Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 26


__ADS_3

"Sampai kapan kamu mau di sini?" Aryan bertanya pada bocah laki laki yang membaca buku.


"Mommy kan sedang ketemu teman, jadi tentu saja sampai mommy datang." Aries berdiri dan berjalan ke arahnya, "Dan Daddy ada operasi, jadi dimana mana aku kalau bukan di tempat Papa?"


Aryan menepuk keningnya "Ikut Mommy mu lah, anakku saja ikut ke mommy mu."


"Ckckckck!" Aries menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajahnya, Aryan rasanya ingin menjitaknya "Bukan ikut, tapi terpaksa ikut. Bang Ryan tidak bisa menolak Mommy."


"Bagaimana denganmu?"


Aries tersenyum penuh bangga "Tentu saja aku bisa, memang apa yang tidak bisa kulakukan."


"Menangkap serangga!" Aryan melipat tangannya menatap si bocah yang sudah memasang wajah kesal, Aries takut serangga.


"Ini dan itu adalah hal yang berbeda,"


"Katamu bisa melakukan semua!" Aryan menyengir penuh kemenangan.


"Papa sungguh kekanakan, bagaimana bisa berdebat dengan anak kecil" dia kembali naik ke sofa "Aku mau baca buku, jangan diganggu!"


"Kamu yang mengganggu!" dia berjalan keluar dan meminta suster memanggil pasien selanjutnya yang mau konsultasi. "Akan ada pasien, kamu jangan berisik dan berulah."


"Iya, aku kan bukan anak kecil lagi."


Aryan meliriknya sedikit, kalau bukan anak kecil memang bocah itu apa? Baru akan kembali membalas ucapan ponakannya, suster sudah memberitahu kalau seseorang akan segera masuk.


Aries menurunkan buku dari depan wajahnya, menatap sang paman yang serius dengan pekerjaannya. Meski Daddynya juga seorang dokter pun kakeknya juga dokter, Aries sangat mengagumi pamannya.


Dia selalu menatap takjub pamannya, bahkan semenjak sebelum pamannya jadi dokter. Dulu dia selalu berebut perhatian dengan Lyra, dia pasti akan menangis kalau adiknya yang bermain dengan paman tanpa dirinya.


Tapi dia tidak pernah terang terangan mengatakan kalau dia mengagumi pamannya, mungkin ini sisi Aries yang mirip Daddynya.


Aryan meregangkan tubuhnya, beberapa pasien baru saja dia tangani. Dia menoleh ke arah keponakannya, bocah laki laki itu sudah tidur.


Dia berjalan mendekatinya, mengambil buku yang hampir jatuh ke lantai. Aryan tahu keponakannya ini tertarik dengan kedokteran, tapi dia terlalu kecil untuk terlalu fokus pada pelajaran saja.


"Ini emaknya pasti asikan ngegosip." dia berdecak sambil menyelimuti Aries dengan jas yang dia pakai.


Cklek


Dia mendongak menatap siapa yang masuk, Ryan masuk dengan Lyra di gendongannya yang sudah tertidur. Terburu Aryan mengambilnya, membaringkannya di samping sang Kakak.


"Alisa mana?" tanyanya pada Ryan.


"Masih di sana, cerita sama Aunty Miya."

__ADS_1


Aryan hanya bisa mendesah kesal, pantas saja. "Kamu istirahat juga saja, ck Alisa bener bener dah!" remaja itu menurut saja "Sudah makan?"


"Sudah." ucap Ryan, sebelum datang tadi Alisa memang membuatkan makan untuk mereka.


"Tolong jagain mereka, nanti kalau Alisa datang kamu juga langsung pulang." dia mengambil tanda pengenalnya "Ah, sampai rumah kamu langsung tidur.".


"Iya."


Dia yang mau membuka pintu menghentikan langkahnya, dia kembali berbalik mengambil sesuatu dari laci kantornya. Ryan mendongak menatap Aryan menyodorkan kartu padanya, Aryan memberi isyarat agar anak itu mengambilnya.


"Kamu ambil saja, ini dari Devan!" ucap Aryan.


Anak itu mau tidak mau mengambilnya, Aryan menepuk kepalanya dan berlalu. Ryan menatap kartu di depannya, dia tidak mengharapkan ini sebenarnya.


Diberi tumpangan tinggal saja, dia sudah sangat berterima kasih.


*****


Operasi kali ini berjalan cukup alot, Aryan bahakn di bantu oleh dokter bedah Dokter bedah toraks dan kardiovaskuler karena ada masalah pada jantung pasien. Mereka baru keluar setelah delapan jam di sana, ya setidaknya bukan semalaman suntuk.


Aryan berjalan sambil meregangkan lehernya yang pegal. Di tangan kanannya memegang pelapis kepala yang sudah di bukanya, sebenarnya dia ingin membuangnya tapi malah terbawa sampai sekarang.


