Viola

Viola
27


__ADS_3

Hoaaaahhemm..... Viola menguap tanda masih ada rasa kantuk yang melingkupinya.


"Iya!!!". Viola membuka pintu kamarnya dan di lihatnya Rani berdiri di hadapannya.


" Rani?????, Jam berapa ini???". Vio menengok ke arah jam dinding.


"Jangan banyak tanya. Aku di usir dari rumahku sendiri oleh kekasihmu itu!!!".


" Bagaimana kau bisa masuk????".


"Huuuhhh... cukup beberapa lembar uang, maka satpam di depan itu baru mau membukakan pintu". Rani berbaring di kasur Vio.


"Geser sedikit!!!!. Aku juga mau tidur lagi!!!". Vio merebahkan tubuhnya kembali di kasur empuknya.


" Kekasihmu memang sudah gila, dia datang di malam hari seperti pencuri lalu mengusirku di pagi buta".


"Hmmmmmmmm yaaaaaaa heeeeeeee eeeeee!!". Vio malah kembali tenggelam ke alam bawah sadarnya.


" Dasar.... Untung sahabat!!!". Rani kemudian tertidur pulas di samping Vio.


________________


Matahari sudah memperlihatkan sebagian kecil cahayanya. Menyapa para pejuang pagi dengan segala akivitasnya. Waktu telah menunjukan pukul 05.03, Viola bergegas membersihkan diri lalu menghias diri karena Ia telah tidak sabar untuk bertemu kekasih hatinya itu.


A-line dress dengan model pendek warna peach dan jepit rambut warna senada yang menghiasi rambutnya yang terurai, serta polesan make up tipis dan natural yang menambah kecantikan pada diri Viola.


"Vio??". Rani yang baru bangun dari tidurnya langsung mengerjapkan matanya, terpukau dengan kecantikan Viola yang memang sangat sempurna.


" Berangkat sekarang atau nanti???". Vio sudah siap dengan slingbag di bahunya serta flatshoes di kaki jenjangnya.


"Tunggu. Aku mandi dulu, dan pinjami aku beberapa pakaianmu. Nanti aku ganti!!". Rani bergegas menuju kamar mandi. Sedangkan Vio memilihkan beberapa stel pakaian yang masih baru untuk Rani.


Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari kamar Vio. Tepat di saat mereka hendak menginjakkan kakinya di luar kamar.....


" Kamu????". Shasha kaget yang melihat Rani keluar dari kamar Vio.


"Ngapain kamu di sini????". Seru Luna yang sudah berdiri di belakang Shasha.


" Aku menjemput Vi, maksudku Ivy. Dia temanku. Dan mengapa kalian ada di sini?????". Rani menunjuk ke arah dua gadis di depannya.


"Dia saudari tiriku, Ran!!!". Vio menyentuh bahu Rani dan Rani hanya diam tidak bertanya apapun.


"Kamu mau kemana, Dek????". Shasha menatap Vio curiga.


" Aku mau ada acara bersama Maharani, Kak. Ada acara kecil kecilan di sana nanti!!". Vio menjawab pertanyaan Kakak tirinya.


"Sepagi ini???". Shasha memecingkan matanya, curiga.


" Iya!!". Rani meyahut.


"Dimana???".

__ADS_1


" Di tempat yang jauh dari jangkauan kamu!!". Jawab Rani ketus.


"Baik, Kak. Aku pergi dulu. Aku juga sudah ijin ke Ibu dan Ayah bila aku pulangnya mungkin sedikit larut!!". Vio melangkahkan kakinya dah di ikuti Rani di belakangnya, tanpa lupa untuk mengunci pintu kamarnya.


__________________


Di sepanjang perjalanan, Rani melajukan kendaraan dengan diam. Ada banyak pertanyaan yang hinggap di kepalanya. Namun, akan Ia tanyakan nanti saja. Dengan kecepatan konstan 40 kilometer perjam, Rani membelah jalan kota yang masih terbilang sepi. Setelah hampir setengah perjalanan, nampak dari spion kaca mobilnya, bahwa ada satu kendaraan yang mengikutinya.


"Vi, dari tadi mobil warna merah di belakang kayak ngikutin kita deh???". Perkataan Rani membuat Vio menoleh ke belakang. Dan memang benar, sepertinya mereka diikuti.


" Ran, itu seperti mobil Kak Shasha!!!". Vio mengingat bahwa mobil Shasha mempunyai plat nomor dengan inisial nama.


"Buat apa coba dia ngikutin kita???".


" Mungkin curiga. Dia pernah berpapasan dengan Kak Andi waktu itu. Dan kemarin dia kamu skakmat. Mungkin ini berhubungan dengan Kak Andi!!". Vio menyimpulkan sepihak.


"Oke, kita kerjain mereka!!. Hitung hitung aku bales perbuatan dia kemarin". Terbesit ide konyol di otak Rani.


" Siniin telinga kamu!!". Rani membisikan idenya.


"Haahhh???. Kamu yakin???".


" Yakinlah... Kamu ambil paper bag di belakang kamu. Itu sandal. Sekarang copot sepatu kamu lalu pakai itu sendal!!!!. Kebetulan aku juga pakai sendal ini. Kalau sudah, slingbagmu kamu taruh aja di sini". Rani memberikan intruksinya.


"Bentar. Aku telepon Kak Andi, biar dia nggak ngedumel kalau kita telat datangnya!!". Rani melanjutkan kata katanya.


