Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 19


__ADS_3

Mata Miya sedikit membulat kaget setelah melihat siapa yang menjadi nasabah prioritasnya, meski demikian dia tetap tersenyum profesional.


"Silahkan duduk." dia menunjuk kursi di depannya, Miya langsung membuka berkas yang baru sekali di berikan padanya. "Atas nama pak Budi Aidan Prasetya benar?"


Miya mengangkat kepalanya, pria di depannya menganggukkan kepalanya. Dia juga membaca brosur di tangannya, Miya menghela nafas.


Aneh rasanya melayani teman sendiri.


"Pekerjaan Youtuber benar?" tanya Miya yang kembali diiyakan. "Ck, setidaknya tulis pekerjaan asli kek."


"Tidak usah protes, youtuber lebih berduit ketimbang fotografer."


Miya menatap nasabahnya itu dan menghela nafas, siapa yang menyangka Budi akan menjadi youtuber. Dan untuk informasi, dia salah satu youtuber yang berpenghasilan fantastis.


Kontennya sederhana, hanya tentang perjalanannya yang kesana kemari untuk memotret. Dia juga membagi tips tips tentang fotografer, meski sesekali diselingi oleh video kesehariannya di rumah.


FYI.... Dia sudah menikah dan punya anak satu.


Meski begitu dia tidak pernah memperlihatkan anaknya dalam video, jangankan anak, istripun tidak pernah dia perlihatkan keseluruhan wajahnya. Dia hanya kadang memperlihatkan tangan sang istri, ah dan hanya suara saja.


Setelah pekerjaan selesai, Miya mempersilahkan Budi duduk di tempat menunggu.


"Jangan bilang Budi juga teman lo, Na?" tanya Andin berbisik pada Miya yang membuat kopi, bagaimana pun Budi adalah klien penting untuk mereka.


"Ya." jawab Miya sambil membawa keluar kopi yang baru jadi.


Miya meletakkan kopi di depan Budi "Lo cuman datang sendiri, Bud?"


"Begitulah karena istri juga kerja, memang mau mengajak siapa lagi?" dia menyesap kopinya "Lumayan lah kopi lo, sudah bisa nikah."


Miya hanya mencibir tapi dia tidak mengubris soal itu, "Kali aja lo bareng staff lo datang ke sini, kan biasanya youtuber begitu."


Budi mengangkat pandangannya melihat Miya, dia terkekeh sambil meletakkan kembali cangkir kopinya "Gue mau melakukan hal yang pribadi jadi datang sendiri, lagian ngapain mereka ngintilin mending mereka mengerjakan pekerjaan yang belum selesai.


"Kali aja lo kayak artis di tv itu." ucap Miya, Budi mengibaskan tangannya di depan wajahnya.


"Gue bukan artis Miya, Kevin saja yang artis tidak suka diintilin kemana-mana apalagi gue!"


Miya memikirkannya tapi tak lama dia mengangguk mengerti sekarang. "Okelah!"

__ADS_1


Tak lama Budi mendekatkan tubuhnya ke arah Miya, dia mengangkat telapak tangannya ke samping bibirnya dan mulai berbisik, "Mi, lo tau ngak anak yang dibawa Aryan kemarin?"


"Anak? Aryan?" Miya berfikir tak lama dia berseru ingat "Ryan ya kalau gue gak salah ingat, kayaknya anak yang bakal dia adop deh."


"Serius? Si Aryan?" Miya menganggukkan kepalanya "Dia ada cerita gak ke lo, kenapa?"


Miya mengedikkan bahunya, "Memang gue siapanya sampai dia harus cerita ke gue? Sudahlah, lo ngak ada niatan pulang gitu?"


Budi langsung mencibir "Baru lo karyawan yang ngusir nasabah, apalagi yang cakep kayak gue."


"Bodoh amat, gue gak peduli." Miya berdiri "Sana balik lo, gue mau lanjut kerja. Lo disini gue gak bisa fokus karena pasti mau gosip."


Budi hanya bisa tertawa, dia memang berniat untuk cepat pulang karena masih ada kerjaan juga.


Plakkk!


Miya langsung meringis saat lengannya di pukul, Budi baru saja meninggalkan kantor mereka. Dia menatap Miya dengan gemas, dia benar benar tidak mengenal temannya itu.


