
Aryan membuka pintu mobilnya, membiarkan Ryan turun dari mobil. Remaja itu menatap sekelilingnya, dia menebak kalau Aryan itu orang berada tapi tidak sekaya yang dia lihat sekarang.
Sebuah rumah berlantai tiga, halaman sangat luas dan bahkan ada kolam renang. Tamannya terlihat sangat besar tapi bunga bunganya terlihat layu, di tengah bunga bunga itu terdapat air mancur.
Ryan melihat Aryan yang menurunkan tas dari bagasi mobilnya, dokter itu benar benar kaya dia tidak menyangka. Pantas saja dia bisa mengangkat anak orang lain tanpa pikir panjang, kalau seperti ini Ryan yang menjadi tidak enak.
Bagaimana dia bisa membalas dokter itu?
"Apa yang kamu tunggu, masuk sana!" suruh Aryan tapi Ryan tetap tak bergeming.
Aryan mewajarkan itu, dia menyerahkan tas pakaian anak itu dan berjalan lebih dulu. Saat dia membuka pintu, sebuah pelukan kecil langsung menerjangnya.
"Papa!!"
"Om Ya!"
Dua makhluk kecil memeluknya erat, Aryan meletakkan dua tas yang dia bawa dan menggapai dua gadis kecil kesayangannya saat ini. Lyra dan Dea tertawa saat Aryan membawanya kepelukannya, mencium kedua pipi keponakannya.
Saat dia mengangkat kepalanya, kedua sepupunya sudah ada di sofa meminum kopi sambil melihatnya. Tidak, tepatnya pada Ryan yang berdiri di belakang Aryan.
Alisa berdiri lebih dulu, dia mendekati anak itu dan menuntunnya masuk. "Menunggu Aryan selesai akan memakan waktu sejam, dia tidak bisa menolak keponakannya."
Ryan melirik ke belakang, Aryan benar benar sudah pindah ke sudut ruangan dimana banyak mainan. Alisa meminta remaja itu duduk bertanya apa dia mau minum sesuatu, tapi Ryan menggelengkan kepalanya karena dia memang tidak ingin minum apapun.
"Aku sudah mendengarnya dari Yaya, apa kamu baik baik saja sekarang?" tanya Alisa.
Melihat sosok Ryan membuat dia mengerti kenapa Aryan mengambilnya, Alisa bisa melihat sosok Aryan dulu dari dirinya. Mungkin Aryan tidak ingin sosok anak ini seperti dia di masa lalu, hidup seenaknya dan hanya melampiaskan amarahnya dengan menghajar orang lain.
"Siapa nama kamu?" giliran Devan yang bertanya. Dia bisa melihat anak itu canggung dan sedikit takut "Kamu akan jadi keluarga kami, kami juga harus tahu kamu."
"Ryan, Eryandi Ravi." jawab Ryan.
Alisa mengangkat alisnya, dia tidak menyangka kalau nama mereka bahkan hampir sama. Aryan benar benar pandai mencari anak, sayangnya tidak pandai mencari pasangan.
"Kamu sekolah di SMA mana?" tanya Devan.
"Saya masih SMP, SMP Neg 1" ucap Ryan, Devan menatap remaja di depannya.
"Berapa umurmu?"
"Tiga belas tahun." jawab Ryan, Devan salah mengira karena anak itu sudah lumayan tinggi.
Pantas saja Aryan menyebutnya anak dibandingkan adik, ternyata dia memang masih anak anak. Tak berselang lama Aryan bergabung dengan mereka, dua ponakan cantiknya sudah asik main sendiri.
"Kamu tidak ke rumah sakit?" Alisa bertanya karena Aryan tampak ogah ogahan bergerak.
"Sedikit lagi" dia melihat Ryan "Kamarnya sudah siapkan?"
__ADS_1
"Sudah, tapi hanya lemari kasur dan meja belajar, selebihnya beli sendiri. Gue tidak tahu apa saja kebutuhan cowok" kata Alisa, Aryan menganggukkan kepalanya. "Kamu sebaiknya istirahat dulu, selebihnya Aryan yang bakal ngurus."
Ryan melihat Aryan, pria itu menganggukkan kepalanya. Alisa memanggil wanita yang dia sewa untuk dipekerjakan di rumah itu, Aryan sudah setuju.
Aryan mengkerutkan keningnya melihat wanita muda yang berjalan ke arah mereka, apa Alisa gila? Dia menatap sepupunya itu kesal, tapi Alisa tidak memperdulikan.
"Liv, tolong antar Ryan ke kamar yang sudah disiapkan tadi."
"Baik bu," dia melihat ke arah Ryan, remaja itu langsung berdiri.
"Lo gila ya?" tanya Aryan begitu dua orang itu tidak terlihat. "Kenapa perempuan sih Lis? Gue bilang kan cowok!"
"Perempuan lebih rapi Ya, lagian gak kasian kamu sama bibi sendirian di dapur? Terima aja kali."
"Gue tidak suka lo yang seenaknya begini."
