Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 70


__ADS_3

"Mami kamu mana, Bang?" tanya Aryan pada Ryan yang memasak mie instan di dapur.


"Kamar atas"


Ya, pada akhirnya Aryan dan Miya memutuskan kalau Mami dan Papi adalah panggilan untuk mereka.


Aryan berjalan menuju kamar, tapi sebelum itu kembali menoleh ke Ryan. "Abang!"


"Ya?"


Aryan menunjuk ke arah kompor, "jangan keseringan makan mie instan, tidak sehat."


"Iya," Ryan tidak akan makan mie instan kalau ada makanan, tapi hari ini Miya sama sekali tidak memasak.


Mereka memang memutuskan untuk tidak menyewa ART, kalau pun untuk membersihkan rumah mereka menyewa jasa pembersih seminggu dua kali. Tapi Aryan sedikit memikirkan, sepertinya dia akan mencari ART untuk memasak.


Aryan berjalan cepat ke kamar atas, dia tidak habis pikir kenapa perempuan itu ke atas dengan kondisinya sekarang. Padahal Aryan sudah memindahkan kamar ke bawah, untuk sementara waktu mereka akan tinggal di sana.


"Mi... Miya!" panggilnya begitu sampai di lantai atas.


Dia membuka kamar di mana sebelumnya mereka tidur, benar saja Miya di sana dengan perut buncitnya.


Dia sedang melihat komputer.


"Kenapa di sini?" tanya Aryan sambil berjalan masuk.


Miya terkejut langsung menoleh, "sudah pulang? Cepat banget?"


Aryan menghela nafas, dia duduk di tepi kasur dan menatap Miya lamat lamat. "Lo ini! Sudah di bilangin bahaya naik turun tangga."


"Kenapa sih? Lagian gue kangen kerja." ucap Miya, dia kembali menatap laptop, "makanya gue lihat lihat komputer lo."


Aryan melirik benda yang dimaksud Miya, dia memang membawa barang itu ikut pindah tapi tidak pernah memakainya. Keningnya mengkerut saat mengingat sesuatu, dia sama sekali belum mengganti wallpaper komputernya.


Dia lantas berdiri dan mendekat, saat hendak memeriksa Miya menepuk tangannya.


"Mau ngapain? Orang lagi main juga." omel Miya.


"Jangan galak galak, Mami. Nanti anak kita juga ikut galak." kekeh Aryan terlebih saat melihat Miya memutar bola mata jengah.


Yes, She's pregnant. Sudah sembilan bulan, menurut perkiraan dokter day-due Miya itu minggu depan.


Itu juga alasan kenapa dia begitu khawatir.


"Gue mau ganti tampilan layar, lupa soalnya."


"Lupa atau enggak bisa move-on?" ledek Miya, "udah sih, biarin saja."


"Enggak etis Miya, gue sudah sama lo." dia mengusap kepala Miya lembut, menunduk dan mencium puncak kepalanya. "Bukan berarti gue lupa kan sama dia? Sekarang gue cuman mau fokus sama keluarga kita saja, Lo, Gue, abang sama si kacang polong!"


Miya menampol lengan Aryan saat mendengar kalimat terakhirnya, pria itu sangat menyebalkan. Semenjak pertama kali dia memperlihatkan USGnya, Aryan selalu menyebut calon anak mereka kacang polong, sebagai Ibu tentu saja Miya tidak terima.


"Lo pesan makan gih, gue enggak masak karena bahan di dapur habis. Kasian Abang Ray ngak makan." suruh Miya saat teringat akan keadaan kulkas dan remaja yang sekarang duduk di bangku kelas sembilan itu.


"Tadi pas gue datang, dia masak mie instan."


Miya mengkerutkan keningnya, kapan dia menyetok mi instan? Karena dalih kesehatan anak, Miya tidak pernah menyetoknya meski terlihat Ryan suka.


Miya melotot ke Aryan, "lo beliin dia Mie? Aryan lo tau kan kalau anak anak tidak boleh makan itu, enggak sehat. Aduh gimana sih?"


"Bukan Mi, kayaknya dia keluar beli."


Miya memicingkan matanya, "di sini warung atau mini market jauh ya, abang juga enggak mungkin beli di sekolah karena sekolahan enggak ngebolehin jajan di luar."


