Viola

Viola
13


__ADS_3

Awan dan Vio menuju tempat membeli sekuter matic dengan mengendarai mobil dengan memakan waktu kurang lebih 35 menit. Dengan menggandeng tangan putrinya, Awan menuju resepsionis.


"Permisi Nona, Apakah Pak Devantara ada di tempat???".


" Ada, Tuan. Apakah anda sudah membuat janji???".


"Tolong sampaikan padanya bahwa saya, Awan datang ingin menemuinya!!".


" Baik, Pak!!!. Mohon anda menunggu di kursi tunggu sebelah sana!!". Ujar Nona Resepsionis dengan sangat sopan.


"Baik, Nona!!. Terimakasih!!!".


Beberapa saat menunggu, datanglah seorang yang seumuran dengan Awan menyapa.


" Hei, Bro!!!". Seseorang itu mengagetkan Awan.


"Wahh, tambah keren dan semakin sukses ini sepertinya???". Awan menanggapi.


" Hahahaa bisa ajah kamu, Wan!!!".


"Kenyataannya, Bro!!!".


" Ada perlu apakah gerangan, Bos Properti seperdi anda sudi mengunjungi toko kecil seperti ini???". Devan bergurau.


"Hahahaha bisa kamu!!". Awan dan Devan tertawa terbahak bahak, Sedangkan Vio hanya tersenyum melihat keakraban mereka.


" Ada apa ini tumben kamu kemari, dan... siapakah si cantik ini???. Apakah Dia calon istrimu???". Devan menatap si cantik yang duduk di dekat Awan.


"Ngawur kamu, Dev!!!".


" Lahhh ters siapa???".


"Dia ini putriku. Cantik kan???, seperti Ibunya!!!".


" Hahaha iya bener. Kirain dia calon istri kamu!!!". Devan mengiyakan pernyataan Awan.


"Inikah Shasha, yang dulu suka merengek bila meminta es krim itu???. Wahhh udah besar ya kamu????".


" Dia bukan Shasha, Dev!!!". Awan menyanggah.


"Perkenalkan, Saya Viola. Paman!!!". Vio memperkenalkan diri nya sambil tersenyum.


Devan menatap heran Awan.


" Nggak usah heran begitu, Bro. Dia itu Viola anak bungsuku!!!".


"Hahhh??? bagaimana bisa????? bukankah Sari meninggal saat melahirkan Shasha belasan tahun yang lalu???". Devan semakin bingung.


"Dia adalah putri bungsuku, bawaan dari istriku dan mantan suaminya dulu!!!". Awan menjelaskan dengan senyum di wajahnya.


" Kamu sudah menikah lagi???, Kapan???".


"Sudah lama 1 tahun lahh, kurang dikit!!!".


" Kok nggak sampai sini undangannya???".


" Ahhh kami sudah sama sama pernah menikah, jadi tidak perlu lah buat pesta yang megah. Cukup di Gereja saja!!". Awan menjelaskan.


"Pasti Istrimu sangat cantik, ya???. Buktinya saja putrinya sangat cantik dan manis seperti itu!!!".


" Iya dong, tentu!!!".


Vio yang mendengarkan ocehan mereka berdua, hanya mengulas senyuman di wajahnya tanpa henti.


"Seriusan ini, ada perlu apa kamu datang kesini???". Devan memasang wajah seriusnya.


" Jadi gini, Dev. Putriku ingin membeli sekuter matic!!".


"Ohhh... Kamu mau membeli yang tipe apa, cantik???".


"Saya ingin membeli sekuter matic Bit kalau nggak ya Pario, Paman!!". Vio mengutarakan keinginannya.


" Baik, ikuti saya!!!". Devan bangkit berdiri dan melangkah menuju tempat Sekuter matic koleksi dealernya di pajang.


Sesampainya di tempat yang di tuju,


"Silahkan kamu pilih, Ini adalah koleksi terbaik di tempat ini, Sebelah sana untuk Bit dan di sebalah sini untuk Pario. Ke sana juga boleh, terdapat beberapa Sekupi dan Jenio. Pilihlah yang kamu sukai, Paman akan memberikan harga khusus untukmu!!!". Devan menunjuk ke arah beberapa kelompok sekuter matic yang ada di tempat itu.


" Iya, Paman. Terimakasih!!!". Vio menjawab.


"Sayang, Ayah dan Paman Devan menunggu di sebelah sana, ya!!!. Kamu kalau sudah menemukan yang sesuai, beritahu Ayah!!!".


" Iya, Ayah!!!".


"Lusi, kemari!!!". Devan memanggil salah satu pegawainya.