"Gak mungkin gue pecat dia di hari pertama kerja." Alisa bersungut "Apa salahnya coba? Kalau pun lo tertarik gak masalah."
"Gue tidak bercanda."
Alisa menghela nafas panjang, "Dia tidak menginap di sini, kosannya dekat jadi jangan khawatir."
Setelah itu barulah ekspresi wajah Aryan sedikit enak dilihat, Alisa sangat tahu sepupunya jadi dia tidak mungkin melakukan apa yang tidak di sukainya. Aryan kembali berdiri mengambil kunci mobilnya, dia sudah harus pergi ke rumah sakit.
"Lo mau ninggalin anak itu di hari pertamanya?" tanya Alisa.
******
Miya menghela nafas pasrah begitu tiba di rumah sakit, tadi saat hendak pulang Andin menyeretnya untuk ikut. Salah satu rekan masuk rumah sakit karena kena begal, mereka baru tahu beritanya tadi pagi.
"Ruangannya di mana sih?" tanya Andin pada Miya, gadis itu hanya mengedikkan bahu.
Andin menoleh ke belakang dimana Griffin berada, kepala staff mereka itu juga hanya mengikut dari tadi.
"Pak, tanyain dong Pak!" ucap Andin tersenyum manis, Griffin menghela nafas tapi tetap menuju resepsionis untuk bertanya.
Karena yang masuk rumah sakit itu salah satu staff di divisi mereka, jadi hanya mereka bertiga saja yang datang. Setelah mendapat dimana temannya di rawat, mereka langsung menuju ruangan itu.
"Permisi!" ucap mereka sebelum masuk ke dalam ruangan.
Mereka langsung di sambut oleh ibu pasien, Griffin sebagai atasan mereka yang memberi parsel. Mereka Andin dan Griffin duduk sementara Miya memilih berdiri, dia menatap rekannya yang masih memejamkan matanya.
"ini bagaimana kejadiannya, bu?" Andin bertanya setelah lama basa basi.
Raut wanita itu berubah jadi sendu, "Ibu juga tidak tahu pasti, tapi menurut saksi katanya Alwan menolak menyerahkan motor, mungkin karena terdesak karena beberapa warga datang, pelakunya langsung menusuk dengan belati."
Miya melirik ke sisi perut Alwan yang diperban, sepertinya parah karena sampai sekarang belum sadar. Miya menghela nafas panjang, dia jadi semakin enggan untuk keluar.
__ADS_1
"Sore!" Mereka semua menoleh ke arah pintu, seorang suster masuk di susul dokternya.
Ah, Miya harusnya tidak kaget lagi melihat Aryan. Tapi saat Miya santai saja, justru Andin yang sibuk memukul lengannya.
"Waktunya periksa ya sus?" tanya Ibu Alwan.
"Iya, Bu." dia menoleh ke Aryan "Dok silahkan."
"Aduh, sakit!" ringis Miya pelan, dia melotot ke arah Andin kesal.
"Dia teman lo kan?" bisik Andin, Miya hanya mengangguk "Kenalin ke gue dong!"
Miya tidak menyanggupi, dia melihat bagaimana Aryan dan suster itu memeriksa teman mereka. Kapan terakhir kali dia melihat Aryan seserius itu? Dia terbiasa dengan wajah menyebalkannya.
"Apa pria seperti itu tipemu?" tanya Griffin berbisik, Miya langsung menjauhkan diri karena terkejut.
"Tidak juga!" jawabnya.
"Anak saya kapan bangunnya dok?" tanya Ibu Alwan.
Aryan menyerahkan catatan medis ke suster pendampingnya, "Untuk itu kami tidak bisa memastikannya, tapi dia sudah melewati masa kritis itu yang melegakan."
"Separah itu?" Miya bertanya, Aryan menatapnya dan mengangguk.
"Yang tertusuk itu bagian vitalnya, bersyukur dia dilarikan ke rumah sakit tepat waktu. Terlambat sedikit bisa tidak tertolong." jelas Aryan, Miya mengangguk mengerti.
"Bagaimana dengan pelakunya tante?" tanya Andin, "Sudah di tangkap kah?"
"Sudah, tapi pelakunya di bawah umur. Jadi tidak akan di tahan lama." wanita itu tertunduk.
"Kalau saja pak Juan masih ngajar." gumam Miya, dia menghela nafas.
"lo ngomong sesuatu?" tanya Andin, Miya menggelengkan kepalanya.
"Pak Juan kembali mengajar," Miya spontan melihat Aryan "Tapi bukan di TuBas lagi."
Dia melihat jam di tangannya, merasa masih banyak kerjaan dia pamit lebih dulu.
"Yan!"
"Hm?" Aryan yang di pintu menoleh.
"Lo datangkan?" tanya Miya, Aryan diam sebentar sebelum tersenyum dan keluar.
Plak!
"Aduh!" Miya menggosok lengannya yang di pukul Andin
__ADS_1
"Gila! Ganteng begitu bisanya lo ngak pacarin Na, tukaran tempat sama gue sini!" Andin rasanya ingin memakan temannya itu sekarang juga "Mana cool banget, kayak cowok cowok Novel."