Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 57


__ADS_3

Ryan menatap jalan yang sangat asing untuknya, dia dan Aryan baru saja kembali dari pengadilan. Dia tidak tahu kenapa Aryan membawanya ke sini, tadi Aryan hanya menerima telfon dan mengubah arah mobilnya.


Ryan semakin takjub saat mobil mereka memasuki sebuah kawasan, rumah yang dia mereka lewati sangatlah megah megah. Karena memiliki halaman dan bangunan yang besar, jadi rumah-rumah di sana sangatlah berjarak.


"Kita akan ke mana?" Ryan bertanya karena belum tiba juga.


"Ke kediaman Ranggara, rumah utama."


Tidak lama mobil berbelok, pintu gerbang yang sangat besar langsung terbuka dengan sendirinya. Bagaimana ya Ryan menjelaskan rumah yang dia lihatnya? Ini tidak seperti rumah di mata Ryan, ini terlihat seperti istana.


Atau kah hotel? Ini terlalu mewah untuk dikatakan rumah.


Ryan terlonjak saat pintu terbuka dari luar, melihat itu Aryan terkekeh karena lucu dengan ekspresi remaja gantung itu. "Biasakan dirimu, kita akan sering ke sini."


Aryan keluar dari mobil dan menyerahkan kunci ke orang yang berdiri di samping mobil, melihat itu Ryan dengan cepat keluar juga. Ryan hanya bisa menahan nafas dan menghembuskannya berlahan, dia kaget tentu saja.


"Ayo!" Aryan menepuk pundaknya dan berjalan lebih dulu, Ryan mengikutinya dari belakang.


Tidak jauh beda dengan penampilan luarnya, bagian dalam rumah juga tidak kalah mewahnya. Ryan bahkan takut melangkah lebih jauh, dia takut mengotori lantai yang mengkilap.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Aryan saat pemuda itu menunduk hendak membuka sepatunya. "Pakai sepatumu, lantainya kotor."


Mata Ryan membulat, apanya yang kotor? Dia tampak ragu tapi, dia kembali menalikan sepatunya.


"Ada karpet." karpet di depan mereka sangat besar dan terlihat mahal, tidak mungkin dia menginjaknya.


"Tidak masalah, injak saja." ucap Aryan, tapi meski dia mengatakan demikian, wajah Ryan tetap ragu. Jadi Aryan melangkah lebih dulu, dia berdiri di sisi karpet, "semua orang menginjaknya."


Meski masih enggan, Ryan tetap mengikutinya dan berjalan ke karpet. Dia kembali menatap sekelilingnya, furniture serta tanaman di dalamnya tidak ada yang terlihat murah.


Utamanya tangga yang melingkar di hadapannya.


"Kalian sudah datang!" Alisa berseru dari ujung tangga, di tangannya ada anak bungsunya. "Langsung saja menuju ruang makan."


"sebenarnya kenapa kalian menelfon dan meminta ke sini?" rutuk Aryan.

__ADS_1


"Hari ini Ryan resmi bergabung dengan Ranggara, tentu saja kita harus mengadakan pesta sambutan." dia berjalan turun, dia memberi isyarat untuk menuruti perintahnya.


Aryan akhirnya mengerti, dia dengan cepat meraih tangan remaja itu dan menuntunnya ke arah ruang makan. Seperti sebelumnya, Ryan tetap terkejut dengan interior mewah ruang makan.


Matanya melihat meja makan panjang yang sudah penuh dengan hidangan, semuanya terlihat mewah dan mahal. Dia yakin perutnya yang biasanya makan mie instan, pasti sangat terkejut setelah makan hidangan mewah.


"Bintang utama kita sudah datang!" Alika, istri Devan yang pertama kali menyadari kedatangan mereka.


Ini pertama kali Ryan melihatnya.


"Kenapa diam di sana, ayo sini!" Ayah Alisa yang sekarang adalah kepala keluarga Ranggara melambaikan tangan ke arahnya.


Aryan mendorong pelan punggungnya untuk mendekat, anak itu tentunya sedikit ragu. Dia beberapa kali menoleh ke arah Aryan, tapi orang yang dilihatnya hanya terus memberinya isyarat untuk tetap mendekat.


Tidak lama seluruh anggota keluarga berkumpul, keluarga kecil Devan, keluarga kecil Alisa, Aryan serta pekerja di sana. Ya karena kakek dan neneknya sudah meninggal, pun orang tua Devan dan Aryan, jadinya mau tidak mau Ayah Alisa lah yang mengambil alih kepala keluarga.


Mereka makan sambil bertukar cerita, Ryan yang bahkan orang baru pun tidak luput dari pertanyaan. Aryan lah yang paling mendapat sedikit pertanyaan, siapapun akan kesal bertanya apabila diberi jawaban singkat.


