Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 66


__ADS_3

Seperti yang sudah disepakati, Miya dan Aryan berangkat ke paris dengan biaya dari teman-temannya. Awalnya mereka berpikir untuk di dalam negeri saja, tapi setelah dipikir-pikir lagi mending langsung ke luat negeri saja.


Adapun kenpa mereka memilih Paris, ya karena tempat itu dikenal sebagai tempat yang romantis. Bukan hanya itu saja, makanan dan bangunan kota di sana adalah terbaik menurut Miya.


Mereka menginap di hotel Pullman paris tour Eiffel, Baim memesankan kamar dimana mereka bisa melihat Eiffel dari kamar mereka. Miya sangat yakin kalau Baim pasti mengeluarkan budget besar, karena siapa pun tahu kalau kamar dengan view Eiffel itu sangat fantastic.


"Lumayan nih pengeluaran si Boim." Aryan menyerahkan selimut ke Miya, cuaca memang sangat dingin sekarang.


"Terima kasih," Miya langsung memakai selimut itu. "Benar, lo mesti mikir dari sekarang, mau kasih apa ke dia kalau nikah nanti."


"Ya." jawab Aryan sambil mengeratkan jaketnya.


Ini bukan kali pertama dia ke luar negeri, tapi dia masih saja dia tidak terbiasa dengan dingjnnya. Melihat nafas Aryan yang terlihat jelas karena dingin, Miya langsung tertawa.


"Kenapa?"


"Dingin banget ya? Kuping lo merah sama hidung."


Aryan meliriknya, "menurut lo? Kayaknya sekarang mau winter deh, dingin banget."


Miya mengulurkan tangannya menyentuh telinga Aryan, wahh....pria itu benar benar kedinginan. Miya langsung membuka selimutnya, menyelimutkannya ke Aryan.


"Mending lo yang pakai."


Lagian sudah tahu dingin, kenapa juga menyusulnya ke balkon? Aryan menggelengkan kepalanya, dia memilih menarik tangan Miya masuk ke kamar.


"Gue masih mau lihat menara Eiffel!" seru Miya dengan nada merengek.


"Dingin Miya, lo juga masih bisa melihat Eiffel dari dalam."


Aryan menunjuk ke arah kasur, karena kasur menghadap balkon. Tapi bagi Miya itu tetap berbeda, dia ingin melihatnya tanpa di halangi kaca.


Lima menit kemudian, mereka berdua sudah bergelung di atas kasur. Miya duduk bersandar di dipan kasur sambil melihat rekomendasi wisata, sedangkan Aryan berbaring sambil memeluk pinggang Miya.


Mereka berdua hanya canggung saat pertama kali tidur bersama, selanjutnya mereka biasa saja. Miya berpikir karena mereka sudah kenal lama, juga sepertinya karena mereka menyadari status mereka berdua.


"Ngapain sih lo? serius amat!" tegur Aryan karena Miya sejak tadi sibuk sendiri sambil bergumam sendiri.


"Cari tempat makan enak buat besok." dia memperlihatkan layar ponselnya, dia bisa melihat Miya sedang browsing ke internet. "Sia sia juga kita jauh jauh datang kalau tidak mencoba makanannya." ucap Miya.


Mereka berdua di sana selama lima hari, cukup lama untuk orang-orang sibuk seperti mereka berdua. Dan terima kasih untuk teman temannya, dengan fasilitas yang mereka berikan mereka berdua bisa nyaman untuk ke sana kemari tanpa harus bingung sendiri.


"Besok malam kita ke seine yok, gue mau naik perahu." ajak Miya, Aryan hanya menjawab dengan gumaman karena sekarang dia sudah fokus ke layar hpnya bermain game.


Sudah lama dia tidak bermain.


Miya memukul lengannya karena posisi Aryan menyamping.


"Apa sih Miya? Gangguin aja lo!"

__ADS_1


"Heh, dikira bagus ya main hp sambil bebaringan, dokter apa lo."


Aryan mengubah posisinya menjadi berbaring, bukan hanya itu, dia juga menjadikan paha Miya sebagai bantal. "Sesekali doang ini, tapi Mi,"


"Apa?"


Aryan mempause gamenya, dia mendongak menatap Miya. "Tadi gue sempat ke kamar mandi, di sana ada jacuzzi."


Memiringkan kepalanya Miya mencoba berpikir, dia memang belum ke kamar mandi sejak tiba sore tadi. Karena suhu sangat dingin, Miya jadi tidak mandi karena takut membeku.


Padahal pastinya ada pengaturan air panasnya.


"Terus?"


Aryan langsung bangun, dia menatap Miya lekat lekat. "Mandi yok!"


