Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 11


__ADS_3

Miya masuk ke dalam rumah, berencana untuk langsung tidur. Tapi sepertinya itu akan tertunda dulu, dia melihat Rayna duduk manis di sofa ruang tamu bersama mertua tersayang.


Mereka pasti menunggunya.


"Bagaimana?" belum juga dia merapatkan pantatnya di sofa, Maminya sudah bertanya.


"Apa?" Miya bertanya seolah olah tidak mengerti, dia meletakkan tas di sampingnya


"Partner kencan mu? Apa kamu tertarik?"


Miya menatap Maminya, tak lama dia menggelengkan kepalanya. "Tidak!"


"Tidak? Padahal dia tampan," dia melihat Miya serius "Katakan seperti apa tipemu? Mami akan mencar-"


"Mi, stop it please! Aku tidak senang dengan kencan kencan seperti ini." Miya menatap mereka memelas "Aku belum mau nikah."


"Lalu kapan kamu mau nikah? Miya umur kamu tidak mudah lagi."


"Aku masih dua delapan Mi, belum lima puluh tahun." kata Miya, dia benar benar tidak suka di paksa.


"Masih katamu?" Maminya berdiri "Miya, lihat sekelilingmu! Apa masih ada gadis seusia kamu yang melajang? Tidak ada! Miya mami tidak mau kamu dijulukin perawan tua!"


Miya diam, karena saat mengeluarkan kata lagi pasti hanya akan menimbulkan perdebatan.


"Pokoknya kamu harus menikah secepatnya, sebelum mami mati." Miya menghela nafas panjang, kenapa selalu Mati yang selalu jadi ancaman orang tua sih?


"Miya tidak mau kencan buta, Mi!"


"Kalau begitu bawa pacarmu ke sini! Lamar kamu." wanita paru baya itu kembali duduk, "Nak ini demi kebaikan kamu, setidaknya kalau kamu nikah Mami akan sedikit tenang."


"Terserah Mami lah," Miya mengambil tasnya dan berjalan naik ke kamarnya, "Tapi jangan berharap gue bakal nerima salah satu dari mereka," gumamnya yang tentunya tidak di dengar oleh Ibu dan adik iparnya itu.


"Anak itu," maminya mendesah begitu Miya menghilang dari pandangan.


"Kenapa Mami ngotot sekali nyuruh Miya nikah?" suara Manaf langsung terdengar membuat kedua wanita itu kaget, sebenarnya dia sudah berdiri di sana tanpa disadari siapapun.


Dia berjalan mendekat, menyalami Maminya kemudian duduk di samping istrinya. Dia menatap ke atas tangga di mana tadi kakaknya menghilang, dia melihat Maminya.


"Jangan terlalu memaksa Miya," ucap Manaf.


"Kamu ini sama saja dengan Papi kamu, makanya kakak kamu tidak berusaha mau nyari pasangan." dumel Maminya.


"Miya nya yang gak mau, masa mau dipaksa."


"Bukan begitu sayang," Rayna mengelus lengan suaminya "Tapi Sarina sudah cukup berumur untuk menikah, Mami khawatir dia ngak nikah nikah. Mami juga mau lihat dia bahagia."

__ADS_1


"Apa kalian bisa memastikan dengan menikah dia akan bahagia?" kedua wanita itu diam, "Menimbulkan perasaan ke orang lain itu tidak mudah, kencan buta sama sekali tidak membantu."


"Sudahlah, kamu sama sekali tidak mengerti," wanita itu hendak ingin beranjak, Manaf menahannya "Sudah lepaskan Mami."


"Bukan begitu Mi, maksudnya aku itu biarin Miya ketemu pasangannya secara alami. Ngak usah make kencan buta atau jodoh-jodohan gitu."


"Kalau sikapnya seperti itu, sampai tua dia tidak akan menikah menikah! Mami mau tidur, lepasin Mami."


Manaf menghela nafas panjang, dia menatap punggung Maminya yang beranjak dengan kesal. Sebenarnya dia tidak keberatan Miya tidak menikah, gadis itu memiliki banyak properti selain itu dia sanggup kok menjamin Kakaknya.


"Kamu sih!" tegur Rayna kesal karena suaminya membuat sang mertua beranjak kesal.


"Perempuan benar benar rumit," Manaf berucap kemudian menunduk mencium perut istrinya dan kemudian bicara pada bayinya. "Sayang, nanti kamu kalau gede ngak apa apa kok ngak nik-akkhh.."


Rayna baru saja memukul punggungnya


"Sembarangan banget sih ngomongnya," dia mengusap perutnya "Jangan dengarkan Papamu yang otaknya dangkal."


