Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 37


__ADS_3

Semua orang yang berkumpul di meja makan untuk sarapan menatap ke arah Miya, dia masih setia memakai kacamata hitamnya. Awalnya dia sudah mau lepas, tapi siapa yang sangka matanya perih karena terlalu banyak menangis.


Kepalanya juga lumayan pusing, dia tidak tidur semalaman karena patah hati. Dia menarik kursi yang kosong, pura pura tidak peduli dengan orang orang yang menatapnya aneh.


"Heh, ngapain sih pake kacamata hitam pagi pagi, di rumah pula." tegur Manaf yang semakin aneh dengan saudaranya


"Terserah gue," tangannya mengambil roti, sebenarnya hari ini dia sama sekali tidak mood bekerja


Apa dia bolos saja, ya?


Tapi kalau dia bolos, gajinya akan berkurang. Sekali lagi dia tidak bisa bolos, toh kalau bolos dia pasti akan kepikiran terus dengan Dimas.


Dia menghela nafas panjang "Harus kerja!" gumamnya.


"Miya!" dia mengangkat kepalanya menatap Maminya, "Ke mana mobilmu?"


"Rumah sakit!" jawabnya enteng, wanita itu meletakkan sendoknya


"Kamu sebaiknya putus dengannya!" Miya ikut meletakkan sendoknya "Kamu dengar Mami?"


"Kenapa?" Miya bertanya serius, kalau hanya karena kelakuan Aryan yang saat SMA penyebabnya bukannya Maminya berfikiran dangkal. "Aryan baik, goodlooking, plus dia kaya."


"Mami tidak butuh menantu kaya," wanita itu menatap putri sulungnya "Dia itu preman, kamu tid-"


"Itu saat masih remaja, semua orang bisa berubah."


Wanita mengibaskan tangannya "Mustahil! Pokoknya Mami tidak mau sama laki laki seperti dia."


"ah, sepertinya Mami masih kesal soal kejadian Aryan ngebogem Manaf!" Miya mengambil sendoknya tidak peduli dengan suasana yang tiba tiba sunyi. "Kayaknya lo ngak cerita ya kenapa lo dibogem waktu itu."


Manaf menghela nafas "Ya itu salah gue."


"Kenapa itu salahmu? Memang dia saja yang preman, hah... Bagaimana sih orang tuanya mendidik an-"


Brak!


Miya menaruh sendok lumayan keras "Mami tau apa?"


"Miya!" Papinya menegur karena suara Miya mulai meninggi.


"Mami tidak tahu apa saja yang dia lalui kan? Mami pikir dia seperti sejak awal? Ngak, Mi. Aku selesai makan."


Miya mengambil tasnya dan bersiap pergi, tapi suara Papinya menghentikannya "Duduk dulu," dia menarik tangan putrinya "Mami juga berhenti membahas ini."


"Ini karena aku khawatir sama Miya,"

__ADS_1


"Kenapa baru sekarang khawatirnya?" Miya sedang mood untuk berdebat sekarang "Kemana saja Mami sama Papi saat aku dalam keadaan mengkhawatirkan? Kemana?"


"Miya jaga ucapan kamu!" Maminya berseru, "Kami mencari biaya buat kesehatan kamu! Kamu pikir itu murah?"


Miya menghapus air matanya, dia tidak mengatakan apa apa.


"Ya kami salah karena tidak ada sekali dua kali saat kamu operasi, tapi bukan berarti kamu boleh berkata kami tidak khawatir. Memang Aryan ngelakuin apa sampai kamu ngebelain?"


Miya tersenyum tapi mendengus "Sekali? Dua kali?" Miya menghapus air matanya "Ya kalian hanya datang sebanyak itu? Kalian tahu berapa kali aku operasi tidak? Itu dua belas kali, Mami tanya kan apa yang dia lakuin sampai aku membela dia?"


dia menjeda kalimatnya, menarik nafas "Semenjak kami kenal dia, dia selalu hadir saat kami operasi." Miya menghapus air matanya lagi, dia tidak membuka kacamata "Mami tau, aku hampir mati di operasi terakhir kenapa? Aku sendiri yang menyerah, saat Dalvina dan Dimas ditemani keluarga mereka, menguatkannya untuk tidak takut, tapi tidak ada yang seperti itu untukku hanya Aryan. Saat dokter menelfon kalian, kalian berfikir itu hanya operasi kecil...,"


Miya tidak melanjutkan kalimatnya, dia meninggalkan ruang makan secepatnya. Dia merogoh sakunya mencari kontak Aryan, ya... dari dulu dia selalu bergantung padanya.


"Kenapa? Lo mau dianterin mobil lo?"


Miya menghapus air matanya "Lo sibuk ngak?"


"Kenapa?"


"Sibuk ngak?" suaranya sudah parau, dia bisa mendengar suara gedebuk dari seberang.


"Enggak! Gue anterin mobil lo sekarang."


Miya menghapus air matanya yang terus berjatuhan "Jemput gue, antarin ke rumah Mama."


"Tempatnya Manaf!"


"Gue jemput sekarang." Aryan langsung mematikan sambungan telfon.


Miya memasang sendalnya buru buru, saat dia mau membuka pintu Manaf mencegah tangannya.


"Lepasin!" Miya berkata dengan sangat lirih.


"Jangan gini! Mami ngak maksud Mi..." Manaf menatap kakak perempuannya "Mami hanya khawatir sama lo!"


"Lepas!" dia berusaha menaril tangannya "LEPASIN GUE!"


