di sampingnya, Miya menghela nafas "Kamu kapan ngasih undangan sih? Di undang mulu perasaan."


Kan? Miya sudah duga.


Kali undangan dari temannya yang mana lagi? dia sudah lelah ke pesta yang selalu ada hampir setiap bulan. Dia dengan lemas mengambil undangan itu, menulikan telinganya saat mendengar Maminya yang masih mengomel.


"..., Kamu dengerin Mami ngak sih? Kam-"


"Aku pulang!" Miya mengambil tas yang memang tidak jauh dari sana


"MIYA SARINA! MAMI BELUM SELESAI BICARA!! MIYA!"


Miya tidak memperdulikan teriakan itu, dia buru buru masuk ke mobil. Saat ini tujuannya hanya satu tempat, yaitu rumah sakit.


Dia menjalankan mobilnya, menggingit ujung kukunya karena merasa gugup yang mendadak. Tapi sepertinya suasana tidak memberinya kemudahan untuk sampai ke rumah sakit, sekarang dia malah terjebak macet!


"Akhhh... Sial!" dia memukul setir mobil kemudian mengusap wajahnya.


Dia terus menatap lampu merah di depannya, kenapa lama sekali? Menyandarkan kepalanya di jok, tangannya sesekali menekan klakson karena mulai kesal.


Hampir satu jam dia di perjalan, akhirnya dia berhasil memarkirkan mobilnya di parkiran mobil. Dia dengan buru buru keluar, dia bahkan tidak sadar telah membanting pintu mobilnya.

__ADS_1


Dia masuk ke rumah sakit, menyusuri koridor dengan tatapannya yang panik.


"Di mana sih?" dia menggigit ujung jarinya, dia masuk lebih dalam. " Sus!" dia mencegah salah satu suster yang lewat. "Dokter tahu di mana dokter Aryan?"


"Maaf mbak, tidak!"


Aryan yang baru saja keluar dari ruangannya terkejut, dia melihat Miya yang tampak gusar seperti mencari seseorang. Aryan tertegun saat tatapan mereka bertemu, mata gadis itu langsung berkaca kaca.


Aryan dengan cepat melangkah mendekat "Lo kenapa? Ada yang sakit? Lo habis jatuh?" Miya tidak menjawab malah jatuh bak air terjun. "Mii..."


Aryan hanya bisa tersenyum ke arah orang orang yang melihat ke arah mereka, dia mau mengajaknya menjauh, tapi sepertinya gadis itu tidak akan mendengarkannya.


"Mi, lo ken-" Aryan tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat apa yang Miya genggam. "Kita bicara di ruanganku!"


Aryan meraih tangan Miya, melepaskan undangan yang sudah remuk. Untung saja sudah tidak ada pasien.


Dia membawa Miya masuk ke ruangannya, melemparkan undangan itu asal di depan meja kerjanya. Dia menatap Miya yang masih menangis, menahan agar suaranya tidak terdengar.


Saat pertama kali Aryan mendapatkan undangan yang sama kemarin, dia sudah menduga duga kalau Miya akan mendapatkannya juga. Tapi yang tidak dia percaya, Miya akan menangis seputus asa ini.


Dia yakin kalau dia akan patah hati, tapi Aryan tidak mengharapka reaksi ini.


Aryan berjalan ke arah sofa dan duduk di sana, memperhatikan bagaimana wanita itu menangis sesenggukan. Membujuk wanita menangis bukan keahliannya, dia hanya akan menunggu sampai mereka selesai.


"Mi, okey?" tanya Aryan saat Miya sudah reda.


Miya menggelengkan kepalanya "No."


Aryan berdiri mengambil air, setelahnya dia menuntun Miya duduk di sofa dan memberinya air. Aryan jongkok di depan Miya, gadis itu kembali sesenggukan.


"Harusnya gue... Hek, ngak kayak gini!" Miya berusaha menarik nafas tapi sulit karena masih menangis. "Kami sudah lama putus hek, tapi kenapa sakit banget."


Miya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, "Gue harus gi hik gimana?"


Aryan menarik nafas, mereka sudah berteman sangat lama tapi ini kali pertama dia menangis sesengguk begini. Miya bahkan tidak menangis saat kemoteraphy yang sakitnya kebangetan, pun saat harus operasi tanpa di dampingi wali.


Dia tipe yang tidak gampang menangis.

__ADS_1


"Cerita gue sudah selesai, Yan!"


__ADS_2