
Aryan mondar mandir di dalam kamarnya, dia sudah lengkap dengan jas putih beserta songkok putihnya. Dia tidak tahu kalau akan semendebarkan ini, sedangkan teman temannya yang datang malah menertawainya.
"Kasih ini ke Ayahmu," Afkar memberikan air mineral ke Ryan, "dia pasti gugup."
Ryan mengambil air itu, mendekati Aryan dan menyodorkan minumnya. Aryan meliriknya sebentar dan mengambil air mineral itu, tapi dia tidak meminumnya.
"Enggak usah gugup amat, Yan." ucap Budi.
"Lo enggak ngebantu sama sekali." sungutnya sambil membuka air mineralnya, "Ya Allah ini tutup kenapa? Ngeledek banget."
Afkar menghela nafas, dia berdiri mengambil botol di tangan Aryan dan membukanya. "Serius, lo jangan terlalu gugup. Bisa bisa lo enggak bisa ucapin ijab kalau lo gugup."
Aryan menghela nafas berlahan, dia melihat seisi kamarnya. "Boim sama Zina mana?"
"Ngikut Hanin ke rumah Miya." jawab Fadly, dia baru masuk. "Lo nge-operasi orang biasa, kenapa malah gugup sebelum megang tangan bokapnya Miya."
"Yo calon manten!"
Mereka semua menoleh, Dimas masuk sambil tersenyum. Dia kemudian menjabat tangan yang ada di kamar itu, saat tibu di depan Aryan tanpa di duga memukul perut Aryan, tidak keras tapi ampuh membuat Aryan sedikit tenang.
"Tau begitu cara bikin dia tenang, gue pukul dari tadi." ucap Budi mengangkat kepalan tangannya dan meniupnya. "Masih gugup enggak, Yan?"
"Bangk* lo!"
Dimas memukul kepalanya barulah Aryan diam, mereka langsung tertawa dan meledek Aryan.
"Aryan mah sekalinya dengan pawang, baru diem!" Budi memegang perutnya sambil tertawa.
Giliran Afkar yang memukul Budi, "Diem lo!" omelnya.
"Alisa bilang siap siap, rombongan sudah mau ke rumah Miya." beritahu Dimas, tadi dia tidak sengaja ketemu dengan Alisa di bawah.
Ah, FYI, sekarang mereka ada di rumah Aryan bukan di mansion, alasannya karena mansion dan tempat Miya sangat jauh.
Setelah mendengar hal itu, barulah mereka bergegas merapikan penampilan Aryan. Dia menghela nafas panjang sebelum melangkah keluar, tapi saat tiba di depan pintu dia berbalik.
"Anak gue, jangan lo tinggalin!"
"Enggak ilah," ucap Fadly, dia yang menggandeng Ryan supaya tidak ketinggalan rombongan.
Anak itu soalnya sangat diam, wajar saja kalau mudah ketinggalan.
"Kamu nanti malam ada tugas enggak?" tanya Fadly pada Ryan saat masuk di mobil, remaja itu menggelengkan kepalanya. "Bagus, nanti malam kamu ikut kakekmu ke rumah, jangan ganggu penganti baru."
Ryan tidak mengerti, kenapa dia harus ikut ke orang tua Alisa? Dia juga tidak terlalu dekat mereka, jadi untuk apa?
Fadly menepuk pundak remaja itu, "ikuti saja saran uncle!"
Meski tidak mengerti, Ryan menganggukkan kepalanya. Fadly mengacak rambut anak itu, anak itu terlalu polos.
Aryan menahan nafas begitu masuk jalan rumah Miya, Afkar dan Dimas langsung menepuk pundaknya. "Bernafas!"
__ADS_1
Di kursi depan, Ayah Alisa tertawa pelan melihat keponakan yang dia besarkan sejak kecil itu. "Gugup wajar Ya, tapi usahakan tidak terlalu gugup."
