Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 68


__ADS_3

"Mi!"


Miya yang sedang memasak menoleh ke Aryan yang menopang dagunya di meja, dia baru saja datang dari rumah sakit. Sebenarnya dia tidak pernah berekspetasi kalau Miya akan memasak, karena dilihat dari sisi manapun, Miya bukan tipe yang akan memasak sendiri.


"Apa?" Dia bertanya saat Aryan tidak kunjung mengatakan sesuatu setelah memanggilnya.


"Enggak!"


"ck!" Miya kembali fokus pada masakannya.


"Miya!"


"Apa sih?"


Aryan tertawa mendengar nada kesal Miya, dia berdiri dan berjalan mendekat padanya. Aryan mengambil sendok dari tangan Miya, dia akan mencoba sup yang Miya buat.


Siapa tahu kelebihan garam.


"Gimana?" tanya Miya setelah Aryan mencobanya, pria itu mengkerutkan keningnya membuat Miya panik. "Enggak enak ya? Gue salah di mana ya?"


Pffft!


Aryan langsung menyemburkan tawanya, dia tidak tahan melihat wajah panik Miya. Menyadari Aryan mengerjainya, tanpa pikir panjang dia memukulnya dengan centongan.


"Aduh! Aduh! Sakit Mi!" dia berusaha menghindar tapi Miya yang kesal masih memukulnya, "masakan lo hangus!"


Barulah dia melepaskannya.


"Keluar sana, ganggu saja lo!"


"Enggak ah, mau lihat seorang Miya Sarina memasak gue." dia kembali ke tempat semula. "Miya!"


"Enggak usah panggil panggil."


Aryan kembali tertawa, dia memperhatikan Miya yang memasak. Miya yang ada di depannya sangat berbeda dengan Miya yang ada diingatannya, dia banyak berubah.


"Apa kita sewa ART ya?" cetuk Aryan, dia kembali bertopang dagu.


Miya yang mendengar itu menoleh, "bukannya lo enggak suka ada orang lain ada di sekitar lo?" tanya Miya.


"Iya memang, tapi sekarang kan beda. Bukan hanya gue yang ada di dalam rumah." ucap Aryan.


Miya mematikan kompornya, memasukkan sup ke dalam mangkuk yang sudah dia siapkan. Ini adalah menu terakhir yang akan dia buat, sedangkan yang lainnya sudah ada di meja.


Miya berjalan ke meja makan, meletakkan supnya di sana. "Senyaman lo sih, karena kita sama sama sibuk jadi gue tidak bisa terus memasak di rumah. Panggil Ray buat makan."


"Ray! Ryan!" panggil Aryan, tak lama remaja itu muncul.


Karena baru dari luar, jadi dia langsung mandi. Jadi dia tidak bisa membantu memasak dan membereskan rumah.


"Kalau di panggil itu, nyaut Ray." tegur Aryan karena kaget Ryan muncul tiba tiba.


"Maaf."


"Sudah, ayo makan!" Miya menyerahkan alat makan ke mereka berdua. "Ray, bagaimana sekolah hari ini?"


Ryan sadar, semenjak Miya ada di rumah membuatnya sering berbicara. Karena Aryan bukan tipe yang suka bicara, jadinya Ryan diam juga.


"Tidak ada masalahkan?" tanya Miya saat remaja itu tidak kunjung menjawabnya.


"Tidak ada."

__ADS_1


Aryan melirik remaja itu, dia sadar kalau anak itu masih saja canggung.


"Kalau ada masalah, jangan ragu memberitahu orang rumah okey?" kata Miya yang diangguki Ryan. "Minggu ini kamu ada waktu?"


"Mau apa?" Aryan yang bertanya.


"Refreshing lah, seminggu dia sudah belajar jadi weekend harus refreshing dong."


Selesai makan malam, mereka kembali ke kamar masing masing. Aryan berjalan dan duduk di tepian kasur, dia melihat Miya yang sibuk dengan laptopnya.


Bukan bekerja tapi menonton drama.


"Kebiasaan lo yang ini kenapa tidak hilang?" Aryan merangkak naik ke kasur.


Begitu dia duduk, layar di laptop menampakkan scene tabrakan bibir.


"Dih mesum, suka lihat beginian ternyata lo!" ledek Aryan, Miya mendelik. "Kalau mau, gue bisa dan dengan senang hati membantu."


Miya mencibir dan memukul wajah Aryan dengan bantal. "Elo yang mesum!"


Aryan ikut bersandar, sepertinya nonton drama tidak ada salahnya. "Ini tidak ada snu-snu nya Mi?"


"Kalau mau lihat yang snu-snu, nonton film biru sana."


"Bareng tapinya."


"Dihhh..." Miya langsung mendorong Aryan agar menjauh. "Sana lo cari ruangan lain kalau mau nonton! Gangguin gue aja."


"Enggak deh!" Aryan langsung melingkarkan tangannya di pundak Miya, tentunya Miya menolak sambil marah marah. "oke oke gue berhenti bercandanya."


Dia merebahkan kepalanya di lengan Miya, seperti yang dia katakan, dia benar benar tidak mengganggu Miya lagi. Dia ikut fokus menonton, sesekali bertanya kalau dia tidak memahami alurnya.


"Mi!"


