Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 27


__ADS_3

"Na, subuh tadi lo ngilang ke mana?" tanya Rayna pada Miya yang sedang memasukkan pakaian Rayna ke dalam tas, dia sudah boleh pulang.


"Hm?"


"Subuh tadi lo ngilang ke mana?"


"Ah..." Miya baru mendengarnya dengan jelas "Cari setan."


Miya jadi kesal mengingat kejadian subuh tadi, bukannya langsung mengantarnya Aryan malah seenak udel menceritakan beberapa cerita horor. Miya mengunci tas Rayna dengan kasar, berharap barang itu adalah Aryan.


"Setan?" Rayna memiringkan kepalanya "Bukannya lo takut sama yang begituan?"


Miya melihat tajam ke arahnya "Tidak usah di bahas lagi!"


Rayna menatapnya dengan kening mengkerut, dia yakin sesuatu telah terjadi tadi. Miya jarang menampakkan wajah kesalnya sejak tadi, entah apa yang membuatnya kesal.


"Gue sudah dengar dari Mami soal dokter ganteng itu." Miya tidak menanggapinya "Katanya dia tetangga kalian ya dulu."


"Hm,"


Rayna meliriknya "Mami juga bilang dia preman."


"Bukan!" Miya membalikkan badannya ke arah Rayna dengan wajah serius, "Dia bukan preman."


"Tapi Mami bilang ka-"


"Bukan! Aryan bukan preman!" Miya menarik nafas panjang "Gue mau keluar cari minum."


Rayna hanya bisa menatap punggung Miya yang sudah menghilang di balik pintu, padahal dia mengatakan apa yang dia dengar. Tapi melihat reaksi Miya kali ini, dia tidak akan membahasnya lagi.


Miya memilih duduk di taman rumah sakit, dia sedikit kesal tentang apa yang dikatakan Rayna tadi. Dia tahu Aryan lumayan bandel saat masih remaja dulu, tapi kalau dibilang preman juga itu berlebihan.


"Haaaahhh..." dia harusnya tidak marah sih.


Tatapan Miya tertuju ke anak anak yang berkumpul di bawah pohon besar, anak anak dengan pakaian pasien. Miya berdiri dari tempatnya dan mendekati mereka, bisa dia pastikan kalau anak anak itu adalah pasien rawat inap yang sudah lama tinggal di rumah sakit.


"Hai!" sapanya, anak anak disana saling berpandangan dan menyapa dirinya dengan suara mencicit "Aunty boleh gabung ngak?" beberapa dari mereka mengangguk dan sisanya hanya diam saja.


Miya mendudukkan dirinya di samping anak yang paling kecil, dia memegang boneka sambil menatap ke arah Miya. Miya masih tersenyum tapi dalam hati dia miris melihat mereka yang memakai penutup kepala, dia tau rasanya.


"Rambut kakak cantik!" cetuk si kecil.


"Benarkah? Terima kasih." Miya memperbaiki duduknya dia duduk menyilangkan kaki "Sedang apa kalian di sini? Kakak suster tidak marah?"


Mereka saling memandang kemudian menggelengkan kepala.


"Kami bosan di dalam terus." ucap salah satu dari mereka.


Ada tujuh orang anak yang ada di sana, dua diantaranya adalah laki laki. Miya menebak usia mereka dibawah sepuluh tahun, ini bukan pertama kali dia melihatnya.


"Hm, nama Aunty... Aunty Miya, apa kalian tidak masalah memperkenalkan nama kalian?"

__ADS_1


"Quinja!" anak paling di samping Miya menjawab, dia mengangkat empat jarinya "Empat taun."


"Woahh... sudah besar ya?" Miya bertepuk tangan, anak itu tersenyum malu malu.


"Aku Isa, Isabella!" anak yang disamping Quinzha berseru "Lima tahun."


"Ngak lama sekolah dong!"


"Hn, Mama bilang kalo kelual dali lumah sakit." wajahnya berbinar.


Miya menoleh ke anak laki laki yang paling besar, tapi beda dengan lainnya wajah anak itu yang paling murung. Dia menatap Miya dengan tatapan tajam.


"Untuk apa tau nama kami?"


"Hmmm.... Aunty mau berteman." Anak itu membuang muka "Apa kamu keberatan?"


"Kenapa? Kami juga tidak akan sembuh!"


Miya tertegun "Siapa yang bilang tidak akan sembuh?"


"Orang dewasa selalu berbohong!" Anak perempuan yang memegang bunga plastik ikut berseru "Kami akan mati."


Wajah anak anak di sana langsung muram, mereka bukannya tidak sadar akan apa yang menimpa mereka. Yang mereka tidak sukai adalah saat orang orang berkata tidak jujur, utamanya anak anak yang sudah lebih besar.


"Benal?" Quinzha menatap Miya dengan mata berkaca kaca, Miya menggelengkan kepalanya.