"Pa." panggil Aryan lirih, Afkar menjawabnya dengan gumaman. "Apa yang lo pikirkan waktu mau nikah sama Hanin?"
"Hanin ya? Emang enggak ada cewek yang lebih kalem?" jawab Afkar jujur, "mungkin karena gue masih tujuh belas waktu itu."
"Tunggu!" Dimas melihat Afkar, "Lo nikah pas SMA?"
"Lo enggak tahu?" tanya Aryan, Dimas menggelengkan kepalanya. Dia baru tau soal ini, "berarti gue enggak cerita ya."
***
"Rombongan sudah datang!" seru Ciara.
Miya saling menggenggamkan tangannya, dia sekarang gugup sekali. Miya mengangkat kepalanya saat sebuah tangan menggenggam tangannya, Hanin tersenyum ke arahnya.
"Tidak apa apa, lo enggak usah gugup. Yang harus gugup itu Aryan."
"Eh gilaaa... Calon laki lo cakep banget, Mi." ucap Sasha yang ikut mengintip bersama Ciara, "hahaha... Yang dampingin si Afkar enggak kalah cakep."
"Suami gue enggak usah lo lirik lirik!" ucap Hanin, dua perempuan yang nongkrong di jendela itu mengacungkan jempolnya.
"Cieee.... yang dicariin!" ledek Ciara sambil melambaikan tangan karena melihat ke arah kamar Miya.
Sasha dengan cepat mengeluarkan hpnya, dia membuka kamera dan membidik Aryan sebelum masuk ke dalam rumah. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, dia dengan cepat mendekati Miya dan memperlihatkan gambar Aryan.
"Gimana?" tanya Sasha.
"Ganteng kok!" ucap Miya, Sasha menepuk pundak temannya dan menatapnya dengan tatapan serius. "Apa?"
"Tidak," Ciara berjalan mendekat "pemenang sebenarnya masih di tangan Hanna, dia berhasil naklukin makhluk paling ganteng seantero TuBas!"
"Ugh... Benar!" Miya, Hanin, dan Sasha berseru bersamaan dengan nada putus asa.
Sabrina yang memang sejak tadi juga di sana menggelengkan kepalanya, kenapa teman-temannya sama sekali tidak tumbuh secara mental.
"Tolong jangan dipikirkan tingkah mereka." ucap Sabrina yang melihat wajah bengong Rayna, "itu cara mereka melenyapkan kegelisahan satu sama lain."
Sebenarnya dia masih syok, apalagi saat Sasha yang datang. Dia tidak menyangka kalau iparnya berteman dengan seorang super model, bukan hanya itu, Ciara adalah salah satu pembuat perhiasan dan item fashion yang wajahnya wara wiri di tabloid.
Bahkan orang di depannya ini bukan orang biasa, dia seorang desaigner internasiomal yang bekerja di bawah mereknya sendiri. Selain itu Sabrina juga istri dari seorang pebisnis sukses, bisnis batu bara yang asetnya dimana mana.
Bagaimana bisa Miya bisa berteman dengan orang orang seperti ini?
Apa ini juga alasan dia tidak menceritakan masa lalunya? Karena dia berteman dengan orang orang penting.
Mereka semua menoleh saat pintu di ketuk, Hanin langsung berdiri dari tempatnya dan mempersilahkan Manaf mendekati kakaknya. Pria itu menatap lamat lamat kakaknya, kakak yang selalu ada untuknya dan sekarang akan dibawa orang lain.
"Apa?" tanya Miya.
Manaf berjalan ke arah kakaknya, berhenti tepat di depannya. Dia berjongkok sambil menggenggam tangan Miya, menumpukan kepalanya di pangkuan sang kakak.
__ADS_1
"Kenapa? Hei!" Miya terkejut mendapati tubuh bergetar adiknya, "Naf? Manaf?"
Manaf menggelengkan kepalanya, tapi tangannya menggenggam semakin erat tangan kakaknya.