Aryan meliriknya hanya untuk memastikan suasana hati Miya.


"Kenapa?"


Aryan menegakkan duduknya, "Kenapa lo ngak ngebiarin adek ipar lo manggil lo Miya?"


Miya memiringkan kepalanya "Entahlah, gue hanya merasa tidak nyaman saja." jawab Miya.


Dia tidak bermaksud lain, Miya benar benar tidak nyaman saja kalau dipanggil Miya oleh adik iparnya.


"Lo tahu kenapa dia nyuekin lo tadi?" tanya Aryan, dia meraih tangan Miya, memijat mijat jarinya.


Miya menggelengkan kepalanya.


Aryan meluruskan wajahnya agar sejajar dengan Miya, menatap wajahnya dengan serius.


"Dia berpikir kalau lo tidak suka sama dia."


"Hah?" Miya berseru terkejut, "pikiran konyol macam apa itu?"


"Kalau gue jadi dia, gue juga berpikir hal yang sama."


Miya meliriknya, "itu berarti otakmu dangkal."


Menghela nafas panjang, Aryan kembali berkata. "Bukan begitu, tapi coba lo yang di posisinya dia. Lo satu satunya di rumah itu yang merasa di perlakukan beda, menurutmu apa yang akan kamu pikirkan." tanya Aryan tentunya dengan intonasi santainya.


Miya diam.

__ADS_1


"Tadi dia mempertanyakan itu pada Manaf, bukan kah lo terlalu tertutup Mi sama keluarga lo?"


"Gue juga tidak tahu." Miya benar benar tidak tahu tentang itu, dia merasa tidak ada yang perlu dibicarakan dengan mereka.


"Atau lo masih marah sama mereka?"


Miya diam lagi, apa dia marah? Miya rasa tidak. Mungkin hati kecilnya hanya merasa sedikit kecewa, ya perasaan itu pasti hanya rasa kecewanya saja.


"Gue enggak tahu." Miya menarik tangannya yang dipegang Aryan, "kenapa malah ngebahas ini sih? Gue mau nonton."


"Oke, gue enggak bahas lagi. Tapi, tetap pikirkan lagi ya Mi."


"Hn."


Mereka berdua kembali larut dalam drama yang mereka tonton, drama tentang sepasang kekasih yang penuh dengan kesalahpahaman.


"Yan, tisue!" Miya menegadahkan tangannya karena tisue memang di pegang Aryan.


FYI, Aryan itu lemah sama drama melankolis. Meski dia preman, tapi air matanya gampang jatuh kalau nonton film sedih.


Makanya dia benci ke bioskop.


"Cari film lain ajalah, Mi." Aryan menerima tisu yang baru saja Miya pakai, dia membuangnya di tempat sampah.


Miya menjauhkan laptopnya, takut takut tangan jail Aryan mencari film lain. "Lagi seru ini, ngapain harus di ganti sih?"


Aryan cemberut, dia meletakkan tisu di meja portabel yang Miya pakai untuk nonton. Dia berbaring dan menelusupkan wajahnya di perut Miya, dia akhir-akhir ini suka bermanja ria.


"Aduh!" Aryan mengelus lengannya saat kena pukul Miya, "kenapa lagi sih?"


"Lo yang kenapa? Lo pikir gak geli pinggang dikelitikin."


Aryan menelentangkan tubuhnya, dia menatap langit langit kamar. Dia menggeser sedikit pandangannya sehingga dia bisa melihat wajah Miya, benar wajah itu yang selalu dia ganggu dulu.


"Mi, kok lu bisa pacaran sama si Razak?" tangan Aryan memainkan rambut Miya yang tergerai, "dia jauh beda banget sama Dimas."


Miya menundukkan kepalanya, menatap Aryan yang menunggu jawabannya. Miya mengedikkan bahunya, "entahlah, mungkin karena dia terlalu ngejar."


"Berapa lama kalian pacaran?"


Miya memiringkan kepalanya berpikir, "dua tahun, mungkin!"


"Buset, lama juga ternyata." Miya kembali mengedikkan bahunya.


Dia dan Razak memang menjalani hubungan cukup lama, tapi Miya bisa menghitung jari berapa kali mereka jalan bareng selain di kampus. Dia juga tidak mengerti kenapa bisa menjalin hubungan seperti itu, padahal saat dengan Dimas mereka hampir setiap hari jalan bersama.


Kecuali saat kumpul dengan teman sekelas.


"Lo sendiri? Kenapa bisa sama istrinya Razak?"


Tangan Aryan yang memainkan rambut Miya terhenti, "karena dia nembak gue! Ya mumpung sendiri jadi gue terima."


"Dihh... Gampangan!"


Aryan tertawa, dia tidak bisa menampik itu. Walau tidak pernah serius setiap kali menjalin hubungan, tapi dia memang tidak pernah kosong saat semasa kuliahnya.


"Mantan lo banyak dong setelah Vina."


"Lumayan!" ucapnya menyeringai, Miya menepuk mulutnya.


"Jadi crocodile of ciliwung aja bangga lu."

__ADS_1


Aryan memeluk pinggang Miya, mengelus punggung perempuan itu. "Kan itu prestasi."


"Kakek gue bisa bangkit dari kuburannya dengar omongan lo."


__ADS_2