Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 39


__ADS_3

Sampai di Mall Miya langsung menyeret dua pria itu ke toko baju, dia melihat satu persatu pakaian yang berwarna pink. Sebenarnya tidak sulit untuk mencarikan pakaian dua pria itu, karena apa yang mereka pakai selalu bagus.


Tapi Miya mencari yang sempurna.


Aryan dan Ryan duduk hanya bisa duduk di ruang tunggu, sementara apa Miya melalang buana dalam toko. Mengecek bahan dan kualitas pakaian, dia memang tipekal seperti itu.


"Ray, kamu coba ini dulu." panggil Miya, Aryan menyenggol lengan Ryan memberinya isyarat untuk menghampiri Miya.


Meski sedikit enggan, Ryan menuruti mereka berdua. Dia mengambil pakaian di tangan Miya, kemudian masuk ke ruang ganti baju.


Sembari menunggu Ryan, dia memilah milah gaun dengan warna senada. Kali ini dia akan full make-up tidak akan memperlihatkan kalau dia patah hati, dia pasti bisa kok pelan pelan melangkah.


Toh selama sepuluh tahun ini dia bisa tanpa Dimas, meski memang terkadang dia memang rindu. Tapi dia bukanlah perempuan yang tidak tahu dimana posisinya, tidak akan bertindak bodoh layaknya pemeran antagonis yang nekat dalam novel.


Karena dia juga perempuan, dia tidak akan menyakiti sesama perempuan hanya karena persoalan hati. Meski sulit kedepannya, tapi bukan berarti dia tidak bisa membuka hati lagi.


Benar kata orang, cinta pertama itu menyakitkan. Dia melirik Aryan yang melihat lihat majalah, mereka senasib.


Aryan ditinggal meninggal sama cinta pertamanya, sedangkan dia ditinggal nikah oleh cinta pertamanya. Takdir tuhan memang tidak ada yang tahu, meski tidak bisa bohong kalau dia hatinya masih hancur.


Aryan mengangkat kepalanya "Lo pelototin begitu, kepalaku bisa berlobang, Mi."


Miya berdecih dan membuang muka, sial, kenapa Aryan peka banget sih.


Miya kembali menoleh saat tirai ruang ganti terbuka, Ryan keluar dengan pakaian yang Miya pilihkan. Jas dan celana bahan pink sangat terlihat bagus, di tambah Miya memberikan dalaman turtle neck dan bukannya kemeja.


Dia menutup mulutnya, menarik Ryan mendekat dan mengelilinginya. "Kamu tampan sekali, Yan ini baguskan?"


Mendengar pertanyaan Miya, Aryan mengangkat kepalanya dan menatap Ryan. Aryan tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengangguk, dia tidak tahu kenapa Ryan terlihat bagus dalam balutan pakaian itu.


"Ngomong Aryan, lo kayak orang bisu." ucap Miya sedikit kesal.


Aryan menghela nafas "Iya, bagus."


Miya langsung tersenyum, menepuk pelan pakaian Ryan dan memutuskan kalau mereka akan mengambil pakaian itu.


"Kamu nyaman kan sama ukurannya? Ngak ada yang kekecilan?" Ryan menggelengkan kepalanya, satu-satunya yang mengganggunya hanya warna saja. "Bagus kalau kamu suka, sekarang lepas dulu biarkan mereka menyiapkannya dulu."


Ryan dengan cepat mengangguk, dia buru buru masuk kembali ke dalam ruang ganti. Melihat tingkah Ryan, Miya sedikit terkekeh karena merasa geli dengan Ryan.


"Yan, ini lo coba." dia mengambik suit yang memiliki warna yang sama, hanya saja dia mengambil kemeja sebagai dalaman Aryan.


Ah dasi juga.


"Buruan! Masih banyak yang harus di beli."


Aryan meninggalkan sofa dan mendekat, dalam hati dia mengumpati Dimas yang memilih warna itu. Ya sebagai pria yang pernah mendapat gelar ketua geng, harga dirinya ternodai.

__ADS_1


Dia mengambil suit dan masuk ke kamar ganti, menatap pakaian di tangannya sambil berdecak. Dia mau tidak mau memakai pakaian itu, sekarang tinggal dasi.


"Mi!" dia menongolkan kepalanya di ambang pintu, Miya menoleh "Dasinya ngak usah dipakai tidak apa kan?"


Miya bersedekap, "Pakai! Jangan kayak anak SMA yang menolak pakai dasi pas hari Senin."


Aryan kembali memasukkan kepalanya, jujur saja dia tidak pandai memakai dasi. Dulu ada Dalvina yang memaksanya pakai, dan sebelum ada Dalvina, ada Ibunya dan Alisa yang membantunya.


"Loh Yan, dasi lo mana?" tanya Miya saat Aryan keluar, pria itu menyerahkan dasi itu "Pakai kali Yan, astagfirullah!"


Tapi karena pria itu berkeras, Miya hanya mendekatkannya untuk melihat keserasiannya. Merasa kurang cocok dia mengambil warna lain, "Jangan gerak gerak bisa enggak!"


Aryan benar benar tidak bergerak sampai warna yang Miya anggap pas ketemu.


"Nah ini dia! Kamu bisa ganti baju sekarang, mbak tolong yang ini juga ya!" pintanya memberi dasi yang di tangannya pada staff.


"Lo ngak nyari baju, Mi?" Aryan bertanya begitu selesai mengganti pakaiannya, dia menyerahkan pakaiannya untuk di rapikan dan dikemas untuk di bawa pulang.


