Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 45


__ADS_3

Aryan menguap lebar, dia benar benar mengantuk saat ini. Semalam saat tiba di rumah, dia mendapat telfon darurat yang mengharuskannya ke rumah sakit secepatnya.


Dan seperti biasa, kemarin dia tidak sempat tidur lagi.


"Pagi dok!"


Aryan hanya mengangguk sebagai balasan sapaan, dia buru-buru ke tempat istirahat. Walau hanya setengah jam, setidaknya dia harus tidur.


"Loh dokt-" Aryan mengangkat tangannya memberi tanda agar Rehan tidak bicara.


Aryan langsung merebahkan dirinya di kasur, karena terlalu mengantuk dia langsung tertidur saat kepalanya menyentuh bantal. Rehan yang tadi di suruh diam berlahan keluar, dia tidak berani bersuara karena saat Aryan melihatnya tadi membuatnya merinding.


Ya jangan ganggu orang yang sangat mengantuk, bisa saja dia berubah jadi binatang buas yang kelaparan.


Seperti alarm yang sudah di setting, tepat tiga puluh menit mata Aryan langsung terbuka. Dia terburu-buru membersihkan wajahnya, setelahnya barulah dia merasa cerah kembali.


Untuk dokter seperti mereka, waktu tidur memang tidak seberapa dan yang penting tidur saja.


Dia keluar dengan pakaian yang kembali rapi, bersiap untuk pemeriksaan lagi. Dia berjalan sedikit terburu, sebenarnya dia sedikit terlambat dari biasanya.


Kemarin dia mendapat pasien baru lagi, tidak bukan baru tapi pasien yang dilemparkan padanya oleh seniornya. Ingin rasanya Aryan marah, tapi sebagai dokter dia mau tidak mau menerima pasien itu karena sumpah dokternya.


Di depan pintu, perawat yang menjadi asistennya sudah menunggunya. Aryan memintanya untuk menjelaskan kondisi pasien, sampai akhirnya mereka menuju ruangan yang di tuju.


Setelah mengetuk pintu, perawat itu kemudian mendorong pintu untuk mempersilahkannya masuk.


"Permisi," ucapnya sebelum masuk.


Dia sedikit terkejut melihat siapa yang menunggui pasien, orang tua Miya. Aryan mengangguk sopan dan mendekati nenek yang terbaring di ranjang, meminta izin untuk dia periksa dulu. sebenarnya dia sudah melihat catatan medis yang diberikan perawat, tapi Aryan tidak akan puas tanpa memeriksanya sendiri.


Aryan menoleh ke perawat, "Sus, tolong siapkan ruang pemeriksaan."


"Tapi dok," perawat itu melihat Aryan sedikit bingung, bukannya dia sudah mendapatkan catatan medisnya. Aryan tidak mengatakan apa apa, dia hanya melihat perawat itu serius "baik. Akan saya siapkan Dok."


"Terima kasih."


Dia menunduk menatap catatan itu, dia hanya merasa ada sedikit kejanggalan. Dia memegang pergelangan si nenek, memeriksa denyut nadinya.


Normal. Pun dangan detak jantungnya tadi.


"Apa ada yang salah dengan nenek saya?" Aryan mengangkat kepalanya, Griffin menatapnya serius.


Dia menurunkan catatan medisnya, "Tidak ada."

__ADS_1


"Lalu kenapa nenek saya akan di bawa ke ruang pemeriksaan." tanya Griffin, dia menatap sang Nenek yang juga menatap Aryan.


Aryan menatap mereka sejenak, "Hanya ada yang ingin saya pastikan. Nenek tidak perlu cemas, ini hanya pemeriksaan sederhana."


"Saya tidak mencemaskan apapun," wanita itu tertawa dan melihat cucunya. "Satu-satunya yang aku cemaskan adalah cucu saya yang belum menikah. Ah berapa umur dokter? Tampak begitu sangat muda."


"Dua puluh delapan, Nek."


"Hanya setahun lebih muda dari cucu nenek ini," dia menyentuh tangan Griffin. "Dokter kelihatan tampan, apa dokter sudah menikah?"


Aryan tersenyum, "Saya belum menikah, Nek."


"Bagaimana dengan pacar?"


Aryan diam sebentar, matanya terarah ke orang tua Miya kemudian tersenyum "Saya punya."


Aryan bisa melihat tatapan tidak suka dari Maminya Miya, tapi tidak dengan Ayahnya. Aryan melirik ke pintu saat perawat kembali masuk, memberitahukan kalau ruangan sudah siap.


Dengan di bantu beberapa perawat, neneknya Griffin berhasil dipindahkan ke tempat pemeriksaan. Aryan meminta keluarga menunggu di luar, alasannya supaya dia tidak terganggu konsentrasinya.


Setelah memeriksa pasien, dia membandingkan dengan catatan medis sebelumnya. Keningnya mengkerut melihat hasil yang berbeda, kalau itu sedikit mungkin tidak masalah tapi kenapa ini banyak yang berbeda.


"Apa benar ini hasil pemeriksaan sebelumnya?" Aryan menatap serius ke perawat, semua tahu Aryan tidak senang dengan kesalahan seperti ini.


