
"Wihhh... Mukanya cerah amat mbak? Ada kejadian baik apa kemarin?" Andin berucap saat melihat Miya datang.
Miya menarik kursinya dan duduk, mengeluarkan peralatan dari tasnya dan menyimpannya di atas meja. Dia juga dengan cekatan menyalakan komputer untuk bekerja, karena reuni kemarin membuat moodnya jadi bagus.
"Lo dapat pacar baru, Na?" Andin menyenggol lengannya.
"Tidak!" dia berdiri dan mengambil berkas di lemari belakangnya.
"Oh ya, Na!" Andin memutar badannya mengarah ke arah Miya, dia bertumpu pada punggung kursi "Nasabah prioritas yang beberapa hari lalu tidak datang itu, hari ini bakal datang kan?"
"Iya kayaknya, beliau hanya bicara pada pak Griffin." setelah menemukan yang dia cari dia kembali duduk.
"Lo tau dia siapa, Na?"
Miya menggelengkan kepalanya "Pak Griffin belum sempat ngasih data ke saya. Katanya biar lebih privasi."
"Mungkin orang penting banget."
Miya hanya mengedikkan bahunya saja.
"Tapi kalau orangnya ganteng, sosor aja, Na! Kali aja kayak si Rika."
"Terus gue dilabrak sama istri sahnya?" tawa Andin langsung meledak mendengar pertanyaan Miya yang terkesan menyinggung rekan mereka.
"Bisa jadi orangnya bujang," Andin mengambil pulpen dari tempatnya, "Btw, gimana kalau kita jenguk Alwan lagi sore ini? Kan bisa saja dia kesepian."
Miya meliriknya "Alasan sebenarnya apa?"
Andin langsung cengir "Alasan sebenarnya, kali aja bisa papasan sama dokter ganteng teman SMA lo." Dia mengedipkan sebelah matanya, tapi Miya langsung membuang muka. "Sial*n lo!"
Miya menopang dagunya, Aryan ya? Kemarin dia tidak banyak bicara pada pria itu, entah karena akward atau memang dia masih merasa kurang nyaman saja.
Ya, Miya juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi padanya. Padahal dia dan Aryan sama sekali tidak berselisih paham dengannya, atau rasa kecewa itu masih ada?
Miya tidak tahu.
"Hahhh.... Kenapa sih nyari suami itu susah banget?" Miya melirik Andin "Mana keluarga punya mulut lemes banget kayak karet, dia pikir jadi janda itu mau gue?"
Ah.... Miya belum bilang ya? Sebenarnya Andin itu sudah pernah menikah, tapi sudah lama bercerai juga. Dia menikah di usia sembilas belas tahun dan bercerai di umur dua puluh, alasan ini juga yang membuat dia lambat kuliah dan akhirnya bisa seangkatan dengan Miya.
Meski demikian, dia sama sekali belum punya anak. Menurut Andin ini salah satu anugrah, karena seandainya dia punya anak di pernikahan yang seumur jagung itu, dia pasti akan sangat kesulitan mengurusnya dan lagi di tambah omongan orang luar sana.
"Kenapa lo ngak coba sama pak Griffin?" Miya berkata tentunya dengan nada yang sangat pelan dan rendah.
Andin melihatnya "Lo gila ya? Ya kali pak Griffin, Na? Meski cakep tapi dia jarang senyum, tegas banget lagi. Makasih deh."
__ADS_1
Miya terkekeh mendengar perkataan Andin yang memang ada benarnya, atasan mereka itu memang kaku.
"Lagian kupingnya mirip mantan gue." cetuk Andin yang makin membuat Miya terkekeh.
Teringat sesuatu Miya langsung mengambil tasnya, dia mengeluarkan satu album lagu dan satu lagi majalah foto. Dia menyodorkannya ke Andin, wanita itu langsung melihatnya.
"Apa ini?"
"Pesanan lo, tanda tangan Kevin." dia menepuk majalah yang penuh foto Kevin, dia tidak lupa menepuk album lagu "Ini album yang baru rilis beserta tangan milik Fadly."
Mata Andin langsung membulat, dia buru buru mengambil barang yang disodorkan Miya. Menatap benda itu satu satu kemudian menatap Miya, dia tidak percaya.
