Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 44


__ADS_3

Miya dan Aryan kembali ke ballroom, Miya sama sekali tidak melihat ke Aryan karena takut. Miya begitu mematikan sambungan telfon dari Manaf, dia langsung melarikan diri.


"Dari mana aja lo berdua?" Hanin bertanya menatap mereka tajam "Pergi berdua anak ditinggal sendirian."


Aryan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia kembali duduk ke kursinya. Miya melakukan hal yang sama, dia hanya duduk diam.


"Mi, gue ngak tau kalau lo buka jasa mijat!" Zain menyeringai tapi langsung mendapat tampol dari Ciara "Kenapa sih Cel? Suka banget pake kekerasan! Gue laporin kakek Seto baru tau rasa lo!"


"lo udah ketuaan!" cibir Ciara ke arahnya, dia menyeringai.


"Cium juga nih!" kesal Zain.


"Dokter Ar!"


Mereka semua menoleh, Aryan langsung berdiri karena yang memanggilnya adalah dokter senior. Wajar sih kalau di tempat itu banyak dokter, soalnya Dimas dan saudara-saudaranya juga dokter.


"Malam dok!" Aryan dan beberapa dokter saling bersalaman.


"Ku pikir tadi aku salah lihat, memang benar dokter ternyata."


Dokter dokter di sana memang berfikir kalau mereka salah lihat, pasalnya tingkah mereka sangat berbeda. Tidak pernah mereka melihat Aryan berkata dan bertingkah konyol saat di rumah sakit, tapi yang mereka lihat tadi kebalikannya.


Setelah berbicara sebentar, para dokter itu langsung pamit pergi. Aryan juga tidak terlalu banyak bicara, dia hanya menjawab ya, tidak mengangguk dan merespon singkat sebagai tanggapan.


"Aryan kita sekarang sudah besar," ledek Ciara, "Udah bisa jawab tanpa melantur panjang kali lebar."


"Memangnya dia itu elu? Ngak besar besar!"


Bukh! sekali lagi Zain mendapat pukulan maut dari Ciara, entah kenapa laki laki itu tidak kapok kapok juga.


Miya menunduk saat ada pesan masuk di ponselnya, pesan dari Manaf. Adiknya itu memberi tahu kalau dia menunggu di kosannya, Miya hamya membaca dan tidak berniat membalas pesannya.


Satu jam kemudian, tamu mulai berkurang. Jadi mereka memutuskan untuk pulang juga, Miya menarik pelan ujung pakaian Aryan karena dia memakai kacamata hitam.


"Ya Allah, Miya Sarina... apa salahnya tuh kacamata dibuka dulu!" Hanin mulai mengomel "lo kayak orang buta yang jalan harus dituntun!"


"Tau nih!" protes Aryan tapi tidak berniat menepis tangan Miya, kasihan juga karena perempuan itu memakai heels dan bisa saja jatuh kalau dia tepis.


Miya kembali menegakkan jalannya saat sudah naik ke pelaminan, mereka akan berfoto dan memberi selamat kepada mempelai. Karena merasa sudah baik baik saja, dia melepas kacamatanya untuk berfoto.


"Akhirnya balik waras kan lo!" ucap Aryan yang memang berjalan di depannya, Miya hanya bisa mendengus.


"Loh Miya!" ibu dari Dimas berseru kaget "Ya ampun kamu tidak datang sayang, kenapa tidak menghampiri tante tadi."

__ADS_1


Miya memeluk wanita itu "Maaf Tante, tadi keasyikan ngobrol!" dia menyengir.


"Kamu ke sini bareng siapa?"


Miya melirik ke sampingnya, wanita itu membulatkan matanya haru melihat Aryan "Maaf tante tidak ngenalin kamu, nak!" dia juga memeluk Aryan kemudian memegang tangan Miya, "Kenapa kalian tidak pernah datang main lagi disini? Tante sampai sampai susah mengenal kalian sangking lamanya."


Miya dan Aryan sekali lagi saling menatap, mereka berdua kemudian beralasan kalau mereka tidak ada waktu dan mengatakan kalau Dimas juga tidak ada disana. Wanita parubaya itu terlihat tersenyum, melihat dua teman kecil putra bungsunya membuatnya teringat masa lalu.


"Tapi..." dia melihat Aryan dan Miya bergantian "apa kalian pacaran?"


"eh?"


Mereka berdua saling memandang sebentar kemudian tersenyum, Aryan menepuk kepala Miya.


"Cocok ngak tante?" Aryan bertanya dengan gaya tengilnya tentunya mendapat sikutan dari Miya, wanita itu tertawa pelan.


"Tante menunggu undangan kalian." ucapnya dan Miya hanya bisa tertawa canggung.


Yang makin menjengkelkan adalah suara batuk di belakang, tidak usah tanya siapa pelakunya yang tentu saja Baim dan Zain. Saat Miya melotot ke arah mereka, mereka langsung memalingkan wajah ke tempat lain.