"Tapi, Yan. Kapan kamu akan memperkenalkan pacarmu secara resmi?"


Aryan terburu-buru mengambil minum di depannya, matanya terangkat menatap kesal ke suami Alisa. Kenapa suami-istri ini sangat menyebalkan?


"Pacar? Kamu punya pacar Ya?" tanya pamannya, Aryan tidak bertanya.


"Apa Ayah tidak mendegar gosip heboh di rumah sakit?" dia melirik adik iparnya dengan tatapan provokasi, "Gosipnya sangat heboh akhir akhir ini."


Aryan rasanya ingin melompat dan memukuli manusia pirang di depannya, tapi dia cukup sadar tidak mampu melawan wanita di belakang pria itu. Alisa jauh lebih menyeramkan dari siapapun.


"Pasangan yang sangat serasi!" Aryan mencibir dengan sangat pelan, hingga hanya dirinya yang mampu mendengarnya.


"Aku tidak mendengar apa pun," ucap Ayah Alisa, kemudian menatap Aryan. "Tapi Yaya, kalau kamu memang punya pacar, paman juga ingin melihatnya. Apa dia gadis yang cantik sehingga kamu ingin menyembunyikannya?"


"Itu d-"


"Sebenarnya dia bukan Aunty yang buruk!" suara Aries memotong ucapan Aryan.

__ADS_1


Pria paru baya itu tersenyum, dia meletakkan garpu dan sendoknya, "Bisa beritahu kakek, seperti apa Aunty yang tidak buruk itu?"


Aries berdehem layaknya orang dewasa, dia menatap kakeknya penuh percaya diri. "Aunty itu tinggi, punya tahi lalat di sini!" Aries menunjuk di bawah tepi mata kanannya, "dia sepertinya bisa mengalahkan papa!"


Aryan bergidik mendapat tatapan serta gumaman ledekan dari saudara-saudaranya, orang yang paling kencang adalah Alisa. Ya biar bagaimana pun, diantara mereka hanya Alisa yang benar benar mengenal Miya.


"Apa kamu pernah melihatnya?" Ayah Alisa bertanya pada Ryan, tentunya remaja itu terkejut. "Calon ibumu, apa kamu pernah melihatnya?"


"Mereka sering bertemu!" Alisa yang menjawab, dia bahkan tahu bahwa mereka baru saja makan malam di malam sebelumnya. "Ayah, Ayah juga mengenalnya. Dia teman Aryan juga Dalvina."


Mata pria itu membulat, dia mengingatnya sekarang.


"Mantan pasien Ayah!" sambung Alisa.


"Ah... Gadis yang penuh semangat itu?" pria paru baya itu terkekeh, "ya sudah lama tidak melihatnya. Yaya bawa dia secepatnya untuk berkunjung."


"Itu... Mungkin dia akan terkejut," Aryan meletakkan sendok dan piringnya "Dia tidak tahu kalau paman adalah pamanku juga Ayahnya Alisa."


"kamu tidak mengakui Ayah, Lisa?" pria paru baya itu langsung menatap putri semata wayangnya, dia sama sekali tidak pernah di perkenalkan pada satu pun temannya.


"Bu-bukan begitu Ayah," Alisa melirik sepupunya tajam, tapi Aryan langsung mengalihkan pandangannya ke makanan. "Ranggara terlalu mencolok, jadi aku hanya menguranginya saja. Ya maksudku, aku hanya ingin hidup normal ya seperti itu."


Aryan mencibir, Alisa hebat sekali membuat alasan. Padahal di sekolah mereka dulu tidak ada yang memperdulikan itu, ya tepatnya mereka lebih fokus pada siapa yang punya uang jajan banyak untuk dibuat bangkrut di kantin.


"Makan ini!" Aryan meletakkan daging di piring Ryan, anak itu tampak canggung mengangkat sendoknya, Aryan mengisi beberapa jenis makanan di piringnya sambil berkata dengan sangat pelan. "Seperti yang aku katakan tadi, kamu harus membiasakan diri."


"Iya."


"Apa aku temui saja orang tuanya saja ya?" cetuk Ayah Alisa tiba-tiba, "Yaya, di mana alamat rumah orang tua pacarmu?"


Aryan menghela nafas panjang, ini yang membuatnya mengatakan apapun pada paman dan saudaranya. Mereka terlalu terburu-buru.


"Paman, beri dia waktu dulu." ucap Devan, "sebagai laki-laki Yaya harus mempersiapkan dirinya."


Aryan mengangguk setuju

__ADS_1


"Tapi sebaiknya jangan terlalu lama ya, Ya." Devan memasang senyum ke arah sepupunya itu, "anak anak kami sudah cukup besar, mereka sepertinya membutuhkan adik lagi."


__ADS_2