Viola

Viola
60


__ADS_3

Mereka telah bersama sama melakukan kewajibannya untuk beribadah di Minggu pagi. Sesampainya di lahan parkir, mereka di kejutkan oleh seseorang yang menyapa mereka.


"Nyonya Rima, Tuan Rendra!!". Suara sesama manusia lanjut usia mengagetkan mereka.


"Nyonya Deswita!!!". Mereka akhirnya saling menyapa.


"Loh Ini toh menantu nya Tuan Devanendra????". Deswita memeluk Vio dengan gaya sok kenal sok dekatnya.


Sebelum ada yang menyanggah perkataan itu,


"Kalian masih muda, kenapa kalian menunda punya momongan???". Cerocos Deswita lagi.


Baru saja Dev ingin menjawab, Deswita menyambung perkataannya lagi.


"Jangan di tunda, kalian masih muda!!!. Tapi bukannya Nak Andika belum lulus sekolah menengah atas ya???. Terus kok nikahan saya yang notabene nya adalah besan Tuan Rendra kok nggak di undang????.


"Maksud Nyonya apa ya????". Kini Rima yang menyela.


"Gini loh Nyonya, kemarin sore yaaa sekitar jam enam lebih dikitlah itu, saya waktu nebus obat suami saya, saya ketemu Nak Andika ini beli pil kontrasepsi pasca berhubungan. Saya sebetulnya ingin menegur mereka, namun sepertinya Nak Andika ini buru buru!!!.


Dev sudah mengeraskan rahangnya. Dan menatap Andika dengan tajam.


Sedangkan Andika bingung mencari kata kata yang tepat untuk dapat di jadikan sebagai alasannya. Dia bingung masa iya, Dia akan menumbalkan adik perempuan satu satunya yang sangat Ia sayangi itu???.


"Andika, mana kunci mobil!!!". Dev menggertak Andi.


Dengan berat hati Andi menyerahkan kunci itu.


"Kalian berdua masuk mobil!!!". Wajah Dev sungguh menyeramkan hingga membuat Vio menunduk takut.


"Ayah, ini kunci mobilku!!!". Dev melemparkan kunci mobilnya kepada Rendra.


Di sepanjang perjalanan Dev hanya diam tidak meminta penjelasan apapun. Namun Ia malah mengotak atik telponnya untuk menghubungi seseorang.


Setelah dering ke tiga, panggilan itu terhubung.


..."Halo dev???". Seseorang menyapanya dari seberang sana....


"Lekaslah ke Mansionku. Ada hal penting!!!". Dev lalu memutuskan sambungan itu secara sepihak.


____________________


Sesampainya disana, Dev masih mendiamkan Andika. Sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya. Andika semakin bingung dengan situasi ini. Apakah dia akan melindungi Rani atau mengatakan yang sejujurnya.


Selang beberapa menit kemudian, Mobil hitam mengkilap yang sepertinya Viola kenal memasuki perkarangan rumah itu dan tidak jauh di belakangnya adalah Rima dan Rendra.


"Ayah???". Vio bergumam. Dia takut. Takut pada sebuah hukuman atas kesalahan yang tidak dia pernah lakukan.


"Selamat pagi Tuan dan Nyonya Rendra!!!". Awan membungkuk hormat pada kedua orang tua Dev.


"Iya Awan. Mari masuk dulu!!!". Rendra mempersilahkan Awan untuk masuk ke mansionnya.


Mereka semua masuk ke dalam Mansion itu. Tanpa terkecuali Andi dan Vio yang sudah seperti tersangka pembunuhan berencana.


"Ekhem... Awan, sahabatku. Sebelum nya aku mohon maaf atas kesalahan putraku pada putrimu!!!. Ini salahku yang terlalu mempercayainya dan kurang mendidiknya!!!". Dev terlihat merasa bersalah.


"Sudahlah, Shasha sudah membaik. Tidak perlu merasa bersalah. Aku sendiri yang memberi putramu ijin untuk memberikan sebuah pelajaran padanya!!!". Jawab Awan yang sebenarnya tidak tahu arah bicara Dev.


"Ini tentang Viola, bukan Shasha!!!". Jawab Dev kemudian.


"Viola??". Awan mengernyit bingung.


"Kamu diam saja, biarkan aku sendiri yang menghajarnya!!!". Dev langsung menghajar Andika yang berada tepat di sampingnya.


