Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 9


__ADS_3

Aryan meregangkan tubuhnya yang terasa pegal, sudah hampir dua hari dia tidak tidur dengan benar karena kesibukannya. Pandangan Aryan tertuju ke Ryan yang duduk termenung di depan gubuk yang dia tinggali bersama sang nenek, pemakaman baru saja selesai dan sebagai orang yang bertanggung jawab Aryan hadir dari awal sampai akhir.


Aryan mendekatinya, dia menepuk pundak anak itu agar berhenti melamun. Ryan mendongak dan menatapnya, Aryan melihat ke arah gubuk.


"Setelah ini kamu mau bagaimana?"


Ryan hanya bisa menundukkan kepalanya, dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Aryan menghela nafas panjang karena entah mengapa dia merasa bertanggung jawab atas Ryan, terlebih dia anak dibawah umur tanpa wali.


"Bagaimana kalau kamu ikut denganku?" tawar Aryan yang entah kenapa meluncur begitu saja dari mulutnya, remaja itu tidak mengatakan apa apa karena terkejut.


Aryan menggaruk telinganya yang tidak gatal, dia bisa memaklumi kediaman atau mungkin penolakan remaja itu. Tapi dia tidak bisa membiarkan anak dibawah umur tanpa wali, padahal dia bisa saja tidak peduli.


"Kamu sekolah?"


"Kelas delapan," jawab Ryan.


Aryan berfikir sebentar, kelas delapan ya? Berarti baru kelas dua SMP. Iya sih umur anak itu kan masih tiga belas tahun, tingginya saja kelewatan sampai membuat Aryan awalnya berfikir dia lima atau enam belas tahun.


"Kamu tetap ingin sekolah?" tanyanys, Ryan menganggukkan kepalanya "Ikut denganku dan aku akan membiayai sekolahmu sampai selesai. Bagaimana?"


"Apa yang harus saya lakukan?" Ryan bertanya karena sadar tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini.


"Cukup jaga baik nama keluarga, suatu hari nanti entah kapan saat aku punya anak, tolong jaga anakku saja." jawab Aryan "Ah, belajarlah dengan baik dan benar, aku menyukai anak yang pintar."


Dia kembali berdiri, Aryan memperhatikan sekelilingnya di mana halaman rumah itu sangat bersih untuk ukuran rumah yang terlihat seperti gubuk. Tanaman tersusun rapi dan tidak terlihat rumput liar, sepertinya nenek Ryan adalah pembersih.


Pasti anak ini kaget saat tiba di rumahnya, sebagai seorang dokter yang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sakit rumahnya sangatlah berantakan. Alisa pun kalau ke rumahnya akan terus mengomel, menyuruhnya untuk mempekerjakan seseorang di rumah yang katanya adalah biang kuman.


Tapi Aryan tetaplah Aryan, dia akan melakukan apapun yang dia suka. Terlebih menyewa seorang pekerja berarti dia harus tinggal dengan orang asing, Aryan tidak suka dengan itu.


Tapi...


Aryan melirik bocah yang kembali termenung itu, bukannya anak itu juga orang asing? Dia memegang belakang lehernya yang tiba tiba kaku, dia bingung dengan dirinya sendiri.


Apa sekarang kecerdasannya berkurang? Ah tidak, dia hanya kurang tidur saja.


"Ayo makan!" ajaknya pada Ryan, tapi anak itu menggelengkan kepalanya "Aku tahu kamu tidak nafsu makan sekarang, tapi kamu masih harus hidup."


"Sehari tidak makan, manusia tidak akan mati."


"Ya," Aryan meliriknya kemudian matanya tertuju ke arah mangga di depannya, apa tidak masalah kalau dia memanjatnya? "Tapi ada beberapa kasus tidak makan sekali tapi langsung mati. Itu mangga milik siapa?"

__ADS_1


Ryan mengangkat kepalanya melihat mangga yang di tunjuk Aryan "Pak Desa, beliau tidak akan memberinya."


"Pelit?" Ryan menganggukkan kepalanya, Aryan menyeringai "Kalau pemiliknya pelit, curi saja kalau begitu."


Ryan terkejut mendengar ucapan Aryan, dia ikut berdiri saat melihat Aryan berjalan mendekati pohon itu. Neneknya baru saja meninggal, apa sekarang dia harus bersekongkol dengan dokter aneh tapi baik hati untuk mencuri mangga?


Yang benar saja!


"Saya akan minta pada pak Desa dulu," ucap Ryan, Aryan melihatnya.


"Bukannya dia pelit."


"Setelah diminta dan tidak diberi, apa boleh buatkan?" ucap Ryan yang berjalan menuju rumah yang tidak jauh dari rumah neneknya.


