
Miya mengusap keringatnya yang muncul di kening, dia sudah bergerak mulai dari dia pulang kantor. Meski hari ini banyak orang datang membantu, tapi sebagai tuan rumah dia tidak boleh berdiam diri saja.
Hari ini adalah hari dimana ponakannya akan di aqiqah, jadi tentu saja rumah akan ramai. Bukan hanya keluarga dari pihak Manaf, tapi banyak juga keluarga dari pihak Rayna.
Dan Miya yang sebagai kakak selalu berusaha mengambil pekerjaan, dia tidak mau berdiam diri di satu tempat. Miya pasti akan menghindari kumpulan ibu ibu, dia lelah dengan pertanyaan yang sama.
Kapan kamu menikah? Kapan punya anak? Kapan ngenalin pacar? Udah ada pacar belum?
Dia muak!!!
Sementara itu di tempat lain, Rayna dan Andin memperhatikannya. Mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Miya mondar mandir, mereka tau kalau gadis itu tidak akan membiarkan orang memiliki ruang untuk bertanya ini dan itu padanya.
"Wah... Lihat tuh kakak iparmu." Andin bergumam kagum.
Rayna menghela nafas "Dia tidak akan seperti itu kalau dia tidak keras kepala."
"Hm?"
Rayna menoleh ke Andin "Sebenarnya Mama mertuaku merencanakan banyak kencan buta, tapi teman lo nolak mentah-mentah."
"Hahaha.... Perasaan tidak bisa di paksakan Nana, Sarina pasti ada alasan menolak." Andin menopangkan kedua tangannya menatap lurus "Menikah bukan kehendak itu sama sekali tidak menyenangkan."
"Maksud?"
Andin menegakkan duduknya dan menatap Rayna "Ini bukan novel, dimana pasangan kencan buta akan berakhir romantis, kalau pun ada pasti sangat jarang terjadi.
"Lo ngak berpatokan pada pengalamanmu kan?"
Andin tersenyum kecil "Tapi setidaknya pengalamanku bisa menjadi contoh nyata."
Rayna tertawa "Mertuaku tidak mungkin membiarkan Miya menderita."
Andin menggelengkan kepalanya "Ibuk juga mengatakan itu dulu, pada akhirnya pernikahanku gagalkan?"
Rayna tertegun dan tidak mengatakan apa apa lagi, mereka kembali menatap Miya yang tengah mengatur peralatan makan di prasmanan. Dia bahkan tidak benar benar berganti pakaian, Rayna berharap kakak iparnya itu tidak melarikan diri setelah acara di mulai.
Miya sudah kembali ke kamarnya, dia mandi dan berganti pakaian menjadi lebih pas untuk akikahan. Setelah selesai, dia keluar ke tempat di mana acara berlangsung.
"Mi!"
Miya yang hendak mencari tempat yang tidak terlihat jadi tersentak, dia menoleh dan mendapati Maminya melambai memberi isyarat agar dia mendekat. Dia hanya bisa menghela nafas panjang, entah dia harus membuat alasan apa untuk dia tidak lama lama di sana.
"Iya Mi, ada apa?" Miya bertanya begitu dia mendekat "Halo tante!" sapanya pada wanita yang dia tahu teman ibunya.
"Ya ampun Miya, kamu makin cantik saja." Miya hanya tersenyum kecil "Bagaimana sudah ada pasangan belum?"
Oh...here we gooo...
"Belum tante!" dia masih mempertahankan senyumnya.
"Bagaimana bisa? kamu secantik ini," dia meraih tangan Miya "Lihat kulit putih tanpa bekas luka ini, tante sangat iri."
__ADS_1
"Dia sangat keras kepala, aku sudah menyiapkan beberapa teman kencan, tapi dia menolak semua" ibunya mulai mengeluh "Entah laki laki mana yang dia mau."
"Jangan begitu, Nak! Kamu tidak kasihan pada Mamimu?" dia mengelus tangan Miya "Atau mau tante yang carikan? Mami kamu sudah tua, dia pasti mau gendong cucu."
Miya tidak mengatakan apa apa, dia mempertahankan senyumnya meski dia tidak nyaman. Dia mengangkat tangan untuk menyampirkan rambutnya, sampai kapan dia harus berakting jadi anak baik?
"Tante punya banyak kenalan yang punya anak masih lajang, kamu hanya perlu mengatakan seperti apa kriteriamu?"
"Saya tidak tertarik pacaran tante."
"Lihat!" Maminya menghela nafas kesal. Wanita itu kembali meraih tangan Miya
"Jangan seperti itu, kamu coba saja dulu."
Miya benar benar tidak tertarik.
"Apa kamu mau jadi perawan tua? Sangat sulit hidup tanpa pasangan, saat ini mungkin tidak masalah karena kamu masih muda tapi bagaimana kedepannya," wanita itu memegang pipinya seperti dalam drama.
