Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 23


__ADS_3

Aryan menoleh untuk melihat siapa yang menegurnya, seorang gadis yang di balut dengan pakaian perawat. Aryan sedikit mengkerutkan keningnya, ah... dia ingat.


"Nabila!"


Gadis itu tersenyum, "Lama tidak ketemu? sedang apa disini? Apa kamu bertugas disini?"


"Tidak."


Nabila meringis kecil, Aryan masih saja sama. Dia menyampirkan rambutnya ke samping, cukup canggung untuk orang yang pernah menjadi sepasang kekasih.


"Apa kamu mau makan?"


"Ya."


Gadis itu tersenyum "Kebetulan aku juga, mau makan bersama? Makanan di kantin kami cukup enak."


Aryan berfikir sejanak sebelum mengikut, dia berada di tempat baru, wajar kalau membiarkan orang yang dia kenal untuk memandu. Dia bisa melihat beberapa perawat melirik ke arah mereka sambil berbisik, Aryan sudah kebal dengan itu.


"Ah, seharusnya aku tidak mengajakmu bicara." gadis itu tersenyum sedikit muram.


"Kenapa?"


"Hn? Hanya kamu akan ikut jadi bahan pembicaraan disini."


"oh," dia menerima nampan pesanannnya "Terima kasih."


Aryan berjalan lebih dulu, tapi dia menghentikan langkahnya saat tidak merasakan Nabila mengikutinya. Dia menoleh ke belakang, wanita itu mencari tempat lain.


Aryan meletakkan nampan tepat di meja Nabila duduk, dengan acuh dia juga duduj di sana.


"Bagaimana kabar Mamamu?"


Nabila terkejut dan mengangkat wajahnya melihat Aryan, dia tidak menyangka pria itu berbicare lebih dulu padanya. Tak ada tanggapan Aryan mengangkat wajahnya, Nabila tampak tercengang.


"Mama? Mama sudah ngak ada."


Aryan yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya terhenti, "Maaf."


"Tidak apa apa, kamu tidak tahu." Nabila benar benar canggung. "Tapi ada urusan apa kamu ke sini? Keluarga kamu ada yang sakit?"


"Nganter teman."

__ADS_1


Nabila tersenyum jail "Teman apa teman!" dia terkikik merasa sedikit lucu, Aryan meraih gelasnya


"Hanya teman!"


"ck, kamu masih saja kaku." Nabila masukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Bagaimana Seto?"


Uhuk uhuk....


Nabila buru buru mengambil air untuk dia minum, dia tidak menyangka Aryan bertanya. Seto adalah suami Nabila, pacar setelah dia putus dengan pria di depannya.


"Baik, dia baik." Aryan mengangkat kepalanya dan menatap Nabila, dia mengangguk.


"Hn."


Jujur saja gadis ini salah satu pacar yang bertahan cukup lama dengannya, dua bulan, pacar terlama setelah pacarnya di SMA. Dan jujur bagi Aryan gadis ini cukup baik, mereka putus karena Aryan sibuk pun gadis di depannya.


"Kamu kerja di rumah sakit mana?" Nabila tahu kalau sekarang dia seorang dokter.


"Rumah sakit Al-Fattah!" Aryan meletakkan alat makannya, dia melirik ke sekeliling dimana beberapa perawat berkumpul, pembicaraan mereka sudah cukup menganggu. "bac.ot banget sih!"


Seketika tempat itu sunyi, Nabila tertegun karena jujur saja dia tidak pernah melihat ekspresi Aryan selain datar. Setelah sunyi dia kembali makan, dia suka suasana tenang.


"awalnya aku juga berencana kerja di sana!" beritahu Nabila.


"Al-Fattah?" gadis itu menganggukkan kepalanya, dia tersenyum kecil tapi Aryan bisa melihat ada kekecewaan di sana.


"Tapi mau bagaimana lagi, Seto minta aku kerja disini."


"Tapi di sini tidak buruk juga," Aryan meletakkan sendoknya dan menyesap air mineral yang dia beli. "Pasiennya banyak juga fasilitasnya lumayan lengkap."


"Iya, aku tahu. Tapi sesekali keinginan masa kuliah masih ada, ngak bersyukur banget ya aku."


"Itu wajar." Aryan merogoh saku celana dan mengambil ponselnya, mengirim pesan ke Alisa untuk mengecek Ryan di rumah.


