
Rayna menatap kakak iparnya yang sedari tadi mondar mandir, entah itu mengambil sisir, catokan sepatu, Rayna sama sekali tidak mengerti. Biasanya dia harus mati-matian membujuknya untuk dandan, tapi hari ini gadis itu sedari tadi mondar mandir depan cermin dengan berbagai gaya.
"Memang mau ketemu siapa sih, Na? Dandan cakep gitu?"
Miya menoleh ke arahnya sambil tersenyum "Sama orang orang special!"
Rayna memutar bola mata jengah, dia tidak bertanya lagi. Dia hanya menjawab beberapa pertanyaan Miya yang menanyakan pakaian mana yang cocok untuknya, kakak iparnya itu sudah sangat antusias dari tadi.
Manaf membuka pintu kamar kakaknya, keningnya terangkat melihat tampilan Kakaknya. Dia melihat Rayna seolah bertanya, tapi istrinya itu hanya mengedikkan bahu saja.
"Mau ke mana lo?" Manaf menggeser bamtal dan duduk di atas kasur, "Mau kencan buta?"
"Enggak lah! Ngapain?" dia menyibakkan rambutnya ke belakang, "Mau reuni gue!"
"SMA?" Miya hanya mengangguk kecil, dia sedang memakai make-up. "Ketemu mantan dong? Cieee..."
Miya menutup palet make-upnya dan menoleh melihat adiknya, dia tersenyum sebelum mengacungkan jari tengah ke arah Manaf. Tentunya Manaf kaget, sudah berapa lama Miya tidak menunjukkan sisi bar barnya?
Manaf bersedekap dada mengejek balik, "Jangan kepincut mantan! Nelan ludah sendiri namanya."
"Gue sama dia putus baik baik ya, ngak ada tuh namanya nelan ludah sendiri." dia memasukkan bedaknya dalam tas. "Lagian mustahil juga."
Manaf menatap kakaknya yang memasang wajah sendu, alasan Miya tidak terlalu tertarik menjalin hubungan pasti karena ini. Meski memberi beribu alasan palsu, Manaf sangat yakin kalau kakaknya belum move-on.
"Awas saja lo balikan, gue ledekin seumur hidup." ucap Manaf.
Rayna menatap kakak beradik itu bergantian, dia sudah terbiasa dengan tatapan saling membunuh mereka. Rayna tidak mengenal siapa mantan Miya dan membuatnya penasaran, tapi saat bertanya tidak ada yang mau menjawab.
Bahkan Manaf tidak berniat memberitahu dirinya, padahal mereka suami istri.
“Aku akan mengatakannya saat Miya memberi izin, aku tidak pantas membeberkannya karena ini privasinya.” itu jawaban yang Manaf lontarkan setiap kali dia bertanya.
"Males banget gue bicara sama lo, bye!" Miya berjalan dengan menghentakkan kakinya.
"Salamin sama mantan ya!" seru Manaf lagi saat Miya menghilang dari pintu, tapi tak lama tangan Miya terlihat. Dan sekali lagi dia mendapat acungan jari tengah dari kakaknya, Manaf hanya bisa balas mengumpat ke arahnya.
"Sayang, anak kita bisa dengar omonganmu!" ucap Rayna mengelus perut buncitnya, Manaf langsung menutup mulut rapat.
__ADS_1
Miya berjalan menuruni tangga, dia terkejut karena mendapati Ibunya berada di sana. Yang dia tahu tadi Ibunya keluar bertemu teman-temannya, tapi sekarang kenapa sudah ada di rumah.
Wanita itu menatap putri sulungnya, sama dengan Rayna dia juga terkejut dengan penampilan putrinya. Sudah berapa lama ya dia tidak melihatnya? Miya sekarang mengingatkannya pada jaman dia SMA dulu.
"Mau ke mana kak? Mau kencan ya?" tanya nya dengan senyum sumringah.
Miya menggelengkan kepalanya "Mau ketemu teman, hehe sudah lama soalnya." dia menyalami tangan Ibunya "Miya berangkat ya, Mi. Assalamu'alaikum!"
Belum sempat ibunya menjawab salamnya, Miya sudah melesat dengan cepat. Well antisipasi sebelum keadaan darurat, tidak ada yang salah dengan tindakannya itu.
"Anak itu benar benar..." si Ibu hanya bisa menggelengkan kepalanya, bukan dia tidak mengerti kalau sang putri menghindarinya. Tapi sebagai orang tua, dia juga ingin melihat anaknya memiliki pendamping hidup.
*****
Aryan menghentikan mobilnya di depan sebuah SMP, sekolah itu tidak terlalu jauh dari tempat yang akan dia tuju nanti. Dan kebetulan ini kedua kalinya dia ke tempat ini, yang pertama saat dia mengantar anak itu saat pertama kali tinggal bersamanya setelahnya dia membiarkan supir mengantarnya.
Dia mengedarkan pandangannya diantara siswa yang baru pulang, ah ini kah rasanya menjemput anak pulang? Dia turun dari mobil begitu sosok yang dia cari terlihat, tidak sulit mengenali Ryan karena tinggi badannya yang mencolok dibandingkan teman temannya yang memang baru bertumbuh.
