
Andin menatap takjub ballroom yang menjadi tempat resepsi, dia tahu Miya orang kaya hanya saja dia tidak menyangka. Ballroom itu sangat mewah, bahkan sepertinya dia merasa tidak pantas masuk.
"Jangan biarkan media meliput tempat ini!"
Andin mendengar pembicaraan dua pria berjas hitam, bahkan tadi sebelum masuk undangannya diperiksa dulu. Dari sana dia sadar, kalau suami Miya bukan hanya sekedar dokter.
"Pak!" dia berseru saat melihat Griffin, dia dengan cepat mendekatinya. "Saya pikir tidak akan ketemu orang yang saya kenal, tapi bapak datang sendiri?"
"Ya."
Dia berjalan mencari kursi, karena tidak mengenal siapapun dia mengambil meja yang hanya diperuntukkan dua kursi.
"wahhh... Sarina cantik sekali." ucap Andin sambil menarik kursi di depan Griffin. "Kalau Rika disini pasti sudah kejang kejang!" ucapnya kemudian tersenyum jahat.
Griffin sering bingung dengan wanita, mereka terkadang saling care tapi kalau tidak suka, mereka seperti manusia yang takut terjangkit virus. Tapi yang dikatakan Andin memang benar, Miya tampak cantik dan anggun dengan gaun pernikahannya.
"Pak, bapak tidak masalah sendiri kan?" tanya Andin tiba tiba, dia juga sudah berdiri. "Saya harus menghampiri teman kuliah saya."
"Silahkan."
Andin mengambil tasnya, tapi sebelum pergi dia kembali mencetuk jahil, "bapak jangan kangen ya sama saya."
Griffin mengibaskan tangannya, dia juga tidak mengerti kenapa bawahannya satu itu suka menggodanya.
"Hai!" sapa Andin saat tiba di depan meja teman temannya. "apa yang kalian lihat? sampai teman sendiri pun tidak dilihat."
Salah satu dari mereka menepuk tangan Andin, menunjuk ke area depan di mana Kevin dan Fadly duduk berdampingan.
Andin menahan nafas, dia tahu Miya berteman dengan mereka, tapi siapa yang menyangka kalau mereka akan hadir.
"ya ampun, gue hampir lupa!" seru salah satu dari mereka, "kita harus mengabadikan momen ini, kapan lagi coba satu ruangan dengan artis kenamaan."
Wanita itu dengan cepat mengeluarkan ponselnya, dia ingin memotret artis yang mereka lihat. Andin baru akan menegur, sebuah tangan langsung menutup kamera sehingga layar menjadi hitam.
Andin melihatnya dengan jelas, seorang pria tinggi dan tegap, dia memakai pakaian militernya. Dilihat dari mana pun, dia baru saja kembali dari bertugas walau pakaiannya rapi dan bersih.
"Ada beberapa orang yang fotonya tidak bisa diambil sembarangan, tolong dimengerti." ucap pria itu dengan tegas.
"Oh! Apiiinn!"
Alvin mengalihkan perhatiannya dari wanita di depannya, dia melihat Ciara dan Sasha melambai ke arahnya. Dia menjauhkan tangannya dari kamera dan berjalan mendekati temannya, tapi sebelum itu dia mengingatkan wanita wanita itu untuk tidak mengambil gambar ke arah meja mereka.
"Baru datang lo!" Kevin mengambil kursi untuk temannya itu duduk.
"Kerjaan gue baru selesai," Alvin duduk, dia hampir merebahkan kepalanya tapi dia mengurungkan niatnya saat melihat Miya melotot ke arahnya. "Bagaimana Aryan tadi?"
"Baru kali ini gue lihat Aryan segugup itu" Budi berkata sambil berusaha menahan tawanya.
Kennan yang juga hadir mengangguk, "dia bahkan tidak segugup itu di operasi pertamanya."
__ADS_1
"Sebenarnya ini kali kedua Aryan tremor seperti itu." ucap Alisa tiba tiba.
Memang benar ini kedua kalinya dia melihat, pertama saat dia memegang ibunya yang penuh darah tapi itu lebih ke takut, kedua ya sebelum ijab tadi. Alisa memandang sepupunya yang duduk di pelaminan, ya... Adik kecilnya sekarang sudah besar dan menikah.
"Muka lo sekarang kayak emak yang pertama kali nganter anak ke sekolah." kata Hanin, dia sudah memperhatikan Alisa sejak tadi. "Padahal yang nikah anak-anak gue."
"Hanya siapa yang sangka kalau mereka berdua bakal bareng-bareng!" Ciara berkata, "inget gue, dulu Miya sering disebut PHO sama sering disangka selingkuh sama Aryan."
Di tempatnya, Dimas merasa tidak enak saat mendengarnya. Soalnya yang sering menuduh Miya adalah teman sekelasnya, juga teman teman yang dekat dengan Dalvina.
Di atas pelaminana, kaki Miya terasa gatal ingin bergabung dengan teman-temannya. Dia merasa iri kepada mereka, mereka bisa tertawa terbahak bersama sedang dirinya harus duduk manis.
Aryan meraih tangan Miya, mencondongkan dirinya ke arah telinga Miya. "Lo bisa tenang enggak? Orang orang pada lihat ke sini."
"Ini kapan selesainya coba, gue juga mau main bareng mereka." rengek Miya yang masih melirik ke meja yang paling berisik.
"Yan, sabar Yan! Entar malam saja!" Aryan langsung mendelik ke asal suara, bukannya merasa bersalah Baim dan Zain malah tos ria.
"Gue gibeng juga tuh bocah bocah!" gumam Aryan, Miya tertawa di sampingnya.
"Lo lebih bocah kali dari mereka."
