
Sambil memainkan kunci mobilnya, Aryan berjalan keluar gedung rumah sakit. Jam kerjanya sudah habis hari ini, jadi dia berencana mau keluar makan malam dengan Ryan.
Dia sudah memberitahunya tadi.
Sampai di dalam mobil, dia mengeluarkan hpnya dan menelfon Miya, dia juga akan mengajaknya kalau perempuan itu tidak sibuk. Dalam deringan ketiga, baru lah telfonnya di jawab.
"Ya?" suara Miya terdengar sangat lemas.
"Lo di mana?" Aryan memperbaiki posisi cermin di atas kepalanya, agar lebih mudah melihat kendaraan di belakangnya nanti.
"Masih di kantor."
"Kantor? Kapan pulang?"
"Ini baru mau pulang."
"Bareng siapa?"
"Taksi." tadi pagi Miya hanya nebeng Papinya soalnya.
Aryan melihat jam di pergelangan tangannya, sudah jam tujuh malam. "Jangan ke mana-mana, biar gue jemput."
"Thanks!"
Aryan mematikan sambungan telfonnya, dengan tidak terburu-buru dia menjalankan mobilnya keluar dari area Rumah Sakit. Beruntungnya jarak rumah sakit dan tempat Miya kerja itu dekat, jadi dia akan menjemput Miya kemudian Ryan yang ada di rumahnya.
Begitu sampai di ttempat Miya, Aryan langsung turun dari mobilnya. Dia berjalan memasuki koridor, sedikit terkejut karena bertemu dengan Ruslan.
"Om!" dia langsung menyalaminya dengan salim.
"Jemput Miya?" Ruslan bertanya, Aryan menganggukkan kepalanya.
"Iya Om, soalnya tidak biasanya pulang jam segini." Dia melihat ke sesekeliling masih banyak pegawai berkeliaran, apa karena ada boss jadi mereka tidak berani pulang lebih dulu.
Ruslan memperhatikan pakaian Aryan, dia bisa menebak kalau pria itu baru saja dari rumah sakit. Bukan hanya karena dia tidak terlalu rapi, tapi bau disinfektan khas rumah sakit menempel padanya.
"Langsung pulang?" tanya Ruslan.
"Kalau Miya mau, kami akan makan malam dulu, Om." dia memang belum bertanya pada Miya. "Om mau sekalian?"
Ruslan mengibaskan tangannya, "Tidak, Maminya Miya bisa mengomel kalau om makan di luar." dia menepuk bahu Aryan sambil lalu, "Hati-hati dan jangan terlalu melarut."
"Iya, Om."
Aryan mengaruk pelan kepalanya, mendengar ucapan Papinya Miya membuatnya merasa dia seperti remaja yang baru tumbuh. Tapi tidak ada yang salah dengan itu, biar bagaimana pun Miya juga masih perempuan.
"Yan!"
Aryan melihat ke arah Miya yang berjalan ke arahnya, dia bisa melihat banyak berkas di tangannya. Aryan melangkah mendekatinya, mengambil berkas yang terlihat berat itu.
__ADS_1
"Lo sudah makan belum?" tanya Aryan yang berjalan berdampingan, Miya menggeleng lemas "Mau makan bareng?"
"Oke!"
"Tapi jemput Ryan dulu di rumah, gue sudah janji sama dia."
"Okelah."
Saat masuk ke mobil, Aryan meletakkan tas berkas Miya di belakang. Dia juga melirik perempuan itu, Miya langsung menyandarkan tubuhnya di jok dengan nyaman.
"Heh, Toa! Jangan tidur lo." Aryan menepuk pelan pipi yang memejamkan matanya, Miya langsung menepisnya.
"Gue capek banget, Yan. Jangan ganggu gue dulu." dia langsung berbalik memunggungi Aryan, "sampai di rumah lo, baru lo bangunin!"
Aryan tidak memprotes lagi, dia membiarkan Miya tidur. Dia bisa melihat betapa lelahnya Miya, dia juga melihat bawah matanya hitam karena begadang.
Kemarin malam dia meminta Miya menemaninya mengerjakan tugas Ryan, meski mengomel-ngomel dia tetap menurutinya, alhasil dia tertidur setelah duat jam setengah meladeni video call Aryan.
Miya terbangun saat mobil berhenti, dia membulatkan matanya melihat kalau mobil berhenti di depan rumah yang sangat besar. Dia buru buru turun mengikuti Aryan, ini pertama kalinya dia melihat rumah Aryan semenjak mereka tidak bertetangga lagi.
Ini jauh berbeda dari saat mereka tinggal di kompleks.
"Yan, seriusan ini rumah lo?" Miya masih melihat rumah tiga lantai itu, dia melihat taman yang juga besar, "sekarang gue penasaran sama rumah Zain sama Irina."
"Rumah kakek gue jauh lebih besar." Aryan menggandeng tangannya menyusuri melewati taman menuju pintu. "Rumah Zain yang di tempati sekarang hampir sebesar ini, Irina malah tinggal di penthouse."
"Ayahnya yang bilang," dia kembali menarik tangan Miya untuk berjalan. "Mansion keluarga Ranggara dan Mansion keluarga Irina itu berdekatan."
