
Aryan membawa Ryan dan Miya ke sebuah restourant, awalnya Miya mengusulkan makan di abang abang pinggir jalan, tentunya di tolak mentah-mentah oleh Aryan. Mereka sudah memakai pakaian semi kasual, ya kali makan di pinggir jalan.
Aryan bukannya tidak suka, tapi dia sesekali ingin makan di tempat mewah.
"Pesan saja yang banyak, dompet bapakmu tidak akan langsung bocor." Miya memberikan buku menu ke Ryan. "Manfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin, pesan saja yang banyak karena makanan di restourant itu porsinya kek kasih makan kucing, dikit banget."
Tapi Ryan cukup tau diri, dia cuma memesan dua menu saja. Dia memang tidak banyak makan, inilah yang membuat dia sering dimarahi oleh neneknya.
"Yan, rumah lo ngak ada ARTnya?" Miya bertanya.
Aryan menganggukkan kepalanya, "gue tidak suka ada orang lain kecuali memang orang rumah."
"Terus Ryan yang ngurusin makanannya kalau dia pulang sekolah siapa?"
Aryan bertopang dagu, perutnya sudah meronta minta makan. "Alisa ada menyewa orang untuk ngurusin Ryan, buatin makan siang sama malam."
"Kok tadi gue enggak lihat!"
"Dia kerja cuma sampai sore, enggak gue izinin sampai malam." jawab Aryan yang kemudian memanggil Waitress.
Dia memesan semua menu yang mereka inginkan, tidak butuh lama pesanan mereka diantarakan ke meja mereka. Mata Miya langsung berbinar, dia memang sudah cukup lapar sejak tadi.
"kamu sudah minta izin ke sekolah?" tanya Aryan pada Ryan, tangannya memotong dagi sapi di piringnya.
"Sudah."
"Besok setengah sepuluh, aku akan jemput kamu di sekolah." Aryan mengangkat piring di depannya ke depan Miya, tidak lupa dia menukarnya dengan milik Miya.
"Iya."
Miya bersorak dalam hati karena dia tidak perlu repot memotong daging, dia hanya langsung melahapnya saja. "Memang besok ada apa?"
"Besok ada sidang hak asuh, kami harus datang." jawab Aryan.
Ezra sudah mengurus semuanya, jadi mereka hanya langsung datang saja dan menyelesaikannya saja sebagai formalitas. Miya menganggukkan kepalanya mengerti, dia pernah mendengar hal seperti ini.
Untuk menjadi wali resmi, Aryan memang harus melewati beberapa rangkaian. Miya tersenyum kecil, siapa yang menyangka orang sejenis Aryan mau mengurus anak orang lain.
Suasana meja makan itu tampak hidup, mereka menceritakan keseharian mereka. Dan karena tidak ingin Ryan merasa terabaikan, mereka bergantian bertanya padanya tentang sekolah.
"Kamu benar-benar senang main basket, Ray?" tanya Miya, Ryan menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu kenapa kamu tidak les basket saja?"
Aryan mengangkat kepalanya, dia yang sibuk tidak sempat bertanya apa yang anak itu inginkan. Dia juga menatap Ryan, menunggu jawabannya.
__ADS_1
"Kamu bisa memikirkannya," ucap Aryan yang sekarang membuka air meniralnya. "Tapi aku akan memasukkanmu ke tempat bela diri, pilih saja bela diri mana yang kamu inginkan."
Aryan tidak akan membiarkan anak itu tidak bisa berkelahi, terlebih di zaman sekarang, zaman perundungan yang diluar nalar pikir. Dia juga ingat kalau di sekolah sebelumnya Ryan di bully, jadi dia ingin anak itu tidak diam saja.
"Ya, gue juga mikir itu bagus." Miya meraih serbet, "kamu harus punya bekal untuk melindungi diri, tapi benar benar gunakan sebagai perlindungan diri, jangan kayak orang yang gue tau."
Aryan mengalihkan pandangannya, lirikan Miya sangat tajam ke arahnya. Miya langsung mencibir, dia tidak akan lupa bagaimana Aryan dulu keseringan bertarung antar sekolah.
Ryan juga melihat ke arah Aryan, dia kembali menoleh saat mendengar Miya kembali membuka mulut, "intinya jangan jadi bos geng, jadi anak baik tapi tidak tertindas."
"Iya," jawab Ryan. Miya mengangguk puas.
"Tapi jadi bos geng itu keren!" Aryan berkata dengan bangganya.
"Keren bapak kau!" Miya mencibirnya jengkel, dia kemudian berdiri. "Gue mau ke wc, jagain tas gue."
Miya dengan cepat meninggalkan mereka, dia bergegas ke kamar kecil karena sudah tidak tahan lagi. Setelah membuang apa yang mengganjal Miya langsung lega, sambil berjalan keluar dia mengelus perutnya yang terasa plong.
Rasanya dia bisa makan lima cup ice cream sekarang.
"Sarina!"
Langkah Miya terhenti mendengar namanya, dia memutar kepalanya mencari asal suara. Di sebelah kanan dia melihat Razak dan istrinya, tampak terkejut ke arahnya.
Itu pun, Miya jarang datang.
