Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 59


__ADS_3

"Lihat, lagi lagi ke kantor bos!"


"Kan sudah gue bilang, dia itu pasti simpanan bos. Kalau tidak, mana mungkin bisa masuk ke kantor yang seleksi masuknya susah!"


"Bener! Sok banget ngatain Rika, lah sifatnya sama saja!"


Miya menghentikan langkahnya, dia cukup sudah mendengar bisikan bisikan yang jelek tentangnya saat lewat. Dia melihat ke arah mereka, tapi seperti tak merasa bersalah mereka malah menatapnya balik.


Dia menghela nafas, mereka akan tahu kebenarannya. Miya kembali melangkah ke kantor Ayahnya, sudah tidak memperhatikan obrola di belakangnya.


Miya masuk ke ruangan Papinya di kantor itu, sudah banyak petinggi kantor di dalamnya. Miya masuk dengan anggunya, menganggukkan kepalanya sebelum melangkah mendekati Papinya.


Tatapan orang orang itu berbeda, Miya bisa merasakannya. Ada beberapa yang menatapnya kurang senang, ya wajar saja sih, karena Miya akan menjadi atasan mereka.


Beberapa dari mereka pasti berfikir kalau Miya adalah perempuan dan masih muda, pasti akan kesulitan di meja bos. Mungkin ada juga yang berfikir, Miya mendapatkan kursi itu karena dia adalah anak bos.


Memang benar sih, Miya juga tidak mau menyangkal itu. Dia juga mendapat saham terbesar, ya karena dia anak pemilik bank dan sesuatu yang diwarisinya. Lalu mereka bisa apa?


Alasan mereka semua berkumpul hari ini, karena mau mengumumkan pengganti Ruslan. Selama dua minggu ini, memang semua pekerjaan sudah diberikan padanya.


Itu juga yang membuatnya demam beberapa hari yang lalu.


Dan semenjak hari itu, dia maupun Aryan tidak memberi kabar. Miya sibuk karena harus mengambil alih, sedangkan Aryan penuh dengan jadwal operasinya.


"Kamu sudah siap?" tanya Ruslan pada putri bungsunya.


"Iya."


Miya saling mengenggamkan tangannya, jujur saja dia sangat gugup karena ini kali pertama baginya menghadapi orang banyak. Karena bukan hanya karyawan yang akan hadir, tapi beberapa petinggi dan pejabat juga datang.


Dia tersentak saat Papinya menepuk punggungnya, pria paru baya itu tersenyum ke arahnya untuk menguatakan Miya. Dia tahu selama ini si sulung selalu menyembunyikan dirinya, tapi hidup tidak selalu sesuai keinginan.

__ADS_1


"Tidak apa apa!" ucap Ruslan.


Miya tersenyum kecil, ya sesekali tidak masalah. Dia menghela nafas panjang begitu pintu aula terbuka, dia menegapkan berdirinya dan berjalan penuh percaya diri masuk ke dalam.


Beberapa karyawan yang mengenal Miya terkejut, mereka saling berbisik satu sama lain. Bagaimana Miya begitu berani tampil di depan umum, disaat istri pemimpin mereka juga hadir bahkan duduk di bagian terdepan.


Rika yang bahkan dikenal cukup keterlaluan, dia tidak akan berani duduk di samping selingkuhannya di depan umum seperti Miya. Wajah Miya bahkan tidak menunjukkan kegelisahan, malah santai saling berbisik.


Tidak tahu malu, itulah yang ada di pikiran mereka.


Sementara Papinya memberikan sepatah dua patah, Miya sibuk mempersiapkan mentalnya yang sudah gugup. Dia bahkan tidak merasakan tatapan menghina dari rekannya, saat ini dia terlalu fokus dengan apa yang akan dia sampaikan.


Tapi diantara karyawan itu, ada dua orang yang tampak santai tidak ikut heboh. Andin dan Griffin orangnya. Andin sendiri hanya sibuk menertawakan temannya dalam hati, wajah gugup Miya terlihat jelas di wajahnya.


Semalam Miya memberitahunya, awalnya kaget dan setelahnya dia biasa saja. Miya adalah putri sulung dari tempat mereka bekerja dan menurut rumor kalau saham terbesar memang pemilik putri sulung.


