
Suara berisik wanita yang bekerja di dapur, tangisan anak anak serta bau makanan yang menyerbak menandakan kalau di rumah itu ada acara. Dimas yang baru menyelesaikan ijab qobulnya pagi tadi masuk ke dalam kamarnya, kamar yang dia minta untuk tidak dimasuki siapapun.
Dibiarkannya kamar itu gelap gulita, sedang dirinya merebahkan dirinya di atas kasur. Tidak lama resepsi akan di adakan dan dia sama sekali tidak bersemangat menjalaninya, rasanya ada sesak di dadanya.
Dia meraih ponselnya, membuka kunci layar dan membuka galery ponselnya. Ditatapnya lamat lamat gambar yang menjadi cinta pertamanya, gadis yang masih ada di hatinya sampai saat ini.
Dia sadar apa yang dia lakukan saat ini salah karena sudah ada gadis lain yang menjadi tanggung jawab dunia-akhiratnya, tapi dia tidak bisa membohongi perasaannya.
Tok tok tok!
Dimas memasukkan kembali ponsel ke sakunya, memasang wajah baik baik saja dan berjalan keluar. Dia membuka pintu dan mendapati wanita paru baya yang tidak lain adalah ibunya, wanita itu berkecak pinggang menatap putra bungsunya.
"Ya ampun kenapa kamu belum siap juga? Apa yang kamu lakukan di dalam kamar hah? Ayo ayo bersiap."
"Iya iya, ini mau siap siap!"
Dimas tersenyum ke arah ibunya, wanita itu mengomel sambil lalu. Senyum di wajah Dimas luntur begitu wanita itu pergi, dia hanya berjalan lunglai ke kamar yang menjadi kamar pengantinnya.
Begitu masuk dia disuguhi pemandangan wanita yang di rias MUA, tapi Dimas tidak terlalu memperhatikan dan langsung ke kamar mandi. Dia keluar dengan pakaian yang sudah rapi, tentunya sambil tersenyum sopan kepada MUA yang ada di sana.
Karena dia tidak ingin dimarahi ibunya, Dimas tetap di kamar sambil sibuk dengan ponselnya. Meladeni teman teman yang menggodanya lewat pesan, dia membalasnya dengan tatapan datar saja.
"Mas, sibuk mulu sama hp, istrinya jangan dianggurin dong, Mas."
Dimas mengangkat kepalanya dan melihat ke arah MUA yang sedang merias 'istri'nya itu, mereka terkekeh melihat tampangnya. Dimas hanya tersenyum tipis, tapi gadis yang sedang di make-up itu tau kalau senyumnya palsu.
"Gimana, Mas, istrinya cantikkan?" wanita perias itu menunjuk wanita yang diriasnya.
Dimas melihat wanita itu dan mengangguk kecil, "Iya." dia menjawab dengan suara yang cukup kecil.
Dia kembali menunduk menatap ponselnya, sebenarnya apa yang dia harapkan dari sana? Kemarin saat saling telefonan dengan sahabatnya-Aryan, dia mendengar kalau gadis itu juga akan datang.
Apa Miya baik baik saja? apa dia tersiksa seperti dirinya?
Dimas menyeringai bodoh, sebenarnya apa yang dia harapkan? Mereka putus dari bertahun tahun lalu, berbeda dengan dirinya yang terjebak di masa lalu, gadis itu mungkin sudah move-on.
__ADS_1
"Dim-dim!" Dimas menganngkat pandangannya ke arah pintu kamarnya setelah mendengar panggilan yang akrab.
Salah satu temannya saat SMA berdiri di sana dengan senyum merekah, Dimas memasukkan ponsel ke saku dan berjalan menghampirinya.
"Gandis!" sapa Dimas, Gandis menyeringai ke arahnya.
"Cie kan ciee... Dim dim kebanggan kita akhirnya nikah juga!" Gandis menusuk nusuk lengan Dimas dengan telunjuknya, "Yang lainnya bakal datang nanti malam, gue ke sini duluan karena ada acara keluarga entar malem, bini lo mana? Gue penasaran!"
Dimas menggeser badannya dan memperlihatkan wanita yang sedang dirias, merasa di sebut gadis itu membuka matanya dan menatap Gandis.
Plak plak plak plak!