"Benar dok, Dokter yang merawat pasien sendiri yang memberikan hasilnya."


Perawat itu menggelengkan kepalanya, tapi bukannya dokter Farhat yang memberikan pasien itu padanya?


"Bukan, sebenarnya pasien ini adalah tanggung jawab dari Dokter Tara."


Aryan memegang tengkuknya, kenapa dokter senior berani memberi tanggung jawab berat pada dokter itu? Semua juga tahu kalau dia masih harus banyak belajar, mereka terlalu berani memberikannya pasien yang parah.


Aryan meminta mereka untuk merapikan ruangan itu, menangani pasien sebaik mungkin. Para perawat hanya bisa saling menatap, mereka tahu dokter Aryan sedang marah sekarang.


"Apa hasil pemeriksaan nenek saya?" Griffin yang melihat Aryan keluar langsung mencegatnya.


"Dia tidak baik," jawab Aryan, dia melihat Griffin yang tidak terkejut. "Kemungkinan terburuk bisa terjadi kapan saja."


"Kamu bilang tadi kalau semua baik-baik saja." Mami Miya ikut menimpali.


"Itu benar, tapi ini untuk kenyamanan pasien." dia menahan salah satu perawat yang lewat, "panggil dokter Tara untukku."


"Baik."

__ADS_1


Aryan menyugar rambutnya ke atas, semua bisa melihat ada emosi di matanya. Tapi yang membuat takjub, dia menjelaskan kondisi pasien dengan sangat tenang.


"Nak Aryan, apa tindakan operasi tidak bisa dilakukan?" Papi Miya yang sejak awal hanya menyimak akhirnya bicara.


Aryan menggelengkan kepalanya, "Itu sangat sulit, Om. Selain karena pasien berusia lanjut, jantungnya juga sudah sangat lemah untuk dilakukan tindakan. Kemungkinan terbesar jantung akan bocor, nyawa pasien kami tidak bisa menjaminnya."


Aryan kembali menjelaskan pada mereka, jantung pasien sangat lemah dan kemungkinan gagal pun lebih besar. Aryan baru beberapa bulan menjalan operasi yang sama atas paksaan keluarga dan pasien sendiri, meski mereka menjelaskan panjang lebar tentang resikonya.


Dan hasilnya gagal.


"Berapa lama predikisi nenek saya hidup?" Griffin bertanya putus asa, neneknya adalah segala baginya.


"Prediksi kami tidak akan akurat, bisa benar juga salah. Tapi prediksinya tinggal dua bulan la-"


"Dokter mencari saya?"


Aryan melirik orang yang mengintrupsinya, dokter penanggung jawab sebelumnya. "Sekita dua bulan lagi, tapi itu bisa saja salah." Aryan melanjutkan ucapannya tadi.


"ada apa dokter memanggil saya?" Dokter Tara bertanya setelah obrolan mereka selesai.


Aryan melihatnya dan mendorongkan catatan medis ke Tara, "Bisa jelaskan catatan yang kamu buat?"


Dokter Tara menunduk melihat catatan yang baru diberi padanya, dia ingat sudah memberinya ke perawat. Dia tidak mengerti kenapa itu dikembalikan padanya, bukannya itu sangat dibutuhkan?


"ini... Apa ada yang salah?" Dokter Tara melihat catatan medisnya, Aryan mendengus mendengar pertanyaan itu.


"Ke ruanganku sekarang," dia menoleh ke arah keluarga pasien dan pamit.


Dia memimpin jalan, membiarkan Tara mengikuti langkahnya. Tara menggaruk keningnya yang tiba tiba gatal, dia tidak bodoh bodoh amat untuk tidak tau dokter di depannya sedang marah.


Begitu masuk Aryan menutup pintu dan mendekati Tara yang berdiri di depan mejanya, dokter itu tampak melangkah mundur. Aryan menatapnya dari atas ke bawah, siapapun yang di tatap seperti itu dengan mata tajam pasti akan merinding.


Aryan bersedekap dada, "Kau bacakan sumpah dokter poin dua."


"Eh? Untuk apa?"


"Sebutkan saja!"


Tara menggaruk kepalanya "Saya akan menjalankan tugas dengan cara yang terhormat dan bersusila sesuai dengan martabat pekerjaan saya sebagai dokter."


"Lalu kenapa pekerjaanmu seperti itu?" dia menunjuk catatan medis di tangan Tara. "Memeriksa pasien sekenanya saja, apa kau meremehkan nyawa seseorang?"


Dokter Tara menunduk, meski mereka seangkatan tapi dia akui kemampuan Aryan. Dia menatap catatan medis yang dia buat, kemarin memang dia sedikit malas.

__ADS_1


"Tidak." jawabnya sambil menunduk.


Aryan kembali menyugar rambutnya ke belakang, "Lakukan dengan benar benar kalau kau menghormati pekerjaanmu, aku tahu kamu mempunyai relasi di sini. Tapi itu tidak selamanya akan membantumu, kau adalah dokter bukan pebisnis. Keluar!"


__ADS_2