
Camelia masuk di ruangan di mana para suster sering berkumpul, sebagai seorang dokter dia memang dekat dengan para Suster. Entah kenapa dia memang merasa nyaman disana, para suster pun tidak merasa terganggu dengan kehadirannya.
"Baru selesai dari ruang operasi ya, dok?" kepala suster meletakkan kopi di hadapan Camelia.
"Ya, kali ini butuh waktu lima jam. Lebih cepat dari biasanya." Camelia berterima kasih sebelum menyesap kopi yang diberikan padanya. "Suster Patriacia kenapa?"
"Biarkan saja dok, dia sudah seperti itu sejak tadi." jawab salah satu suster "Bengong terus!"
"Dia tadi jadi pendamping Dokter Ar, pulang pulang malah melamun seperti itu." Kepala suster berbisik ke Camelia.
Camelia tertawa kecil mendengarnya, tapi tak lama dia mengkerutkan keningnya "Tapi ini bukan pertama kali dia mendampingi Dokter Ar kan? Biasanya dia biasa saja."
"Itu karena beliau selalu memasang wajah dingin." Ucap Patricia tiba tiba yang membuat mereka terkejut. Dia memajukan badannya ke arah teman temannya dengan tangan sebagai tumpuan. "Tapi tadi Dokter Ar tersenyum, manis banget."
"Sumpah lo?" tanya mereka, Patricia menganggukkan kepalanya
"Sumpah deh," Patricia mengangkat dua jarinya.
"Dokter Aryan memang sering tersenyum sama pasien, kok!" ucap Camelia, dia beberapa kali melihat kondisi pasien bersama.
Patricia menggelengkan kepalanya, "Ini beda Dok, yang biasanya dokter Aryan hanya senyum profesional karena pekerjaan, tapi tadi dia senyum lebar itupun dengan penjenguk bukan keluarga pasien."
"Ngak usah bercanda dah lo, Dokter Aryan itu kulkas 32 pintu, mencair dikit kalau bareng dokter Ken."
Patricia kembali duduk "Gue gak bercanda, kalau bisa tadi di foto, gue fotoin." dia menyesap minumnya kemudian melirik Dokter Camelia "Kayaknya mereka kenalan deh, cewek tadi cuma manggil Yan Yan gitu."
"CEWEK!" pekik mereka kaget, Patricia menganggukkan kepalanya "Ngak usah ngawur, kita paling tahu kalau dokter Aryan tuh paling dingin sama cewek." ucap salah satu suster disana.
"Cewek itu tingginya seleher Dokter Ar?" tanya Camelia membuat para suster melihatnya
Patricia mengkerutkan kening berfikir "Kayaknya deh, soalnya cewek itu tinggi."
"Putih rambut panjang dan ada tahi lalat di bawah ekor mata kanannya?".
"Eh? Dokter kenal?" tanya Patricia, Camelia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku pernah lihat sekali," dia menggengam tanganya di bawah meja, masih sambil tersenyum "Kalau yang itu, dokter Aryan memang kelihatannya kenal."
"Kalau mau tau, kenapa tidak tanya Dokter Lily? Dokter Lily kan kenalan lama Dokter Aryan." timpal salah satu suster, dia berdiri "Eh baru di omongin, DOKTER LILY!!" panggilnya.
Lily yang mendengar namanya langsung menoleh, dia melihat suster melambai memanggilnya. Dia dengan cepat berjalan ke arah mereka, menanyakan ada apa.
"Dokter sudah kenal lama dengan Dokter Aryan kan?" tanya salah satu suster, Lily melihat mereka satu persatu kemudian mengangguk.
"Beliau senior saya di SMA."
"Dok, apa Dokter Aryan dulu pas SMA pacaran?" Patricia bertanya to the point, Lily kaget tapi hanya senyum saja. "Bagaimana pacar Dokter Ar? Cantik? Atau mbak mbak yang ada tahi lalat di bawah matanya itu?"
Lily mengkerutkan keningnya, "Itu urusan pribadi beliau, tidak pantas saya untuk membicarakannya." Lily melihat jam di tangannya "Saya duluan ya, saya mau jemput anak dulu."
Mereka semua menatap punggung Lily yang berlalu, percuma mereka memanggil tapi tidak ada informasi sama sekali. Mereka seharusnya sudah kapok bertanya pada Lily, karena sebenarnya ini bukan kali pertamanya.
