Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 54


__ADS_3

Miya berjalan dengan santai mengikuti Papinya, hari ini dia diminta untuk melihat-lihat. Karena hari ini dia datang ke kantor bersama Papinya, tentu saja dia menjadi pusat perhatian.


Dia bisa melihat tatapan penasaran, curiga dan menghina dari rekannya. Dia juga samar samar bisa mendengar bisikin mereka, padahal dia cuman datang bersama Papinya.


Ini lah kenapa dia tidak suka jadi pusat perhatian.


Begitu masuk ke ruangan Papinya, Miya langsung misuh-misuh tidak jelas. Ruslan membiarkannya dan tetap menuju meja kerjanya, mengeluarkan beberapa berkas penting dari sana.


"Kamu baca ini dulu!" Ruslan memberinya setumpuk berkas.


"Pi, tidak bisakah yang handle ini itu Manaf?" tanya Miya, Ruslan menatap putri sulungnya serius.


"Manaf punya tanggung jawabnya sendiri, kamu juga seperti itu." Ruslan memegang mejanya, "Papi tidak mau suatu hari kalian iri-irian, satu dapat dan yang lainnya tidak. Papi berusaha adil untuk kalian berdua."


Miya diam saja mendengarnya, dia tidak akan seperti itu dan sangat yakin Manaf juga sama. Masa iri-iriannya sudah lewat, dia sudah tidak mengharap apa-apa lagi sebenarnya.


"Mungkin saat ini tidak," Ruslan menatap Putrinya yang hanya meliriknya. "Tapi kalian akan memiliki orang lain sebagai pendamping, tidak ada yang tahu masa depan."


Miya tertegun mendengarnya, dia baru menatap Papinya serius. Dia melihat mata tuanya yang menyendu, apa Papinya membahas dirinya sendiri sekarang?


Ayahnya memiliki dua orang saudara, hubungannya dengan mereka tidaklah baik. Mereka selalu iri dengan Papinya yang sukses, menuduh kalau hanya Papinya diberi warisan berlebih.


Padahal mereka tidak tahu, kalau apa yang Papinya miliki sekarang adalah usaha dan keringatnya. Kakek Miya hanya memberinya sebidang tanah, karena kecerdasan Papinya dia menjualnya dan mulai bisnisnya dari nol.


Sekarang keluarga mereka bisa masuk dalam list kelas A, banyak hal yang dikorbankan. Termaksud ketidak hadirannya di saat Miya membutuhkannya.


"Ranggara adalah keluarga elit," ucap Ruslan tiba-tiba, "Papi ingin kamu sepadan dengannya saat masuk ke keluarga itu, mereka memang tidak melihat status utamanya Aryan, tapi Papi tidak ingin kamu masuk dengan kepala tertunduk."


Ruslan tidak ingin putrinya jadi cemoohan, karena dia tau pergaulan kelas elit seperti apa.


Miya berjalan ke arah sofa, duduk di sana. Dia menatap punggung Ayahnya, bertanya dengan nada serius.


"Apa status Aryan juga alasan Mami tidak suka padanya?"


Ruslan tidak langsung menjawab, dia menutup berkas di depannya. "Ya."


Miya menahan nafas, dia sudah menyadari itu. Tapi Aryan sama sekali tidak seperti keluarga elit pada umumnya, bahkan dia terlalu sederhana untuk di sebut orang kaya.


"Tapi Aryan tidak seperti itu."


"Memang benar," Ruslan berjalan dan duduk di kursinya. "Karena itu Papi ingin kamu pantas dengannya, bukan untuk Aryan tapi untuk dirimu. Keluarga Ranggara memang tidak masalah, tapi orang orang di sekitaran Ranggara lah yang menjadi masalah."

__ADS_1


"Mereka terlalu ikut campur." dengus Miya.


"Yang kamu katakan memang benar," Ruslan tertawa kecil melihat wajah cemberut Miya, "Tapi itulah kenyataannya."


Kelas A maupun kelas Elit itu sama, mereka akan saling menjatuhkan dengan mencari celah kecil. Miya belum pernah benar benar bergaul dengan benar, karena itu Ruslan ingin dia mempersiapkan dirinya.


"Apa Papi benar benar tidak masalah dengan Aryan? Reaksi Papi berkebalikan dengan Mami." Miya sebenarnya sangat memberanikan diri menanyakan ini, dia bahkan bisa merasakan keringat di punggungnya.


Kalau Papinya juga tidak setuju, dia mungkin benar benar akan mundur.


