Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 67


__ADS_3

Miya meregangkan tubuhnya, setelah lima hari akhirnya dia bisa menghirup udara tanah airnya. Meski di luar negeri terasa luar biasa, tetap saja negara sendiri adalah tempat ternyaman untuk pulang.


Tangan Aryan melingkar di pinggangnya, wajah pria itu sama lelahnya dengan Miya. Dia mengedarkan pandangannya, sebenarnya dia meminta Alisa untuk mengirim seseorang untuk menjemputnya.


"Tuan!"


Aryan langsung menoleh ke seseorang yang suaranya tidak asing, diantara orang menjemput seorang pria yang sudah cukup berumur berdiri di tengah orang berkerumun.


"Alisa benar-benar!"


Aryan bergumam sedikit kesal, pria itu adalah kepala pelayan di mansion utama. Dia menuntun Miya untuk mendekat, memperkenalkan mereka berdua.


"Selamat datang kembali, tuan dan nyonya."


"Terima kasih, tapi kakek harusnya meminta supir saja untuk menjemput."


Pria tua itu tersenyum, sebenarnya itu mengingatkannya pada sang kakek.


"Bagaimana mungkin saya melakukan itu, tuan." mata tuanya menatap Miya, "saya juga ingin melihat langsung nyonya muda."


Dia memang tidak menghadiri pernikahan Aryan, saat itu dia merasa tidak enak. Aryan mengangguk mengerti dan memintanya memimpin jalan, saat pria tua itu ingin mengambil koper Aryan mencegahnya dan mengatakan ingin membawanya sendiri.


"Kalau mansion keluarga punya kepala pelayan, jadi sebesar apa tempat itu." tanya Miya tentunya dengan suara sangat pelan.


"Mau ke sana?" Miya langsung menggelengkan kepalanya, dia tidak siap. "Lo harus terbiasa, karena sebulan sekali, kami selalu berkumpul."


Mereka berdua tiba di depan mobil, betapa terkejutnya mereka mendapati Ryan juga ikut. Remaja itu langsung menegapkan berdirinya saat melihat mereka, wajahnya pun langsung cerah.


"Bagaimana kabarmu?" Aryan bertanya sambil mengacak rambutnya.


"Baik!"


Selama masa bulan madunya, Aryan tidak pernah melupakan remaja itu. Entah dia atau Miya, mereka berdua gantian menghubungi anak itu setiap malamnya.


Sebelum ke rumah baru mereka, Aryan dan Miya menyempatkan bertemu orang tua Miya yang berkumpul di rumah Manaf. Meski lumayan lelah, tapi mereka harus mendahulukan sopan santunnya.


Saat tiba di rumah Manaf, mereka langsung disambut hangat oleh mereka. Mereka bahkan menyiapkan makan malam, Miya main dulu dengan keponakannya.


"Hai Baby, kangen aunty tidak?" Miya menunduk mencium keponakannya yang mulai aktif di umurnya yang memasuki dua bulan itu.


Di belakangnya, Rayna menatap Miya dengan pandangan serius. Dia pikir dia sudah dekat dan mengenal Miya dengan baik karena sudah berteman sejak kuliah, tapi dia salah besar.


Dia tidak mengenal Miya sama sekali.

__ADS_1


Keseharian iparnya itu sangat dingin dan enggan berbicara, kalaupun berbicara hanya seperlunya saja. Tapi saat pernikahan dia sangat berbeda, dia tertawa, bercanda dan banyak bicara kepada orang-orang yang katanya temannya itu.


Atau Miya tipe pemilih teman.


Rayna menghela nafas panjang, mendengar itu Miya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?"


"Bukan apa-apa!" Rayna membalikkan badannya meninggalkan Miya, dia berjalan keluar di mana suaminya dan ipar barunya berbicara.


"Di mana Miya?" Manaf bertanya saat istrinya duduk di sampingnya, dia juga datang sendirian.


"Sarina bermain dengan keponakannya."


Lihat! Bahkan cara menyebutkan namanya pun berbeda. Padahal saat pernikahan, Rayna jelas jelas tidak masalah saat dia dipanggil Miya.


Atau dia memang tidak disukai?


Dia menatap Aryan yang sekarang fokus menonton berita di tv, berita tentang kasus korupsi. Bahkan pria itu juga memanggil Miya dengan panggilan Miya, kenapa cuma dia yang tidak bisa memanggilnya itu?


"Kamu mengenal Miya dari SMA kan?" Aryan mengalihkan pandangannya mendengar pertanyaan Rayna. "Seperti apa dia saat sekolah dulu? Apa dia pendiam seperti sekarang?"


Pendiam, Siapa? Miya? Aryan sepertinya ada yang salah dengan telinganya. Tapi tidak ada yang salah dengan itu, saat pertama kali bertemu Miya cukup pendiam.


"Tidak."


