
Aryan memarkirkan mobilnya di sebuah pekarangan rumah, dia kemudian meminta Miya dan Ryan yang kebetulan ikut untuk keluar dari mobil. Miya maupun Aryan mengikutinya, meski mereka berdua hanya bisa saling tukar pandang karena bingung.
Di depan mereka ada rumah dengan dua lantai, tidak besar tapi tidak kecil juga. Pekarangannya cukup luas, bagi yang hobi tanam bunga pasti akan suka. Tambah pekarangan dikelilingi tembok tinggi, bisa dijamin keamanannya.
"Rumah siapa?" Miya yang sudah tidak sabaran akhirnya bertanya juga.
Aryan tidak langsung menjawab, dia mengeluarkan kunci terlebih dahulu. "Calon rumah kita."
Miya dan Ryan kembali saling menatap, tapi tak lama Miya langsung mengerti. Dia langsung mengikuti Aryan yang sudah berhasil membuka pintu, Ryan pun hanya mengikuti meski masih bingung.
Lalu rumah yang dia tempati sekarang bagaimana nantinya?
Begitu masuk mereka di suguhi ruang tamu, masih kosong tapi yang pastinya itu ruang tamu. Di sudut ada tangga yang menuju lantai atas. Tapi sebelum ke lantai atas, mereka menyusuri lantai pertama.
Lantai bawah terdiri dari ruang tamu, dapur, kamar mandi dapur dan dua kamar. Satu kamar di samping tangga, sedangkan kamar lainnya masih ada di area perdapuran, sepertinya di khususkan untuk orang yang bantu bantu di rumah. Kamar samping tangga sudah di lengkapi dengan kamar mandi, sehingga yang tinggal di sana nanti tidak kerepotan saat hendak ke kamar mandi.
"Ini nanti jadi kamar tamu saja." ucap Aryan yang kemudian menuntun ke lantai dua.
Di lantai dua terdapat tiga kamar, satu ruangan yang legah dan sepertinya cocok jadi ruang keluarga. Di samping itu juga ada balkon, di sana juga nyaman untuk istirahat atau minum teh bersama.
Aryan membuka kamar satu persatu, semuanya masih sangat kosong. Aryan sengaja memilih seperti ini, karena dia ingin mereka mengisinya sendiri.
Rumah ini memang jauh lebih kecil dari rumah yang Aryan tempati sekarang, tapi sepertinya tempat ini lebih sedikit nyaman. Sebenarnya ini rumah pilihan kedua, masih ada satu pilihan lagi yang rumahnya lebih besar. Karena akan di tempati bersama, jadi dia harus meminta pendapat Miya dan Ryan juga.
Ah, sebenarnya beberapa hari yang lalu, keluarga Aryan sudah bertandang ke rumah Miya. Mereka sekarang sedang mempersiapkan pernikahan, tidak semua mereka yang lakukan karena beberapa hal yang Maminya Miya yang ingin tangani sendiri.
Miya maupun Aryan tidak keberatan akan hal itu, toh mereka juga tidak mengerti semua apa yang perlu di persiapkan. Para orang tua hanya meminta mereka mempersiapkan hal pribadi mereka, seperti tempat tinggal ini contohnya.
Miya berjalan ke arah balkon, sepertinya nanti beralih menjadi teras. "Rumah yang lo tempati nanti tidak terpakai, Yan?"
__ADS_1
"Lo mau tinggal di sana?" tanya Aryan yang memeriksa keadaan tempat itu, soalnya sebelum menempati banyak hal yang harus diperhatikan.
"Gue mah tidak masalah," dia melihat ke arah jalan yang tepat di depan rumah. "Di mana-mana mah gue oke saja, asal bukan di parit."
Aryan terkekeh, "Rumah bokap mau gue sewain, rumah itu terlalu besar soalnya."
Aryan sebenarnya sudah lama ingin pindah, hanya saja dia tidak punya alasan meninggalkan rumah itu. Tinggal lama di sana sebenarnya tidak membuatnya nyaman, dia hampir melihat kenangan singkat di setiap sudut rumah yang yang membuatnya kurang ikhlas melepas orang tuanya.
