Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 65


__ADS_3

"Akhirnya kelar jugaaa..." Miya menghempaskan tubuhnya di kasur.


Pakaiannya yang berat sudah dia lepaskan, dia berbaring dengan piyama doraemon kesayangannya. Semua make-up di mukanya juga sudah dia hempaskan semua, dia hanya ingin tidur saja sekarang.


Sambil menggosok rambutnya dengan handuk, Aryan keluar dari kamar mandi dengan tubuh segar. Dia mendapati Miya yang sudah berbaring, Aryan pun berjalan ke kasur.


Dia mengambil bantal dan melemparnya ke arah wajah Miya, "geser sedikit, gue juga mau tidur!"


Miya mengambil bantal itu dan memeluknya, bergeser dengan malas ke satu sisi. Aryan melempar handuk ke arah kursi, dia kemudian naik ke kasur untuk berbaring.


Punggungnya serasa encok!


"Enggak lagi deh gue nikah, capek!" keluh Miya "tapi kalau ganteng bisa dipikirin lagi."


Aryan mendorong kepala Miya, tentunya gadis itu langsung mengaduh dengan dramatis. "Baru juga tadi pagi lo lepas status jomblo, sok sok an mau nikah lagi." cibir Aryan.


Tidak lama suasana jadi hening, mereka berdua sama-sama bingung mau mengatakan apa lagi. Ini kali pertama Aryan satu kamar dengan perempuan, pun sama dengan Miya.


Tak lama suara tawa Miya pecah, mata Aryan yang tadi sudah tertutup kembali terbuka. Dia menatap Miya dengan aneh, bisa bisanya dia tertawa terbahak.


"Heh, sudah malam! Angker tau lo ketawa ketiwi kayak kunti."


Miya menatap Aryan kemudian memukulnya dengan bantal, pria itu tentu saja tidak terima.


"Tau gue nikahnya sama temen sendiri pengen gue geplak lo!" sebuah pukulan berhasil mendarat di wajah Aryan, "kenapa coba lo datangnya lama? Capek tau kuping gue dengerin omelan Mami buat cari pacar."


Aryan menahan bantal yang lagi lagi di arahkan padanya, "mana gue tahu kalau gue bakal sama lo." dia kemudian merebut bantal di tangan Miya, "gue mau tidur, capek."


Miya yang tadinya duduk langsung merebahkan dirinya, dia sama lelahnya bahkan mungkin lebih lelah dari Aryan.


Ngomong ngomong mereka masih di hotel saat ini, bukan hanya mereka tapi keluarga besar juga.


Miya yang sudah memejamkan matanya terkejut, sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Dia membuka matanya dan langsung menoleh, mata Aryan terpejam bahkan nafasnya teratur menandakan dia sedang tidur.


Wait! Sekarang dia di jadikan guling?


Dia dengan cepat berusaha melepaskan diri, tapi rengkuhan di pinggangnya makin erat. Bahkan sekarang kaki Aryan ikut andil, kaki panjang itu naik ke atas pahanya.


"Aryan, Yan... Berat!" kesalnya, tapi Aryan hanya membalasnya dengan gumaman tanda dia sama sekali tidak terganggu.


Miya menghela nafas panjang pasrah, sepertinya Aryan benar benar capek. Tapi apa dia akan membiarkannya? tentu saja tidak! Dia juga sangat capek.


Miya mengambil bantal dan memukul Aryan, pria itu langsung membuka matanya. "Apa sih Mi? Sudah malam ini, besok aja malam pertamanya."


"Elo berat Aryan! Gue mana bisa tidur kalau di jadikan guling, gue juga capek!"

__ADS_1


Aryan yang menyadari posisinya dan menjauh, dia sama sekali tidak sadar. "Maaf maaf!" dia merentangkan badanya dengan cepat, kemudian kembali menutup mata.


Miya juga dengan cepat menutup matanya, dia sudah capek dan mengantuk dalam waktu yang sama. Tapi beda dengan Miya yang sudah tidur, Aryan justru tidak bisa tidur lagi.


Semenjak jadi dokter dia seperti ini.


***


Miya bangun dengan keadaan lebih segar, ya meski kakinya masih linu linu karena kelamaan berdirinya. Dia mengerjabkan matanya karena merasa asing dengan kamarnya, ah dia ingat.


"Kemarin kan gue nikah!" gumamnya, dia kemudia berusaha duduk. "Astagfirullah!" kagetnya karena Aryan hanya diam sambil melihat ke arahnya dari sofa.


"Memang gue hantu sampai lo sekaget itu?" gerutu Aryan.


Miya menyengir "Mirip soalnya, Yan."


Selesai mandi bergantian, barulah mereka berdua keluar dari kamar. Mereka menuju restourant yang ada di hotel, Aryan baru saja mendapat pesan dari Alisa.