Haha... Rayna terkekeh dalam hatinya, dia sekarang benar benar yakin kalau Miya tidak senang dengannya.


"Sarina sepertinya tidak suka denganku!" ucapnya menghela nafas panjang, "aku tidak tahu apa apa tentangnya, bahkan setelah beberapa tahun menjadi iparnya."


"Sepertinya bukan seperti itu," Rayna langsung melihat Aryan. "Miya sangat tertutup, tidak mudah mengambil perhatiannya. Dia juga tidak baik dalam membuat teman."


Miya tinggal lama di rumah sakit, bertemu dengan orang orang itu saja dan secara alami bergaul bersama. Tapi saat dia merasa nyaman, dia akan mentreatnya dengan sangat baik.


Buktinya adalah Aryan, Dimas dan Dalvina juga anak-anak IPS 1.


Selain itu, Miya juga sulit untuk percaya pada orang lain. Aryan berpikir kalau itu adalah efek dari rumah sakit, Miya sering dibohongi dengan mengatakan kalau di suntik tidak akan sakit, operasi itu tidak akan lama dan berbagai jenis lain saat mengambil tindakan medis padanya.


Juga... Keluarganya yang selalu mengatakan akan menemaninya saat operasi, tapi kenyataannya mereka tidak pernah hadir.


"Tapi dia dekat denganmu!" ujar Rayna, dia tidak mengerti.


Ya, Aryan mengakui itu. Mungkin karena mereka memiliki kesulitan yang sama, meski jenis rasa sakit yang mereka rasakan berbeda.

__ADS_1


"Yan!" Miya berjalan turun sambil menggendong keponakannya, "pulang yuk, capek gue mau tidur."


"Menginap di sini saja," Manaf ikut berdiri dan mengambil putrinya, "kamar lo bersih kok."


"Anak gue tidur di mana?" dia melirik Ryan yang bermain dengan ponsel Aryan di samping Aryan.


Dia mengatakan kalau ponselnya ketinggalan, jadi Aryan meminjamkan padanya. Sebelum itu, Aryan sudah meminta seseorang dari rumah mansion untuk mengirim barang barang Ryan termaksud ponsel ke rumah mereka.


"Dia juga harus sekolah besok." Miya melanjutkan ucapannya.


Sebelum pernikahan dia sudah memindahkan separuh barangnya ke rumah baru, sedangkan separuhnya lagi dia memindahkannya sebelum berangkat ke Paris. Pun dengan Aryan dan Ryan, semua barang mereka juga sudah ada di sana.


Manaf melirik ke arah Ryan, awalnya mereka cukup terkejut dengan kehadirannya. Mereka sempat berpikir kalau itu anak kandung Aryan, untungnya Miya menjelaskannya pada mereka.


"Tapi," Miya melihat ke arah adik iparnya yang menatapnya juga. "Lo kenapa, Na?"


Wanita yang baru menjadi ibu muda itu menggelengkan kepalanya, dia hanya menerima putrinya dari sang suami. Tak lama dia pamit naik ke atas, membuat Miya bingung dan menatap Manaf.


"Istri lo kenapa?"


Manaf tersenyum, "bukan apa-apa, lo kalau mau pulang mending pamit ke Mami sama Papi dulu."


Setelah pamit yang penuh drama, akhirnya Aryan dan Miya bisa pulang juga. Mereka sama lelahnya dan inginnya langsung tidur, tapi itu tidak segampang itu.


Aryan harus segera ke rumah sakit, jadi mau tidak mau Miya dan Ryan harus ikut. Mobil hanya satu, sebenarnya tadi ada dua tapi kepala pelayan membawanya kembali ke mansion.


"Maaf dokter, padahal anda baru saja tiba." ucap suster yang menjemputnya di parkiran.


"Tidak masalah." dia menerima catatan pemeriksaan pasien yang akan dia tangani. Dia menoleh ke arah Miya dan Ryan yang melihatnya dari dalam mobil.


"Kenapa?" tanya Miya saat melihat Aryan menghela nafas panjang sambil melihat mereka.


Dia menggelengkan kepalanya, "kalian hati hati jalan, Mi jangan ngebut sudah malam ini."


"Iya."


"Kalau ada yang suruh berhenti, jangan berhenti. Jangan ragu untuk menabrak."


Miya langsung mencibir ke arahnya, "Gila!"


Sebelum masuk ke dalam rumah sakit, dia memberi Miya sebuah kecupan dan mengacak rambut Ryan. Kemudian membalikkan badannya, berlari masuk ke dalam rumah sakit.


"Pasti keadaannya darurat." ucap Miya masih melihat punggung Aryan yang menjauh.

__ADS_1


Dia menyalakan mesin mobil dan meninggalkan rumah sakit, tubuhnya sudah tidak tahan lagi. Untung saja rumah mereka tidak terlalu jauh, jadi dia beristirahat dengan cepat.


__ADS_2