Bugh


Bugh


Bugh


Bugh

__ADS_1


Andika hanya diam saja tidak melawan atau mencoba menjelaskan. Sedangkan Vio menangis takut dipelukan Awan.


"Stop!!!. Apa yang sesungguhnya terjadi, Dev?????". Awan bersuara lantang.


"Tanyakan saja padanya langsung!!!". Dev menunjuk ke arah Andi yang terduduk di lantai dalam diam.


"Nak, ada apa ini sebenarnya????". Awan berjongkok mensejajarkan tingginnya dengan Andi yang terduduk di lantai.


Andi hanya diam, tanpa ekspresi sedikit pun.


"Dev, jelaskan!!!. Ada apa ini sebenarnya???????".


"Dia melakukannya, dia menghancurkan masa depan putrimu!!!". Dev menunjuk ke arah putranya.


"Apa maksudmu????". Awan bertanya dengan lembut.


"Dia melakukan perbuatan yang tidak di benarkan oleh hukum apapun. Dia telah mengambil yang belum menjadi haknya!!!". Dev berucap dengan penuh emosi.


"Nak, apa itu benar???". Awan menatap Andi dengan lembut.


"Aku bisa menjelaskan!!". Akhirnya Andika membuka suaranya dengan lirih.


"Apa yang akan kamu jelaskan????. Nyonya Deswita melihatmu kemarin membeli pil kontrasepsi pasca berhubungan!!!". Dev berteriak tepat di wajah Andika.


"Apa maksudnya, Nak????". Awan bertanya dengan lembut tidak ada kemarahan.


"Sungguh. Aku tidak melakukannya!!!". Jawab Andi.


Plakkk


Plakkk


Plakk


Plakk


Dev menampar pipi Andika berulang kali, hingga kedua sudut bibir putranya mengeluarkan darah.


"Baik, kita nikahkan saja mereka. Sudah beres. Soal sekolah, kita bisa rahasiakan!!!". Awan memberikan solusinya.


"Lalu dengan siapa kamu melakukannya???". Tanya Dev dengan geram.


Sebuah tendangan dari Ayahnya mendarat di tubuh Andi hingga tubuhnya terpental dan pelipisnya mengenai kursi kayu yang ada di ruangan itu.


"Kak Andi!!!". Vio menangis histeris lalu menghampiri kekasihnya yang sangat lemah dengan darah di mulut serta pelipisnya.


"Lukas, kendalikan dirimu. Dia putramu!!!". Awan yang memang tahu tentang sisi lain dari sahabatnya itu langsung memeluk tubuh Dev.


"Aku gagal jadi Ayah!!!". Dev menangis mengungkapkan kekecewaannya.


"Kak Andi, bangun Kak!!!". Vio semakin histeris saat melihat kekasihnya memejamkan matanya.


"Apa yang terjadi???, Kak Andika!!!". Rani yang baru tiba ikut histeris saat mendengar teriakan Viola.


"Sekarang kita bawa dia ke Rumah Sakit. Soal pernikahannya dengan putriku kita bahas nanti!!!". Awan mendekati Andi yang tidak sadarkan diri.


"Aku akan memanggil dokter Eva!!!". Rima yang sedari tadi menyaksikan cucu kesayangannya di hajar kini bersuara.


"Kak Andi akan menikah dengan Vio???". Rani menatap Pamannya untuk meminta jawaban.


"Iya!!!". Jawab Dev singkat.


"Sayang, jangan tiru kakakmu ya. Dia melakukan yang belum sepantasnya dia lakukan!!". Rima mengelus rambut hitam cucu perempuannya.


"Maksudnya, Nek???". Rani menatap neneknya.


"Dia melakukan hubungan layaknya suami istri, kemarin dia membeli sebuah pil pasca berhubungan dan Nenek Deswita kebetulan melihatnya!!!".


Degh. Jantung Rani seperti berhenti berdetak.


"Sayang????, Ada apa denganmu????". Rima menangkap raut wajah kaget dari wajah Rani.

__ADS_1


"Ja ja di karena itu Kak Andi sampai babak belur?????". Rani menatap kosong ke arah Andi yang masih memejamkan mata di pangkuan Viola.


"Kak, Ini aku Maharani!!!". Rani menyeka darah yang mengalir di sudut bibir Andi.


