Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 22


__ADS_3

Griffin menatap punggung Miya yang berlahan hilang ke dalam resto, dia benar benar tidak bisa mengerti gadis itu. Gadis yang terlihat supel terhadap orang lain, tapi terkesan dingin saat bertemu orang lainnya lagi.


Dia tidak tahu yang mana sisi asli gadis itu.


Dia membalikkan badannya dan masuk ke dalam mobil, menghela nafas panjang saat melihat ada telfon masuk. Dia mengabaikannya dan menjalankan mobilnya, tadi dia tidak sengaja bertemu dengan Miya dan menawarkan tumpangan padanya.


Di sisi lain, Miya yang tadinya berencana hanya akan sebentar sepertinya mengurungkan niatnya. Dia berjalan masuk ke ruangan dimana ada teman temannya.


"Helloo epribadihh!"


Yang ada dalam ruangan itu terkejut, tidak ada yang menyangka dengan kehadirannya. Dia terkekeh kekeh sambil masuk, menyenangkan melihat wajah kaget mereka.


"Si rusuh baru saja pergi, malah speaker yang nongol." Cakra mencibir tapi Miya tidak peduli.


"Mamaaaa..." dia berjalan sambil membuka tangannya.


Afika si gadis kecil itu, entah insting dari mana dia berdiri dan langsung memeluk Ibunya. Dia menatap tajam ke arah Miya, membuat Hanin tertawa.


"Eh buset, protektip amat neng!" Miya menurunkan tangannya, dia yang tadinya mau memeluk Hanin jadi duduk di samping Afika.


"Bagus nak!" Hanin mencium pipi putrinya "Kakak duduk cantik lagi ya."


"Nda!" dia makin mengeratkan pelukannya. Miya mencolek dagunya tapi langsung di tepis anak itu.


"Galak amat, mirip siapa sih?" godanya.


"Tentu saja Bundanya." Afkar yang menjawab dia duduk masih memangku si bungsu.


"Dih bapaknya ngak sadar diri!" cibir Hanin, dia melirik dan membuang muka.


"Nah yang begini gue demen," Miya mencomot makanan di depannya "Ngak cocok mesraan!"


"Dih... Yang ngak ada pasangan ngak diajak." ledek Cakra, Miya mengangkat bogeman ke arah Cakra. "Masa lo kalah sama Aryan, tadi dia bawa cewek ke sini."


"Liat kok gue!" Miya berdiri dan mengambil air "Tapi apa hubungan Aryan dapat cewek sama gue?"


"Ngak ada sih!"


Miya menjentikkan jarinya "Nah itu!"


"Serius ngak ada hubungannya, Mi?" Alga muncul dengan anak kecil juga di gendongannya, tampaknya baru bangun.


Miya mengambil tisue melap tangannya dan menghampiri Alga, "Emang gak ada, sini nak sama aunty!" anak itu langsung memeluk Miya.


"Aunty kebagusan kali, Mi. Bulek tuh bulek!" ucap Alga tapi tetap membiarkan Miya menggendong anaknya. "Jagain bentar anak gue, mau ngurusin emaknya dulu gue."


"Mabok ya Al?" tanya Hanin, Alga menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Manja doang!" dia menepuk anaknya sebentar "Titip ya, kalau mau apa apa panggil mbak Wilsa saja."


"Gue belum makann..." rengek Miya yang melihat kepergian Alga dari pintu. "Cak, ambilin gue makan dong!"


Cakra yang main hape meliriknya kesal, dia berdecak tapi tetap meninggalkan tempatnya.


"Sekalian bayarin yaaa..."


"Bayar sendiri!".


Miya duduk kembali, anak dalam gendongannya memeluknya erat sambil mendusel. Hanin mengambil tisue dari tasnya, menghapus iler anak itu.


"Masih ngantuk banget kayaknya dia." ucapnya, Miya menepuk nepuk pelan punggunya "Lah malah tidur."


"Pa," Afkar mengangkat kepalanya "Tau tempat kerja untuk akuntan ngak?"


"Kenapa emang? Lo mau pindah?"


Miya menghembuskan nafasnya "Ngak tau, tapi kalau terus kerja di bawah bokap gue merasa tidak mandiri."


"Apanya yang tidak mandiri sih, Mi? Lo kan kerja bukan cuman ongkang-ongkang kaki di kantor," Hanin menarik pelan tangan anaknya untuk duduk. "Bokap lo juga ngak ngungkap identitas lo kan? Selagi masih nyaman tempatnya, lo jalanin aja dulu."