"Mentang mentang dekat dengan dokter Ar, dokter Lily jadi sok banget kalau di tanyain."
"he em, padahal kalau tidak satu sekolah mana mau dokter Ar ngelirik."
"APA!!!" mereka menatap tajam Patricia.
Patricia mengedikkan bahunya, "Kalian hanya tidak mengenal dokter Lily, beliau itu berpendirian teguh. Dia menghargai privasi orang lain, sebenarnya ini salah kita yang bertanya pada orang yang tidak suka bergosip."
"Kok lo jadi ngebelain sih?"
Patricia melirik mereka kesal "Memang kenapa? Dokter Lily baik, tidak tepat kita membicarakan hal buruk tentangnya hanya karena masalah sepeleh."
Camelia mengangguk setuju dengan Patricia, dia juga beberapa kali berbincang dengan Lily dan memang sebaik itu. Camelia juga sadar kalau Lily bukanlah orang yang suka terlibat dengan orang lain, jadi mereka hanya membahas pekerjaan mereka.
*****
Pada akhirnya Aryan tetap pulang malam, dia tiba tiba ada operasi yang tidak memakan waktu singkat. Bukan hanya dia saja, tapi beberapa rekannya juga sama dengannya.
Dia masuk ke dalam rumah dalam keadaan lelah, dia menatap sekitar rumah yang masih lumayan berantakan karena mainan anak anak. Dia hanya bisa menghela nafas dan menggesernya dengan kaki saat ada yang menghalangi jalannya, dia malas memungutnya lagi.
__ADS_1
Rumah sudah gelap, ya siapa yang mau terjaga di larut malam begini. Dan lagi kedua sepupunya pasti sudah pulang, Alice punya suami yang harus dia urus sedangkan Devan tidak mungkin meninggalkan istrinya sendirian di rumah.
Sesampainya di kamar dia hanya melempar jaketnya asal kemudian langsung naik ke kasur, dia harus tidur karena ada jadwal pagi ini. Tapi Aryan tetaplah Aryan, dia tidak bisa tidur kalau sudah larut malam karena sudah melewati jam tidur malamnya.
Padahal kalau tidur tepat waktu, dia bisa bangun siang.
Dia dengan cepat bangun, mengganti pakaiannya dan berjalan ke arah ruang kerjanya. Dari pada hanya berbaring tidak jelas, lebih baik dia membuat laporan medis pasien.
Dia duduk di depan meja kerjanya, tangannya dengan terampil menyalakan komputer miliknya. Tatapannya tertuju pada wallpaper komputer, tidak ada yang berubah sejak dia masih sekolah dulu.
Gambar dirinya dengan mantan pacarnya.
"Sudah waktunya kali ya diganti?" gumam Aryan sambil membuka file foto.
Matanya menatap foto foto itu satu persatu, tapi kebanyakan foto gadis itu, "Sial*n!"
Dia dengan cepat keluar dan memilih melakukan pekerjaannya, dan sekali lagi membiarkan walpapernya tanpa menggantinya. Sambil bertopang dagu dia kembali membaca laporannya, ya dengan begitu dia bisa mengalihkan perhatiannya.
Begitulah Aryan sebenarnya, meski saat pacaran dia tidak akan menunjukkan keromantisannya di depan orang lain, tapi lain cerita saat hanya berdua dengan pasangannya. Ya meski ini hanya berlaku saat dia masih SMA, karena saat di bangku perkuliahan dia memilih fokus pada pendidikannya.
Dan saat itu dia baru putus dengan kekasihnya, terlebih dia cowok yang tidak gampang membuka perasaannya. Saat gadis gadis yang memintanya pacaran dia hanya mengiyakan asal, bajing*an memang tapi itu yang terjadi.
Dia benar benar hanya fokus pada kuliahnya, berharap cepat lulus dan bekerja.
Meski Alisa sudah mencak mencak memintanya serius memikirkan pasangan, tapi Aryan hanya menganggapnya angin lalu. Dia menikmati pekerjaannya di rumah sakit, dia bahkan tidak terbesit menikah
Kecuali....
Aryan menggelengkan kepalanya "Kerja Ya!" tegurnya pada dirinya sendiri.
Dia tidak boleh memikirkannya, terlebih....
Plak!
"Fokus!" dia menampar dirinya sendiri saat beberapa bayangan melintas di kepalanya, apapun situasinya dia tidak bisa melakukan apa yang terbesit cantik di kepalanya.
__ADS_1