Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 49


__ADS_3

Andin menoleh ke arah Miya, dia heran dengan Miya yang berbeda akhir akhir ini. Miya biasanya adalah gadis yang hanya akan fokus ke pekerjaannya, tapi akhir akhir ini dia sering main ponsel saat istirahat, hal yang sebelumnya jarang dia lakukan.


Andin memicingkan matanya menatap Miya, "Sarina!"


"Apa?"


"Lo..." dia makin memicingkan matanya serius, "lo ada cowokkan?"


"Iya."


Andin yang mau mengulik lebih dalam mengatupkan mulutnya, dia pikir Miya akan merahasiakannya. Tapi, siapa yang sangka dia blak-blakan seperti itu.


Andin berdehem sambil menarik kursinya mendekat, melihat itu Miya mendelik ke arahnya. Bukannya menjauhkan kursinya, Andin justru melebarkan cengirannya.


Wajahnya makin menunjukkan nafsu kekepoannya.


"Siapa Na? Orang mana? Ganteng enggak?" dia menaik turunkan alisnya, tapi Miya membalikkan badannya.


Andin langsung mencegahnya, dia bahkan menggoyangkan lengan Miya, "Ayolah Naaa, gue penasaran." dia mengibaskan rambutnya, "lo enggak empati gitu sama gue?"


Miya meliriknya dan menggelengkan kepalanya tanpa beban.


"Tega lo, Na. Gue bakal gentayangin lo seumur hidup, jadi hantu penasaran gue." rajuknya.


"Gue tinggal bacain ayat kursi lah, lo emang bisa apa?" Miya menyeringai membuat Andin mendengus.


"Gue baru tau lo punya sifat kayak begini, bocah."


Miya terkekeh kecil, dia membuka laci dan menyimpan hpnya. "Ya, mungkin."


Andin kembali menyeret kursinya ke depan mejanya, membuka laci untuk mengeluarkan catatannya. "Bukan mungkin lagi, Tapi Na..." dia menggaruk kepalanya dengan pena. "Nanti malam ulang tahun Rika, lo mau datang?"


Miya menghela nafas panjang, kemarin memang mendapat undangannya. Dia menopang dagunya, memikirkan apa dia harus datang atau tidak.


"Datang enggak, lo?"


"acaranya di hotel mana?"


"Hotel?" Andin kembali memutar kursinya agar menatap Miya, "Dia bakal ngadain di club."


"Club?" Miya bertanya tidak percaya.


"Ya sudah, periksa saja di undangannya." Andin menunjuk undangan di samping komputer Miya, tampilannya masih rapi tanda belum pernah di buka.


Miya mengambil undangan itu, dia membuka dan langsung mencari alamatnya. Seperti yang Andin katakan barusan, acaranya benar benar di club malam.


"Gila ya?" Miya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tidak pernah ke tempat seperti itu.


Andin menjentikkan jarinya, "Ya... Ketinggalan jaman lo, Na. Anak muda zaman sekarang mah, ngadain partynya memang di tempat begituan."


Dia melempar kembali undangan ke atas meja, Miya mengedikkan bahunya saat membayangkan berisiknya tempat itu. Ditambah lagi, Miya mantan pasien kanker, tempat seperti itu rawan untuknya.


"Gue enggak pergi." ucap Miya.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Gue gak suka tempat berisik," Miya mengatakan yang sebenarnya, "tempat seperti itu juga bahaya."


"Lo pernah ke tempat seperti itu?"


"Enggaklah, hanya beberapa kenalanku sering ke sana karena ada urusan," Miya tahu hal ini dari Aryan dan Dimas.


Mereka mengatakan kalau mereka sering ke sana, Dimas tidak sih karena kesehatannya tapi Aryan. Mereka mengatakan kalau berpatroli sering ke sana, Miya juga tidak paham.


"Iya sih, lagian mau ngapain juga di tempat begitu." Andin menopang dagunya, "tapi buat lepas stress, bisa kali ya."


Miya melirik temannya itu, ya Andin memang kadang bertindak random. Kalau sampai Andin ke tempat seperti itu, Miya mungkin terkejur tapi tidak akan heran.


"Kerja, kerja." ucap Miya saat melihat sosok Griffin yang entah dari mana, Andin juga cepat cepat melihat pekerjaannya lagi sebeluk kena semprot.


Hah... Kenapa atasan mereka harus tegas sih?


*****


Jam lima sore, Miya dan Andin keluar dari ruangan bersamaan karena mereka mau pulang. Di lobby mereka bisa melihat Rika dan pacarnya bersama, mereka benar benar sudah terang-terangan sekarang.


"Apa gue minta papi pecat aja?" gumam Miya, kelakuan seperti itu bisa merusak citra tempat kerja.


"Ya gue sih legowo saja," Andin menimpalinya karena dia juga sudah muak dengan kelakuan Rika.


"Eitttss..." Rika menghalangi jalan mereka berdua, "Kalian nanti malam datang kan?"


"Tidak!" jawab Miya langsung, "hadiah lo besok gue kasih."