"Gilaa... bagaimana bisa lo dapet bini cakep begini? Amal apa yang lo lakuin dikehidupan sebelumnya." Gandis terus memukul lengan Dimas tidak peduli dengan ringisan pria itu. "Apa yang lo pake sampai sampai cewek di dekat lo cantik semua termaksud gue?"
Dimas memasang senyum menyeringai "Susuk!"
MUA yang ada di sana tertawa mendengar jawaban Dimas, sedangkan Gandis hanya bisa mendengus kesal.
"Tumben banget lo ngak nanyain pacar cowok lo?" Gandis bersedekap dada, matanya melirik Dimas.
Pria itu memiringkan kepalanya, rasanya Gandis ingin menempeleng wajah imut Dimas "Pacar cowok? Lo kira gue Hom*!"
"Ntar malem." jawab Dimas
"Ha? apa?"
"Aryan baru datang nanti malam, dia ada jadwal operasi soalnya sekarang." jawab Dimas, Gandis menyipitkan matanya dengan tatapan curiga "Tidak usah mikir yang enggak enggak lo!"
Gandis tertawa dia kemudian beralih ke wanita yang dari tadi hanya memperhatikan mereka, dia memperhatikan wajah lembut dengan mata sendu itu. Siapapun yang di tatapnya merasa teduh, bahkan Gandis sebagai perempuan pun merasa iri.
Sial, cakep banget!
Ingin rasanya dia meneriakkan itu, tapi ya sudahlah setiap perempuan ada porsi cantik masing masing. Dia melirik Dimas yang kembali terdiam, benar benar orang yang selalu di kelilingi cewek cakep jadi punya istri cantikpun dia biasa saja.
"Yang sabar sabar ya ngadepin Dimas!" Gandis berkata dengan nada penuh drama.
__ADS_1
"Memang gue kenapa?" Dimas berkata karena sedikit tersinggung, tapi tatapannya masih menuju ponsel.
"Lihat! Ini yang gue maksud! Dia itu tidak bisa merhatiin orang! Oh betapa malang nasibmu nak!" Gandis memegang dadanya seakan benar terluka.
Pffftt...
Istri Dimas yang sedari tadi tidak ada ekspresi akhirnya tertawa, dia menatap lucu ke arah Gandis. Ah... Alangkah menyenangkannya punya teman seperti ini, dia merasa iri dengan Dimas.
Gandis mengulurkan tangannya "Gue Gandis."
"Aku Agatha."
"Wow... Nama yang cantik, seperti yang punya nama." Gandis mengedipkan matanya sebelah membuat Agatha tersenyum.
"Lo kayak om om pedo!" cetuk Dimas yang merasa geli dengan temannya sendiri.
"Gue cewek!" serunya tidak terima, tapi Dimas malah membuang muka "Tenang aja Dim, meskipun gue cewek berwajah oppa oppa, gue masih doyan cowok kok enggak bakal godain bini lo. Tapi kalau dia tertarik jangan salahkan wajahku yah..."
Setelah puas merecoki pengantin baru, Gandis pamit pulang. Dia keluar bersamaan dengan tim MUA, meninggalkan pengantin baru berduaan di kamar mereka.
Sepeninggal mereka kamar jadi semakin sunyi, terlebih Dimas benar benar hanya fokus pada hpnya, dia tidak tahu kenapa seperti itu.
Agatha menghela nafas, dia meninggalkan kursi rias dan berpindah duduk di kasur. Menarik laci samping ranjang dan mengeluarkan ponselnya dari sana, siapa tahu ada pekerjaannya yang terbengkalai.
"Kamu punya teman yang menyenangkan," Dimas menatap punggung Agatha yang membelakanginya, dia tidak menyangka saja gadis itu mau bicara "Aku iri."
Dimas mengalihkan perhatiannya, dia termenung sejanak. Memang benar dia punya teman teman yang menyenangkan, bukan hanya teman sekelas tapi teman yang lain juga.
Ya... Dia sangat mensyukuri itu.
"Maaf!" lirih Agatha lagi.
"Untuk?"
"Karena aku, kamu tidak akan bersama pacar kamu."
__ADS_1
"Saya juga." hanya itu kalimat Dimas, jujur dia juga merasa bersalah pada gadis itu.
Ini bukan kehendak mereka.