Unfinished Story

Unfinished Story
Bab 30


__ADS_3

Miya melirik Griffin yang berdiri di sampingnya, dalam hati dia mengumpati kenapa pria itu di sana. Ciara dan Zain sudah pergi, mereka hanya sebentar sekali.


"Kamu juga berteman dengan kekasih dari wakil Dirut Ogilvie?" Griffin bertanya, entah kenapa dia tidak kaget lagi melihat lingkup pertemanan Miya.


"Saya sudah bilang, dia teman SMA." Miya hanya mengakui Ciara, posisi Zain terlalu tinggi untuk diakui.


Mereka diam setelahnya.


"Kamu dekat dengan teman SMA sampai sekarang?"


Miya menganggukkan pertanyaannya, dia melihat Griffin yang kembali menyesap minuman di tangannya. Pria itu meliriknya sekilas, merasa kalau Griffin menanyakan hal yang aneh.


"Apa ada yang aneh, Pak?"


"Griffin, kita sedang tidak di kantor." Griffin mengoreksi cara Miya memanggilnya, lagi pula mereka hanya berbeda setahun. "Ya itu aneh."


"Di mananya?"


"Normalnya teman SMA hanya sebatas teman saat masa itu juga bukan?"


"Tidak juga! Kami sekelas masih akrab sampai sekarang."


Di sinilah Griffin merasa aneh, tidak itu sangat jarang terjadi. Biasanya teman sekolah hanya sebatas jaman itu saja, setelahnya akan terasa asing, tak sama lagi seperti dulu.


Kalaupun ada, itu pasti hanya satu atau dua orang saja. Tidak sekelas!


"Saya mengerti maksud, Bapak!"


"Griffin," Dia kembali mengoreksi "Saya bukan bapak kamu."


"Oke." Miya menopang dirinya di pembatas "Masa SMA untuk kami sangat berarti, sulit untuk dilupakan."


Griffin melihatnya dan mendapati Miya tersenyum, dia percaya dengan ucapan Miya melihat dari bagaimana binar matanya. Berbeda dengannya yang menghabiskan masa SMAnya bak air yang mengalir, dia jadi penasaran dengan masa SMA gadis itu.


Karena Griffin masa itu benar benar bodoh amat dengan sekitar, dia hanya datang belajar dan pulang. Menjalin hubungan pun sekenanya saja, seperti remaja pada umumnya.


"Sepertinya kamu siswa hits sekolah."


"Hits?" Miya terkekeh tapi tak lama dia menggelengkan kepalanya "Tidak! Mereka selalu menghindar saat saya mendekati mereka."


Miya sedikit berdecih, padahal dia hanya menagih hutang mereka saja.


"Banyak cowok dan cewek cakep di sekolah saya dulu, saya termaksud penggemar mereka dulu."


Utamanya Kennan! Miya terkekeh mengingat masa itu, masa dimana dia dan anak cewek lainnya suka menggila saat memperebutkan Kennan.

__ADS_1


Hehehe.. Meski hanya untuk candaan saja, karena kebanyakan diantara mereka mempunyai pasangan, termaksud Miya.


Dia bersenang senang saat SMA.


Griffin menatap Miya yang terkekeh sendiri, satu hal yang dia sadari Miya tampak berbeda saat membahas masa SMAnya. Dia sangat yakin kalau perempuan itu seperti stuck di masa itu, mungkin tidak terlalu baik untuk Miya.


Gadis itu sungguh banyak bicara jika membahasnya, Griffin jadi sedikit khawatir. Gadis itu melangkah tapi jalan di tempat juga, apa yang membuatnya demikian?


"Kamu... Terlihat seperti dua kepribadian."


Miya tertegun, ini kedua kalinya Griffin mengatakan itu. Miya menghadapnya dan menatapnya serius, pria itu hanya menoleh ke arahnya sambil tangannya bertopang di pembatas.


"Biar kukatakan dengan jelas," Miya menatap langit meski badannya masih menghadap Griffin. "saya kurang nyaman dengan orang baru, tepatnya orang baru membuatku terganggu!"


"Boleh merokok!" Griffin mengeluarkan rokok dari sakunya beserta pemantik.


Miya kembali menghadap depan, menjawab acuh "Tidak!"


Pria yang sudah mau menyalakan api menghentikan tangannya, dia memasukkan kembali pemantik dan bungkus rokoknya. Sebenarnya semenjak malam mereka kencan buta saat itu, Griffin mulai memperhatikannya.


Miya tampak tidak nyaman dengan asap rokok, dia pasti akan menghindar semaksimal mungkin. Entah dia tidak suka bau asap atau memang tidak bisa, dia tidak mengerti.


"Oh, kalian di sini!" mereka berdua menoleh dan mendapati Andin, gadis itu sudah memakai tasnya.


"Mau balik?" tanya Miya.


"Tidak."Miya menegakkan berdirinya "Mau gue antar."