Aryan menyengir, memang dia pelakunya. Kapan hari dia berbelanja dengan anak sulungnya itu, supaya Miya tidak marah mereka menyembunyikan di dalam tas sekolah Ryan.


"Aryan, lo ini bener bener y-"


"Sesekali sayang!" dia langsung memeluk Miya mencium pipinya, "Ray juga tahu batasannya, dia tidak mungkin makan itu tiap hari."


Di lantai bawah, Ryan menggaruk telinganya yang tiba tiba gatal.


Satu hal lagi yang Aryan syukuri, Miya itu menyayangi Ryan seperti anak sendiri. Padahal di luar sana, menerima anak orang lain itu sulit apalagi kalau hanya anak angkat.


"Mi, mau makan apa? Gue beliin?" Miya menatap Aryan kemudian menggelengkan kepalanya, "makan Miya."


"Enggak lapar." Miya yang tadi berniat melihat lihat pekerjaan, memilih untuk membuka folder foto.


Aryan mengambil kursi meja rias Miya, dia duduk tepat di samping Miya. Menemani wanita itu melihat lihat foto, Aryan bahkan lupa kalau punya.


"Ini enggak ada foto dengan cewek lo pas kuliah, Yan?" tanya Miya karena dari tadi dia tidak menemukannya.


"Enggak pernah foto."


"Kenapa?"


"Entahlah, tidak saja." Aryan mengedikkan bahunya, dia bahkan tidak pernah ingat kalau pernah jalan dengan mereka.


Kecuali Nabila, biar bagaimana pun mereka berpacaran dua bulan. Tapi seingat Aryan, itu hanya dua kali.


Ke mall sama ke restourant dekat kampus.


"Lo sendiri ada gak?" tanya Aryan, "eh tapi setelah sama Dimas, lo pacaran berapa kali?"


Miya mengangkat tiga jarinya.


"Tiga? Sedikit banget!"

__ADS_1


"Dihh..." Miya mencibir jijik "lo pikir gue perempuan apaan? Itu pun gue capek, karena mereka maunya keluar mulu tapi gue tolak mulu."


Aryan tertawa pelan, pasti pacar pacar Miya menyerah karena itu. Biar bagaimana pun saat berpacaran, pasti selalu ingin bersama tapi Miya menolak.


Tentu jengah lah.


"Kalau bukan karena Andin dan Rayna, mana mau gue pacaran. Tapi mereka katanya gemas melihatnya, cantik gue mubazir kalau jomblo."


Padahal Andin sendiri tidak mau pacaran, dia hanya suka melihat cowok ganteng.


*****


Aryan berlari di koridor rumah sakit, jantungnya berdetak kencang setelah mendapat kabar dari adik iparnya. Miya tiba tiba mengalami kontraksi, dia ada di ruang bersalin sekarang.


Kalau saja dia tidak berangkat duluan tadi.


"Aryan!" seru Manaf saat Aryan tiba di depan ruang bersalin.


"Miya?"


"Ada di dalam, dia ditemani Mami."


Aryan memijit kepalanya, dia benar benar tidak mengharapkan ini. Day-due Miya padahal lima hari lagi, tapi anaknya sepertinya tidak sabaran.


"Papi!" Aryan menoleh dan mendapati Ryan dengan seragam sekolahnya, keringatnya bercucura di pelipis, sepertinya dia berlari begitu turun dari mobil. "Bagaimana dengan Mami?"


"Di dalam." Aryan berjalan ke arah pintu, "Abang di sini saja." titahnya, meski khawatir Ryan tetap setuju.


Aryan masuk dan pandangan pertama yang dia lihat adalah Miya yang meringis mencengkram bantal, ibu mertuanya berada di samping Miya seolah menyemangatinya. Aryan dengan cepat mendekat, menggosok pinggang Miya.


"Hai." sapanya dengan nada yang sangat lembut, Miya langsung menoleh dengan wajah basah.


Aryan menunduk mencium keningnya, "terima kasih."


"Tell me that, after the baby is born." gumam Miya, dia memperhatikan Aryan yang masih memakai pakaian operasi. "Bagaimana operasinya?"


"Operasinya sukses, maaf baru datang."


Miya menggelengkan kepalanya meski wajahnya sesekali meringis sakit, perempuan itu menangis tanpa suara. Aryan menghapus air matanya, kemudian turun mengusap pinggang Miya.