Miya tanpa pikir panjang langsung setuju, toh ini bukan pertama kalinya. Mereka juga pernah mandi bersama saat masih di hotel tempat mereka menikah, tepatnya hari ketiga yang menjadi hari terakhir mereka.


"Woah!" Miya berseru takjub, karena melihat view di depan Jacuzzi.


Pemandangan kota terlihat jelas, lampu lampu jalanan dan bangunan terlihat sangat menakjubkan.


"Berendam sambil minum wine, enak kali ya!" gumam Aryan yang fokus melihat jacuzzinya.


Plak!


"Canda Miya, canda. Lagian gue sudah puas kok sama begituan." Aryan melepas bathrobenya dan masuk lebih dulu.


Miya tidak langsung menyusul, dia duduk di pinggiran sambil memasukkan kakinya. Dia sekedar ingin mengukur suhu air, kalau terlalu dingin dia akan membatalkan niatnya itu.


"Pantas saja semua mau kaya, nyaman begini." ucap Aryan.


Miya menumpukan kedua kakinya, sambil bertumpu dagu. "Lo bicara kayak orang susah yang baru pertama lihat hal mewah."


Aryan melirik ke arahnya, Miya memang duduk di samping tangannya yang bertumpu di pinggiran bak. Tangan Miya terulur menepuk kepala Aryan, dia masih tidak sangka saja sih.


"Gue tidak pernah betah tinggal di rumah gede, jadi mandi di jacuzzi begini jarang."


Dia menahan tangan Miya yang seenaknya menepuk kepalanya, dan tanpa peduli dengan Miya yang masih memakai bathrobe, dia menarik gadis itu.


"Aryan!"


"Makanya berendam!" Miya tidak mengatakan apa apa dan menatapnya jengkel saja, dia terburu buru menanggalkan bathrobenya.


Seperti kata Aryan, benar benar nyaman berendam. Rasa lelah setelah berjam jam di perjalanan terasa menguap, dia seperti akan tertidur.


Miya bersandar di dinding bak, menatap lurus ke pemandangan kota di depannya.


"Yan!"

__ADS_1


"Hm?" Aryan bergerak ke arahnya, ikut bersandar di samping Miya. "Apa?"


"Lo kangen Vina enggak?"


"Lo sendiri masih kangen Dimas enggak?" Aryan bertanya balik.


"Konsep kita beda ya. Gue tidak mungkin kangen sama suami orang, masih waras gue."


Reaksi Aryan hanya terkekeh, dia kemudian memeluk Miya dari samping. "Gue mau jujur tentang sesuatu sama lo."


Miya langsung menolehkan kepalanya menatap Aryan, jarak mereka sangat dekat.


"Apa? Lo ada cewek?"


Tanpa berperasaan Aryan mencubit pipi Miya gemas, dia tidak tahu kenapa wanita di depannya selalu aneh pikirannya.


Plak plak plak


"Sakit ege!" seru Miya sambil menepuk nepuk tangan Aryan.


"Otak lo sebenarnya mikir apa sih?" karena kasihan dia melepas pipi Miya.


"Memang lo mau jujur apa sama gue?"


Aryan diam sebentar, menatap Miya yang pipinya memerah. Katanya mau jujur, tapi kenapa pria itu diam saja?


Aryan menghela nafas panjang, "sebenarnya gue sama Vina sudah lama putus sebelum dia meninggal."


"Apa?"


Pernyataan Aryan lumayan membuatnya terkejut, mereka berdua terlihat baik baik saja sampai mereka lulus. Sebaliknya justru hubungannya dengan Dimas lah yang renggang saat itu, tapi kenapa?


"Kenapa?" Aryan mengedikkan bahunya. "Kok lo begitu sih? Lo ada salah sama dia? Lo ada cewek lain?"


"Enggak lah, selama pacaran gue tidak pernah neko-neko." ucap Aryan


"Dia yang minta putus?" Aryan menganggukkan kepalanya, Miya menyeringai mengejek "kayaknya capek sama kelakuan absurd lo."


"Tapi gue ganteng."


Miya lantas mengusap wajah Aryan dengan telapak tangannya, "lo pasti enggak tahu kan? Orang ganteng itu malah lebih gampang bikin capek hati, mana kebanyakan orang ganteng candaannya garing lagi."


"tidak masalah, yang penting ganteng."


Miya langsung mencibir.


"Tidak tahu saja dia, kalau cewek itu gampang illfeel sama cowok yang sadar kalau dirinya ganteng."


Tapi Miya tahu kalau Aryan tidak seperti itu, pria itu bahkan tidak sadar kalau dia benar benar ganteng (meski Kennan masih juara). Aryan sering mengatakan itu hanya untuk membuatnya kesal, terbukti karena Miya kesal mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2