Mamanya Dimas tertawa merasa lucu, "Tapi kalian sudah makan kan?"


"Sudah kok tante, kami bersiap pulang."


Aryan yang menjawabnya "Tentu."


Mereka saling berpelukan, Miya yang sedih kembali memasang wajah cerianya. Memang sejak dulu Mamanya Dimas selalu baik kepada mereka, hal yang membuat miya iri kepada temannya itu.


Sampai di depan Dimas, Miya tersenyum dan mengucapkan selamat. Dia mengulurkan tangannya ke Agatha, wanita itu lumayan terkejut.


"Selamat ya," ucap Miya, Agatha hanya bisa mengucapkan terima kasih "Kami tunggu kabar baik lainnya."


Agatha hanya tersenyum, memang kabar baik apalagi yang akan mereka berikan.


"Melihat kalian bertiga membuatku mengingat masa lalu," mereka menoleh dan mendapati Maya naik ke pelaminan bersama remaja yang mereka duga adalah anaknya. "Sayangnya Dalvina tidak ada."


Mereka hanya bisa tersenyum, tapi spontan mata Miya dan Dimas melirik ke arah Aryan. Pria itu tampak biasa saja, karena dia memang tidak kaget lagi kalau nama itu disebutkan.


Setelah menyelesaikan ucapan selamatnya, serta berbincang sebentar dengan orang yang mereka kenal, mereka pun pamit pulang. Ryan yang dari tadi hanya mengekor, langsung tepar saat masuk di mobil.


"Kamu baik baik saja?" Miya menoleh ke arah anak itu, dia merasa sedikit lucu dengan penampilan kusut Ryan "Mau beli minum di depan? Atau mau cari makan lagi? Kamu tidak banyak makan tadi."


Ryan menggelengkan kepalanya, yang paling dia butuhkan sekarang adalah pulang dan tidur.

__ADS_1


Aryan mematikan mesin mobilnya saat sampai di depan kosan Miya, tapi orang yang dia antar malah tertidur. Dia hendak membangunkannya tapi kasihan, tapi dia harus.


Dia menoleh ke belakang pergerakan, Ryan sepertinya terbangun.


"Tidur lagi, kita belum sampai di rumah."


Ryan mengedip-kedipkan matanya, menyusuri daerah sekita dan benar saja belum tiba di rumah. Dia membuka jasnya dan menaruhnya di samping, dia kembali tertidur.


Melihat Ryan yang kembali pulas, membuat Aryan berfikir untuk menyimpan bantal di mobilnya.


"Sudah sampai?" Aryan menoleh dan mendapati Miya mengucek matanya.


"Hn."


Miya mengambil tas dan jaket yang memang dia bawa, membuka pintu dalam keadaan mengantuk parah. Aryan keluar dari mobilnya, dia sedikit takut melihat Miya yang jalan sempoyongan seperti orang mabuk.


"Mi, lo kayak orang yang pulang dugem!" ledek Aryan, Miya mendelik ke arahnya.


"Cot!"


Mereka berdua kaget saat pintu kosan Miya tiba tiba di buka dari dalam, Miya yang setengah mengantuk langsung sadar. DI ambang pintu Manaf berdiri, dia melihat mereka berdua bergantian.


"kalian dari clubing?" tanyanya to the point.


Aryan mengangkat sebelah alisnya, dia tidak akan ke clubing dengan pakaian formal begini. Manaf menatapnya dan beralih ke Miya.


"lo gila ya?" Miya mendengus ke arah adiknya itu, "Menyingkir dari pintu, gue ngantuk!"


"Mami nyuruh gue jemput lo!" Miya yang hendak mendorong Manaf menghentikan niatnya. "Dia mau lo balik ke rumah utama, kalau tidak semua fasilitas lo dia cabut."


Miya diam sejenak, dia tahu akhir dari perkara ini "Cabut saja," dia mengeluarkan kartu hitam dan kunci mobil dari tasnya "Sekalian kembaliin ke papi, kalau dia mau kosan ini juga, suruh sabar sampai gue ngumpulin semua barang gue."


"Mi, bukan gini nyelesein masalah!" Manaf menahan kakaknya tapi Miya itu keras kepala, "Mami cuman mau kamu kembali ke rumah utama."


"Enggak!" dia menatap adiknya tajam "Dia cuman mau gue balik dan nikah! Gue enggak mau dinikahin sama siapapun itu pilihan Mami."


Aryan menghela nafas panjang, dia melangkah mendekati dua kakak adik itu dan mendorongnya masuk ke dalam terlebih dahulu.


"selesaikan urusan kalian di sini, tidak baik bertengkar di luar." dia menoleh ke arah Miya "Mi, gue balik dulu."


Miya menahannya, menggelengkan kepalanya tidak mengizinkan Aryan. Pria itu menarik pelan tangan Miya, menatap gadis itu serius.


"Ray harus sekolah besok," dia melihat Manaf "Gue bakal ketemu orang tua lo secepatnya."

__ADS_1


__ADS_2