Di mama dia kalau memang bukan di kursi pimpinan?


"..., Miya Sarina Adyata!"


Miya terkejut saat nama lengkapnya di sebutkan, dia mendongak dan melihat Papinya memberi isyarat untuk mendekat. Jujur saja, Miya jarang menggunakan nama lengkapnya karena sudah nyaman dengan nama tanpa nama keluarga.


Dia berdiri merapikan bajunya dan berjalan mendekat, detak jantungnya makin terasa dan tangannya berkeringat dingin. Ini kali pertama dia menghadapi audience, gugup adalah hal yang wajar.


'tidak apa apa, mereka semua semangka, aku bicara dengan semangka. Tidak apa apa, mereka semangka.' itulah yang selalu dia rapalkan dalam hatinya, setidaknya itu tips dari beberapa temannya yang setidaknya pernah memimpin.


"Selamat siang!" Miya berucap sambil membetulkan micnya, "saya akan memperkenalkan diri kembali, nama saya Miya Sarina Adyata, seperti yang sudah Bapak Ruslan Adyata katakan, mulai besok sampai ke depannya saya akan menjadi direktur di sini."


Dia bisa melihat beberapa wajah terkejut rekannya, utamanya orang orang yang menyebarkan gosip yang tidak benar.


"Ini adalah kali pertama saya, karena itu mohon masukan, kritikan dan bimbingan dan kerja samanya." Miya menundukkan kepalanya sejenak dan kembali membuka suara.

__ADS_1


Dia mengucapkan sepatah dua kata seperti yang sudah dia siapkan, dia juga membicarakan tentang perencanaan yang sudah di susunnya bersama Papinya. Papinya berjanji kalau dia tidak akan langsung lepas tangan, setjdaknya sampai dia sudah terbiasa.


Miya tidak mengatakan hal yang panjang lebar, selain karena dia tidak nyaman, masih ada beberapa agenda perjamuan lainnya. Karena ini pergantian pimpinan jadi mau tidak mau, pasti akan ada perjamuan.


"Terima kasih!" Miya tersenyum sambil menyalami orang yang memberinya selamat.


Penyerahan kursi baru saja di berikan secara simbolis, segera setelahnya banyak yang menghampirinya. Dia bahkan berusaha menahan diri untuk tidak lari, terlalu menjadi pusat perhatian juga tidak mengenakkan.


"Selamat!" seorang pria mendekatinya, Miya tahu dia juga orang yang berkecimpung di dunia yang sama, Miya pun sudah beberapa kali bertemu dengannya.


"Terima kasih!" Miya menyambut uluran tangannya, pria itu tersenyum.


"Sebuah makan malam untuk sebuah perayaan, apa kamu tidak keberatan?" pria itu menawarinya.


"Soal itu, aku akan me-akh!" Miya mundur selangkah karena kaget, sebucket bunga tiba tiba ada di hadapannya.


Miya mengangkat melihat siapa yang ada di balik bunga itu, senyumnya langsung merekah dan dengan cepat dia mengambil bucket itu. Aryan berdiri dengan kening terangkat, tangannya dia masukkan ke dalam saku jas putih kesayangannya.


"Sepertinya di sini tidak ada pasien, dokter!" ucap Miya.


"Tapi seorang pasien sekarang berdiri di sini, padahal belum ada izin dari dokter." ucap Aryan, Miya mendengus saja.


"Dasar drama!" Alisa berjalan ke arah mereka, di tangannya ada bucket bunga juga. "Miya, congrats ya!"


Miya mengambil bucket dari Alisa juga, "Thanks, Lis! Lo sudah makan?"


"Ini baru mau," dia menepuk lengan Aryan yang masih berdiam diri. "Lo harus balik ke rumah sakit kan?"


"Apa sih, Lis!" Aryan memutar bola mata jengah, dia berpindah tempat ke belakang Miya. "Orang gue masih mau di sini!"


Miya langsung menyikutnya, bukan bagaimana mereka kembali jadi perhatian. Alisa mengibaskan tangannya tidak peduli, dia berbicara sebentar kamudian pamit karena harus menjemput anaknya.

__ADS_1


__ADS_2