Manaf terkekeh kemudian menegakkan duduknya, dia menarik istrinya untuk dia cium. "Kamu disini dulu, aku mau bersih bersih badan."


Rayna melihat punggung suaminya yang naik ke lantai dua, dia tahu kalau Manaf tidak akan langsung mandi tapi akan menemui kakaknya dulu. Jujur Rayna sedikit iri dengan hubungan persaudaraan mereka, meski sering bertengkar tapi mereka salinh menyayangi.


Berbeda dengan dirinya dan suadara saudaranya.


Manaf mengetuk pintu sebelum membukanya, dia mendapati Miya yang tepar di atas kasurnya.


"Berisik!"


Manaf berjalan masuk dan duduk di tepi kasur sang kakak, Miya mendorong dengan kaki tapi Manaf tidak beranjak. Manaf memukul kaki kakaknya membuat Miya melemparnya dengan bantal, Manaf menangkapnya.


"Mi!"


"Hm?"


"Lo belum bisa lupain dia ya?" tanya Manaf tiba-tiba, Miya tidak menjawab dia mengalihkan wajahnya ke arah lain. "Kenapa? Dia yang minta putus kan?"


"Berisik Naf, keluar sana."


"Mami khawatir sama lo tau, makanya dia maksa lo buat segera punya pasangan." Manaf menatap kakaknya yang sudah tidak melihatnya "Pikirin baik baik lagi, toh kalian sudah putus lama juga."


"Gue sudah lupa kok," lirih Miya.


Manaf mendesah, dia tau kalau Miya berbohong. Gadis itu tidak akan seperti ini kalau sudah lupa, dia pasti akan membuka hatinya untuk orang lain.


"Pikirin lagi deh, Mi! Gue gak bakal maksa lo buat buru buru, tapi jangan lama lama kasihan Mami."

__ADS_1


Manaf segera beranjak dari duduknya, Miya sendiri masih di posisi yang sama.


"Tutup pintunya."


"Gue tau! Berisik banget lo!"


Miya langsung melihat ke arah pintu yang masih terbuka tapi Manaf sudah menghilang.


"MANAFFFFF.... ANJ*RR LO!"


******


"Lo mau angkat anak itu jadi keluarga?" Alisa menatap sepupunya serius setelah mendengar ucapan Aryan.


"Hm."


"Yaya lo gila ya?" Aryan menatap sepupunya tidak senang, tapi Alisa tidak pernah takut dengannya. "Ya, ngurus anak itu susah Ya, lo malah mau langsung ngurus remaja yang mungkin karakternya sudah terbentuk. Lo gila!"


"Memang!"


Alisa memegang keningnya pusing, terkadang dia tidak bisa menebak jalan pikiran Aryan. Tiba tiba ini tiba tiba itu, Alisa selalu syok dibuatnya.


"Bagaimana dengan latar belakangnya? Orang tuanya? Kerabatnya?" Aryan mengedikkan bahu "Astgafirullah ARYAN GALIH!"


Aryan berdecak dan segera berdiri, Alisa menahannya "Mau ke mana? Kita belum selesai bicara."


"Mandi!" Alisa memicingkan matanya "Badan gue bau darah!"


Alisa menunduk dan melihat jas kesayangan Aryan sudah banyak noda merah, tidak heran untuk dokter bedah umum.


"Nanti ke sini lagi!" ucap Alisa, Aryan hany bergumam sebagai balasan. "Hem ham ham hem, gue geplak juga kepala lo, Ya!" kesal Alisa yang merasa Aryan mulai menyebalkan.


Aryan masuk ke kamarnya, melempar jasnya ke keranjang pakaian kotor di dalam kamar mandi. Dia dengan cepat masuk ke bawah shower, dia tidak betah dengan bau darah lama lama.


Sore tadi disaat seharusnya dia pulang, tiba tiba seorang pasien datang dengan luka di perutnya. Dari kabar yang dia dengar, dia korban bacok di jalan.


Dia meraih sampo "Ada ada saja manusia jaman sekarang!"


Selesai mandi dia kembali berpakaian, saat turun untuk mencari makanan Alisa masih di sana. Oke, dia tidak bisa menghindar terus.


Padahal dia sudah menjelaskan tadinya.


"Besok Devan akan kemari," beritau Alisa saat Aryan duduk, Devan adalah sepupunya yang lain.


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Jalan jalan, Dea katanya mau ketemu lo!" Aryan mengguk, Dea adalah anak Devan yang seumuran anak pertama Alisa, Lyra.


__ADS_2