"Sebelumnya Dokter ganteng, terus Kevin syok gue belum kelar soal lo temenan sama penyanyi muda kenamaan Fadly, sekarang Budi?" Andin menatap tidak percaya pada temannya "Masukin gue ke circle lo juga dong!".


"Apasih!" Miya berdiri dan berjalan ke mejanya.


"Sebaiknya jangan, lo bisa ikut gila."


"Ha?"


Miya mengibaskan tangannya "Don't mind"


Dia sebenarnya serius mengatakannya, karena apa yang terlihat jelas berbeda dengan kenyataanya. Mungkin saat dilihat satu persatu memang normal, tapi saat mereka disatukan disitulah kegilaan yang sebenarnya.


Well.... Orang normal tidak bisa dimasukkan ke dalam pertemanan mereka, karena akan berakibat fatal dengan sifat mereka. Bisa jadi ikutan gila.


Sama halnya dengan dirinya, dia dulunya hanya anak biasa saja pun dengan yang lainnya. Tapi entah sejak kapan dan dimulainya kegilaan mereka, Miya juga tidak mengingatnya dengan sangat pasti.


Yang dia tahu, mereka hanya sekumpulan remaja dengan problematika masing masing yang dikumpulkan dalam satu kelas. Menghibur satu sama lain tanpa bertanya ataupun mencampuri urusan masing masing, mereka benar benar hanya bersenang senang bersama.


Ya mungkin karena itu.


"Kamu tadi diminta pak Griffin mengerjakan data nasabah yang kemarin bermasalah?" tanya Miya, Andin menepuk keningnya.

__ADS_1


"Bahaya nih, bisa diceramahi berjam jam sama pak Griffin ini. Kenapa pakai lupa sih?" Andin dengan cepat kembali ke meja kerjanya "Roman romannya gue bisa lembur lagi ini."


Miya menggelengkan kepalanya melihat Andin yang terus menggerutu. DIa juga kembali ke posisinya, mengerjakan pekerjaannya yang masih ada.


"Na!"


"Hm?"


"Lo mau ngak main truth or truth sama gue nanti?," tanya Andin tapi matanya fokus pada layar komputer.


Miya melihat ke arahnya sebentar kemudian kembali lagi ke ketikannya, "Tidak, lo pasti mau ngulik masa lalu gue kan?"


Andin pun tertawa karena tujuannya dapat di tebak.


"Lo masih tinggal di tempat Nana?"


"Sampai dia lahiran gue masih tinggal di sana."


"Gue padahal mau numpang nginep tempat lo!" Andin menopang dagunya "Mumet gue di kosan karena ada bude."


Miya meliriknya karena mengerti permasalahannya, "Lo bisa nginep di kosan gue kalau mau, sekalian ada yang bersihin."


"Ngak deh, gue ngak bisa kalau lo ngak ada." dia menghela nafas panjang. "Na, kalau nanti lo cari suami, cari yang bener bener bisa hidup bareng. Jadi Janda itu ngak enak, serba salah."


"Hm."


"Gue serius, Na." Andin melihatnya "Lo ngak kerja salah, kerja salah, ngak keluar rumah salah, lambat pulang malah dikatain kerja ngak bener. Ujung ujungnya ungkit si Mantan, ujungnya nyalahin gue yang ngak becus."


Miya sekarang bisa menebak, sepertinya Andin lagi lagi mendapat cemoohan dari bibinya karena statusnya. Pemikiran dangkal yang menyakitkan hati, orang yang harusnya menjadi suporter malah terus menyalahkan.


Alasannya pasti selalu, 'Ini demi kebaikan kamu!'. Menyebalkan!


"Pak!" Miya kaget mendengar seruan Andin, dia menoleh ke arah depan. "Bapak mau ke mana? Ikut kenapa sih Pak?"


Griffin yang berpakaian lengkap menoleh ke arahnya, "Bukan urusan kamu."


Miya memukul lengan Andin yang cikikkan saat Griffin berlalu, Andin memang suka menggoda atasan mereka sampai kesal. Ya mungkin untuk penghiburan dirinya.


"Ngak ada takutnya lo sama beliau!"

__ADS_1


Andin terkekeh "Suruh siapa hobinya marah marah mulu."


__ADS_2