"Sudah."


"Mana?" Aryan bertanya padanya, Ryan juga ikut menoleh karena dia tidak melihat Miya mencobanya.


"tuh!" dia menunjuk paperbag yang ada di samping paperbag pakaian Ryan.


"Kok gue enggak lihat?" dia berjalan ke kasir untuk membayar, Miya berdiri dan menyerahkan paperbag ke arah Aryan. "Terima kasih." ucap Aryan saat menerima kartunya kembali.


Aryan dan Ryan saling menatap, barang barang itu mereka sudah punya. Mendengarnya saja sudah membuat mereka capek, mereka juga yakin bukan hanya tempat itu tujuan mereka.


"Enaknya ke mana dulu ya?"


"Tas!" Aryan dan Ryan berseru bersamaan, bukan bagaimana mana karena memilih sepatu itu pasti lama.


Miya tersenyum ke arah mereka, dia baru tahu kalau bapak-anak itu kompak sekali. Miya menyeret mereka ke brand H*rmes, brand mahal yang dikenal juga brand artis juga.


Mereka masuk dan langsung di sapa staff di sana, mereka langsung mencari apa yang menarik perhatian Miya.


"Mi, ini cantik!" Aryan menunjuk tas berwarna hijau botol berukuran sedang.


Entah kenapa Miya merasa kalau Aryan malah lebih bersemangat.


"Tapi lo mau bayarin ngak?" tanya Miya dengan kening diangkat sebelah.


"Boleh, tapi uang kas gue lunas kan?" tanya Aryan.


Miya berdecak "Gue bayar sendiri kalau gitu, utang lo masih harus bayar."


Ryan yang di belakang mereka sedikit mengkerut, bertanya dalam hati sebanyak apa hutang Aryan. Ryan juga tidak terlalu bodoh untuk tidak tahu kalau tempat mereka kunjungi adalah tempat mahal.

__ADS_1


Aryan mendengus dan mengalihkan perhatiannya, dia mencari cari tas untuk pria. Miya mencari tas yang senada dengan pakaian yang dia beli tadi, tapi pada akhirnya dia berfikir untuk mencari warna yang masuk ke semua warna.


"Siapa ini? Sarina?"


Miya menoleh dan mendapati Rika, perempuan itu bergelantungan di lengan pria yang dia ketahui adalah nasabahnya. Miya hanya tersenyum sedikit kemudia kembali melihat ke arah tas, dia bingung mau mengambil warna apa, putih atau navi.


"Mbak, saya mau tas itu?" Rika menunjuk tas yang dilihat Miya, "Kalau lo mau, pacar gue ngak masalah bayarin lo. Iya kan sayang?"


Miya bisa melihat pria itu yang tersenyum ke arahnya, dia bisa melihat wajah jelalatan pria itu.


Miya menyeringai "Gue tidak akan masuk ke tempat yang bukan standar gue." dia menoleh ke staff dan menanyakan jenis yang dia mau.


"Mi, ini cocok sama lo!" Aryan meletakkan sebuah tas di tangan Miya, tas berwarna putih gading yang dari tampilannya saja sudah terlihat mahal.


"Kenapa lo yang paling semangat dah, Yan!" tanya Miya dan menunduk menatap tas itu.


"Pilihannya Ray itu." ucap Aryan yang sedikit tidak suka dituding bersemangat. "Itu aja, Mi. Murah itu."


"Kepala bapak kau murah!" Miya mendengus tapi pilihan dua laki-laki itu bagus.


"Gue bisa bayarin, lo!" Rika mencetuk diantara mereka.


Aryan mendongak dan melihat siapa yang bersuara, dia mengkerutkan keningnya. Miya juga melihat Rika, dia bisa melihat wajah perempuan itu memerah melihat Aryan.


"Siapa?" Aryan bertanya dengan suara pelan, dia melihat Miya.


"Teman kantor." dia membalas "Thanks ya, Rik! Gue bisa bayar sendiri."


Aryan mendengus dia menegakkan berdirinya, dia menoleh ke Ryan yang hanya diam.


"Mi, bisa minta tolong cariin buat Ray? Kalau gue yang nyariin dia, dia kayak ngak mau."


Miya menghela nafas panjang, membalikkan badannya dan menarik tangan remaja yang tampak enggan itu.


"Dr. Ranggara!" Aryan melihat pria yang datang bersama orang Rika.


Aryan melirik Rika sekilas dengan dingin, "Saham anda baik baik saja belakangan ini?" pria itu tertegun "Bagaimana kabar anak anda? Saya dengar istri anda baru melahirkan ya?"


Rika terkejut saat tangannya yang tiba tiba dilepaskan, dia mendengus tidak senang. Aryan mendengus melihat mereka dengan tatapan sedikit jijik, dia membalik badannya.


"Mi, ini sekalian gue bayarin?"


"Enggak! Bapak gue kaya!" jawab Miya dari tempat berdiri dia mengambil tas yang menjadi pilihannya. "Mending bayar ini, tas anak lo!"


Miya mengambil tas yang Aryan pilihkan tadi, mengeluarkan kartu dari dompetnya. Sebuah kartu yang dia dapatkan dari sejak dia berumur dua puluh lima tahun, kartu hitam.


Dia melihat Rika dan menyeringai, dia seolah berkata 'Thanks tapi aku tahu di mana tempatku'

__ADS_1


__ADS_2