Miya menelan ludahnya, Mansion ngak tuh? Meski keluarganya masuk list kelas A, tapi perbedaannya masih sangat terasa nyata.
Begitu masuk ke dalam rumah, Miya lagi lagi kagum, isinya barang mewah semua. Dia duduk di sofa tanpa di persilahkan, merasakan sofa orang kaya.
"Barang-barang ini, lo yang beli Yan?" tanya Miya.
Aryan menggelengkan kepalanya, "Ibu. Kami sebenarnya berencana pindah saat gue SMP, tapi musibah datang duluan." Aryan menghela nafas panjang, "Jadi gue pindah sendirian di sini."
Miya mengatupkan mulutnya, merasa bersalah karena pertanyaannya sendiri. Aryan kemudian pamit mau ganti baju, sekalian dia juga mau memanggil Ryan yang ada di kamarnya.
Miya mengangkat kepalanya ke arah tangga saat mendengar langkah kaki, dia melihat Ryan turun dengan pakaian rapi. Miya langsung tersenyum melihat apa yang dia pakai, Ryan memakai tas yang dia belikan.
"Aunty." sapanya, dia langsung menyalami Miya dengan sopan.
Miya mengkerutkan keningnya, "kamu bertambah tinggi lagi?"
Spontan Ryan memegang kepalanya sendiri, dia tidak menyadarinya. Miya menepuk nepuk kepala anak itu, entah kenapa dia bangga dengan pertumbuhannya.
"Kamu ikut ekschool apa?"
"Basket," Miya mengguk mengguk mendengar jawabannya, sangat cocok untuk Ryan. "Uncle Zain dan Uncle Baim jago loh main basketnya, kalau ada kesempatan kamu bisa minta di ajari oleh mereka."
__ADS_1
"Kalau dokter?"
Miya memegang dagunya seolah berfikir, "Dia jago main bola, dia sempat jadi kapten waktu SMA." Miya menepuk pundak Ryan yang tiba tiba seperti terpikir sesuatu, "kamu tidak benar benar harus mengikutinya, lakukan apapun yang kamu suka."
Ryan menganggukkan kepalanya.
Tidak lama kemudian Aryan turun dengan pakaian yang sudah rapi, melihat itu Miya langsung cemberut kesal. Dia menatap mereka berdua dan mencebik, Miya satu-satunya yang belum mandi.
"Kenapa lagi dah tuh Muka?" tanya Aryan, Miya tidak menjawab dan hanya mencebik.
Aryan mengambil kunci mobil yang tadi dia simpan di meja, memainkannya sambil berjalan keluar. Tapi dia menoleh saat menyadari Miya tidak bergerak, gadis malah kembali duduk di sofa.
"Buruan!"
Miya memunggunginya, hiks... Dia satu-satunya yang jelek. Aryan mengkerutkan keningnya, merasa kalau penyakit gila Miya kambuh lagi.
"Kenapa lagi?"
Miya mendelik ke arahnya, dia berseru kesal. "Gue belum mandi, ege! Ya kali cuman gue doang yang enggak mandi."
Aryan bersedekap dada, kepalanya dia miringkan agar bersandar di lemari yang kebetulan ada di sampingnya.
"Elah Mi, sekali-kali enggak mandi enggak masalah kali. Lagian lo yang paling cantik di antara kita bertiga."
Bukh!
Aryan memegang wajahnya yang baru saja kena lemparan bantal, Miya menatapnya dengan sangat kesal. Bukannya membalas, Aryan malah terbahak melihatnya.
"Ya sudah lo mandi sono," dia berjalan mendekat. "Tapi tidak ada pakaian perempuan selain pakaian ibu di sini, kalau lo tidak keberatan gue ambilin."
Miya memikirkannya, dari pada tidak mandi dan ganti baju.
"Tidak apa apa." jawab Miya.
"Lo mandi di kamar gue," dia memberi isyarat agar Miya mengikutinya.
Saat tiba di kamar Aryan, dia mempersilahkan gadis itu memakai kamar mandinya. Miya memperhatikan isi kamar yang sangat simple tapi besar itu, mungkin karena sibuk jadi kamarnya tidak terlalu rapi.
Sementara Aryan mengambil pakaian di kamar sebelah, Miya berkeliling kamar Aryan untuk melihat lihat. Langkahnya terhenti di depan meja samping kasur, tatapan Miya tertuju ke figura foto yang ada di sana.
Ada empat figura foto, foto keluarga, foto mereka sekelas saat kelulusan, foto Aryan bersama Alisa dan foto mereka berempat. Miya mengambil foto mereka berempat, dia, Aryan, Dimas dan Dalvina.
Miya bahkan tidak tahu kalau mereka punya foto ini.
Dia meletakkannya kembali saat pintu kamar terbuka, Aryan datang dengan dress berwarna cream di tangannya.
"Jangan lama lama, gue lapar." ucap Aryan sambil menyerahkan pakaian. "Gue tunggu di bawah, dan pengering rambut ada di laci putih paling bawah." Aryan menunjuk tempat yang dia maksud.
"Iya, bawel."
__ADS_1