Pada dering ke tiga, telepon sudah tersambung.


" Halo, Kak!!. Ini sedikit ada lalat pengganggu. Sepertinya aku dan Vio akan sedikit terlambat!!". Rani nyerocos.


" Yang jelas ini kami sudah di perjalanan, tapi ada lalat pengganggu. Ah sudahlah nanti aku ceritakan!!". Rani memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.


_______________


Rani melajukan mobilnya hingga sampai pada tempat umum yang ramai akan orang orang dan sedikit kumuh. Pasar tradisional. Rani memarkirkan kendaraannya di tempat yang cukup strategis untuk melarikan diri. Menunggu di luar mobilnya sambil menunggu apakah Shasha dan kedua temannya mengikutinya atau tidak. Dirasa Shasha juga turun dari mobilnya, Rani menggandeng Vio untuk melangkah perlahan sambil sesekali menengok ke belakang. Bagus!!!!. Shasha dan kedua temannya terlihat mengikutinya hingga masuk kedalam tempat itu. Seringaian terlihat jelas di wajah Rani. Langkah mereka berdua dari perlahan lahan, kemudian lama lama menjadi sedikit cepat. Berlari di tengah keramaian, hingga mereka sampai pada pintu di salah satu sisi pasar. Mereka berlari menuju mobil mereka yang terparkir.


Akhirnya, Sampai juga mereka pada mobil Rani. Dengan nafas yang ngosngosan dan keringat bercucuran, mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Rani.


__________________


"Haahhhh haaaahhhh haaaaahhhhh.... Rasain itu cewek ganjen!!". Rani bangga, rencananya sukses.


" Huuuuhhhhh huuuhhh huuuhhhh, capek. Aduhh kotor semua baju aku!!!". Vio melihat kembali penampilannya yang terlihat berantakan. Rambut yang kusut dan keringat bercucuran.


"Aduhhh... gimana ini???". Rani ternyata tidak memikirkan konsekuensi dari rencananya itu.


" Gimana ya???". Vio terlihat tidak percaya diri dengan penampilannya itu.


"Mall belum ada yang buka jam segini. Apalagi butik!!". Rani panik setengah mati.


"Putar balik ke rumah. Aku yakin Kak Shasha masih berputar putar di tempat itu. Aku hanya akan mengambil pakaian dan make up serta peralatan mandi!!!". Vio menginterupsi.

__ADS_1


"Tapi, gimana kalau kita malah ketemu mereka????".


" Plan kedua sudah aku pikirkan!!". Vio tersenyum senang.


"Oke!!". Rani memutar arah mobilnya ke arah rumah Vio dengan kecepatan penuh.


___________________


Tidak butuh waktu lama, mereka sampai di Rumah tempat tinggal Vio. Vio berlari mengambil pakaian serta peralatan yang butuhkan lalu memasukannya kedalam paper bag. Untung bagi mereka, Shasha tidak lagi terlihat mengikuti. Setelah mendapatkan apa yang mereka butuhkan, mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka.


Mampir di sebuah SPBU yang menyediakan fasilitas kamar mandi, Vio memperbaiki penampilannya. Mengulang ritual mandinya dan membersihkan rambutnya. Setelah itu Ia keringkan rambutnya dengan hairdryer mini yang ia bawa. Tidak sampai tiga puluh menit, Ia keluar dengan A-line dress potongan pendek berwarna merah serta rambut yang tergerai yang sudah terlihat kering.


"Ayok buruan!!!". Rani membukakan pintu mobilnya.


" Iya, tapi aku belum pakai make up!!".


"Pakai di mobil aja!!. Kekasihmu sudah meneror aku dari tadi!!!".


" Iya!!". Vio hanya menurut apa perkataan Rani.


Limabelas menit kemudian, Mobil Rani memasuki perkarangan rumah mewah bercat putih dengan tinggi tiga lantai itu.


"Pak, buka!!!". Seru Rani memanggil satpam rumahnya.


" Iya, Non!!!". Pak Satpam membuka gerbang rumah itu.


"Ran, aku deg degan!!!!". Vio menyentuh dadanya.


" Hahahaahaa iya iya, percaya percaya yang mau ketemu ayang!!". Rani malah meledek.


"Apaan sih??". Vio menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


" Ayo buruan keluar!!". Rani menarik tangan Vio.


Setelah memasuki rumah itu, Rani tidak mendapati Andi dimanapun. Padahal mobil mewah Andi masih terparkir di garasi rumahnya.


"Kamu tunggu sini, aku cari Kak Andi dulu ke atas!!!". Rani meninggalkan Vio yang duduk di sofa ruang keluarga.


" Iya, Ran!!".


____________________


"Kakakkkkk!!!". Rani berteriak saat mendapati Andi sedang tertidur di ranjang empuk miliknya.


" Hemmmm!!".


"Ada Vio di bawah!!. Dan Kakak malah tidur di sini???". Rani membangunkan Andi dengan kasar.


" Iya iya, kakak juga nggak tidur kok. Cuma merem!!". Andi bergegas masuk ke kamar mandi untuk sekedar mencuci mukanya.


Mereka berdua menuruni anak tangga itu dan mendapati Viola yang masih duduk di sebuah sofa dan membelakangi mereka.

__ADS_1


____________________


...****************...


__ADS_2