"Kita sesar saja ya?" bujuk Aryan, Miya langsung menggelengkan kepalanya.


Sejak awal dia memang mau normal, dia ingin merasakan yang namanya melahirkan normal. Aryan membantunya duduk, dia berpindah ke belakang Miya dan membiarkan dirinya jadi sandaran.


"Abang sudah dijemputkan?" Miya menggigit bibir bawahnya, dia bertanya untuk mengalihkan rasa sakitnya.


"Sudah, dia sekarang di luar nungguin kamu dan kacang polong."


"Aryan!"


Dia kemudian menoleh ke mertuanya, "Mami sudah makan? Kalau belum, Mami makan dulu biar saya yang jagain."


"Tidak, Mami tidak lapar."


"Enggak apa apa, Mi. Mami makan saja dulu, Mami belum makan dari tadi." ucap Miya di tengah ringisannya.


"Mana bisa Mami makan?" dia mengusap wajah basah putrinya, "jangan pikirin Mami, kamu fokus dulu ya. Kalau tidak kuat, kamu mau ya sesar."


Miya menggelengkan kepalanya, "Enggak."


"Iya enggak!" Aryan mengusap perutnya, "mau jalan enggak?"


Miya menganggukkan kepalanya, dengan bantuan Aryan dan Maminya tentunya.


"Kamu ganti baju dulu," ucap Maminya Miya, tapi Aryan tampak enggan membuat wanita itu menghela nafas. "tidak apa, Mami akan jaga Miya."


Aryan berpikir sejenak, tapi setelah di pikir lagi dia memang harus ganti baju. Tapi saat hendak keluar, pintu terbuka lebih dulu oleh seorang suster.


"Dokter!" serunya, "pasien di kamar 201 harus butuh penanganan segera."


"Dokter yang lain tidak ada?" suster itu menggelengkan kepalanya, Aryan langsung pias. "ke mana mereka?"


"Karena bencana alam, sebagian dokter pergi. Yang tersisa hanya beberapa saja, itu pun mereka punya pasien masing masing."


"Sana, tidak apa." ucap Miya mengusap lengan Aryan.


"Tapi, Mi!"


"Lo Dokter, Yan. Ini tugas lo." bujuk Miya, Aryan masih tidak bergeming. Miya makin mendekat, menyentuh pipi Aryan dan mengusapnya pelan. "Lo sudah bersumpah, Yan. Lo harus tepatin sumpah dokter lo, gue gak apa."


Aryan menundukkan kepalanya, dia benar benar tidak ingin pergi dan hanya ingin menemani Miya. Biar bagaimana pun juga, ini anak pertama mereka.


"Yan, gue gak apa apa ada Mami di sini."


Mertuanya juga memegang lengannya, "tidak apa, pergi dan selamatkan pasienmu."


Aryan menarik belakang leher Miya, mencium keningnya lama... Perasaannya campur aduk saja.


"Maaf!" lirihnya.


Miya tersenyum, "tidak apa-apa, sana penuhin tugas lo."


Sekali lagi dia mencium puncak kepala Miya dan berbalik keluar, dia meminta suster memimpin jalan.


"Yan!" dia menghentikan langkahnya dan menoleh dan melihat Miya, "fokus."


Aryan tersenyum kecil sambil mengalungkan kembali kartu identitasny, "Iya." dia melihat mertuanya, "Mami, titip istri dan anak saya."

__ADS_1


"Tanpa kamu minta."


*****


Aryan melepas penutup kepalanya, dia keluar dari ruang operasi setelah tiga jam. Mengusap wajahnya gusar, dia kembali memikirkan Miya dan calon anak mereka.


"Papi!"


Aryan terkejut dan menoleh ke samping, Ryan berdiri menatapnya.


"Mami?" tanya Aryan


"Di tangani dokter, katanya sudah mau lahir." beritahu Ryan.


Dia tadi diminta untuk mencari minum, saat kembali dia tidak sengaja melihat Aryan yang baru keluar dari ruang operasi.


Aryan lantas buru-buru, tiga jam dia di ruang operasi dan selama itu Miya berjuang sendiri. Saat tiba di depan ruangan Miya, dia melihat keluarga di sana.


"Hei, mau apa?" tanya Manaf saat Aryan hendak membuka pintu.


"Masuk!" ucapnya, dia tidak bisa membiarkan Miya sendirian.