"Iya."


Rika mengatupkan mulutnya, kenapa Miya terang terangan sekali?


Dia mendengus, "lo kayak bocah."


Miya memutar bola mata malas, terlebih pacar Rika menatapnya dengan tatapan lapar. Oke, Miya tahu kok dia cantik.


"Iya iya, gue memang bocah." dia mengibaskan tangannya, "Besok hadiah lo dari gue, bye!"


Miya kembali melangkah, tapi dia terkejut saat tangannya di cegat pacar Rika. Dengan cepat Miya menepisnya, menatapnya tajam.


"Jaga sopan santun anda!" Miya mengibas-ngibaskan tangannya yang baru saja di sentuh.


"Ck ck ck, gue tertarik sama lo."


"Sayang!" Rika memegang lengan pacarnya.


Miya menatapnya dengan dagu terangkat, dia melihat pacar Rika dari atas ke bawah dengan angkuh. "Gue tidak doyan dengan produk low quality."


"Kamu!"


"Ups!" Miya menutup mulutnya mengejek, "Bukan ya? Emang punya rumah berapa? Mobilnya berapa? Punya berapa black card? Atau setidaknya lo punya satu citygroup chairman card? Kalau enggak, jangan mimpi."

__ADS_1


Pria itu menyeringai, "Kamu berkata begitu tinggi, memangnya pacarmu punya? Dia hanya seorang dokter yang gajinya tidak seberapa."


Miya memainkan rambutnya, "Tapi wajah dan kecerdasaannya high quality," Miya tersenyum kecil. "Dan yang lebih utama, pacarku bukan pria beristri."


Pria itu tertawa sedangkan Rika wajahnya sudah memerah, dia melangkah mendekati Miya ingin menamparnya.


Plak


Mata Rika membulat saat tamparan Miya jatuh lebih dulu, "Kamu!"


"apa? Lo pikir gue orang bodoh yang wajahnya suka rela ditampar?" Miya mendekat dan mengangkat dagu Rika dengan telunjuknya "Gue diam bukan berarti gue protagonis, jangan macam macam sama gue!"


Pria itu menarik pacarnya, menatap nyalang ke arah Miya. Bukannya takut, Miya malah menyeringai puas.


"Kamu benar-benar sombong, akan kuperlihatkan kamu tidak akan bekerja di sini lagi."


Miya terkekeh kecil, dia kemudian menyampirkan rambutnya ke belakang telinga. "Coba saja, atau anda mau bertaruh dengan saya? Aku atau dia," Miya menunjuk Rika "mana yang akan keluar lebih dulu?"


Andin di belakang Miya hanya bisa melongo, dia lagi lagi baru tahu kalau Miya punya sifat antagonis. Bahkan dia tidak terlihat gentar dengan tubuh besar pacar Rika, latar belakang yang mendukung memang tidak bisa dianggap remeh.


Miya menggandeng tangan Andin keluar, lama lama tinggal di sana jiwa melabraknya bisa keluar. Sebagai teman yang baik, Andin hanya bisa mengekorinya.


Miya menghela nafas panjang, dia gugup sekali tadi.


"Mereka ngikutin enggak?" tanya Miya, Andin melirik ke belakang.


"Tidak."


Miya langsung meluruh ke tanah, kakinya masih gemetar. "Gue takut sekali, bagaimana kalau gue dipukul tadi?"


Andin ikut jongkok, "tapi itu tadi keren banget, Na. Gaya lo gue suka."


Miya mendelik kesal, "terus kenapa lo diam saja tadi?"


"Ya itu..." Andin menggaruk pipinya pelan, "gue kan enggak punya backing-an kaya lo, gue takut kali Na."


"Kalian kenapa malah jongkok di sini?" mereka berdua mendongak, mendapati pria dengan kemeja hitam menatap mereka.


"Aryan!" seru Miya, Andin langsung berdiri.


"Lo ngapain?" dia berjalan ke arah mereka.


"Kaki gue lemas, tidak bisa berdiri." keluhnya, Aryan mengulurkan tangannya dan menariknya.


"Habis maraton lo?" dia mengambil tas laptop Miya, Miya menggelengkan kepalanya.


"Lo ngapain di sini?"


"Jemput."


Miya memiringkan kepalanya, "kenapa?"


"Makanya lihat grup Miya Sarina," kesal Aryan "Anak-anak janjian ketemu di tempat Alga, ya kali lo enggak ada."

__ADS_1


Buru buru Miya mengeluarkan hpnya, dia memang tidak melihatnya sejak tadi, sejak dia meletakkannya di laci setelah chat-chatan dengan manusia di depannya ini.


Miya tersenyum "Asyik, makan gratis!" dia dengan cepat membalikkan badan Aryan dan mendorongnya ke arah mobil, tapi tak lama dia menoleh "Andin, gue duluan ya. Gue bakal kirimin foto Fadly, Kevin sama Budi ke lo, bonus foto super model Sasha, bye-bye."


__ADS_2