
Di balkon kamar Andi, Ia hanya mondar mandir mencari jalan keluarnya, sedangkan Vio menatap Andi yang sedang kebingungan.
"Sayang, mengapa kamu sekarang lebih mirip setrika uap???". Vio menyindir Andi.
"Kok jadi setrika uap sih????". Andi berhenti mondar mandir lalu menatap kekasihnya.
"Habis itu, mondar mandir sama keluarin asap!!!".
"Sayang, aku lagi pusing. Ini menyangkut hidup dan mati adikku!!!". Andi mematikan puntung rokok itu lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Maharani???".
"Iya!!!".
"Ada apa dengan Maharani???". Vio tidak mengerti.
"Reyhan dan Maharani melakukan yang belum boleh di lakukan oleh sepasang kekasih yang belum menikah dan mereka tidak main aman!!!". Jawab Andi dengan wajah bingungnya.
"Terus gimana???". Raut wajah bingung juga tercetak di wajah Vio saat mengetahui arah perkataan Andi.
"Itu dia yang gimana itu!!!". Andi masih mondar mandir tidak jelas.
"Kontrasepsi. Menurut materi yang pernah aku baca, bisa mencegah gitu!!".
"Iya, tapi dimana aku belinya???". Andi seperti kehilangan kepintarannya.
"Toko plastik banyak sayang!!!". Vio menahan tawanya.
"Ayo kesana sekarang!!!". Andi meraih kunci mobilnya lalu menarik tangan Vio.
"Kemana???". Vio bertanya.
"Toko plastik, sayang. Ayo.. Sudah tidak ada waktu lagi!!!".
"Ngapain ke toko plastik, sayang????". Suara Vio membuat langkah Andi terhenti.
"Astaga!!!!". Andi malah memukul dahinya sendiri.
"Kita ke apotek depan!!!". Kepintaran Andi mulai jalan kembali.
Sesampainya di apotek yang mereka tuju,
"Saya ingin pencegah kehamilan, Kak!!". Andi mengajukan permintaannya pada seorang apoteker.
"Pra berhubungan atau Pasca berhubungan, Kak???". Sahut apoteker itu dengan ramah.
"Pasca berhubungan, Kak!!!".
"Berapa jam bila di hitung dari sekarang, Kak???".
"Saya tidak tahu. Kata teman saya, belum lama. Paling satu jam atau dua jam dari sekarang!!!. Aduh berapa ya???. Dua jam lah". Jawab Andi sekenanya.
"Baik, saya akan ambilkan. Mohon menunggu!!!". Apoteker itu berlalu menuju ruang penyimpanan obat.
Beberapa saat kemudian,
"Ini kak, mohon segera langsung di konsumsi!!. Harganya 50 ribu!!". Apoteker itu menyerahkan sebuah plastik klip berisi satu butir obat kepada Andi.
"Terimakasih!!". Andi lalu bergegas menuju mobilnya tanpa melihat ke arah lain.
_________________
__ADS_1
Dengan langkah tergesa gesa, Andi menuju unit Reyhan yang terletak satu lantai di bawah Penthouse nya.
Tanpa mengetuk pintu, Andi langsung membuka pintu unit itu. Pandangannya langsung tertuju pada Rani yang sedang menangis di pelukan Reyhan.
"Maharani!!!". Andika tidak bisa menahan lagi emosinya.
"Kakak, maafkan aku!!!". Rani menangis sesenggukan.
"Sayang, sabar jangan emosi. Ada aku di sini!!!". Vio memeluk Andi dari belakang.
Andi yang hampir saja kehilangan kendalinya, Kini mengatur nafasnya agar sedikit tenang.
"Maharani, Kakak tanya sama kamu. Kapan hai d kamu selesai???". Tanya Andi pelan.
"Satu minggu yang lalu. Di hari Sabtu!!". Rani menangis sejadi jadinya.
"Ini adalah hari ke empat belas???. Berarti peluangnya 99 persen!!!". Andi mendekat ke arah Rani.
"Maafkan aku, Kak. Aku takut!!!". Rani beralih memeluk Andi dengan erat.
"Maharani, aku punya solusinya!!". Andi mengambil sesuatu dari saku celananya.
"Obat apa ini, Kak???". Rani menatap Andi meminta jawaban.
"Ini adalah pil kontrasepsi pasca berhubungan. Aku membelinya di apotek. Jadi aman!!!". Andi menyerahkan Obat itu pada Rani.
Rani menerima obat itu lalu menelannya dengan bantuan segelas air mineral yang di sodorkan oleh Reyhan kepadanya.
"Untuk jaga jaga, sekitar dua minggu lagi kamu harus mengeceknya menggunakan alat pendeteksi kehamilan. Obat itu hanya pencegah, namun bila tidak dapat di cegah ya itu urusan kalian!!!". Ucap Andi kemudian.
"Aku minta maaf Kak. Ini salahku, bukan salah Kak Reyhan. Mohon jangan hakimi Kak Rey lagi!!!". Rani masih saja menangis.
"Tidak Dek, cup cup jangan menangis. Dan jangan di ulangi lagi. Dan Rey, kamu harus tetap bertanggung jawab. Hakmu sudah kamu ambil. Sekarang kewajibanmu adalah menjaga Adikku dan jangan mengulangi lagi sampai kalian menikah. Atau kepalamu akan aku pisahkan dari tubuhmu!!!". Andi menatap Rey dengan tajam.