" Iya, Tuan!!!". Lusi bergegas menuju tempat bossnya berada.

__ADS_1


"Dia Vio, putri dari sahabatku!!. Bantu Ia untuk memilih sekuter matic!!". Devan memberikan perintah kepada pegawainya.


" Baik, Tuan!!!".


"Nona, mari ikuti saya!!!". Lusi mengajak Vio untuk melihat koleksi sekuter matic.


" Iya, Kak. Terimakasih!!". Vio membalas dengan senyuman.


________________


"Nona silahkan, ini adalah katalog dari produk yang kami pasarkan!!!". Lusi menyodorkan map berisi list produk yang tersedia di tempat itu.


" Terima kasih, Kak!!". Vio menerima katalog itu sambil sesekali memandang jejeran sekuter matic yang berada di depannya.


"Apa semua di sini menyediakan barang terbaru, Kak???".


" Tentu saja, Nona. Dealer kami menyesuaikan kebutuhan pasar, dan tipe setiap produk yang kami pasarkan selalu mengikuti tren terbaru, Nona!!!". Lusi menjelaskan dengan senyum yang merekah. Gambaran bonus penjualan yang akan ia dapatkan sudah pasti di depan matanya.


"Kak, Bit Street itu yang mana???".


" Ohh, Bit Street. Sebelah sini kak!!!. Mari!!!".


Vio mengikuti langkah Lusi.


Lusi langsung menunjukan barang yang di maksud Vio tadi.


"Yang ini Bit Street, Nona. Ini hanya contoh. Untuk pemilihan warnanya Nona bisa melihat di katalog nya!!".


" Tujuh belas juta lebih dikit". Vio bergumam dalam hati.


"Biasanya anak muda seperti Nona selalu mencari sekuter matic tipe Bit, Jenio atau Sekupi, Nona. Terkesan feminim dan manis untuk pengendara anak muda perempuan!!!". Lusi mencoba memasarkan.


Vio masih berkeliling sambil sesekali melihat katalog untuk setiap item yang di sentuhnya.


" *Jenio 18 juta".


"Sekupi 21 juta*". Vio berkata dalam hatinya.


" Hmm maaf, Kak. Bisakah Kakak menunggu disini???. Saya akan menemui Ayah saya terlebih dahulu!!".


"Baik, Kak. Dengan senang hati saya menunggu Kakak di sini!!". Senyum merekah terlihat jelas di wajah Lusi.


________________


" Gimana sayang, udah nemu yang cocok belum????". Awan menegur Vio yang mendekat ke arahnya sambil membawa katalog di tangannya.


"Ayah, lihat ini. Uangku sangat jauh untuk harga ini!!!". Vio menunjukan gambar beberapa tipe sekuter matic di katalog.


" Tapi, Ayah. Aku ingin yang setengah pakai saja!!!.".


"Gimana, Nak???. Ada yang cocok di hatimu???". Devan menimbrung Awan dan Vio yang baru berdiskusi.


" Mmmmm... ehhh .. gini, hmmm.... maksudku, ee gimana ya???. Ayah???". Vio bingung untuk menanyakan pada Devan tentang sekuter matic setengah pakai.


"Iya???. Gimana gimana???". Devan mendekat ke arah Vio.


" Gini, Dev. Putriku menyukai semuanya. Tapi, Dia ingin yang setengah pakai saja. Bukan yang baru!!!". Awan menjelaskan maksud dari putrinya.


"Haahhh???". Devan melongo mendengar perkataan dan maksud dari Awan.


" Ada nggak disini yang barang setengah pakai, Dev????". Awan mengulangi pertanyaannya.


"Tipe apa yang kamu inginkan, Nak????". Devan bertanya pada Vio.


" Bit , kalau nggak Sekupi, Paman!!". Vio menjawab tanpa ragu.


"Bit yang setengah pakai tipe Fi tahun 2018 harganya 12 juta, sedangkan Bit Street tahun 2019 13 juta. Mendingan yang baru, Nak. Selisihnya nggak jauh!!!. Kamu akan saya kasih harga Pabrik. Jadi, berbeda dari yang ada di katalog itu". Devan memberi masukan.


" Ambillah mana yang kamu inginkan yang berada di katalog itu, Sayang!!!. Bila uang yang kamu kumpulkan masih kurang, Ayah akan menggenapinya!!!. Lihatlah harganya tidak jauh berbeda. Barang bekas kadang kita tertipu dengan barang rongsokan yang membutuhkan biaya servis lebih mahal. Daripada nanti kamu kecewa!!". Awan lagi lagi membujuk Vio.