"Enggak!" Manaf masih mencegahnya, Miya melihat semua orang berjalan keluar "Kami tahu kamu kecewa, kami benar benar tidak benar benar bermaks-"


"Iya aku tahu kok," melepas tangannya dari Manaf "Karena setiap gue operasi mereka selalu bersama lo yang selalu lomba entah apa itu! Tenang saja, gue ngak pernah kok benci sama lo. Yang gue sayangkan hanya kenapa aku tidak mati saja." dia berusaha membuka pintu.


Manaf kembali mencegahnya, tapi kali ini Miya berhasil melepaskan dirinya. Dia menginjak kaki Manaf, begini begini dia pernah diajari untuk melarikan diri saat ditawan orang jahat.


Maminya mendekat, "Miya dengerin Mami dulu! Kam-"

__ADS_1


Miya melihat mobil berhenti di depan pekarangan, dia dengan cepat membuka pintu dan keluar. Dia sudah kacau dari kemarin, jadi dia tidak bisa mendengarkan apapun karena emosinya hanya akan semakin naik.


Aryan yang baru keluar terkejut, Miya berjalan ke arahnya terburu-buru ada keluarganya di belakang. Saat sampai di depan Aryan, dia menyuruhnya cepat masuk mobil.


Aryan yang tidak mengerti apa apa bingung, terlebih saat melihat Manaf mengejar kakaknya sambil terus memanggil namanya.


"Lo ngapain sih, buruan!" serunya saat sudah masuk mobil tapi Aryan masih berdiri. "Mereka tidak usah diurusin."


"Aryan tunggu dulu," Manaf berseru membuat Aryan yang hendak membuka mobil terhenti "Kami mau bicara sama Miya."


Aryan melihat wajah memelas Manaf, tapi saat berbalik dia melihat wajah emosi Miya. Dia hanya bisa menepuk bahu Manaf, membisiknya.


"Sebaiknya biarkan dia dulu, kalau begini dia tidak akan mendengarkan siapapun." dia menepuk pundak Manaf sekali lagi berbalik "Mau ke rumah Hanin kan?"


"Hm."


"Pasang sabuk, lo bukan bocah yang harus diingetin mulu." Aryan melihat ke arah orang tua Miya mengangguk sopan. Dia menunduk mengambil kresek dan meletakkan di pangkuan Miya. "Dinginin kepala lo! Om, Tante, Naf. Kami pergi dulu."


Manaf hanya mematung melihat mobil berlalu, dia menoleh ke arah orang tuanya yang memasang wajah sendu. Dia menghela nafas dan mempersilahkan mereka masuk lagi, mereka berkumpul di ruang tamu.


"Mami kenapa membahas soal ini tadi?" tanya Manaf, suaranya tidak menuntut "Mami taukan, Miya selalu sensitif saat teman temannya disudutkan? Aryan juga bagian dari kelas Miya."


Wanita parubaya itu memegang keningnya, "Mami tidak mau dia salah pilih, lihatkan! Semenjak dia berteman dengan anak anak yang katanya sekelas itu dia makin keras kepala! Dia juga jarang di rumah."


"Tapi Miya makin kelihatan hidup!" Manaf memotong kalimat Maminya "Aku sudah bertemu dengan mereka secara langsung, waktu itu aku juga mikir kayak Mami tapi apa yang aku lihat? Miya tertawa bebas, tawa yang tidak pernah dia lihatkan di rumah."


Wanita itu menghela nafas "Sebenarnya apa yang anak itu pikirkan?"


"Pertanyaamu salah!" Papi Miya yang sedari tadi diam bersuara "Seharusnya pertanyaan itu untuk Mami."


"Apa maksud Papi bicara seperti itu?"


"Apa Miya pernah menolak keingina Mami selain perjodohan? Tidak Mi!" pria itu mengusap wajahnya "Aryan tidak ada yang salah dengan anak itu, dia bahkan lebih mengenal Miya dibandingkan kita."


"Karena itu aku bertanya, apa yang dia pikirkan? Kenapa dia tidak terbuka dengan keluarganya sendiri?"


"Karena kita yang sejak awal menjauh Mi!" Manaf berseru "Mami tidak mendengar apa yang dia katakan tadi? Karena selama ini dia sendirian! Dia terbiasa mengandalkan dirinya sendiri."


Wanita itu menatap anak dan suaminya bergantian, kenapa mereka tidak mengerti kekhawatiran seorang ibu? Miya anaknya dan kenapa mereka berfiki kalau dia tidak mengerti Miya? Tidak sayang Miya?


Dia sayang, makanya dia seperti ini. Dia tidak ingin anaknya bersama preman yang suka adu jotos.


"Sudahlah! Percuma bicara sama kalian. Kalian terlalu menuruti keinginan Miya, makanya dia seperti ini."


"Enggak gitu Mi," Manaf berdiri dan berjalan ke arah Maminya.

__ADS_1


"Keinginan apa yang selalu kami turuti?" Papi Miya menatap istrinya "Mami sadar atau tidak, apa Miya pernah meminta sesuatu selain balik ke indonesia karena tidak mau sekolah di luar? Aku bahkan tidak pernah mendengar dia merengak minta dibelikan mainan saat kecil, tidak pernah memaksa kita untuk menjaganya di rumah sakit padahal waktu itu dia juga masih sangat kecil. Jangan memaksa dia, biarkan dia memilih apa yang dia inginkan. Aryan bukan pilihan buruk, setidaknya kita mengenalnya lebih baik dari pada laki laki yang Mami pilih untuk kencan butanya."


__ADS_2