Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 50


__ADS_3

"Helloo epribodeehh!" Seru Miya saat memasuki ruangan pertemuan mereka.


"Berisik toa!" ucap Aryan yang berjalan di belakangnya.


Tentunya kedatangan mereka juga di sambut heboh, utamanya Sasha. Dia bahkan menari kursi untuk Miya, mempersilahkannya untuk duduk.


Miya memicingkan matanya, "Hmm... Kayaknya ini ada maksud terselubungnya."


Sasha menjentikkan jarinya lalu menunjuk Miya, "Seratus ribu untuk jawaban anda." dia langsung duduk di samping Miya, "kan yang bayar hari ini lo sama Aryan."


"Hah?" Miya melihat ke arahnya tidak percaya, "wahh... Apa maksudnya nih?"


Baim mendorong pelan Miya saat dia melewatinya, "pajak jadian ege!"


Miya menatapnya kesal, dia sedikit mengelus kepalanya "Maa... Boim nih dorong dorong kepala."


"Yan, kok lo betah sama cewek yang berisiknya minta ampun?"


Miya mendengus dan langsung berdiri, dia mendekati Baim dan menendang kakinya. "Mampuuss!" dia mengibaskan rambutnya, "ngaku aja kali Zina, lo cemburukan cowok lo gue ambil?" Miya menaik turunkan alisnya privokatif.


Zain mendengus, "untuk apa? Toh gue masih begini!" dia mendekati Aryan dan merangkulnya dengan dua tangan yang terkesan memeluk.


Aryan langsung mendorongnya, "Ih, amit-amit. Gue normal anjirr"


Bukan hanya Miya yang terbahak, tapi yang lainnya juga sama. Zain mendengus dan dengan cepat mendekati Ciara, bukannya kasihan padanya, gadis mungil itu justru mendorong wajah pria bule itu.


"Untung di sini enggak ada anak kecil," Sabrina menggelengkan kepalanya dengan tingkah random mereka.


Miya mengedarkan pandangannya, benar saja tidak ada anak kecil, dia baru menyadarinya. "Kalian tidak bawa anak-anak?"


"Ada di ruang bermain," Alga datang dengan beberapa karyawannya, dia juga menyalakan monitor dimana menampilkan camera pengawasan anak anak yang bermain.


Anak anak terlihat heboh bermain bersama, sedangkan yang masih bayi bayi di tidurkan di box bayi. Tentunya mereka diawasi orang dewasa, Alga menyewa mereka untuk kenyamanan bersama.


"Perasaan yang bontot si Aryan, tapi anaknya yang paling besar." komentar Budi yang melihat ke arah layar.


Di sana terlihat Ryan yang membantu Afika yang terjatuh, anak itu tampak hendak menangis tapi berhenti.


Hanin mencolek Miya, "sudah bisa tuh dikasih adik, Mi."


"apa sih Ma." ucap Miya.


Baru juga dia dan Aryan jalan dua minggu, itu pun ini hari pertama mereka ketemu lagi setelah kejadian di rumah sakit waktu itu. Hanin terbahak melihat wajah suntuk Miya, dia kembali mencolek Miya.


"Mau besanan gak, Mi? Anak gue cantik loh."


"Apaan, tidak ada ya." Afkar yang mendengar itu langsung protes, "Enggak ada jodoh-jodohan, anak gue masih kecil."


"Ya elah Pa... Posesif amat!" Kevin terkekeh meledek, Afkar melihatnya kesal.


"Ya sudah, lo mau enggak anak cewek lo dijodoh-jodohin?"


"Dih."

__ADS_1


"Heh, lo mau kekepin anak lo mulu?" kata Hanin sambil mencubit lengan Afkar, "gue tidak mau ya anakku jadi gadis tua tidak menikah!"


"Ya Allah, sayang. Afika masih kecil." dia menggelengkan kepalanya "Enggak ada enggak ada. Anak gue masih kecil juga."


"Kenapa sih? Anak gue ganteng itu, kayak gue."


Afkar melihat Aryan tajam, "Anak gue masih kecil, enak saja."


"ya udah, sama anak gue mau enggak?" kata Sabrina sambil menopang dagu. "Di nikahin pas tujuh belas seperti lo berdua."


"ENGGAK!"


Mereka langsung terbahak, mereka semua tahu sifat posesif Afkar terhadap putri sulungnya.


"Terus nanti anak gue sama siapa?" tanya Ciara


Sabrina, Hanin, Sasha, Miya langsung melihatnya, "Nikah dulu sana!"


Ciara tertawa, "tidak usah diborong juga kali."


"Tenang Ci, anak lo nanti sama calon anak gue!" Baim berkata sambil tersenyum ke arahnya.


Aryan dan Zain menepuk pundak teman lamanya, "cari calon ibunya dulu!"


"Kamp*et lu berdua!"


Aryan dan Zain langsung tos, memang menyenangkan saat berkumpul begini. Baim yang melihat itu langsung menoyor kepala mereka, saat hendak membalas Baim menyeringai.


"Berani lo berdua? Gue ini lebih dulu lahir!" kata Baim sambil berkecak pinggan, Zain dan Aryan langsung berdecak.


