Viola

Viola
50


__ADS_3

Andika menarik Vio untuk menuju ke kamar pribadinya yang ada di mansion ini. Menaiki anak tangga demi anak tangga hanya untuk sampai di sebuah kamar yang jauh berbeda dari penthouse yang biasa Andi gunakan untuk berselancar ke alam mimpi.


"Sayang, ini adalah kamarku. Aku akan tidur di kamar sebelah ini. Bila kamu membutuhkan apapun, hubungi aku. Jangan hanya berteriak. Sebab seluruh ruangan di rumah ini kedap suara!!!". Andi hendak pergi menginggalkan Vio sendirian.


" Tunggu, tunggu dulu!!!". Vio meraih tangan Andi.


"Iya sayang, ada apa???". Andi kemudian masuk ke kamar itu.


"Aku belum ingin tidur. Temani aku dulu ya!!!. Ku mohon!!!". Vio memasang wajah memelasnya.


"Baiklah. Kamu takut, hemm???". Andi manatap jahil ke arah Vio.


"Bukan seperti itu, aku merasa hmm eeehh kayak asing saja!!!". Vio menundukan kepalanya.


"Ya sudah, ganti dulu pakaianmu. Di pojok sana ada ruang ganti. Aku akan menemanimu dan menunggumu di sini!!!". Andi lalu merebahkan dirinya di ranjang itu.


" Jangan kemana mana, ya sayang!!!". Vio mewanti wanti Andi.


"Iya, sayangku!!". Andi langsung merebahkan dirinya di kasur empuk miliknya yang memang jarang Ia gunakan itu.


Tidak sampai sepuluh menit, Vio sudah keluar dengan piyama warna putih bergambar kartun yang sempat Andi belikan untuknya beberapa puluh menit yang lalu.


"Sayang, kamu memakai pakaian apapun selalu terlihat cantik!!!". Andi mengagumi kecantikan kekasihnya.


"Terima kasih!!". Vio hanya menundukan kepalanya.


"Sayang????". Andi mendekati Vio.


"Iyy ya??". Vio mengangkat kepalanya lalu melihat ke arah Andi.


"Aku akan keluar dulu, selamat malam. Bila membutuhkan sesuatu, hubungi aku!!".


" Sebentar lagi!!!". Vio malah memeluk Andi sangat erat.


"Kamu kenapa???". Andi merasakan raut wajah ketakutan di wajah Vio.


" Aku takut sendirian di kamar sebesar ini!!!".


"Kenapa takut???, aku ada di kamar samping kamar ini".


"Kamar ini terlalu luas, dan aku juga merasa sedikit horor!!".


"Lalu???".


"Temani aku di sini, aku percaya bahwa kamu tidak akan berani macam macam!!!".


"Satu macam aku berani loh!!!". Andi menyeringai.


" Isshhh!!!". Vio mencubit pinggang Andi.


"Sayang, kok kamu sekarang suka main cubit cubitan sih???". Andi melepaskan pelukan Vio.


"Bukan gitu!!. Kamu itu menyebalkan!!".


"Masa???". Andi mulai menjahili Viola lagi.


"Isshhh!!!". Vio malah menjauh dan duduk di pojok tempat tidur.


"Sebentar, aku ganti pakaian dulu!!!". Andi bergegas pergi menuju ruang gantinya.


Vio mengedarkan pandangannya mengabsen setiap inci dari kamar itu. Luas, bersih, rapi, dan asing tentunya. Namun, justru pandangannya jatuh pada nakas di samping tempat tidurnya. Dua botol minuman keras berbentuk pipih dengan logo dagang seperti dari luar negeri masih tersegel rapi.


"Apa ini???". Vio mengangkat salah satu botol itu sambil membaca tulisanya.


" 35 persen alkohol???". Vio bergumam sendirian.


"Apakah setiap laki laki akan menyetok minuman keras di kamarnya???".


" Sayang???". Andi kembali dengan satu stel piyama berwarna kopi susu.


"Heyy!!!". Vio gelagapan seketika dengan refleks, Ia menyembunyikan sesuatu yang sempat Ia amati itu ke belakang punggunggnya.

__ADS_1


" Apa yang kamu sembunyikan, sayang???". Andi mencurigai gelagat aneh kekasihnya itu.


"Maaf, aku hanya melihat lihat!!!". Vio mengeluarkan sesuatu yang sempat Ia sembunyikan itu.


" Ohhh, oke!!". Andi menjawab santai saat salah satu minuman kesukaannya berada di genggaman Vio.


"Hmm ini minuman berakohol???". Vio mengembalikan botol itu.


"Iya!!". Jawab Andi singkat sambil naik ke atas ranjangnya.


"Kamu bukan pemabuk, tapi kenapa di setiap kamarmu, bukan di sini atau di apartemenmu. Minuman berakohol pasti ada di atas nakasmu????". Vio memberanikan bertanya.