"Dengan kalian rajin mengomsumsi obat, kemotherapinya ngak bandel." dia mengusap kepala Quinzha "Mungkin tidak akan cepat, tapi akan berlahan membaik."


"Rambut masih bisa tumbuh." ucap Miya dia mengusap kepala anak itu, matanya menyenduh "Rasanya memang sakit dan menyiksa, tapi itu akan hilang setelah sembuh."


"Aunty pernah kemotelapi?" anak laki laki kecil yang dari tadi diam akhirnya bersuara, Miya tidak menjawab tapi menatap satu persatu.


"Baiklah, Aunty pandai bernyanyi, apa kalian tidak keberatan mendengarnya?"


Mereka menganggukkan kepalanya, Miya langsung berdiri dan melakukan cek suara. Anak anak yang lebih kecil ikut berdiri, tapi Miya menahannya karena mereka tidak bisa terlalu lelah.


"Jadi... Lagu apa yang ingin kalian dengar?" tanya Miya, beberapa anak berantusias menyebutkan judul lagu yang mereka tahu.


Miya tanpa sungkan bernyanyi di depan mereka, menyanyikan lagu yang ceria. Dia juga menggerakkan badannya sesuai lirik lagunya, anak anak itu bertepuk tangan senang.


"Hua... Capek!" Miya duduk setelah bernyanyi beberapa lagu, sudah lama juga dia tidak menyanyi.


Ethan, Taksa, Dorothy, Freya, Livy, Raissa dan Quinzha. Pada akhirnya mereka tetap mengatakan nama mereka, Miya cukup pandai membujuk.


Dengan bakat ini, dia bisa beralih profesi jadi penculik anak anak hehehehehe....


"Apa Aunty besok ke sini lagi?" Taksa memegang tangan Miya, Wanita itu memegang kepala Taksa yang rambutnya sudah dicukur habis.


"Besok Aunty harus kerja, jadi tidak bisa."


"Kapan bisanya?" Raissa bertanya, dia lumayan menyukai bibi di depannya karena tidak menyuruhnya minum obat yang pahit.

__ADS_1


"Tidak tahu, tapi setiap ke rumah sakit, Aunty akan usaha menemui kalian."


"Bagaimana kalau aku sudah mati?" Dorothy bertanya, Miya menangkup wajahnya yang kecil.


"Kamu harus optimis, banyak orang yang bisa sembuh."


"Tapi mereka yang keluar mati, seperti Cindy." Miya langsung memeluk Dorothy, kepergian teman yang dirawat bersama adalah ketakutan dari orang yang ditinggal.


Miya menoleh saat blazernya di tarik tarik oleh Freya "Di surga itu enak ya, aunty?"


Miya tertegun mendengar pertanyaan mereka, kenapa anak anak ini terus membahas kematian? Apa mereka sepatah semangat itu? Tapi Miya memaklumi mereka.


"Enak!"


Mereka berseru saat suara pria menimbrung, Aryan berdiri di depan mereka. Tak lama dia berjongkok menatap mereka, termaksud Miya.


"Enak, karena itu orang orang ingin kesana," Aryan melihat berbinar mereka "Tapi kalian terlalu kecil untuk ke sana, setidaknya kalian harus besar dulu."


"Tapi Cindy masih kecil, kenapa sudah ke sana?"


"Hm..." Aryan pura pura berfikir "Karena sudah waktunya. Tapi kalian semua harus berusaha dulu, setidaknya besarlah seperti dokter atau seperti Aunty."


Miya mengangguk "Banyak hal menyenangkan di luar sana. Karena itu kalian harus semangat oke."


"Oke!"


"Mi," Aryan beralih ke Miya "Lo dicariin Manaf."


Miya langsung meraba tempat dimana dia menyimpan ponselnya, tadi dia memang merasakan ada getaran saat bernyanyi. Saat membuka ponselnya, Miya melihat beberapa pesan dari saudaranya.


Ah.... Salahnya yang memasang mode silent!


Aryan menoleh saar Jasnya di tarik Livy "Kenapa?"


Livy berdiri dan mendekati Aryan, dia mulai berbisik "Apa Aunty cantik itu pacar Uncle dokter?"


Aryan memegang dagunya seolah berfikir, wajah penasaran anak kecil itu terlihat sangat imut. "Bagaimana menurutmu?"


"Iyaaaaa!"


Miya menoleh ke arah mereka "Kenapa?"


Aryan mengedikkan bahunya, tapi saat Livy melihatnya Aryan menaruh telunjuk di depan bibirnya. Gadis kecil itu cekikikan lucu, berfikir bahwa dia menyimpan rahasia.


"Kenapa?" Miya kembali bertanya.


"Ra-ha-si-a!" ucap Livy senang sambil bertepuk tangan, Miya pura pura memasang wajah sedih.


"Nah, kalian sebaiknya masuk ke dalam," Aryan berkata karena angin bertiup sedikit lebih kencang, dia melihat Miya "Dan lo, balik sana."


"Bawel amat dah!"

__ADS_1


__ADS_2