"Baru selesai operasi!"


Aryan terlonjak kaget mendengar pertanyaan itu, dia menoleh dan mendapati Miya yang baru keluar dari ruangan adik iparnya.


"Mau beli minum," Miya menguap lebar "Air di dalam habis."


Miya menggaruk pipinya, sebenarnya dia masih lumayan mengantuk tapi karena haus dia terpaksa bangun.


"Toko di sekitar rumah sakit tidak ada yang buka jam segini." beritau Aryan, Miya membuka matanya. Dia haus sekali dan dia tidak bisa menunda minumnya, salahnya yang tidak memeriksa persediaan semalam.


"Gue Hauss..."


"Lo ikut gue."


Aryan membawa Miya ke tempat dimana para dokter dan perawat istirahat, Miya yang terkejut melihat beberapa orang di sana kaget. Otomatis dia makin merapatkan dirinya pada Aryan, karena orang orang disana melihat ke arahnya.


Tapi Miya langsung mundur saat melihat dokter yang bersama Aryan beberapa waktu yang lalu.


"Baru selesai operasi, Dok?" Patricia bertanya memecah keheningan yang dibuat Aryan.


"Ya." dia menoleh ke arah Miya yang masih diam saja, dari matanya gadis itu protes padanya.


Tapi Miya melirik orang orang disana, ini masih sangat subuh sekali dan mereka sudah berkumpul. Apa dokter dan perawat sesibuk itu? Apa mereka pernah tidur?

__ADS_1


Aryan melangkah menuju dispenser, mengambil gelas sekali pakai dan mengisinya air dia juga mengambil kopi untuk dirinya. Dia langsung menyerahkan air itu pada Miya, sedangkan dia menyesap kopinya.


"Thanks!" cicit Miya tapi masih bisa di dengar Aryan.


"Keluarga pasien ya atau perawat baru?" salah satu dokter bertanya pada Miya, dia baru pertama kali melihatnya "Kenalannya Aryan?"


"Keluarga pasien." Aryan yang menjawabnya dan Miya hanya mengangguk saja.


Merasa kurang nyaman, Miya hendak pamit lebih dulu. Dia tidak lupa mengambil air di botol, takut kehabisan sebelum matahari terbit.


"Ah, Mi!" Aryan yang teringat sesuatu menoleh ke arah Miya, dia tidak mengantar gadis itu.


"Apa?"


Aryan menghadap Miya dengan tatapan serius. "Kamar 503, itu dua ruangan dari sini."


Semua dokter dan suster yang ada di tempat itu saling berpandangan, mereka tidak mengerti dengan ucapan Aryan. Sedangkan Aryan kembali menyesap kopinya melihat wajah pias Miya, entah sudah berapa lama dia tidak melihatnya.


Miya sangat tahu maksud Aryan, dia lumayan lama tinggal di rumah sakit itu dan tentu saja dia mendengar banyak rumor. Kamar yang disebut Aryan tadi kamar yang terkenal dengan cerita horor, dan kebetulan sekali Miya tidak menyukainya.


Akh.... Bagaimana dia bisa lupa?


Dia menatap Aryan tajam, sedangkan Aryan malah makin santai "Lo kenapa baru bilang, gila!"


Aryan hanya mengedikkan bahunya, dia malah berbalik untuk membuang gelas kertas yang dia pakai.


"ARYAN GALIH!"


Pria itu mengusap telinganya, suara gadis itu lumayan keras.


"Ah, aku ingat!" seorang dokter berseru "Kamar 503 yang ada dalam sejarah rumah sakit ini."


"Sejarah? Memang ada apa?"


"Kamar 503 itu katanya pernah ditempati oleh pas-"


"Stoppp!" Miya berseru, dia tidak mau mendengarnya lagi. Dia penakut dan orang sial*an yang memberitahunya malah santai, pria itu mengangkat alisnya sebelah saat Miya melihatnya. "Lanjutkan setelah saya keluar dari sini, saya takut dengan cerita horor."


"Mau saya temani kembali?" Camelia bertanya dan menarkan diri.


"Boleh? Apa tidak menganggu?" tanya Miya dengan mata berbinar, dia seperti melihat dewi penolong.


Dokter di depannya ini sangat cantik, sepertinya baik juga. Miya tersenyum kecil, dia tidak masalah kalau Aryan menjalin hubungan khusus dengannya.


"Tidak, tidak apa apa." Miya makin berbinar, dia mengangkat jempol ke arah Aryan seolah berkata kalau pilihannya tidak salah.

__ADS_1


Aryan menghela nafas panjang, dia berjalan mendekat dan menangkap ibu jari Miya yang mengacung.


"Gue anter." bisiknya bersamaan dengan menarik Miya berlahan.


__ADS_2