Tapi apa yang mereka lihat sekarang, mereka seperti melihat Miya yang berbeda. Miya mengkerutkan keningnya, untuk apa memanggil kalau mereka hanya diam saja?
"Sedang apa kamu di sini?" Razak berdehem sebelum bertanya.
Berenang! Ingin rasanya menjawab itu, tapi dia tidak mengatakannya. "Makan malam."
Dia ingin segera pergi, tapi Zara menahannya. "Tunggu sebentar! Ada yang ingin aku tanyakan."
Miya tampak berfikir, tapi dia tidak bergerak menunggu pertanyaan Zara. Sepasang suami-istri saling menatap, mereka kemudian saling mengangguk.
Miya terkejut saat tangannya di pegang oleh Zara, "Aku sudah mendengarnya, apa kamu benar benar pacaran sama Aryan?"
Miya tidak tahu dari mana mereka mendengarnya, tapi dia mengiyakannya. Sepasang suami-istri kembali saling melihat, Zara makin mengencangkan tangannya membuat Miya sedikit mengernyit.
Sebenarnya ada apa dengan mereka?
"Sebaiknya kamu menjauhinya, ini demi kebaikanmu." ucap Zara, dia tampak serius.
__ADS_1
"Aku tidak mengerti maksudmu apa! Kenapa aku harus menjauhinya?" Miya melonggarkan tangan Zara, dia sedikit kesakitan.
"Rina dengar!" Razak membuka suara, dia juga menatap Miya yang jauh lebih cantik dan dewasa sekarang, "beberapa hari yang lalu, kami bertemu dengan orang yang mengenal Aryan dari masa lalunya, dia mengatakan kalau Aryan itu preman dulu. Dia membuat geng untuk mengganggu orang-orang dan dia bosnya."
Miya menghela nafas, "terima kasih sudah mengkhawatirkan ku, tapi beberapa informasi yang kalian dengar itu salah."
"Apa?"
Miya melepaskan tangannya, dia juga mundur selangkah dan menatap mereka lekat lekat. "Aryan memang bos geng dulu, tapi dia tidak menganggu orang lain! Dia tidak punya waktu untuk itu, karena saat itu dia mempunyai tujuan yang lebih tinggi!"
Miya sangat ingat soal itu, Aryan bahkan tidak merekrut anak sekolah dalam gengnya. Tujuannya sangat jelas, Aryan mengincar pelaku yang membuat dia kehilangan ibunya.
Ya, bisa dibilang saat itu Aryan hanya remaja yang dipenuhi amarah.
Zara menepuk keningnya, "Miya aku tahu kamu sangat menyukainya, Aryan memang tipe orang yang menerima perempuan yang memintanya jadi pacarnya, tapi jangan bodoh."
"aku tahu apa yang aku lakukan, aku juga sangat mengenalnya dan aku yakin dia tetap sama dengan dulu." Miya tersenyum ke arah mereka, "sebenarnya sayang banget kamu melepaskan Aryan."
Zara mendengus kecil, dia akui kalau dia memang sedikir menyesal. Biar bagaimana pun Aryan adalah orang yang ganteng dan pintar, tapi siapa yang bisa bertahan dengan sifat acuhnya.
Toh awalnya dia memang menembak Aryan karena kalah dalam game, dia juga sudah mendengar cerita kalau Aryan menerima siapa pun yang memintanya jadi pacar.
"Sama sekali tidak menyesal," dia bersedekap "Dia tipe membosankan."
Miya tersenyum, "tidak! Dia tipe memanjakan kalau dia benar-benar suka. Satu satunya yang menjadi kekurangannya, dia tidak suka mengumbar kemesraan depan umum."
"Kenapa lama sekali?" mereka bertiga menoleh dan mendapati Aryan yang berjalan ke arah mereka.
"Ray mana?" bukannya menjawab Miya bertanya balik karena tidak melihat Aryan datang sendiri.
Aryan berhenti di sampingnya, dia juga memberikan tas Miya yang dia bawa di pundaknya sejak tadi. "Gue menyuruhnya menunggu di mobil."
Aryan yang menyadari keberadaan Razak dan Zara hanya mengangguk sebagai sapaan.
Miya berdecak, "lo gimana sih? Kenapa dibiarin sendirian, kalau dia tersesat bagaimana? atau di tahan tanre-tante ganjen gimana? Lu sih engga mikir! Lo mah t-hmp!"
Aryan menutup mulut Miya dengan telapak tangannya, Miya sedikit menyebalkan saat merepet. "Dia tiga belas tahun, dia tidak sepolos itu toa!"
Miya melotot ke arahnya, Aryan langsung melepaskan tangannya. Sebenarnya orang tua Ryan siapa sih? Dia atau Miya?
"Ya sudah ayo balik," Miya kembali menyerahkan tasnya ke Aryan, dia kemudian menoleh "kami duluan."
"i iya!" jawab mereka, mereka sedikit terkejut dengan sifat Miya-Aryan yang berbeda dari yang mereka tahu.
__ADS_1
"ah!" Miya menghentikan langkahnya lagi, dia menatap Zara, "bukan aku yang nembak dia, tapi dia yang ngajakin pacaran. Jangan salah paham!"