Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 8


__ADS_3

Miya memutar bola matanya jengah, Rayna menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Sebenarnya dia sudah bertanya banyak hal, tapi dia menghindarinya dan sekarang Rayna mendudukkannya di depannya.


Manaf yang tidak tahu apa-apa pun di seret, kakak beradik itu duduk berdampingan di depan wanita hamil. Rayna menghela nafas panjang, banyak pertanyaan di kepalanya.


"Kenapa?" Manaf menyikut pelan kakaknya


"Obatnya habis kali," jawab Miya asal dan tentunya mendapat tatapan protes dari sang adik.


"Sayang, kamu tahu tidak? Miya ternyata satu sekolah dengan dokter yang terkenal di rumah sakit." seru Rayna berapi api.


"Dokter? Dokter mana?" tanya Manaf "Apasih Mi?"


Miya menghela nafas panjang "Terus? Kalau aku satu sekolah memangnya kenapa?"


"Di saat lo punya teman seganteng itu, kok bisanya lo jomblo?" tanya Rayna mendelik, Miya hanya bisa merasakan anak panah tak terlihat menembus jantungnya.


Pertanyaan apa itu?


"Waktu SMA gue juga punya pacar kali, sekatang saja tidak ada karena emang gue ngak mau." ucap Miya membela diri.


Wah... Walaupun wajahnya tidak secantik anak-anak IPA 1 yang bak anak bangsawan, pacarnya dulu juga anak OSIS loh. Begini begini dia juga anak IPS 1, yang terkenal sebagai kelas visual pada jamannya loh.


"Sok cantek banget!"


"Emang!" Miya berdiri "Sudahkan? Gue mau balik kamar."


"No!" Rayna menahan tangan Miya "Ok, kita ngak bakal bahas teman Lo yang ganteng itu, sekarang lo duduk lagi."


Miya kembali duduk, dia menopang dagunya dan menatap adik iparnya. Rayna mengeluarkan sesuatu dari tasnya, lalu dia meletakkan kertas di atas meja.


"Ini nama nama cowok single yang diberikan Mami." Miya memutar bola matanya jengah, Mertua dan menantu kenapa kompak sekali? "Silahkan pilih, kamu hanya perlu kencan buta."


"Ayolah, gue bisa cari sendiri."


"Lo cari sendiri? Sampai Mami pikun pun kamu ngak bakal nyari!" omel Rayna, "lo tentuin yang mana."


Miya berdecak dan menoleh ke arah adiknya, Manaf membuang muka seolah dia tidak mendengar apa apa. Dengan kesal Miya memukul kepala adiknya, Manaf hanya bisa meringis.


"Ikutin saja dulu mau Mami, kalau lo entar ngak srek jangan jalanin." ucap Manaf mencoba menengahi "kencan buta tidak seburuk itu, sekali kali buat Mami seneng kali, Mi."


Miya menghela nafas kasar, dia kemudian berdiri "Terserah!"


"Na, terus ini giman-" kalimat Rayna terhenti saat dia yang hendak menyusul Miya di cegat Manaf, "Sayang?"


"Jangan memaksanya."

__ADS_1


"Tapi ini Mami yang minta."


Manaf menarik pelan tangan sang istri, mengelus perut buncit dimana anaknya bersemayam. Dia menatap wajah istrinya yang melihat ke lantai atas, dia tersenyum tipis.


"Miya itu anaknya keras, kalau dipaksa dia bisa makin berkeras."


"Tapi Mami?"


Manaf menyentuh sudut bibir Rayna "Yang pentingkan kamu sudah menyampaikan pesan Mami, masalah Miya terima atau tidak itu urusan mereka."


"Tapi kan..." Rayna berdecak kesal, bukan bagaimana bagaimana Miya kalau dibiarkan seperti ini dia akan melajang seumur hidupnya. Rayna hanya mengkhawatirkannya saja.


"Dia sudah cukup dewasa untuk memikirkan hal ini, kita tidak bisa ikut campur terlalu jauh. Biar bagaimana pun ini hak pribadinya dia, dia yang akan menjalaninya."


Rayna menatap sang suami lamat lamat, menangkup wajahnya kemudian menciumnya. Meski lebih muda darinya dan Miya, Manaf jauh lebih dewasa dalam berfikir.


"Pinternya suamiku!"


*******


"Nyesel lo ngak datang kemarin," itu adalah kata sambutan Andin begitu Miya duduk di depan meja kerjanya.


Miya langsung menoleh ke arahnya "Kenapa?"


Ah iya, Miya bekerja sebagai staf administrasi di sebuah bank swasta milik Ayahnya. Meski tempat tersebut milik sang Ayah tak satupun dari karyawan di sana yang tahu soal itu, Miya berusaha menyembunyikannya rapat rapat.


