Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 16


__ADS_3

Aryan menghentikan mobilnya di depan sekolahnya dulu, masih terlihat siswa yang baru sekolah keluar dari gerbang sekolah. Apakah dia datang terlalu awal atau bagaimana? Ini salahnya yang tidak menanyakan waktu.


Ryan menatap keluar jendela mobil, dia tidak tahu kenapa Aryan datang ke sebuah SMA. Dia semakin bingung saat Aryan malah memperbaiki penampilannya dan keluar, jadi dia mau tidak mau keluar juga.


"Aku sekolah di sini sebelumnya," ucap Aryan memberitahu.


Ryan kembali menatap sekolah itu, dari penampilannya saja sekolah ini pasti sekolah ternama. Bangunannya terlihat bagus dan banyak padahal ini sekolah negeri, apa dia masuk ke sekolah ini yah kelak?


"Seperti yang diharapkan dari Aryan Ranggara!"


Aryan dan Ryan menoleh bersamaan, Miya melambai ke arahnya karena baru keluar dari mobil. Gadis itu kemudian berjalan ke arah mereka, dia berhenti di depan Aryan dengan jarak yang tidak terlalu dekat.


"Jam berapa kumpulnya?" Aryan bertanya.


"Setengah jam lagi," jawab Miya setelah melihat jam di ponselnya "Tapi Yan, lo emang suka datang lebih awal ya orangnya?"


Dari dulu di antara semua teman sekelasnya, Aryan lah satu satunya yang tidak pernah di hukum karena terlambat. Hampir setiap hari dia akan tiba di sekolah lebih awal dari yang lainnya, Miya juga heran sendiri.


"Kalian yang terlalu lambat" katanya, Miya hanya bisa mencibir ke arahnya.


Pandangan Miya teralih ke remaja laki laki dengan seragam SMP, padahal dia terlihat sangat tingga. Aryan menatap Miya saat menyadari gadis itu melihat anak bujangnya, dia dengan cepat menghadang pandangan Miya.


"Apasih Yan!" gerutunya.


"Waspada saja, lo kan seneng sama yang lebih muda!" Aryan menyeringai membuat Miya rasanya ingin menjambaknya.


"Gue ngak tertarik sama anak di bawah umur!" cebiknya, tapi pandangannya tetap tidak teralihkan "Ponakan lo?"


"Anak gue!" jawab Aryan, Miya mendelik ke arahnya mendengar ucapan ngawur Aryan.


"Tau ah, capek gue kalau mau ladenin orang gila!" Miya memperbaiki letak tasnya, matanya kini terarah ke gedung sekolah di depannya.


Meski banyak perubahan, tapi Miya masih merasakan nuansa yang sama. Terutama suara berisik anak anak yang baru saja keluar kelas, mengingatkannya betapa berisiknya kelas mereka dulu.


Seandainya bisa memutar waktu, menjadi dewasa ternyata tidak semenyenangkan itu. Dia tidak bisa mengikuti alur kehidupan orang dewasa, karena tatkala dia merindukan dan berkeinginan untuk bermain sambil teriak teriak tapi tak bisa lagi.


Aryan membalikkan badannya ke arah Ryan, "Kamu mau ikut ke dalam atau berkeliling?"

__ADS_1


Ryan menatap sekitarnya, "Disini saja."


"Oke," dia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memberikannya ke Ryan. "Aku akan menelfonmu setelah selesai, kamu bisa kemana pun selama itu."


"Tempat ini banyak hal yang bisa dilihat!" Miya menimpali sambil tersenyum ke arahnya "Kalau kamu tertarik, kamu bisa memaksa Aryan memasukkanmu di sekolah ini."


Aryan melihat Miya sebentar kemudian menatap Ryan lagi, tidak ada yang salah dengan ucapan gadis itu. Dia mungkin akan lebih nyaman kalau saat SMA nanti Ryan mau sekolah disini, dia berharap anak itu mempunyai kesenangan yang sama dengannya saat SMA dulu.


"Itu ak-"


"Tenang saja!" Miya memotong ucapan Ryan, dia menepuk punggung Aryan "Orang ini tipe penurut walaupun bajing.an!"