Mereka semua langsung menoleh ke pintu, Fadly baru saja datang. Buru buru para gadis berseru ala fan girling, sebagai tanggapan dia langsung dadah-dadah.


Dia berjalan mendekati Aryan, menepuk pundaknya sambil memainkan alisnya, "gue boleh makan sepuasnya kan?"


"Terserah!" pada akhirnya Aryan hanya bisa pasrah.


Fadly langsung ke bangku di mana ada namanya, Alga sengaja menamai bangku mereka. Karena sangat tahu kelakuan mereka, jadi bisa saja kursi patah saat mereka berulah.


Ini cara jitu meminta ganti rugi.


"Sha, gue boleh minta foto gak?" tanya Miya yang menghampiri Sasha yang makan. "Tapi bareng Kevin sama Fadly."


Sasha hanya mengangkat jempolnya, dia tidak keberatan sama sekali.


Langkah Miya terhenti, dengan usil dia menepuk Alvin. "APIN BANGUN!!!"


Alvin menggosok telinganya, dia tidak tidur tapi memejamkan mata menikmati suasana berisik ini. Miya kemudian mendekati Budi yang sedang merekam di tempat yang sedikit jauh, dia tidak mau gambar teman temannya terambil kamera.


"Hai guyss...!" Miya melambai ke arah kamera, Budi spontan menoleh. "Hehehe... Nanti hapus ya!"


"Miya!" serunya, dia menghela nafas karena mendapat pekerjaan lagi.


"Shaa... Budi bilang bakal edit, ayo masuk videonya!" panggil Miya.

__ADS_1


Sasha langsung meletakkan makanannya, dia dengan cepat mendekat juga. "Hai guyss... Gue Sasha model paling seksoy," dia langsung berpose seperti sakit pinggang dengan mulut di monyong monyongkan.


"Woi, gue juga woi!" Baim mendekat, "Hai Guyss.. Aku anak bontot Mama Hanin, ingat ya, gak boleh pacaran!"


Pria itu langsung mengaduh karena di toyor Aryan dari belakang, Baim langsung tertawa puas. Miya mendorong pria pria itu, dia mau paling depan.


"Orang ganteng juga mau!" Zain dengan seenak jidat menyelonong masuk, jadinya mereka ribut di depan kamera Budi.


Budi sang pemilik hanya bisa pasrah, "Nyerah gue!"


Yang di belakang hanya bisa menggelengkan kepala mereka, sejujurnya manusia manusia paling berisik memang mereka berlima. Kevin mendengus melihatnya, disaat seperti ini dia tidak mau ketinggalan.


"Sebagai aktor, kalau gue tidak muncul di kamera, harga diri gue tercoreng." dia dengan cepat meninggalkan mejanya dan berjalan ke tempat kamera Budi.


"kenapa?" tanya Hanin melihat wajah kesal Budi. "Enggak bisa ngonten ya?"


"Bukan enggak bisa ngonten, tapi tidak bisa dipublish." dia mendelik ke sumber suara berisik, "bisa bisa gue di banned karena mempublikasikan aibnya orang orang terkenal itu."


"Dokumentasikan saja," ucap Cakra "lumayan bisa ditunjukin ke anak anak mereka nanti, tunjukin aib abnormal orang tuanya."


Miya ngos ngosan, sudah lama sekali dia tidak heboh seperti ini. "Capek!"


"Makanya, ingat umur!" kata Fadly.


Miya terkekeh pelan, padahal sebelum sampai di sini tadi dia sempat kesal. Ya, bertemu mereka memang memperbaiki mood.


Selesai heboh dengan camera video, mereka sekarang sibuk foto foto lagi. Kali ini tidak ada yang tidak ikut, Alvin yang enggan pun disertakan.


"Fotonya bagiin di grup," kata Hanin.


Mereka mengambil foto dari beberapa hape soalnya, bahkan Budi mengambil kamera yang dia bawa.


"Eh?" Miya mengkerutkan keningnya


"Kenapa?" tanya Aryan yang memang berdiri di samping Miya.


Miya mendongak menatapnya sebentar, "Papi katanya mau ngomong, tidak biasanya." dia memperlihatkan isi chatnya ke Aryan.


"soal kita?"


Miya mengedikkan bahunya "Tidak tahu." tapi menurut feelingnya, bukan soal itu.


Apa soal Rika?


Bisa jadi sih. Mungkin saja tua bangka itu menelfon Papinya lebih dulu, dia pikir Miya tidak berani apa?


"Lo enggak nelfon bokap lo?" tanya Aryan yang melihat Miya memasukkan hp ke tasnya.


"Paling urusan kantor, besok saja gue ke kantor pusat." Miya sedikit memiringkan kepalanya. "Lo ingat enggak, bapak bapak yang kita ketemu di toko tas waktu itu? Yang pacaran sama teman gue?"


Aryan mengangguk setelah tahu siapa yang Miya maksud, "kenapa?"


"lo kenal?" Aryan menganggukkan kepalanya, "gue buat masalah ke orang itu."

__ADS_1


"Hah?"


__ADS_2