Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 42


__ADS_3

Miya menggandeng lengan Aryan masuk ke ballroom, tangannya yang lain menggenggam tangan Ryan. Suasana bak layaknya pesta semestinya yang menyambut mereka, utamanya aroma parfum yang berbeda beda menyengat hidung.


Aryan mengedarkan pandangannya untuk mencari teman teman yang sudah janjian dengan mereka, Miya di sampingnya berjalan sangat lambat.


Miya menoleh ke Ryan "kamu tidak apa apa kan?"


Remaja itu langsung menggelengkan kepalanya, ini memang kali pertama dia datang ke acara besar seperti ini.


"Mama dan yang lainnya ada di sana!" ucap Aryan yang kemudian memimpin jalan "Ray, kamu jangan jauh jauh ya."


"Iya."


Miya mengangkat tangan yang menggenggam tangan Ryan "Dia gue pegang."


Mereka berjalan mendekat ke arah Hanin dan yang lainnya, bukan hanya mereka banyak diantara mereka juga datang.


"Wahh... apa ini?" seru Baim melihat tidak percaya ke arah mereka "Keluarga cemara kah?"


Miya tertawa, tapi tidak benar benar tertawa seperti biasa.


"Im, kayaknya cuman lo doang yang ngak bawa gandengan." ledek Zain, Baim mengibaskan tangannya.


"Pengantin gue masih di rumahnya, hanya masalah waktu saja."


"Masalah waktu apaan, tunggu ntar lu bangkotan!" ucap Hanin yang lainnya pun tertawa.


Miya menarik kursi dan mendudukkan Ryan, dia duduk di sampingnya di susul Aryan. Miya mencolek dagu Afika yang tampak sibuk dengan kertas origami di tangannya, merasa terganggu dia langsung mengaduh ke Ayahnya.


"Aunty jangann..." Tegur Hanin dia melototi Miya, Miya menopang dagu tidak berniat melihat ke arah pelaminan.


"Aunty no no no... Ayaaahhh..." rengeknya lagi pada Afkar.


"Miya Sarina!" giliran Afkar yang menegurnya, bukannya merasa bersalah Miya hanya menyengir.


Seperti yang di duga, tidak ada tempat yang akan sunyi kalau mereka bersama. Buktinya di ballroom itu, hanya sudut bagian mereka saja yang paling berisik.


"Umurmu berapa, nak?" Sabrina yang memang sedikit waras bertanya pada Ryan, dia kasihan melihat anak itu diam saja.


"Tiga belas."


"Seumuran Momo dong!" Sabrina berkata sedikit terkejut.

__ADS_1


Aryan yang mendengar nama itu wajahnya langsung pias, dia tidak bisa melupakan masa lalu kelam itu. Melihat wajah Aryan yang lainnya tertawa, mereka juga tidak lupa kejadian itu


Kejadian Aryan dipipisi oleh Momo.


"Wah... dia pasti sekarang sudah besar." kata Aryan dia mengambil kue dan meletakkannya di depan putra sulungnya.


"Yah dia siswi SMP sekarang," Hanin menopang dagunya, tangannya yang lain merapikan ujung jilbab Afika "Padahal pertama ketemu, dia seumuran Afika."


"Kira kira dia bakal ingat tidak ya?" Miya cekikikan sendiri "Padahal kita mau melabrak orang hari itu."


"iya ingat gue, orang yang paling semangat ngelabrakkan elu, Mi!" ucap Zain dengan tatapan meledek, Miya mengibaskan rambutnya dengan penuh kebanggaan.


Tanpa dia ketahui, sepasang mata menatap lekat ke arahnya. Dimas tersenyum miris merasa kasihan pada dirinya sendiri, di saat dia merasakan sakit Miya sudah bisa tertawa lebar seperti biasa.


Dia sedikit terkejut saat tatapan matanya bertemu dengan Aryan, dia tahu temannya itu cukup peka terhadap sekitarnya. Dimas hanya bisa tersenyum kecil ke arahnya, dia tidak ingin memperlihatkan ketidak berdayaan dirinya.


"Aku tidak sangka, pacar kamu benar benar cowok!" ucap Agatha yang juga melihat ke arah Aryan.


Dimas langsung menatapnya, "Aku normal!" ingin rasanya dia berseru kencang, dia dan Aryan hanya teman dan yang jadi pusat perhatiannya tadi itu Miya.


Miya tanpa sengaja melihat ke arah pelaminan, melihat bagaimana pengantin perempuan tersenyum puas dan pengantin pria yang tampak gemas. Bisakah mereka saling menggodanya nanti saja? Ingin rasanya Miya meneriakkan itu.