Aryan tidak protes karena punggungnya terasa perih, Miya memukulnya seperti meluapkan rasa dendam yang terpendam. Dia menghela nafas panjang, meminta Ryan bersenang senang tanpanya sedangkan dia memilih berjalan ke dalam lebih dulu.


Dia berjalan di depan sedangkan Miya berjalan di belakangnya, entah kenapa suasana tiba tiba akward untuk mereka berdua. Mereka sesekali menyalami guru yang mereka kenal saat masih di sana, tapi tak banyak juga yang mereka tidak kenal karena banyak guru baru.


"Bu Ratna!" Miya memekik membuat Aryan hanya bisa menutup kupingnya sebelah.


Wanita yang pernah menjadi wali kelas mereka itu hanya bisa terkekeh, "Miya Sarina, kamu masih saja berisik!"


Ratna mencebik "Ibu tidak akan termakan omonganmu."


Aryan terkekeh kecil "Tapi saya serius bu, Ibu makin cakep."


"Kamu ini!" Ratna mencibir tapi dia tidak kesal, "Sepertinya kalian yang datang pertama, tapi Ibu harus pulang."


"Ya Ibu..." Miya merengek memeluk lengan Ratna, "Ibu ngak penasaran gitu sama murid murid ibu dulu? Sudah lama loh ini."


Ratna menatap Miya dan Aryan bergantian, dia kemudian tersenyum manis dan menjawab dengan tegas.


"Ngak! Ibu sudah cukup dengan suara bising kalian, jadi tidak lagi." dia menggelengkan kepalanya, mendengar itu Miya dan Aryan tertawa bersamaan.


Apa dulu mereka seberisik itu?


Sepeninggal bu Ratna mereka kembali berjalan ke kelas dimana mereka dulu tinggal, sama seperti sebelumnya mereka berjalan dalam diam. Saat sampai di depan kelas mereka tidak langsung masuk, masih ada beberapa siswa di dalamnya.


"Ini bukan 12 IPS 1!" cetuk Miya.

__ADS_1


Aryan melihat ke arah yang dilihat Miya, di atas pintu masuk tertera nama kelas beserta jurusannya. Kalau pada jaman mereka itu adalah kelas IPS, sekarang ruangan itu berubah jadi kelas X MIPA 4.


Gadis itu kemudian melihat Aryan, pria itu tidak memberi tanggapan apapun. Dia kemudian menunduk menatap ke lantai, kenapa mereka belum juga datang? Tidak tahukah mereka kalau dia dan Aryan sebenarnya canggung!


"Mi!"


"Hm?" Miya mendongak menatap Aryan, pria itu juga itu menatapnya "Apa?"


"Lo masih marah sama gue?" tanyanya.


Miya langsung memalingkan wajahnya, dia tidak langsung menjawab pertanyaan Aryan. Ya mereka memang sempat saling diam, karena itu Miya memblokir nomornya.


"Gue enggak mungkin bicara sama lo kalau masih marah," ucap Miya, dia tersenyum ke arah Aryan "Itu masalah lama, tidak usah dipikirkan."


"Itu Gu-"


"Woo... Kalian sudah datang lebih dulu."


Miya dan Aryan menoleh bersamaan, Baim teman mereka dulu berjalan ke arah mereka. Seperti Miya biasanya dia langsung menyambut heboh, tidak peduli dengan beberapa siswa yang bersiap pulang melihat mereka.


Baim menatap Miya dan Aryan bergantian "Kalian datang bareng?"


"Enggak, ketemu di parkiran tadi." jawab Miya dengan cepat, dia tidak mau di salah pahami.


Baim melihat Aryan, pria itu hanya mengedikkan bahunya.


Mereka bertiga masuk ke dalam kelas saat kelas sudah kosong, Miya berjalan ke meja dimana posisi dia duduk dulu. Dia mengusap meja senang, seperti dahulu.


"Woi kas woiii..." serunya


Aryan dan Baim yang sedang menikmati pemandangan kelas menoleh ke arahnya, mendapat tatapan kedua temannya itu Miya hanya menyengir kuda.


"Seperti Miya yang biasanya."


Miya menoleh "SASHAAAAAA... " Dia berdiri dari kursinya dan berlari pelan ke arah temannya itu.


Mereka pelukan seperti teletubbies.

__ADS_1


__ADS_2