"Akhirnya datang juga manten baru kita.. " ucap Alisa yang melihat Aryan dengan Miya, "Ciee... Yang keramasan pagi pagi, biasanya juga enggak."


"Selamat pagi!" dia mengelus kepala Ryan saat melewatinya, dia menarik kursi di samping Alisa. "Berisik lu!"


Miya menarik kursi di samping Aryan, dia sudah kelaparan.


"Kak Miya!" Miya mengangkat wajahnya dan menatap adik sepupunya, "kenal Kak Aryan di mana? Kok bisa?"


Aryan mengambil tempat saji dan memindahkan di depan Miya.


"thanks!"


"Aduh, pantas Miya lambat nikahnya, wong seleranya begini." seorang kerabat dari Ayahnya berkata sambil melirik Aryan, "orang yang kita mau kenalin malah di tolak semua."


Miya meletakkan sendoknya, "ya gimana ya tante, seleraku itu memang tinggi, sukanya yang berkualitas, bukan laki-laki yang hanya mengharapkan nasi dari orang tua."


Kalau saja bukan demi Papinya, Miya tidak berniat mengundang mereka. Sebelum ini dia selalu dicibirin karena tidak menikah menikah, bahkan disebut perawan tua yang tidak laku.


Jujur saja, Miya sangat sakit hati.


"Tante kan cuman bilang, lagian mereka bukan anak manja kok!"


Miya tidak mengatakan apa apa, beda lagi dengan Aryan yang tiba tiba keningnya mengkerut. Dia merasakan seseorang menyentuh kakinya, spontan dia melihat ke depannya.


Sepupu Miya tersenyum ke arahnya. Tapi senyum itu tidak bertahan lama, karena Aryan menatapnya dengan tajam dan dingin.


"Ke..kenapa?"

__ADS_1


Miya langsung melihat Aryan saat mendengar pertanyaan sepupunya, sebenarnya dia merasakan hawa dingin juga.


"Kenapa?" giliran Miya yang bertanya.


Aryan menatap Miya dengan tatapan jenaka, "kayaknya ada kotoran terbang ke kakiku."


Mendengar perkataan Aryan, Miya langsung menunduk untuk melihat. "Mana? Enggak ada tuh!"


"Sudah terbang."


Miya kembali menegakkan duduknya, menatap Aryan sedikit kesal. "Mana ada yang seperti itu?"


"Kalian kenapa?" Ruslan bertanya karena pengantin baru itu tampak saling berbisik.


Aryan tersenyum, "bukan apa apa O eh Pi."


Miya melanjutkan makannya, saat hendak makan makanan yang pedas Aryan menjauhkannya. Dia meletakkan di depan Alisa agar Miya tidak menjangkaunya.


"Apa sih Yan? Gue makan cumi itu."


"Enggak, lo ada asam lambung."


Miya langsung cemberut, "sudah lama sembuhnya."


"Asam lambung tidak semudah itu sembuh." ucap Aryan yang malah mendekatkan cumi goreng biasa, "ini saja."


Manaf menatap kakaknya, dia tidak tahu kalau kakaknya punya penyakit itu. Bukan hanya dia, tapi orang tuanya juga.


Setidak terbuka itu kah Miya?


"Kapan kamu kena asam lambung?" Ruslan bertanya tapi Miya merapatkan mulutnya, "Nak Aryan?"


"kelas dua belas SMA," tangan Miya berusaha menutup mulutnya, tapi Aryan menahannya. "Dia dulu sering pingsan kalau kambuh."


"Kok tidak bilang?" giliran Maminya yang bertanya, dia benar benar merasa tidak mengenal anaknya.


"Karena tidak penting." jawab Miya "Cuman segitu juga. Enggak usah dibahas lagi."


Mendengar ucapan Miya, mereka memilih tidak membahasnya lagi. Aryan sendiri hanya bisa memandang gadis itu, mengenal Miya dari lama tapi dia tidak benar benar menenalnya.


Selesai sarapan para kerabat pamit pulang, termaksud Alisa. Sebenarnya semalam dia tidak berniat menginap, tapi karena anaknya rewel dan terlanjur tidur, jadi dia juga terpaksa menginap. .


"Ray," Ryan benar benar namanya sudah berubah, bahkan teman teman Miya dan Aryan juga memanggilnya dengan sebutan itu. "Kamu mau ikut aunty atau tinggal dengan orang tuamu?"


Ryan terdiam, dia belum terbiasa dengan Alisa.

__ADS_1


"Baiklah, tapi ingat tidak boleh mengganggu mereka." ucap Alisa dengan nada memperingatkan. "Kalau tidak betah, kamu bisa pulang duluan."


"Baik, Aunty."


__ADS_2