Uhuukk hukkk hukkk, Darah segar keluar dari mulut Andi.


"Sayang, kamu dengar aku???". Vio berkata saat melihat kelopak mata Andi bergerak.


Uhhukkk hukk hukk, Andika kembali memutahkan darah dari mulutnya. Dan di saat itulah dokter Eva muncul.


"Bawa Tuan muda ke kamarnya saja, Tuan. Agar dia merasa nyaman!!!". Kata Eva.


"Baik!!!. Dimana kamarnya???". Awan membopong tubuh jangkung Andi.


"Ikuti aku, Paman!!!". Rani menunjukan jalan.


Setelah sampai di kamar Andi, Awan meletakan tubuh Andi dengan sangat hati hati dan membiarkan dokter mengobatinya. Awan kemudian memeluk Vio yang histeris dan membawa putrinya itu untuk keluar.


Beberapa saat kemudian, Dokter Eva muncul dan memberitahukan tentang kondisi Andi.


"Tuan muda sudah membaik, saya sudah memberinya obat penghilang rasa nyeri juga anti infeksi. Luka di pelipisnya juga tidak terlalu parah. Mohon sesekali mengompres luka memarnya. Ini resep obatnya, Tuan!!!". Eva menyerahkan resep obat itu kepada Dev.


"Terima kasih, Dokter. Saya sudah mentrasfer ke rekening dokter!!!". Dev menerima selembar kertas dari tangan Eva.


"Terimakasih Tuan, saya ijin undur diri!!!".


Dev hanya mengangguk.


"Sayang!!!". Vio menangis memeluk Andi yang sudah mulai membuka matanya.


"Sstt jangan menangis, Sayang!!!. Aku baik baik saja!!!". Andi berkata dengan lirih sambil mengelus pipi Vio.


"Florentinus Andika, buktikan janjimu padaku!!!". Awan melangkah mendekati Andi yang terbaring di ranjang.


"Iya, Paman!!".


"Panggil aku, Ayah. Karena kamu akan menikah dengan putriku!!".


"Iya, Ayah!!".


"Besok kita lakukan pemberkatan pernikahan kalian!!!". Awan bersuara dengan sorot mata yang meneduhkan.


"Baik Ayah, bila saya harus menikahi Viola besok. Saya akan lakukan!!!". Andika menyanggupi.


"Apa yang Kakak katakan???. Cukup!!!. Kenapa Kakak mengorbankan diri dan hidup kakak untukku sampai sejauh ini???. Kakak rela di hajar hingga hampir sekarat. Dan besok, Kakak mengorbankan masa muda kakak???". Rani berteriak hingga semua mata tertuju padanya.


"Maharani, apa maksudmu????". Rendra menatap Rani dengan tajam.


"Maharani, diamlah!!!". Andika berkata dengan lirih mengisyaratkan pada Rani untuk diam dan tidak melanjutkan kata katanya.


"Kakak, kakak itu kakak yang sangat baik. Tapi, sudah cukup kakak melindungi aku!!!". Maharani menangis di kaki Andi.


"Maafkan adikmu yang sangat keras kepala ini, Kak!!!". Rani mencium kaki Andika.


"Maharani, sudah. Kamu cukup diam. Besok kakak akan menikah. Kamu tetap adik perempuan kakak yang sangat kakak sayang. Tolong jangan lagi keras kepala. Menurutlah pada kakak!!!". Andi berkata dengan lirih.


"Maharani!!!. Ada apa sebenarnya ini???". Kini Dev yang bersuara.


"Sebenarnya...".


Andi memotong penjelasan Rani.


"Maharani, menurutlah pada kakak untuk kali ini saja!!!".


"Lanjutkan, Nak!!!". Dev bersiap untuk menyimak perkataan yang keluar dari mulut Rani.


"Maharani, menurutlah pada Kakak!!". Kata Andi kembali.


"Kamu diam, atau aku akan menghajarmu kembali dan menarik seluruh fasilitasmu?????". Dev mulai terbawa emosi kembali.


"Jangan hajar Kakak, Paman!!!". Maharani berteriak.

__ADS_1


"Cepat jelaskan apa maksudmu tadi!!!". Dev menatap tajam Anak dari adik kembarnya itu.


Andi menggelengkan kepalanya sambil menatap Rani yang berada di kakinya.


__ADS_2