Andin menggelengkan kepalanya, "Enggak usah, lagian gue cuman pamitan doang." dia membalikkan badannya hendak berjalan pergi "Pak, mungkin tidak masuk."


Griffin mengernyit dan Miya mengangkat sebelah alisnya, meski berbeda ekspresi Andin bisa tau kalau maksud mereka sama.


"Gue mau ngurus sesuatu di pengadilan agama."


"Pengadilan agama?" Miya makin bingung, apa wanita di depannya belum menyelesaikan sidang perceraiannya.


"Pengadilan agama bukan cuman untuk yang cerai sama nikah kali, Na." ucap Andin


"Gue ngak bilang!"


Andin menepuk keningnya "Semua kebaca di muka lo, sudah gue mau balik." dia memperbaiki letak tasnya "Ah satu lagi, jangan berduaan mulu ada setan dimana mana."


"Sebaiknya kamu pulang!" ucap Griffin, Andin tertawa kemudian melambai ke arah mereka berdua.


"Baik baik, gue tidak ganggu lagi." dia malangkah dan menghilang di pintu. Miya menghela nafas, tapi tak lama pintu kembali terbuka dan menampakkan kepalanya "Yang ketiga setan loh!"

__ADS_1


"Elo setannya!" jengkel Miya, Andin tertawa dan benar benar menghilang. "Heran gue!"


Karena memang sudah lumayan lama di luar, Miya masuk lebih dulu. Alasan sebenarnya adalah Miya merasa canggung hanya berdua dengan laki laki, ditambah laki laki itu adalah atasannya.


Saat masuk orang orang sudah berkurang, hanya beberapa relasi dan teman teman Rayna (beberapa teman kuliah Miya juga). Miya menyapa mereka sekenanya, dia kembali berjalan arah dessert.


Miya menghentikan langkahnya saat akan kembali, dia bersandar di dinding.


"Nana, kok kamu betah sih berteman dengan Sarina? Apalagi jadi iparnya?"


"Hah? Maksud kamu bicara seperti itu apa? Sarina baik banget, kalian saja yang tidak dekat." Suara Rayna terdengar.


"Ya itu karena ipar lo, lo memang tidak dengar rumornya?"


"Gue tau rumor itu!" Miya yang mendengarnya makin menajamkan pendengarannya, dia juga sangat penasaran. "Rumor itu kan? rumor soal dia yang sangat bossy?"


Miya membulatkan matanya, dia makin penasaran. Dia berlahan menarik kursi agar tidak ketahuan, dia tidak pernah mendengar ini sebelumnya.


"Tapi Sarina tidak begitu..."


"Karena dia tau adeknya dia suka sama lo!" Miya makin melahap kue di piringnya "Lo tidak lihat sih! Waktu itu gue pernah lihat dia memukul orang depan kampus, selain itu mentang mentang cantik dia jadi arogan.


Miya tersenyum di balik tembok, baru kali ini dia mendengar langsung ada yang mengatakan dia cantik. Tapi... Kapan dia memukul orang di depan kampu-


Oh! Sepertinya dia ingat!


Dia memang sempat memukul Cakra karena salah mengantar pesanannya, saat itu Cakra paruh waktu. Bukan cuman alasan itu, dia membuat Miya kelimpungan mencarinya padahal cowok itu jelas jelas melihatnya tapi tetap mengarahkan tempat yang salah.


Mengingatnya kembali membuat Miya emosi.


"Gue juga dengar, kalau sebenarnya Razak selingkuh karena Sarina selingkuh duluan."


"Sarina tidak pernah selingkuh, sebenarnya kalian dapat rumor itu dari mana sih?" Miya mengintip dan melihat Rayna sudah menatap kesal temannya. "Sarina memang lebih pendiam dari yang lain, tapi dia tidak pernah selingkuh."


"Tapi Razak pernah lihat foto laki laki di hapenya, apa itu namanya."


"Berfoto dengan laki laki membuktikan selingkuh? Mungkin itu temannya atau mantannya, siapa yang tahu." dari suaranya Miya mendengar kalau Rayna kesal.


Dia menghela nafas panjang, meraih hape di sakunya dan membuka galerinya. "Apa foto ini?" Miya bersuara dan menampakkan kepalanya.


Dia bisa melihat wajah terkejut mereka, Miya tersenyum manis sambil menggoyangkan hapenya. Dia dengan santai berdiri dan berjalan ke arah mereka, begitu sampai dia memperlihatkan gambar di ponselnya.


Foto dirinya dan cowok cowok di kelasnya.


"Atau yang ini?" dia menggulir gambar di sana dan berhenti di foto dirinya dengan Kevin. "Betapa tidak sopannya memeriksa ponsel orang lain tanpa izin."

__ADS_1


"Itu... KEVIN?!!" Miya menjauhkan ponselnya, meninggalkan mereka yang masih menganga.


Ternyata tidak ada ruginya punya teman seleb, HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!!


__ADS_2