"Papi tidak pernah mempermasalahkannya, kalau kamu merasa cocok dengannya, maka lanjutkan. Papi tidak ingin mengekang anak anak papi soal pasangan."


Papinya tidak berbohong, saat Manaf memperkenalkan Rayna pun beliau menerima begitu lapang. Tidak pernah sekalipun dia menyudutkannya soal pernikahan, Papinya terlalu baik dalam hal ini.


"Jangan menatap Papi seperti itu," Ruslan menarik berkas lagi, "memang orang tua selalu ingin anaknya bahagi, tapi tidak semua pendapat orang tua itu membuat anak bahagia."


Dia menatap putrinya lagi.


"Karena itu sebagai seorang anak, kalian yang bertanggung jawab sepenuhnya dengan keputusan kalian. Kalian tidak bisa menumpahkan ke orang tua kalian, tidak menyalahkan kami saat pilihan kalian tidak sesuai harapan kalian."


Miya menegakkan duduknya, bagaimana dia hampir melupakan sisi tegas Papinya ini.


Miya meski tetap cemberut tetapi tetap menurut, "Oke." dia kemudian berdiri "Sekarang Miya bisa ke ruangan Miya kan?"


Ruslan mengangguk, dia bahkan mengibaskan tangannya meminta sang Putri untuk keluar. Miya dengan cepat meninggalkan ruang itu, dia kembali ke ruangannya.


"Kenapa dah muka lo cemberut gitu?" tanya Andin yang melihat Miya berjalan ke arah mejanya. "Berantem sama bokap juga lo?"


Miya meletakkan berkas di atas mejanya, menghempaskan di kursinya. "Enggak, Papi malah ngasih tugas lebih berat."


Andin mangguk manggukkan kepalanya, "Katanya Alwan sudah pulang ke rumahnya."


"Beneran?" Andin menganggukkan kepalanya, "Alhamdulillah."


Andin meregangkan tangannya, sambil kepalanya menatap Miya. "Mau jenguk, ngak?"


"Tidak," Miya menggelengkan kepalanya, dia masih memiliki banyak pekerjaan. "Dokumen yang dikasih sama direktur harus gue selesaikan."


"yahhh... Padahal gue malas balik ke kosan," dia menopang dagunya, tangannya yang lain menekan nekan keyboard. "Ibuk mana mau berkunjung lagi."


"Bagus dong!"

__ADS_1


Andin mendengus tanpa mengatakan apa apa, Miya juga tidak melanjutkan obrolannya.


Ting!


Miya menoleh ke ponselnya, pesan baru saja masuk. Dengan malas malasan dia meraih hpnya, melihat siapa yang mengiriminya pesan.


Eh?


"Kenapa?" tanya Andin yang melihat wajah heran Miya, "siapa yang nge-chat sampai muka lo aneh begitu?"


Miya mengarahkan layar ponselnya ke Andin, memperlihatkan chat yang baru masuk. Andin buru-buru mengambil hp Miya, memastikan kalau dia salah lihat.


"lo masih simpan nomornya?"


Miya menganggukkan kepalanya, "Gue lupa kalau gue belum hapus." Miya menjawab sambil mengedikkan bahunya.


Andin memijit keningnya, dia sungguh takjub dengan sifat acuh temannya.


"Ya Allah, Miya Sarina!" dia berseru kesal, "nomor brengs*k begini mah di hapus atau blok saja."


"Tau," Miya mengambil hpnya lagi "tapi gue lupa."


Mengingat keberadaannya saja dia sudah lupa, apalagi kontak yang sudah lama dia simpan. Tapi Miya tidak segera menghapusnya, setidaknya demi sopan santun saja.


Dia meletakkan kembali hpnya, pekerjaan di depannya jauh lebih memusingkannya. Menjadi pemimpin berarti tanggung jawabnya besarkan? Apa dia menyerah saja?


Tapi mengingat ucapan Papinya tadi, Miya mengurungkan niatnya. Meski tidak suka dengan suasana yang berubah, tapi benar kata Aryan, sebaiknya dia mencoba dulu.


Bicara tentang manusia satu itu, sudah dari tadi dia tidak mengabarinya. Yah mau bagaimana lagi kan? Pacarnya itu seorang dokter.


Miya bergidik sendiri, siapa yang menyangka kalau dia dan Aryan akan menjalin hubungan lebih dari pertemanan.


Ting


Miya mendengus melirik hapenya, orang tadi kembali mengiriminya pesan.


Razak : Bisakah kita bertemu? Ada yang mau gue bicarain!


Miya meraih ponselnya, mengetik dengan padat dan jelas.


Miya : Tidak!!

__ADS_1


__ADS_2