"Tapi, Ayah????. Uangku hanya 17 juta. Dan aku harus mengurus surat ijin mengemudi. Aku tidak tega menghabiskan uang pemberian Ibu!!!". Vio masih kekeuh dengan pendiriannya.


" Nak, dengarkan Ayah!!!. Jangan anggap Ayahmu ini sebagai orang lain!!!". Awan menyentuh kedua bahu putrinya.


Devan sedikit tersentuh dengan pola pemikiran Vio.


Vio menghela nafas sebentar.


"Aku ingin Bit Street, Ayah. Yang ini!!". Vio menunjukan gambar di katalog yang tertera nominal 17 juta lebih beberapa ratus ribu rupiah.


" Baik. Kita kesana sekarang!!!". Awan bangkit dari duduknya dan menuju ketempat Lusi berdiri.


"Apakah sudah di putuskan, Tuan???". Lusi bertanya dengan sopan.


" Urus surat suratnya untuk Sekuter matic yang ini, Lus!!". Devan memberikan perintah.


"Baik, Tuan!!!". Lusi berlalu dengan semangat.

__ADS_1


Setelah Lusi berlalu,


" Harga pasaran sekuter matic ini adalah 17 juta, maka akan aku beri harga diskon spesial yaitu seharga 13 juta saja. Khusus untuk putri sahabatku yang cantik dan manis ini!!!". Perkataan Devan membuat senyum merekah di wajah Vio.


"Kamu nggak rugi, Dev??? Sedangkan harga dari pabriknya saja lebih dari itu!!". Awan sedikit memprotes kebaikan hati sahabatnya itu.


" Sesekali ngggak bakalan rugi, Wan!!!". Devan menjawab sambil tersenyum.


"Terimakasih, Paman!!". Vio sangat senang.


" Sama sama, Nak!!!". Devan mengacak rambut Vio.


Beberapa saat kemudian, Lusi datang untuk meminta identitas pembeli guna melengkapi berkas penjualan dan perlengkapan lainnya.


"Mohon saya pinjam identitas dirinya, Tuan!!". Kata Lusi.


" Langsung atas nama putri saya saja, Nona!!".


Vio menyerahkan Kartu pelajarnya.


"Atas nama Viola Aristi Devana???".


" Iya, Kak!!". Jawab Vio.


"Alamat rumahnya sudah sesuai ya, Nona????".


" Iya, Kak!!!".


"Baik, tunggu sebentar ya, Tuan dan Nona. Saya akan print kan surat jalannya terlebih dahulu!!!".


" Iya, Nona!!". Jawab Awan singkat.


Lusi berlalu menuju ruang kerjanya.


"Paman, ini uangnya. Silahkan Paman hitung terlebih dahulu!!". Vio memberikan 130 lembar uang pecahan 100 ribuan kepada Devan.


" Paman percaya sama kamu, Cantik!!". Devan menerima uang dari Vio lalu memasukannya kekantong jas kerjanya tanpa menghitung ulang.


"Terimakasih, Paman!!".


" Sama sama, Cantik!!!".


Beberapa menit kemudian, Lusi datang bersama berkas berkasnya.


"Silahkan anda tanda tangan di sini, Nona!!".


.......


" Lalu disini!!!".


.......


"Di sini!!!".


.....


" Dan terakhir di sini!!!".


.......


"Terimakasih!!". Lusi menyatukan kertas dokumen yang baru saja selesai di tanda tangani oleh Vio.


" Uang pembayarannya sudah saya pegang, Kamu tinggal urus pengirimannya. Hari ini harus sampai ke alamatnya!!". Devan memerintah Lusi.


"Iya, Tuan!!!".


" Terimakasih, Kak!!". Ucap Vio.


"Sama sama, Nona!!!". Lusi menjawab lalu pergi.


" Baik, aku dan putriku langsung pamit ya, Dev!!". Awan berpamitan dengan sahabatnya itu.


"Iya, terimakasih sudah mau berkunjung!!. Hati hati di jalan dan sampai jumpa lagi!!!". Devan menanggapi.


" Terimakasih, Paman!!". Vio mencium tangan Devan.


"Sama sama, Cantik. Sampai ketemu lagi!!!". Devan mengacak rambut Vio lagi.


____________________


" Mengapa aku merasakan sesuatu yang sulit diartikan oleh akal sehatku saat Gadis kecil itu mencium tanganku???".


"Terus mengapa wajahnya begitu familiar???. Tapi mirip dengan siapa???".


" Sikap dan sifatnya kenapa aku merasa sering bertemu???".


Devan bergumam saat Ia memasuki ruang kerjanya setelah Awan dan Vio berlalu.

__ADS_1


___________________


...****************...


__ADS_2