"Gue?" Aryan langsung melihat, gadis itu malah mengangkat alisnya mengikuti gaya Aryan "kapan? Gue enggak pernah ya."
"Oh ya?" Miya mengulurkan tangannya mencubit lengan Aryan "terus kemarin yang ngambek karena enggak diajak makan siang bareng waktu gue jemput Ryan siapa?"
Aryan mengatupkan mulutnya sebelum berkata, "enggak tahu. Bukan gue itu, Ray kali."
"Selamat!" ucap Razak saat Miya dan Aryan tiba di depan mereka.
"Terima kasih," balas Miya, "kalian harus makan sebelum pulang nanti."
"oke."
Setelah mendengar itu barulaj mereka beralih ke tamu lain, Razak hanya bisa memandang punggung mereka.
Dia sebenarnya sangat terkejut saat tiba, tidak menyangka kalau pernikahan akan semegah ini. Bukan hanya dia tapi Zara juga, dia tidak tahu kalau Aryan dan Miya sekaya itu sampai mengundang aktor yang katanya sulit sekali di undang itu, bahkan mengundang penyanyi yang sekali manggung bayarannya sangat mahal.
Miya dan Aryan akhirnya menghampiri meja yang sejak tadi menarik perhatian mereka, meja yang berisi manusia paling berisik. Baru saja sampai, Aryan langsung memukul kepala Zain dan Baim.
Jadinya mereka bermain seperti anak anak, saling memukul dan menghindar. Afkar lagi lagi hanya bisa menghela nafas panjang, dia sudah capek dengan kelakuan mereka.
Miya menyatukan tangannya di depan dada, "gue sudah lihat hadiah kalian, thank youuu..."
"Buat lo, apasih yang enggak!" Kevin mengedipkan sebelah matanya, bukannya tergoda Miya malah memasang ekspresi mau muntah.
Aryan yang sadar akan sesuatu menoleh, "anak-anak mana? Kenapa tidak ada di sini?"
"Di ruangan sebelah, kasihan kalau mereka di sini, bisa rewel." kata Hanin. "saat sesi foto baru dijemput."
__ADS_1
"Anak gue mana?" Aryan bertanya lagi, bukan bagaimana, Anaknya lah yang paling besar dan bisa bertahan di tempat ramai begini.
"Diseret Aries tadi, entah main di mana." jawab Alisa, "Lo fokus saja dulu sama acara, anak anak ada yang ngawasin kok."
"Yan, sapa tamu lo yang lain." suruh Afkar, setidaknya kalau Aryan pergi kebisingan bisa berkurang dua orang.
"Akhirnya... Nikah juga lo, Yan!" Angga memeluk adik kelasnya itu saat menghampirinya.
"Kak Aryan, kak Miya selamat. Samawa ya kak, moga moga anak-anak aku bisa dapat adek buat main." ucap Lily serius, Miya memeluknya dan mengucapkan terima kasih.
"Jangan lama lama meluknya," Angga menarik istrinya mendekat padanya, Aryan dan Miya mencibir bersamaan. "Niel, Hari, Dwi sama Ezra nitip selamat untuk kalian, mereka tidak bisa datang. Hari ini juga Ezra ada sidang."
"Ya tidak apa apa sih, Kak." Miya kemudian mengangkat Ibu jari, jari telinjuk, kemudian saling menggesekkannya. "Enggak masalah, asal titipan amplopnya tebel!"
Angga tidak bisa mengatakan apa-apa dan hanya tertawa, dia sudah mendengar kalau pengantin Aryan sangat suka dengan uang. Setelah berbasa-basi sebentar, Aryan pamit untuk menemui tamu lainnya.
Saat mereka tiba di meja rekan Aryan, di sana Aryan juga diledek habis habisan. Tapi yang membuat Miya heran, Aryan sama sekali tidak membalas dan hanya senyum tipis.
"Dih sok ganteng!" cibir Miya saat mereka meninggalkan meja dokter itu.
Aryan tersenyum ke arahnya, "emang gue ganteng!"
Tapi kehebohan sebenarnya terjadi saat sesi foto, teman teman mereka riweh dengan masalah masing masing. Entah dengan baju, posisi, anak mereka, semuanya sangat berisik.
"Jangan dekat dekat sama gue!" Aryan berusaha mendorong temannya yang paling rusuh.
"Siapa juga mau dekat dekat, si Boim noh!" Zain berusaha menghindari dorongan Aryan.
"Gue mau di depan!" protes Miya yang masih berdiri di samping Aryan.
"Kaki anak gue!" Hanin mendorong Kevin yang ada di depan Afika.
Kevin menoleh, "Enggak kena juga. Pika sama Om aja ya di depakhh... Apa sih Pa?" serunya saat tangannya di tepuk Aryan.
"Enggak usah pegang pegang anak gue."
"Gue mau di depan!" Miya masih berseru tidak terima dia dibelakang. "Ka, ngapain sih lo depan!"
"Bawel banget lo jadi manten!" protes Cakra yang mempertahankan tempatnya.
Di depan mereka, fotografer menghela nafas panjang. Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Apa yang dihadapinya sekarang.
"Kalem wei... Kalem!" seru Alga, "astaga kaki gue keinjak!" dia mendorong Alvin di sampingnya.
Alisa yang tidak ikut berfoto mendekati kameramen, dia memberi isyarat untuk bersabar. Dia menarik nafas panjang, kemudian menatap ke orang-orang yang selalu heboh dari dulu.
"Dua menit kalian tidak dalam posisi, enggak ada foto bareng!" serunya yang membuat orang di depan langsung diam.
Fotografer menatap Alisa dengan tatapan terima kasih, Alisa mengibaskan tangannya
__ADS_1
"Tidak usah berterima kasih, sulit memang kalau berhadapan dengan mereka."