Sebenarnya melihat sosok Ryan yang berjalan di antara kerumunan, mengingatkan Aryan akan sosok Kennan. Sunyi, kesepian, tak tersentuh, tidak punya semangat hidup serta menonjol dalam waktu bersamaan.
Mata Aryan tiba tiba membulat, beberapa orang berlari mendekati Ryan dan salah satu menendangnya hingga tersungkur. Kening Aryan mengkerut melihat siswa siswa lain berlalu begitu saja, seolah apa yang mereka lihat adalah hal yang biasa.
"Kemana para guru?" Aryan bergumam, matanya menyusuri sekolah dan terkejut melihat para guru bercerita, mereka seperti berpura pura tidak lihat.
Meski ada emosi di dadanya, Aryan berjalan sangat santai ke arah mereka. Dia berhenti di depan Ryan yang masih berada di tanah, remaja itu mengangkat wajahnya dan terkejut melihat siapa yang datang.
"Berdiri!" ucap Aryan pelan.
"Woahhh.... Om siapa? Jangan iku-" siswa yang berbicara terhenti melihat tatapan Aryan.
Ryan berdiri mengibaskan debu di pakaiannya, dia tidak berani melihat Aryan tepatnya dia malu. Aryan menarik anak itu mendekat padanya, dia tidak mengatakan apa apa tapi dia berusaha menghafal wajah wajah mereka.
"Kepalkan tanganmu erat erat," bisik Aryan.
Meski bingung Ryan tetap melakukannya, Aryan mundur ke samping Ryan dan meraih pergelangan tangannya. Tanpa aba aba Aryan mengangkat tangan Ryan, menghantamkannya ke wajah orang yang menendang Ryan tadi hingga jatuh.
"Itu yang harusnya kamu lakukan!" ucap Aryan, dia memasukkan tangannya ke saku celana. "Besok kamu tidak perlu ke sekolah, aku akan mengurus surat pindahmu. Ini sama sekali bukan sekolah yang bagus."
__ADS_1
Ryan hanya bisa menatapnya tidak percaya, dia juga menunduk menatap tangannya yang baru saja di pakai Aryan memukul orang yang menendangnya. Dia kembali mendongak menatap Aryan yang menatap ke arah guru yang berjalan ke arah mereka, Ryan rasanya ingin melarikan diri.
"Ada apa ini?" salah satu guru yang datang bertanya.
"Candaan antar siswa." Aryan menjawab, tidak ada beban di wajahnya. "Seharusnya ini bukan hal yang besar kan?"
"Memukul adalah kekerasan, anda siapa? Saya melihat anda membantu an-"
"Kalau begitu anda melihat anak ini di tendangkan?" Aryan bergerak maju, "Kenapa anda malah memalingkan wajah?"
"Anda punya bukti apa kalau saya melihat mereka menendang anak ini?" dia menunjuk Ryan, "Bisa saja dia berbohong soal in-"
"Apa anda benar benar seorang pengajar?" Aryan bertanya tanpa basa basi. "Anak ini? Tidak ada guru yang menyebut muridnya seperti ini?"
Aryan menepuk pundak Ryan, "Kamu pergi ke mobil lebih dulu, saya akan mengurus ini?" bisiknya.
"Ta-"
"Tidak perlu mencemaskan apapun." Ryan melihat mereka sebelum berjalan meninggalkan tempat itu.
Aryan tanpa basa basi menanyakan ruang kepala sekolah, tentu saja guru guru itu terkejut. Meski sudah jam pulang mereka tetap mengantar Aryan, setidaknya mereka harus menyelesaikan masalah ini sebelum terdengar direktur sekolah.
"Saya ke sini ingin meminta surat pindah atas nama Ryan Pratama kelas delapan A." ucap Aryan to the point.
"Tunggu tunggu pak, Apa maksudnya ini." ucap kepala sekolah, "Apa hubungan anda dengan murid kami sampai meminta ia pindah."
"Saya walinya sekarang, kami kerabat." Aryan berkata sambil menyilangkan kaki "Saya akan memindahkan ke sekolah yang lebih baik."
Kepala sekolah hanya bisa tersenyum meski kesal dengan Aryan, bagaimana bisa dia mengatakan itu seolah sekolahnya buruk. Tapi melihat penampilan Aryan yang duduk dengan posisi bossy, dia yakin Aryan bukan orang sembarangan.
Sejak kapan anak yatim piatu itu punya kerabat sehebat ini?
"Apa maksud anda?"
"Sekolah ini buruk, itu maksud saya." ucap Aryan "Tolong siapkan secepatnya."
Aryan langsung berdiri dan berjalan keluar setelah mengatakan itu, dia tidak suka berbasa basi. Dia tahu sikapnya ini sama sekali tidak sopan dan sombong, tapi dia Aryan dan dia akan melakukan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
Saat kembali ke mobil, dia melihat Ryan yang tertidur di mobil. Dia menghela nafas panjang melihat kantung mata Ryan, ya pasti sulit beradaptasi dengan situasi serta suasana baru.
Terlebih saat baru saja kehilangan orang yang di sayangi.