"Tidak perlu khawatir," Ciara menepuk pundak Manaf, "Aryan pasti bakal jagain kakak lo baik baik."
Ciara mengerti perasaan Manaf, dia juga punya adik laki laki dan pernah melepaskan kakaknya menikah. Perasaan tidak rela pasti akan ada, terlebih untuk adik yang dekat dengan kakaknya.
"Jangan menangis!" ucap Hanin yang melihat mata Miya yang juga berkaca-kaca, "tarik nafas berlahan."
"Enggak bisa...hiks!" akhirnya air matanya jatuh, dia menarik adiknya untuk dia peluk. "Jangan nangis, gue juga bakal nagis. Bayar MUA mahal tau!"
Manaf mendengus dan melepaskan kakaknya, bagaimana bisa kakaknya menghancurkan suasana haru? Dia sanggup membayar MUA dua kali lipat, jadi dia tidak perlu memikirkan hal sepele.
Sabrina menyodorkan tisue ke arah Miya, meminta MUA merapikan make-up Miya sedikit. Dia juga menyodorkan tisue ke Manaf.
"Kakakmu akan baik-baik saja, kalau Aryan macam-macam maka dia akan berhadapan dengan kami terdahulu."
Miya menepuk kepala adiknya, "lagian lo itu sudah jadi bapak, enggak usah cengeng."
Tak lama terdengar suara dari pintu, Maminya Miya berdiri dengan menggelengkan kepalanya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya pada anak bungsunya, "Mami menyuruhmu menjemput kakakmu, acara sudah mau di mulai."
Dia masuk dan menatap anak anaknya yang melihat mata sembab mereka, dia mengerti perasaan mereka. "Sekarang kamu harus turun, kamu harus di samping Aryan saat dia mengucapkan janji terhadapmu."
Sementara itu di lantai bawah, Aryan tampak duduk dengan gelisah. "Jangan gugup!" ucap Papi Miya menepuk lengan pria yang tidak lama lagi menjadi menantunya itu.
"Kamu ingatkan nama lengkap Miya?" tanya Pamannya, Aryan menganggukkan kepalanya. "Jangan sampai lupa."
Aryan tidak berani berbalik saat mendengar suara yang mengatakan kalau mempelainya sudah datang, dia tidak bisa melihatnya sekarang. Bahkan saat di dudukkan di sampingnya dan di pasangkan kain di kepala mereka, Aryan sama sekali tidak melirik karena merasa gugup.
"Kamu siap?" tanya penghulu yang mengejutkan Aryan.
"I.iya."
"Jangan gugup, genggam tangan saya." Ruslan meski sedikit berat tetap mengulurkan tangannya, dia melihat wajah putrinya yang menatap lurus ke arahnya.
Aryan menarik nafas dan menghembuskannya berlahan, dia mengangkat tangannya dan berjabat tangan dengan Ayah Miya.
Ruangan itu sunyi, hanya suara penghulu yang membaca doa pembuka yang terdengar. Tak lama suara mic berpindah terdengar, mic itu pindah ke tangan Ayah Miya.
Dia menggenggam tangan Aryan semakin erat, mengisyaratkan kalau tanggung jawab besar akan segera berpindah ke tangan pria itu.
"Bismillahirrahmanirrahim, aku nikahkan engkau, Aryan Galih Ranggara dengan putri kandungku Miya Sarina Adyata Binti Ruslan Adyata dengan mahar seratus Dinar dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
Aryan menarik nafas dan mengucapkan ijab qobul dalam sekali tarikan nafas. "Saya terima nikahnya, Miya Sarina Adyata binti Ruslan Adyata dengan mahar tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana?" tanya penghulu pada saksi.
"Sah!"
__ADS_1
"SAHHHH!!!" Miya dan Aryan bisa mendengar suara yang paling keras adalah rombongan teman teman mereka.
"Alhamdulillah."