"Iy ya Bos!!!". Reyhan menunduk takut ke arah Andi.
___________________
Mereka pergi, namun tidak ke Penthouse Andi melainkan langsung menuju Mansion Dev.
"Dari mana saja kalian, Nak???". Tanya Rima yang sedang duduk santai di ruang keluarga.
"Nenek!!". Andi menyapa Rima lalu mencium tangan neneknya itu dan di ikuti oleh Vio di belakangnya.
"Kami dari rumah sakit menjenguk Shasha!!". Andi menjelaskan.
"Ohh.. Yasudah, kalian pasti capek. Bersih bersih diri sana!!!. Lalu kita makan malam sama sama!!!". Kata Rima sambil tersenyum.
Andi dan Vio akhirnya naik ke lantai atas untuk menuju kamar Andi.
"Yang mandi kamu dulu saja, Sayang. Aku akan menunggumu di sini!!!". Andi merebahkan dirinya di kasur empuk itu.
"Iya!!!". Vio bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Beberapa saat kemudian, Vio keluar dengan mengenakan kaos putih santai yang di padukan dengan rok pendek di bawah lutut bermotif bunga dandelion.
"Aku sudah, sekarang giliranmu Sayang!!". Vio menghampiri Andi yang sedang memejamkan matanya.
"Sayang!!!". Vio membangunkan Andi yang ternyata sampai tertidur saat menunggunya melakukan ritual mandi.
"Eh iya!!!". Andi bergegas menuju kamar mandi.
__ADS_1
_________________
Setelah mereka membersihkan diri, bergegaslah mereka untuk turun kebawah menuju ruang makan.
"Duduk dulu kalian, Nenek akan memanggil Ayah dan Kakekmu dulu!!!". Kata Rima sambil beranjak dari duduknya.
"Iya, Nek!!!". Jawab Viola, sedangkan Andi hanya diam.
Tidak sampai sepuluh menit.
Keluarga itu sudah berkumpul ruang makan.
"Gimana keadaan Shasha, Nak???". Tanya Dev kepada Viola.
"Puji Tuhan. Sudah baikan, Paman!!". Jawab Vio.
"Tadi ayahmu menghubungiku, bahwa seharian ini kamu dan Andika bersamanya di Rumah Sakit". Dev menatap teduh ke arah Viola.
"Sudahlah, kita makan malam dulu setelah itu kita ngobrol lagi di ruang keluarga!!!". Rima menyela.
"Andika, pimpin doa!!!". Kakek memberikan perintah, setelah semua orang di ruangan itu telah mengisi piring kosong mereka dengan nasi dan lauk pauk serta sayur.
"Baik. Sebelum kita menikmati berkat Tuhan pada malam hari ini, Mari kita menundukan kepala sejenak dan bersatu di dalam doa...
Puji Syukur.......
"Selamat makan!!!". Kakek mempersilahkan kepada mereka untuk menikmati sajian makan malam.
Mereka menikmati makanannya dengan tenang tanpa ada keributan, hingga suara ponsel milik Dev menyita perhatian mereka.
"Sandy???". Dev membaca nama penelpon itu.
"Maaf, Ayah. Sandy tumben sekali menghubungiku. Ijinkan aku mengangkat telpon ini sebentar!!!". Dev meminta ijin pada Rendra.
"Angkat di sini saja, tidak perlu menyingkir!!!". Rendra bersuara saat Dev hendak beranjak dari duduknya.
"Baik Ayah!!!". Dev akhirnya duduk kembali lalu menggeser layar bergambar telepon berwarna hijau itu ke atas.
"Halo, San???". Dev mengangkat telepon itu.
"Halo, Kak???. Apakah putriku ada di mansionmu???". Tanya Sandy tanpa basa basi.
"Maharani???". Dev menjawab.
"Iya Kakak, siapa lagi putriku bila bukan Maharani???". Suara Sandy terdengar kesal.
"Tadi pagi dia ikut sarapan di sini. Lalu setelah itu pergi dan tidak kembali!!!". Jawab Dev jujur.
"Apa mungkin ke Apartemen Andika?????". Sandy semakin kebingungan di seberang sana.
"Andika ada disini, San!!!". Jawab Dev sambil melihat ke arah Andi yang menikmati makan malamnya.
"Tanyakan ke Andika, apakah dia mengetahui dimana adiknya sekarang!!!".
"Sebentar!!!". Jawab Dev.
"Nak, apa kamu tahu dimana Adikmu????". Dev bertanya pada Andi.
"Di Apartemenku. Katanya mau menginap di sana sambil mengotak atik laptopku!!!". Jawab Andi datar, hingga tidak menampakkan sebuah kebohongan yang telah Ia ciptakan.
"Dia ada di Apartemen Andika. Sedang mengotak atik laptop Andika. Katanya mau menginap di sana. Kamu tenang saja!!!". Dev menyampaikannya pada Sandy.
__ADS_1
"Huhh.. Dasar anak itu. Yasudah. Biarkan saja!!!". Sandy terdengar menghela nafas lega.
"Sudah, aku mau makan dulu!!!". Dev lalu mematikan sambungan telepon itu secara sepihak.