Afkar setuju dengan Hanin, "Selama ngak ada yang membuat lo kurang nyaman, mending di sana dulu. Tapi gue bakal bantuin juga cariin kerja di tempat lain."


Miya tersenyum "Sip, Papa yang terbaik."


"Ayah, no papa!" Afika berseru protes, Miya melihatnya.


"Noooo..."


"Yes!" Afika cemberut melihat Miya, gadis itu ingin menyerang tapi di tangkap Hanin.


"Kakak tidak boleh!" Hanin melotot ke arah Miya.


"Pi, Ayah na Pika."


"Iya, Ayahnya Afika." Hanin mengelus kepala putrinya.


Miya menatap keluarge kecil dengan senyum kecilnya, dia tidak menyangka saja kalau dua manusia itu sudah punya anak bersama. Ah... Hanin bahkan terlihat sangat dewasa sekarang, gadis bar bar itu sekarang berbicara dengan sangat lembut pada anaknya.


"Ayahnya pika tapi Papanya aku!"


"Nooo!" seru Afika, "Undaa..."


"Mi!" tegur Afkar yang hanya dibalas cengiran oleh Miya, "Anak digendongan lagi tidur, ngak usah nangisin anak gue."


"Mi, nih makanan lo!" ucap Cakra berjalan masuk, Miya langsung berdiri dan berjalan ke arahnya setelah meletakkan makanan Miya di meja. "Apa nih?"

__ADS_1


"Jagain dulu ya," Miya menyodorkan anak Alga dengan sangat hati hati ke Cakra, pria itu tampak kikuk. "Nah, Mami makan dulu. Papi tolong jagain ya."


"Amit amit Mi!"


Miya tidak peduli dan tetap melenggang, orang yang paling enak di kerjai di kelas emang si Cakra. Emosinya setipis tisu.


**


Di sisi lain, setelah menempuh perjalan hampir satu jam setengah, akhirnya Aryan memarkirkan mobilnya di pelataran sebuah rumah sakit. Dari jendela mobil dia memperhatikan bangunannya, tidak besar tapi cukup ramai.


"Anu, dokter itu..." Aryan menoleh ke Camelian yang entah kenapa tiba tiba kikuk, "Terima kasih."


"Ya." jawabnya, dia membuka mobil dan turun lebih dulu. Mengemudi setelah bekerja seharian sangat melelahkan.


Camelia turun dari mobil, dia bersiap masuk menemui profesor yang mengundangnya ke tempat itu. Karena penasaran dengan rumah sakit itu, Aryan ikut masuk ke dalam.


Siapa tahu dia bisa mendapat pengalaman baru.


Rumah sakit tidak kalah ramai dari tempat mereka bekerja, perawat berlalu lalang di depan mereka. Yang dia dengar dari Camelia, rumah sakit itu sebenarnya kekurangan tenaga medis.


"Meli!" seorang wanita parubaya berjalan ke arah mereka.


"Profesor!" Camelia berucap saat wanita itu di depannya, mereka saling berpelukan. "Bagaimana kabar profesor?"


"Seperti yang kamu lihat, dan..." wanita itu menatap Aryan "Siapa pria tampan ini? Pacarmu?"


"Bu...bukan!" Camelia menjawab tapi dengan wajah merah, wanita itu menatap mereka dengan tatapan menggoda. "Sungguh bukan!"


"Saya dan dokter Camelia hanya rekan kerja!" ucap Aryan, dia menyalami wanita parubaya itu, "Tidak lebih!"


"Ah..." wanita itu mau tidak mau tertawa garing mendengar ketegasan Aryan, "Jadi anda juga dokter?"


"Ya."


"Dokter..?"


"Bedah umum!" jawabnya lagi, "Tempat ini cukup ramai."


Wanita itu menghela nafas panjang, dia melihat sekitarnya "Ya, tapi kami kekurangan tenaga medis, karena itu kami meminta bantuan dari rumah sakit yang lebih besar."


Aryan menatap sekelilingnya juga, sangat di sayangkan.


"Aku akan mengantar kalian ke tempat direktur!"


"Terima kasih, profesor." ucapnya.


"Maaf tapi saya disini hanya untuk mengantar." Aryan berkata karena merasa dia tidak ingin ikut campur urusan pekerjaan orang lain, dia langsung pamit dan mengatakan akan berkeliling.

__ADS_1


Aryan berhenti di kantin rumah sakit, dia cukup lapar meski sudah makan camilan yang dia beli di tempat Alga tadi.


"Loh, Aryan!"


__ADS_2