Dia sakit hati melihatnya.


"Gue enggak apa apa!" Miya berkata dengan nada sangat pelan, hanya Aryan yang mendengarnya.


"Gak nanya gue." ucap Aryan, Miya tersenyum ke arahnya dengan sangat manis. "Akh!"


Miya menginjak kakinya kesal.


"Rasain!"


"Lo kenapa dah, Yan?" Sean yang mendengar pekikan Aryan bertanya.


Aryan menatap ganas ke arah Miya "Ada semut masuk di sepatu gue."


Miya berdiri dari duduknya, "Mau ke mana Mi?" tanya Hanin


"Kamar kecil."


Aryan menyikut Ryan, memberi isyarat agar mengikuti Miya yang terlihat linglung. Ryan yang memang merasa pusing mengikut saja, setidaknya dia bisa sedikit bernafas.

__ADS_1


Dia mengikuti Miya diam diam, seperti yang Aryan duga gadis itu tidak ke kamar kecil. Miya melangkah ke dekat kolam renang, Ryan tidak mendekat dan hanya berdiri beberapa meter dari Miya sambil mengirim pesan ke Aryan memberi tahu lokasi mereka.


Miya berjongkok menatap pantulan dirinya di air, dia sudah menahan sesak sedari tadi. Tapi dia tidak menangis, air matanya seolah sudah habis karena menangisi pria yang duduk di pelaminan selama berhari-hari. Dia bahkan beberapa kali kena semprot Griffin, pria itu benar benar disiplin soal pekerjaan.


"Miya!"


Miya mematung mendengar suara itu, suara yang sangat dia kenal. Dia tidak menoleh dengan cepat, setelah menarik nafas barulah dia menoleh.


Miya berdiri menahan dirinya agar tidak jatuh, dia menyampirkan rambutnya ke belakang telinga sambil tersenyum "Hai, sedang apa pengantin pria di sini?"


Dimas mengepalkan tangannya di dalam sakunya, dia tidak bisa terus seperti ini. Wanita di depannya sudah baik baik saja, kenapa dia selalu berharap pada sesuatu yang sudah jelas tidak akan bersama.


"Di dalam sumpek!" Dimas menjawab sambil menatap ke arah lain.


Miya sangat tahu ini, Dimas itu lebih introvert dari Alvin. Mungkin karena tinggal lama di rumah sakit, jadi dia menjadi kaku saat di luar. Tapi Miya cukup kagum dengan Dimas, dia mampu menyesuaikan diri dengan sangat baik.


"Kamu sehatkan, Mi?" Miya menganggukkan kepalanya "Syukurlah."


Mereka kembali diam, kenapa sekarang terasa canggung sekali. Apa ini karena efek mereka lama tidak bertemu, atau karena status mereka yang sudah berubah.


"Kamu masih dekat dengan Aryan ya?" gumam Dimas, Miya melihat ke arahnya.


Kenapa pria itu memasang wajah seperti itu, wajah putus asa? Miya tidak ingin salah paham.


Miya memeluk lengannya sendiri "Karena dibandingkan yang lain, Aryan teman yang paling awal aku kenal. dia selalu baik sama aku, Aryan."


Giliran Dimas yang meliriknya, dia mengenal Miya cukup lama jadi dia tahu kalau dia berkata dengan sangat tulus. Ya dia akui soal itu, Aryan tipe teman yang setia kawan, dia tidak akan meninggalkan temannya lebih dulu.


Mereka berdua tahu alasan sifat Aryan yang itu.


"Haaaah!" Miya menghela nafas panjang, "Aku kangen Vina!"


"Kamu benar!" Dimas tulus mengatakannya, mereka berteman cukup lama tentu saja dia sama terpukulnya saat temannya meninggal.


"Selamat ya, atas pernikahanmu!" mereka berdua saling menatap, Miya tersenyum lebar "Istri kamu cantik banget!"


Miya kaget saat Dimas menatapnya dengan tatapan terluka, meski dia tersenyum mendengar ucapan Miya "Iya, Terima kasih!"


"Aku mau masuk dulu, lainnya sudah di dalam." lama-lama di sana Miya akan menangis, dia takut ketahuan kalau dia tidak bisa move-on.


Dia buru buru membalikkan badannya bersiap pergi, sekali lagi dia terkesiap saat pergelangan tangannya di tahan Dimas. Dia menoleh dan menatap pria itu, Dimas menatapnya dengan tatapan yang Miya tidak tahu apa artinya.

__ADS_1


"can i hug you? For the last time?"


__ADS_2