Miya masih tersenyum "Saat ini saya benar benar tidak memikirkannya, Tante."
"Aku sudah mengatakan dia keras kepala, aku capek memberitahunya." Mami Miya memegang keningnya. "Tolong ya Jeng, cariin pasangan yang cocok untuknya."
"Mami!" Miya berseru tidak setuju
"Kamu tidak usah bicara, mulai sekarang ikuti saja apa kata Mami. Cukup sudah kamu membant-"
"Aku pacaran sama Aryan!" Miya memotong kalimatnya, tentu saja itu seratus persen bohong!
Tapi Miya adalah Miya, dia akan mencari alasan apapun agar terhindar dari perjodohan konyol ini. Dia juga dulu mengikuti ekschool drama, berakting dengan wajah serius tidak terlalu sulit.
"Aryan Mi, Aryan!"
Dalam hati paling dalam dia meminta maaf pada Aryan, tapi dia tidak mau dikontrol lagi.
"Kamu layani tamu, nanti kita bicara lagi."
"Baik!"
Miya buru buru meninggalkan tempat itu, dia berusaha mencari tempat yang membuatnya tidak terlihat. Atau haruskah dia kembali ke kamar? Tidak! Dia tidak bisa melakukan itu, demi adik dan temannya.
Dia akhirnya memilih teras belakang, acara di dalam sudah di mulai. Dia menopang dagunya di atas meja, memainkan bibir gelas yang berisi teh yang sempat dia ambil tadi.
"Kenapa di sini?" Andin yang mencarinya dari tadi akhirnya ketemu. Miya mendongak sebentar kemudian memakan gelasnya lagi.
Andin menarik kursi dan duduk di depannya "Capek ya sama pertanyaan orang?"
Miya tersenyum kecut "Tepatnya muak!"
"Hahahaha...." Andin tertawa "Tapi memang selalu seperti itu. Btw, pak Griffin ada di dalam."
"Wajar sih, bisa dibilang beliau sepertinya karyawan yang baik Papi."
__ADS_1
"Mengingat disiplinnya beliau, kayaknya iya sih." Andin kembali berdiri, dia menarik tangan Miya "Masuk yuk, mau lo ***** nyamuk di sini?"
Miya yang terseret kembali masuk, dia kembali memasang senyum palsunya. Tamu-tamu yang datang lumayan penting, selain relasi manaf banyak juga rekan papanya.
"Miya!" Miya menoleh dan mendapati rekan kerja ayahnya, dia tersemyum dan balas menyalami.
"Selamat malam, Om!"
"Malam, gimana kabarnya?" pria itu bertanya basa basi, ya bagaimana pun Miya anak yang punya rumah.
"Sehat, om sendiri?"
"Untuk ukuran orang tua, om cukup sehat." mereka bercengkrama sebentar sebelum pamit.
Dia menggandeng Andin menuju prasmanan, perut lebih utama ketimbang bercengkrama dengan orang lain.
"Malam pak!"
Miya mengangkat kepalanya mendengar Andin menyapa seseorang, di samping Andin ada Griffin yang sama memegang piring.
"Selamat malam pak!" sapa Miya.
"Malam." dia melirik ke isi piring Miya yang penuh, tapi dia memilih untuk diam saja.
Miya kembali fokus ke piringnya, menambah kue kuean yang sebenarnya sejak tadi menarik perhatiannya.
"Uh Mi, ingat kalori!"
Miya kembali menoleh, matanya membulat senang "Cia!"
Ciara mendekat memasukkan satu kue ke dalam mulutnya "Kalori Miya Sarina! Astagaaa..."
"Sekali kali Ciara... Lo kayak emak gue dah." dia memasukkan lagi ke piring "Lo kesini bareng siapa? Perasaan ngak ngundang."
Ciara hanya menunjuk ke tempat dia datang tadi, Miya menoleh dan melihat pria jangkung yang mengobrol dengan orang lain. Zain terlihat sangat mencolok di antara orang orang, mungkin karena dia terlalu tinggi.
"Lo ngak nemenin, Ci?"
"Dia bukan bayi." Miya hanya mencibir, tapi Zain maupun Ciara bukanlah tipe yang gampang di undang.
Well.... Mereka adalah kaum elit, sedangkan Miya kaum atas tapi tidak termaksud dalam jajaran elit.
"Oh iya, kenalin ini teman gue, Andin dan atasan gue pak Griffin."
"Halo!" Ciara menyalami mereka.
"Ciara, teman gue dari SMA."
Andin lagi lagi hanya bisa menatap takjub, gadis di depannya terlihat sangat anggun meski dibaluti pakaian sederhana.
"Oh Ya Mi, gue balik ya, kalau lama lama bisa ada reog!"
__ADS_1
"Jambak aja kali Ci kalo dia ngereog." ucap Miya yang dibalas tawa pelan oleh Ciara.
Dia tahu cara menjaga imej.