"Mau lanjut ke tempat selanjutnya?" tanya Aryan, dia sudah mengatakan akan meninjau dua rumah.
Miya menggelengkan kepalanya, "gue kayaknya mau di sini saja, tempatnya strategis. Dekat RS, tempat kerja gue, meski SMP Ryan cukup jauh."
Ryan yang mendengar obrolan mereka sebenarnya tidak masalah, toh setiap hari dia selalu diantar oleh supir ke sekolah. Jarak dari tempat ini ke sekolahnya juga tidak sejauh itu, dulu saat tinggal dengan neneknya bahkan lebih jauh.
Terkadang dua orang itu terlalu berlebihan.
"Ray!" Ryan menoleh saat Miya memanggilnya, dia tampaknya sudah biasa dengan panggilan itu. "Kamu bisa mengendarai motor?"
Jadi bagaimana bisa dia belajar mengendarai sepeda motor.
"Mau aku ajari?" tanya Miya antusias.
"Tidak!" bukan Ryan yang menjawab, tapi Aryan. "Dia masih tiga belas tahun, biarkan dia belajar setelah lima belas tahun. Saat tujuh belas tahun dia bisa membawanya ke mana pun dia suka."
Aryan tidak hanya mengajarinya mengendarai motor saat waktunya tiba, dia berencana mengajarkan cara menjalankan mobil juga.
Aryan kemudian berjalan ke area kamar, dia masih harus memeriksa beberapa tempat. Ryan terkejut saat pundaknya di tepuk, Miya menyengir dan berbisik.
"Aryan sangat kaku, jadi aku akan mengajarimu secara diam-diam."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Miya melesat meninggalkan Ryan berdiri sendiri di tengah ruangan. Dia sebenarnya masih kebingungan dengan kehangatan keluarga seperti ini, dia masih tidak tahu cara menanggapinya.
"Ray, catat apa apa saja yang kamu butuhkan, kita akan mencarinya nanti." terdengar suara Miya dari dalam kamar, tak lama suara protesan Aryan terdengar.
"toa banget sih, Lo!"
Ryan membalikkan badannya, dia berjalan ke arah calon kamarnya. Untuk ukuran rumah yang katanya sederhana, kamar Ryan cukup besar.
Sebenarnya dari dulu sekali, tidak sekalipun dia memimpikan punya kamar sendiri. Tapi semenjak dia diasuh oleh Aryan, dia selalu memiliki kamarnya sendiri.
Dia cukup tahu diri untuk tidak mengharapkan lebih, kasur, meja belajar dan tempat pakaian, dia pikir itu sudah cukup. Meskipun dia tinggal dengan orang yang sangat kaya, Ryan tidak menginginkan apa apa lagi.
"Sedang apa?"
Ryan terkejut dan langsung menoleh, Aryan sudah bersandar di kusen pintu.
"Rumahnya masih belum di doain, jangan melamun nanti kamu kesambet." ucap Aryan lagi.
"Kalian ngapain?" suara Miya terdengar, "buruan, masih banyak yang mau di urus."
"iya tau, bawel lo toa!" Aryan membalasnya, dia kemudian menatap Ryan lagi. "Sudah dengar kan? Ayo, sebelum dia tambah berisik."
Ryan mengangkat sudut bibirnya saat Aryan membalikkan badannya, sepertinya rumah akan ramai ke depannya. Dia sekali lagi melihat calon kamarnya, sebelum berbalik menyusul Aryan yang berjalan ke arah Miya.
"Buru buru banget, mau ngapain?" tanya Aryan saat jaraknya sudah dekat dengan Miya.
"Lo mau tinggal di rumah kosong gitu? Cari furniture lah." dumel Miya. "Enggak usah banyak tanya, ikut saja!"
Aryan menghela nafas panjang, kalau tau bakal belanja dia tidak bakal mengambil cuti. Sementara Aryan misuh misuh, Ryan berjalan menyusul Miya yang sudah keluar dari rumah.
__ADS_1
Setelah melihat rumah, Miya langsung ingin mengisinya. Meski pernikahan masih ada sebulan lagi, tapi dia ingin tempat yang kelak ditinggalinya lengkap.