"SARINAAAA... LO TEMAN GUE YANG PALING GUE SAYANG!"
Kursi Miya mundur sedikit mendapat pelukan mendadak.
"Terima kasihhh...muach!"
Meski tidak sampai, Miya tetap menjauhkan mukanya. Andin melepaskan pelukannya dan mencium benda itu satu satu, teringat sesuatu dia langsung melihat Miya.
"Album Fadly, kok lo bisa punya? Lo beli khusus buat gue y-"
"Tidak!" Miya memotong kalimat Andin "Kebetulan saja dia juga teman gue."
"What??" mulut Andin terbuka "Teman lo?"
"Sebenarnya lo siapa? Kok bisa kenal sama aktor terkenal yang bayarannya dalam satu filmnya bisa ratusan juta juga penyanyi yang honor dan penggemar yang luar biasa?"
"Pake susuk!" jawabnya enteng, Andin langsung mencibir.
******
Miya dan Andin berjalan masuk kantor, mereka baru saja makan siang karena sudah istirahat. Andin masih terus saja tersenyum karena mendapa hadiah dari Miya, sedangkan Miya menunduk menatap ponselnya untuk menjawab pertanyaan dari nasabah, dia membiarkan dirinya di tuntun oleh Andin.
Bruk
"Maaf!" kata Miya saat tidak sengaja menabrak seseorang.
"Kalau jalan pake mata dong! Ngapain sih main hape sambil jalan, ck!" Wanita yang dia tabrak mendumel mengibaskan tangannya ke bahu.
"Maaf." hanya itu yang Miya ucapkan, dia memang salah.
"Ck, kalau tas gue rusak bagaimana? Ngak bakal bisa ganti lo."
"Sarina sudah minta maaf, Rik!"
__ADS_1
Rika—nama perempuan yang ditabrak Miya itu mendengu, dia menatap Miya dari atas ke bawah.
"Memang maaf bisa bayar tas gue? Ngak bakal mampu lo."
"Ya kan tidak rusak juga." ucap Andin, dia melihat tas Rika.
"What," dia mengangkat tasnya.
"Ini salah gue. Gue minta maaf," Miya menarik tangan Andin agar mendekat padanya, dia juga melihat tas Rika. "Kalau memang semisal ada kerusakan, gue bakal ganti rugi."
"What? Ganti rugi? Lo memang tahu berapa harga tas ini?" dia menunjuk tasnya "Gaji lo selama lima tahun tidak cukup."
"Tas itu kalau asli hanya lima ratus juta, tapi kalau palsu gue gak tau."
Andin menatap Miya, 'Hanya lima ratus juta?' dia berfikir kalau Miya waras.
"Lo nuduh tas gue palsu?" Rika berjalan mendekati Miya. "Lima ratus juta? Tas gue ini satu milyar ya, jangan asal kalau bicara."
"Gue bilang kalau yang Asli. Gue ngak bilang tas lo palsu." dia menghela nafas "lo ketipu kayaknya, harga asli di playstore aslinya hanya lima ratus juta."
"Tau apa lo?" Rika menunjuk dengan wajah merah.
"Soalnya aku punya tiga." Miya berucap dengan nada sepolos mungkin, padahal dia sedang pamer.
Suruh siapa Rika sok pamer duluan.
"Alah, paling palsu." kata Rika, padahal Iya bisa melihat wajahnya sudah berubah pias.
Miya tersenyum polos sambil menggeleng. "Gue beli asli kok di paris langsung, ah! Aku masih punya bukti pembayarannya kok."
Hehehe.... Padahal tas itu hasil palaknya ke Papi dan Manaf.
"Ngak usah!" Rika membalikkan badannya dan berlalu.
"Sombong sih!" cibir Miya saat Rika tidak terlihat lagi.
Tawa Andin langsung meledak mendengarnya, dia sudah menduga kalau tadi pasti Miya bercanda hanya untuk mengelabui Rika yang sombong.
"Bagus Na, memang orang begitu harus dibegituin. Walau tidak punya tap-"
Miya melihat Andin "Aku memang punya tiga."
"What??"
Miya tersenyum dan berlalu begitu saja, Andin hanya bisa melongo tidak percaya.
__ADS_1
Sebenarnya siapa Miya Sarina itu?