Viola

Viola
46


__ADS_3

Jarum pendek jam dinding yang tergantung di pojok ruang kelas itu telah menunjuk ke arah angka 2, itu artinya aktivitas di sekolah itu resmi di hentikan. Andika secara terangan menunjukan hubungannya dengan Vio.


"Sayang!!!". Andi memanggil Vio yang baru saja keluar dari ruang kelasnya.


"Apaan sih, Kak???. Malu tauk!!". Vio mengomel saat Andi menghampirinya dan memanggilnya dengan sebutan sayang tapi tidak tahu tempat.


"Ciie yang sayang sayangan lagi!!!". Rani menghampiri sepasang mantan kekasih yang baru kurang lebih 3 jam yang lalu kembali menjadi sepasang kekasih itu.


" Apaan sih, Ran!!!!!!". Vio menundukkan wajahnya.


"Kak Rey mana, Kak???". Tanya Rani pada Andi yang berdiri di depannya.


"Di atap sama yang lain!!!". Andi menunjuk ke arah atas.


" Ayok Vi, kesana!!!!, Kamu belum pernah ke atap kan???". Rani menarik Vio tanpa permisi.


"Maharaniiii!!!". Teriak Andi.


" Apa?????". Jawab Rani singkat.


Andi sangat kesal dibuatnya. Niatnya ingin langsung mengantarkan Vio pulang eh malah Rani menarik Vio ke atas gedung.


"Aku hanya ingin mengajak sahabatku untuk melihat pemandangan yang biasa kekasihnya lihat. Mending Kakak ke Kantin dulu beli minuman sama camilan!!!". Rani menghentikan langkahnya dan menengok ke arah Andi.


" Huuuhhh yasudah. Terserah!!!!". Akhirnya Andi mengalah juga.


__________________


Sesampainya di Rooftop gedung 1 yang biasa di gunakan oleh Andi dan teman temannya berkumpul, Vio terkejut melihat Rey dan keempat temannya sedang di selimuti oleh kepulan asap rokok yang berasal dari mulut dan hidung mereka dan tunggu, satu krat minuman keras bahkan beberapa sudah terbuka ada bersama mereka.


"Kak Rey!!!". Rani menghampiri kekasihnya yang sedang menikmati sebatang rokok itu.


" Apa sayang???". Rey mematikan sebatang rokok yang baru di sesapnya itu lalu menghampiri gadis cantik yang menghampirinya itu.


"Hahh??". Rani tidak percaya apa yang Ia dengar tadi.


" Kamu kenapa sayang???? Hemm???". Rey menyentuh dagu Rani dengan lembut.


"Kamu minum alkohol???". Rani mencium aroma alkohol yang sangat menyengat dari mulut Rey.


" Sedikit. Tenang saja, aku masih seratus persen sadar. Hanya satu botol tidak akan membuatku teler, Sayang!!!". Rey menyakinkan.


"Baiklah. Terserah kamu saja!!!". Rani menghela nafas dengan kasar.


"Bolehkah aku minum lagi, sayang???". Rey berkata tepat di telinga Rani.


" Terserah. Aku akan pergi saja!!!". Rani hendak melangkah namun tangan Reyhan menahannya.


"Baiklah.. tidak jadi. Tetaplah di sini!!!".


"Hei... bukankah kamu Vio???". Jojo mendekati Vio.


" Iy yaa!!!". Vio hanya menganggukkan kepalanya.


"Vio, hmm maukah kamu jadi kekasihku???. Jojo melangkah mendekat lalu mengungkapkan isi hatinya.


"Nggak!!!". Suara Andi yang baru saja muncul dengan membawa sekantong plastik penuh berisi camilan dan beberapa minuman kaleng.


" Itu kan mantan pacarmu, An. Ayolah berikan saja padaku!!!". Jojo mendekati Andi.


"Siapa bilang???". Andi menatap tajam ke arah Jojo lalu mendekati Vio dan menyambar bibir Vio dihadapan mereka.


Vio hanya kaget setelah mendapat serangan mendadak dari Andi.


"Kak Andi, Munafik!!!!". Teriak Rani terdengar jelas di telinga Andi, yang membuatnya melepaskan ciumannya pada Vio.

__ADS_1


"Apa???". Andi menatap tajam ke arah Rani. Sedangkan Viola terlihat salah tingkah.


"Maaf, An. Aku nggak tahu bahwa kamu dan Vio balikan!!!". Jojo mendekati Andi dan dengan tulus meminta maaf.


"Iya!!". Jawab Andi dengan singkat.


"Sayang ayo bergabung dengan mereka!!!". Andi menggandeng tangan Vio lalu mendekati yang lain.


"Ini An, ambil!!!". Dio menyodorkan sebotol minuman keras yang masih tersegel ke arah Andi.


"Aku nggak minum!!!". Jawab Andi lalu mengembalikan minuman itu lalu mengambil minuman kaleng yang di bawanya.


"Hahahhaahaha karena ada Vio???". Rio menatap geli ke arah Andi.


"Enggak!!!". Jawab Andi singkat lalu membasahi kerongkongannya dengan sekaleng minuman dingin rasa buah yang baru di bukanya itu.


"Jangan karena ada aku, sayang. Aku tidak akan marah kok!!!". Vio berkata dengan lembut di telinga Andi.


"Kamu ingin lihat aku mabuk lagi???. Hemmmm?????, kita ke apartemenku saja setelah ini!!!". Andi menatap Vio dengan seringaian di wajahnya dan sukses membuat Vio bergidik ngeri.


Andi lalu mengambil sebungkus rokok berwarna putih yang masih tersegel dari saku celananya.


" Mau???". Andi menawarkan rokok itu pada teman temannya setelah Ia mengambil satu batang.


