
Setelah beberapa hari berlalu, Yoga menepati janjinya dengan membawa orang tuanya untuk melamar gadis pujaan hatinya.
Tuan Hendra beserta sang Istri, datang ke kediaman keluarga Hermawan untuk meminang salah satu putrinya.
"Mohon maaf, Tuan Hermawan yang saya hormati!!. Maksud dan tujuan saya beserta Istri dan putra bungsu saya datang ke kediaman anda adalah, ingin meminang salah satu putri Tuan yang bernama nona Shaphira untuk putra bungsu saya Yoga". Hendra mengutarakan maksud kedatangannya.
"Tuan Hendra, saya selaku orang tua. Sangat menghormati kedatangan Anda sekeluarga. Namun, alangkah baiknya biarkan Putri saya sendiri yang memberikan keputusannya!!". Jawab Awan sedikit terkejut dengan maksud Hendra, sebab semua itu mendadak tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu sebelumnya.
"Bu, cepat panggil Shasha untuk kemari. Katakan bahwa Nak Yoga beserta Orangtuanya ingin bertemu!!". Awan berkata dengan lembut kepada Istrinya.
"Baik, Ayah!!". Jawab Ana.
"Tuan Hendra dan Nyonya Hendra serta Nak Yoga, saya akan memanggilkan putri saya terlebih dahulu, sebelum kami bisa memberikan jawabannya". Ana dengan sopan pamit untuk memanggil Shasha.
"Baik, Nyonya Awan. Silakan!!". Hendra menanggapi.
Berselang beberapa menit kemudian, Ana datang sambil menggandeng tangan lembut putri sulungnya.
__ADS_1
"Duduk sini, Sayang!!. Di samping ayah!!". Awan menyambut kedatangan putrinya itu.
"Baik, Ayah!!!". Jawab Shasha, lalu duduk di samping Awan kemudian di ikuti oleh Ana.
"Sayang, Maksud kedatangan Tuan Hendra adalah ingin meminang kamu untuk Nak Yoga, apakah kamu mau menerima Nak Yoga menjadi suamimu??". Awan menatap wajah cantik putrinya yang sedang duduk di sampingnya.
"Iya!!". Jawab Shasha dengan yakin walaupun dengan sedikit malu malu.
"Tuan Hendra, Anda sudah mendengar sendiri jawaban dari putri saya!!". Kata Awan.
"Tuan Awan, bagaimana bila kita melakukan prosesi pertunangan mereka sebelum mereka memasuki bangku perkuliahan???". Nyonya Hendra angkat bicara.
"Mmm maaf, Ayah. Bila untuk langsung melangkah ke jenjang pernikahan sepertinya aku belum siap. Aku ingin menggapai mimpi mimpiku dulu. Aku ingin menikmati masa mudaku sebelum benar benar terikat. Maaf Ayah, mungkin Yoga juga sependapat denganku". Shasha berkata lembut di samping Ayahnya.
"Bagaimana dengan mu, Nak Yoga??". Awan menatap calon menantunya yang duduk berseberangan dengan putrinya.
"Maaf Tuan, sepertinya Shaphira benar. Saya tidak ingin menghancurkan masa mudanya. Lebih baik kami bertunangan sambil lebih mengenal satu sama lain dulu. Kuliah 4 tahun bukan suatu hal yang lama". Yoga menjawab pertanyaan Awan.
__ADS_1
Semua orang dewasa yang duduk di ruangan itu menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Baiklah baiklah. Bila seperti itu. Acara pertunangan kalian akan kita bicarakan dulu dengan pendeta. Untuk waktunya akan menyesuaikan jadwal pelayanan beliau!!". Hendra memutuskan.
"Bila seperti itu, kalian bersiap dan untuk busana yang akan kalian kenakan, biarkan saya yang mengurusnya!!". Nyonya Hendra bersuara.
"Baik, Bu!".
"Baik, Nyonya!!".
Jawab Yoga dan Shasha bersamaan.
"Kok panggilnya Nyonya sih???, Ibu dong!!!. Kamu kan sebentar lagi juga jadi anak Ibu!!!". Nyonya Hendra berkata sambil tersenyum.
"Iy ya, Ibu!!". Shasha menundukan kepalanya.
"Bagus, sayang!!. Panggil Ibu, Ibu Mira!!". Mira menatap putri sulung Awan sambil tersenyum.
__ADS_1
Pembicaraan mereka cukup sampai di situ, dan memang karena Hendra dan Awan memang sudah terjalin hubungan kerja, jadi mereka sangat akrab. Kini malah semakin akrab sebab putra putrinya menjalin hubungan dan sebentar lagi akan bertunangan.
_______________