"Kok bisa?"


Andin menjentikkan jarinya "Nasabah itu ternyata istri sah pacar Rika."


Miya langsung menutup mulutnya kaget, dia terkejut mendengar berita yang baru saja di dengarnya. Rika adalah salah satu CS di tempat itu, meski memang sedikit menyebalkan tapi Miya tidak menyangkanya.


"Sombongnya selangit ternyata main dengan suami orang," Miya menepuk paha Andin untuk menegurnya. "Tapi serius Na, kemarin gue kayak puas liat dia dijambak sama mbak mbak itu."


"Kenapa?"


Andin menatap rekannya tidak percaya "Lo masih nanya Na? Siapa coba yang tidak kesal liat orang yang selalu menatap lo rendah. Na, dia kan sering ngeremehin lo, lo ngak marah?"


Miya menggelengkan kepalanya "Untuk apa?"


"Lo terlalu baik, Na."


Miya hanya tersenyum mendengarnya, ya tidak buruk juga di puji baik. Tapi sebenarnya tidak mengenal dirinya saja, Miya tidak jauh lebih menyebalkan saat berada di rumah.


Manaf sering mengomelinya karena sifatnya itu, ditambah dia suka malakin duit sang adik. Miya sudah terkenal mata duitan, dia mencintai apapun yang bisa menghasilkan uang.

__ADS_1


"Tapi Na," Miya melihatnya lagi "Tentang teman lo yang ketemu di pesta Razak itu.."


"Aryan?" Andin menganggukkan kepalanya "Kenapa?"


"Orangnya memang dingin ya? Kata teman temannya dia tidak pernah tersenyum sekalipun."


Miya menelengkan kepalanya ke samping, memikirkan Aryan di masa lalu. Keningnya mengkerut sedikit "Pas SMP iya, SMA tidak lagi malah dia salah satu dari tiga biang rusuh di kelas." ucap Miya.


"Masa? Tapi kata ketiga temannya dia dingin banget, meski begitu dia ganteng banget." Miya mengangguk mengakui itu "Lo tidak pernah naksir dia Na?"


Miya diam sebentar "Pernah tapi sudah lewat." dia mengedikkan bahunya acuh tak acuh.


"Kenalin ke gue dong? Gue suka cowok red flag modelan dia." Andin menaik turunkan alismya, Miya menautkan tangannya dan melihat serius ke Andin


"Pertemanan kami tidak seintens itu sampai bisa ngenalin orang ke dia," dia berganti bertumpu dagu "Setelah lulus pun pernikahan Razak adalah pertemuan pertama."


"Serius?" Miya menganggukkan kepalanya, tapi tidak lama dia menegakkan duduknya saat matanya bertemu pandang dengan kepala staf.


Andin yang menyadari itu juga langsung menegakkan duduknya, kepala staf mereka itu lumayan menakutkan mungkin karena ketegasannya. Padahal masih muda tapi sudah setegas itu, kalau Miya tidak salah ingat usianya baru memasuki kepala tiga.


"Selamat pagi, Pak!"


"Pagi Pak!" Miya dan Andin mengucapkan salam bersamaan.


Tak lama dia berhenti di depan meja Miya, menatap dua gadis itu bergantian membuat mereka tegang.


"Berikan pembukuan bulan kemarin," ucapnya pada Miya "Antarkan ke ruangan saya."


"Baik pak!"


Mereka berdua menghela nafas lega begitu kepala staff meninggalkan kubikel mereka, Miya langsung menuju rak dimana dia menyimpan buku pembukuan nasabah. Andin yang sebenarnya masih ingin berbagi cerita mau tidak mau menahan dirinya, boss besar bisa marah kalau dia sampai ketahuan.


Miya yang sudah menemukan apa yang dia cari, segera menuju meja sang atasan yang letaknya tidak jauh dari mereka. Karena pekerjaan kepala staff jauh lebih banyak jadi dia diberi ruang yang lebih luas, Miya mengetuk kaca dan terdengar seruan menyuruhnya masuk.


"Ini laporan yang bapak minta," ucap Miya


"Letakkan saja di atas berkas kuning itu," kepala staff berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.


Miya yang tidak mau berlama lama di sana, segera meletakkan berkasnya.


"Sarina!" langkah Miya yang sudah hampir sampai di pintu terhenti, dia menoleh ke arah atasannya yang juga sudah mengalihkan atensinya dari komputer.


"Kenapa ya, Pak?"


"Nasabah prioritas akan datang, kamu yang anak menemani beliau."

__ADS_1


"Tapi pak? Say-" kalimatnya terhenti saat mendapat tatapan tajam "Baik!"


__ADS_2