Karena kepulan asap yang berasal dari mulut Andi, Vio sedikit merasa tidak nyaman. Kemudian Ia berdiri menuju pagar atas gedung itu untuk melihat pemandangan kota di sore hari.


"Vi???". Rani mendekati Vio.


" Iya??". Jawab Vio singkat tanpa mengalihkan perhatiannya.


"Kamu kenapa???". Tanya Rani kemudian.


" Tidak, aku hanya ingin melihat pemandangan kota yang indah dari atas sini!!!". Vio tersenyum.


Ponsel Vio yang sedari tadi berada di genggamannya, bergetar. Panggilan dengan nama Ayah tertulis jelas di layar ponselnya.


" Sayang, dimana kamu???". Suara Awan terdengar lembut.


"Maaf, Ayah!!!. Aku masih berada di sekolah bersama Kak Andi!!". Jawab Vio dengan jujur.


" Baik, dimana dia sekarang. Ayah mau bicara!!!".


"Iya, Ayah sebentar!!". Vio mendekati Andi lalu menyerahkan ponselnya yang masih menyala kepada Andi.


"Iya, Paman???".


" Nak, kamu bersama putriku???".


"Iya, Paman. Dia ada bersamaku. Maaf, tidak aku menghubungimu!!!". Jawab Andi dengan lancar.


" Baik, aku titip Vio ya. Aku dan Ibunya sedang menunggu operasi Shasha. Diperkirakan operasinya selesai malam ini!!".


"Iya, Paman. Nanti aku akan antarkan Vio pulang secepatnya!!!".


" Bawa dia pulang bersamamu. Karena kebetulan Mbok Minah dan anaknya pulang kampung mendadak dan diantarkan oleh sopir. Di rumah hanya ada satpam saat ini. Kasihan dia bila hanya sendirian!!!".


"Tapi, Paman!!!". Andi ragu.


" Paman percaya padamu, Nak. Bila terjadi sesuatu aku tinggal menikahkan kalian!!!".


"Tidak paman. Tenang saja!!!".


" Jaga dia ya dan antarkan pulang ke rumah besok pagi, ya!!!!".


"Iya, Paman. Tentu!!". Jawab Andi.

__ADS_1


" Yasudah. Paman tutup ya, Nak. Nanti hubungi Paman bila butuh sesuatu!!!".


"Iya, Paman!!!". Andi kemudian mengembalikan ponsel itu kepada Vio.


.....


.....


"Apa yang Ayah katakan???". Vio melihat wajah Andi berseri seri setelah mengangkat telepon dari Awan.


" Tidak, hanya mengabarkan hari ini Ayah dan Ibumu masih ada di Rumah Sakit menunggu Shasha yang sedang di operasi". Jawab Andi enteng.


"Shasha???". Yoga terkejut mendengar Shasha di rawat di Rumah Sakit.


"Shasha kakak tiri Vio!!". Jawab Rey singkat.


" Di rawat di Rumah Sakit mana memangnya???". Tanya Yoga dengan sedikit panik.


"Rumah Sakit Sehat". Jawab Reyhan kembali.


" Kenapa, Yog???". Jojo menyenggol Yoga yang duduk di sampingnya.


"Enggak!!". Jawab Yoga singkat.


" Rey, Ayo balik!!!". Andi bangkit dari duduknya sambil menggandeng tangan Vio.


"Iya, Boss!!!". Rey kemudian bangkit sambil menggandeng Rani yang ada di sisinya.


"Kalian, jangan lupa bereskan itu semua. Bila sisa, simpan di tempat biasa!!!". Andi memberikan perintah.


" Siap bro!!!. Thanks ya!!!!". Jawab mereka berempat serempak. Andi hanya menanggapi dengan mengacungkan kedua ibu jarinya.


"Kakak yang beli???". Vio bertanya pada Andi.


" Iyalah, siapa lagi yang beli kalau bukan si Boss???". Rey menyahut.


"Jadi???". Vio terkejut.


"Iya aku yang beli!!". Andi menjawab jujur.


" Kakak sering minum di tempat ini juga???".


"Paling cuma sebotol, tidak lebih!!!. Sebotol tidak akan membuatku mabuk, sayang. Tenang saja!!!". Jawab Andi enteng.


Rani langsung pulang, sedangkan Vio, Rey dan Andi sekarang menuju ke arah Apartemen Andi. Selama perjalanan, mereka hanya diam. Rey yang biasanya cerewet sekarang hanya fokus menyetir.


Sesampainya di sana, Andi langsung mengajak Rey dan Vio untuk masuk ke sebuah Unit mewah namun bukan semewah penthouse milik Andi.


"Rey, Ini adalah surat kepemilikan beserta kartu akses unit ini. Ini milikmu, sesuai janjiku!!!". Andi menyerahkan map yang ada di meja ruangan itu dan Kartu akses dari tangannya.


" Ap apa????". Rey tidak percaya bahwa benar benar unit ini menjadi miliknya.


"Ini sebagai upah atas kerja kerasmu dalam membantu aku melindungi Vio dan mengungkap kejahatan Shasha!!!".


" Terimakasih, Bosss!!!". Rey berlutut di kaki Andi.


"Sudah, bangun!!!". Andi membantu Rey untuk bangkit berdiri.


"Terimakasih, Rey. Dan lagi, mulai hari ini kamu bisa pindah dan menempati unit ini, namun kartu akses unit ini aku memegang satu!!!". Andi menunjukan duplikat kartu akses unit Rey dari dalam sakunya.


" Iyy yaa, Boss!!!". Rey terharu atas keberuntungan yang Ia dapatkan hari ini.


"Ayo, sayang ikut aku!!!". Andi menggandeng tangan Vio lalu bergegas pergi ke Penthouse nya.


___________________

__ADS_1


...****************...


__ADS_2