Nabila memperhatikan Aryan yang fokus ke ponselnya, entah kenapa dia merasa ada yang sedikit berbeda dari Aryan. Dulu jangankan bicara, menanggapi setiap kali dia bercerita panjang lebar saja sudah syukur.


Maka dari itu, saat pria ini mengatakan kalimat panjang membuatnya kaget saja. Tidak, dia tidak menyesal putus dari pria itu, dia hanya menyayangkan sifatnya dulu.


"Zara benar sudah menikah?" Aryan menganggukkan kepalanya, "Kupikir kalian bakal bareng."

__ADS_1


Aryan meringis karena ini bukan pertama kali dia mendengar perkataan itu, pada saat pertama putus pun banyak yang menyayangkan hal itu. Well... Mereka dikenal sebagai pasangan goals, satu cantik dan satu tampan.


Tapi bagi Aryan itu tidak terlalu penting, dia melihat gadis dari bagaimana mereka bersikap. Dia tidak senang dengan perempuan yang gampang membagi hatinya, ya meski saat itu dia memang tidak ada rasa pada Zara tapi tetap saja dia tidak membenarkan apa yang dilakukan gadis itu.


"Bukan jodoh." hanya itu tanggapan Aryan.


"Benar juga, jadi sekarang kamu sama siapa?" dia menopang dagunya melihat antusias, well siapa yang tidak penasaran. "kamu tidak mungkin sendiri kan?"


Aryan tidak menjawab membuat Nabila tidak enak, mereka tidak sedekat itu bahkan jika dia mantan Aryan.


"Maaf!" Aryan memasang wajah penuh tanda tanya, "Aku menanyakan hal sensitif."


"Bukan masalah," Aryan meletakkan sendok karena memang makanannya sudah habis. "Kamu bilang mau kerja di Al-Fattah kan"


"Dulu, sekarang tidak lagi karena keluargaku di sini," Nabila menghela nafas panjang "Tau begini, ngak nikah cepat aku."


Aryan hanya bisa tersenyum kecil sebagai tanggapan, dia orang yang tidak banyak berkomentar. Tapi bicara soal nikah muda, Aryan tidak pro ataupun kontra.


Dia sudah melihat contoh di kehidupan nyatanya. Toh kedewasaan seseorang dalam menyikapi masalah pernikahan, tidak dilihat dari umur seseorang.


Melainkan bagaimana mereka menykapi suatu masalah.


Dia keluar rumah sakit dan masuk ke mobilnya, tugas mengantar sudah selesak dan dia siap jalan jalan. Hari ini dia akan membuat alasan kalau dia ada di luar kota, sehingga besok dia tidak perlu berangkat kerja.


Setelah puas berjalan jalan, Aryan langsung mencari hotel. Dia memilih hotel yang berbintang, tidak masalah mahal asal dia nyaman.


Toh, dia nyari duit sendiri.


Tapi sebelum itu dia pergi ke mall, mencari pakaian ganti karena sudah tidak nyaman dengan pakaian yang ada di badannya. Setelahnya barulah dia kembali ke hotel.


Aryan yang baru selesai mandi, masih dengan bathrobe berjalan ke arah jendela. Dia membuka rokok yang sempat dia beli di jalan tadi, sudah lumayan lama juga dia tidak merokok.


Dia merokok sejak menginjak bangku SMA, tapi dia bukan jenis perokok aktif. Biar bagaimana pun pacarnya dulu tidak boleh ngehirup asap rokok, jadi sebagai pacar yang baik Aryan tidak akan merokok di dekatnya.


Dia bahkan selalu ganti pakaian kalau merasa bajunya terlalu bau asap, mengingat itu dia terkekeh sumbang. Aryan menopang tangannya di pembatas pagar, menghembuskan cincin asap dari dalam mulutnya.


"Baik juga gue ternyata."


Tangannya mengusap rambutnya yang masih basah, kapan terakhir dia menginap di hotel ya? Ah... Bulan kemarin, bulan sebelumnya dia menginap karena ada seminar yang wajib hadir.


Mata Aryan memandang ke luar jendela, menatap perkotaan yang seolah tidak pernah tidur. Aryan mengkerutkan keningnya saat mendengar suara suara, dengan cepat dia menoleh ke samping dan mendapati pasangan sejoli yang memadu kasih.

__ADS_1


"Sue!" dia dengan cepat menutup jendelanya.


__ADS_2