Saat membuka pintu ruangan, pemandangan menakjubkan langsung terlihat. Seorang dokter menggendong bayi yang menangis, tapi bukan itu yang menjadi perhatiannya.


"Dokter!" ucap mereka terkejut.


Aryan tidak mengubris, dia mendekati ranjang di mana Miya terbaring lemas.


"Hai!" dengan suara yang sangat lemas, giliran Miya yang menyapa lebih dulu.


Aryan tidak mengatakan apa apa, dia hanya menunduk dan memeluk Miya yang masih terbaring di ranjang. Mengucapkan banyak banyak terima kasih juga permintaan maaf, dia benar benar menyesal tidak bisa menemani Miya.


Miya terkekeh pelan saat Aryan menciumi wajahnya, tapi tak lama menahan wajah Aryan dan menatapnya. "Lo nangis?"


Wajah Aryan basah, bahkan mata dan hidungnya sembab. Melihat itu membuat Miya ingin terbahak, untungnya ada suster yang mengingatkan kalau dia baru saja di jahit.


"Dokter, bayinya harus di adzankan." intrupsi dokter yang membantu persalinan Miya.


Aryan barulah melihat bayi yang ada dalam dekapan dokter.


Dokter melakukan tahapan tahapan pasca melahirkan, membiarkan ibu menyusui anaknya untuk pertama kalinya. Selama tahapan tahapan itu, Aryan tidak pernah meninggalkan Miya.


"Selamat sudah jadi Mami beneran." ucap Aryan, tangannya yang besar menyentuh dahi anaknya. "Dia bukan kacang polong lagi."


"Iya, tapi sekarang dia merah kayak bayi monyet." ucap Miya yang diangguki Aryan.


Dokter dan suster hanya bisa melongo.


Setelah dokter dan suster keluar, barulah keluarga masuk untuk melihat manusia baru. Mami Miya langsung memeluk anaknya, mencium keningnya.


"Selamat sayang, kamu sekarang seorang ibu." dia menatap bayi dalam dekapan Miya yang dibalut selimut biru. "Kamu juga sekarang seorang Ayah, selamat Aryan."


"Terima kasih, Mi."


Setelah Maminya menjauh, giliran papinya yang mendekat. Pria itu tidak mengatakan apa apa, dia hanya memeluk dan mencium puncak kepalanya.


Matanya memerah, ini reaksi yang sama saat Rayna melahirkan.


Mereka bergantian memberi Miya selamat, menyemangatinya yang baru saja melahirkan. Tak satu pun dari mereka yang berani menyentuh si bayi, mereka sadar kalau mereka tidak steril.


"Selamat, sekarang kamu beneran jadi abang!" Aryan mengusap kepala Ryan yang menatap lurus kepada bayi.


Dia tidak menyangka kalau dia benar benar akan punya adik, meski bukan saudara kandung tapi tetap saja dia bahagia.


"Mau gendong?" tanya Miya, Ryan dengan cepat menggelengkan kepalanya.


Dia takut menyakitinya.


"Cewek apa cowok Mi?" tanya Alisa yang menarik perhatian orang orang yang penasaran.


"Sekutu papi sama abangnya." jawab Miya, dia menurunkan selimut yang ada di bawah dagunya. Senyumnya tidak pernah luntur.


"Sudah ada nama?" tanya Manaf yang juga melihat keponakannya.


Miya dan Aryan saling menatap kemudian melihat Ryan, remaja itu tampak salah tingkah karena di tatap.


"Siapa Bang?" giliran Ruslan pada cucu angkatnya itu.


Sebenarnya di rumah itu, hanya Ryan yang percaya kalau calon adiknya itu laki laki. Makanya mereka mengatakan kalau memang dia laki laki, maka Ryan yang harus memberinya nama.


Insting anak ini ternyata akurat, adiknya benar benar laki laki.


"Zeyan Abian Ranggara!" jawab Ryan, dia sudah memikirkannya selama dua bulan.


"Di panggilnya, Aa' Zee (zi)!" saut Miya.


...***_The End_***...


See you next time๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


Terima kasih banyak untuk pecinta ArMi, maaf karena mereka tidak bisa lama lama bareng kalian๐Ÿ˜Š


Love you. โคโคโค


See ya in the next projek.


Karena sedang puasa, kalian di larang marah marah, Ok!๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2