Aryan terus menatap mangga yang dari tadi menarik perhatiannya, tidak bisakah dia langsung mengambilnya? Kalau saja di sini ada Zain mereka akan bekerja sama mengambilnya, melihat mangga hanya mengingatkannya dengan masa sekolahnya saja.


"Katanya boleh!"


Aryan menoleh dan mendapati Ryan berjalan ke arahnya, dia bahkan membawa galah di tangannya.


"Katanya pemilik tempatnya pelit?"


Ryan berdiri dan menyerahkan gala di tangannya "Tapi istrinya tidak."


Anak itu tidak mengatakan apa apa tapi langsung saja berjalan duduk.


Aryan mengambil sebisanya dia saja, sebenarnya dia tahu makan mangga saat kondisi perut kosong bukanlah hal yang bagus, tapi mau bagaimana lagi dia sudah terlanjur ngiler. Dia menawarkan pada Ryan untuk mengganjal perut, tapi remaja itu menggelengkan kepalanya.


"Ibuku juga meninggal saat aku kelas dua SMP." ucap Aryan tiba tiba, Ryan menatap dokter yang masih terus asik makan mangga dengan garam campur cabai dan kecap yang dia ambil dari rumah Ryan.


"Sakit?"


Aryan menggelengkan kepalanya "Tertusuk pisau saat ada penyerangan membabi buta di mall." Ryan terkejut terlebih ekpresi Aryan tampak biasa saja. "Tentu saja aku tidak baik baik saja."


"Apa yang dokter lakukan setelah itu?"


Aryan mengangkat kepalanya "Mengurung diri setelahnya menjadi preman." dia menyeringai ke arah Ryan "Itu bukan hal yang bagus untuk dijadikan contoh, kamu tidak harus seperti itu."


Ryan menundukkan kepalanya dan menautkan tangannya, neneknya baru meninggal, orang tempat dia pulang satu satunya meninggalkannya lantas apa yang bisa dia lakukan? Ryan kembali mengangkat wajahnya saat Aryan menepuk pundaknya.


"Dokter menemukan pelakunya?" tanya Ryan penasaran.

__ADS_1


"Ya, dia sudah divonis hukum mat* beberapa tahun lalu." dia melihat ke atas langit. "Yang ingin aku katakan, jangan sampai terlalu terpuruk. Hidup terus berlanjut dan kita tidak bisa menyesali kematian seseorang, itu bukan hal yang bisa kita tentukan."


Aryan melihat jam yang melingkar di tangannya, sudah cukup lama dia membolos dari rumah sakit. Sekarang sudah waktunya memeriksa keadaan pasien, jadi dia harus kembali ke rumah sakit.


"Hei, Nak!" Ryan mendongak menatapnya tapi tatapan Aryan justru ke arah langit "Tumpahkan semuanya hari ini, besok bangun dan berjalan lagi."


Aryan kemudian menoleh ke arahnya dan melanjutkan kalimatnya, "Kumpulkan semua barang barangmu, aku akan menjemputmu besok."


"Iya."


Aryan kemudian meninggalkan tempat itu, dia sengaja meninggalkan Ryan seorang diri. Anak itu tidak mengeluarkan air matanya sejak tad, Aryan berharap dia menumpahkan semuanya saat dia ditinggalkan seorang diri.


Sambil berjalan menuju mobilnya, tangannya sibuk mencari nomor seseorang.


"Yo Pa!" sapanya saat seseorang mengangkat telfonnya, dia bisa mendengar decakan dari seberang. "Ini masih menjelang sore, tidak mungkin gue ngenggu waktu lo bareng Mama kan?"


"Berisik Yan!" terdengar seruan perempuan dari seberang membuat Aryan tertawa.


"Lo nelfon pasti ada sesuatu kan?"


Aryan tertawa kecil, orang yang pernah menjadi ketua kelasnya itu mengenalnya dengan sangat baik. "Gue butuh anak buah, Pa. Tenang saja gue tidak akan membuat masalah."


"Ya gue tahu, berapa orang?"


"Satu saja, hanya untuk mengawasi remaja tiga belas tahun saja."


"Oke, kirimkan alamatnya," Aryan langsung memberikan alamat rumah Ryan "Siapanya lo?"


"Calon anak gue." ucapnya tertawa.


"Nikah lo sana!" suara perempuan itu kembali terdengar, bersamaan dengan suara rengekan anak kecil.


"Lo mau cewek apa cowok?"


"Cowok, hanya satu malam saja. Nanti gue ceritakan detailnya."


"Hem, akan ku kirimkan segera. Anak gue nangis!"


"Itu—"


Tuttttt

__ADS_1


Aryan menatap sambungan telfon yang terputus padahal dia belum selesai bicara "Terima kasih deh."


__ADS_2