"Iya memang aku bukan pemabuk!!". Andi menjawab singkat.


" Aduhhh duhhh!!!". Vio meremas pelan perutnya.


"Sayang???". Andi langsung mendekati Vio yang masih berdiri di samping nakasnya.


Vio meringis kesakitan.


"Sayang, kamu kenapa???". Andi semakin panik.


"Perut aku sakit banget, tenggorokanku juga!!!". Wajah Vio pucat seketika.


" Sebentar!!!". Andi bergegas keluar dari kamar itu untuk mencari bantuan.


.


.


.


.


.


" Sayang, kamu kenapa???". Andi bertambah panik saat melihat kekasihnya pingsan dalam keadaan lemas di lantai kamar itu.


"Angkat dia ke atas ranjang!!!". Perintah Dev kemudian.


" Iya, Ayah!!!". Andi membopong Vio lalu meletakannya di atas ranjang kamar itu.


" Telepon dokter, sekarang!!!". Dev memberikan perintah pada putranya.


"Iya, Ayah!!!". Andi lalu menyambar ponselnya dan langsung menghubungi dokter pribadi keluarganya.


.


.


.


.


.


" Nak, apa yang terjadi???". Dev sungguh khawatir melihat kondisi putri dari sahabatnya itu.


"Tadi dia menyebutkan bahwa perut dan tenggorokannya sakit makanya aku langsung ke ruangan Ayah!!!".


"Sudah kamu hubungi belum dokter Eva????".


"Sudah, Ayah. Dia langsung berangkat ke sini!!!". Andi menjelaskan.


"Yasudah, kita tunggu di luar saja. Sambil menunggu Dokter Eva datang!!". Dev menggiring putranya untuk keluar dari kamar itu.


.


.


.

__ADS_1


.


"Dokter, silahkan periksa Viola!!!". Teriak Andi saat tahu bahwa Dokter Eva telah sampai di kediamannya.


"Siapa Viola???". Dokter Eva sedikit curiga.


"Jangan banyak bertanya, atau aku akan mencari dokter lain!!!". Andi malah mengancam dokter itu.


" Maafkan aku yang telah lancang, Tuan!!!!". Dokter cantik itu lalu masuk ke dalam kamar Andi dan langsung memeriksa Vio yang terbaring lemah dengan wajah pucat serta bibir bengkak dan kulit kemerahan itu.


.


.


.


.


.


"Menurut gajalanya, Vio mengalami reaksi alergi, Tuan. Saya sudah menyuntikan obat anti alerginya. Dan ini adalah resep obatnya!!!". Eva menghampiri Andi yang sedang menunggu di balik pintu sambil menyerahkan resep obat yang harus ia tebus.


"Alergi apa???".


"Apa yang dia makan kurang dari setengah jam yang lalu???".


"Tidak makan apapun. Hanya minum sedikit jus jeruk". Jawab Andi.


"Alergi citrus!!!".


"Dia sangat menyukai aroma citrus, Dokter!!!".


"Menyukai aromanya, namun alergi saat mengonsumsinya. Itu wajar bahkan sangat wajar!!". Eva menjawab singkat.


"Sudah cukup. Aku akan langsung mengirimkan uang ke rekeningmu!!!".


"Terimakasih, Tuan. Saya permisi!!!". Eva meninggalkan mansion itu.


___________________


"Dia kenapa, Nak???". Dev mendekati Andi yang sedang membelai wajah Vio yang sudah nampak jauh lebih baik.


"Alergi jeruk!!". Jawab Andi singkat.


"Yasudah, temani dia disini. Tapi ingat jangan macam macam. Atau akses dan fasilitas serta rekeningmu akan ayah sita!!!". Dev mengancam Andi lalu meninggalkan kamar itu.


"Satu macam saja nggak papa kan, Ayah!!!". Suara lantang Andi membuat langkah Dev berhenti.


"Awas saja kamu!!!. Aku tidak main main dengan ucapanku!!!". Dev menatap tajam ke arah Andi.


" Iya iya!!!". Andi lalu menutup pintu kamar itu.


"Sayang, kenapa kita memiliki kesamaan lagi???". Andi mengecup kening Vio.


.


" Sayang, kamu tahu???. Aku juga alergi bila mengonsumsi buah jeruk!!!". Andi mengelus puncak kepala Vio.


.


"Walau aku juga menyukai aroma Citrus yang menyegarkan namun mengonsumsi Citrus akan sangat menyiksaku!!!".


.


"Maaf ya, aku tidur di sampingmu. Tenang saja, aku tidak akan pernah berbuat dosa padamu!!!". Andi lalu memposisikan dirinya di samping Vio dan guling sebagai pembatasnya.


"Selamat malam kekasihku!!!". Andi mencium Kening Vio dengan lembut lalu ikut berselancar ke alam mimpi.


__________________


...****************...

__ADS_1


__ADS_2