
Ujian kelulusan sudah selesai Andika lakukan. Tinggal menunggu saja hasil akhirnya. Sesuai kesepakatan, mereka pergi berlibur untuk menyegarkan otak yang terlalu lelah untuk berfikir dalam mengikuti ujian. Berhubung hari Sabtu dan Minggu libur, mereka berangkat di hari Jumat sore untuk menuju salah satu daerah puncak di kota J. Tidak membutuhkan waktu yang lama, cukup dua jam perjalanan mereka mengendarai tiga kendaraan roda empat.
Sesampainya disana, berhubung di daerah ini menjunjung tinggi norma yang ada, satu kamar tidak boleh di isi oleh mereka yang bukan berstatus suami istri. Jadilah hanya Rey dan Rani saja yang bisa masuk dalam satu kamar. Sedangkan yang lain, tidak.
"Dek, kamu pasti sedih ya nggak bisa sekamar dengan Andika???". Shasha yang memang jatahnya berada dalam satu kamar dengan adiknya langsung berbaring di ranjang penginapan itu.
"Enggak juga sih, Kak. Biasa aja!!!". Jawab Vio sambil merebahkan diri di samping kakaknya.
"Memangnya, apa aja yang sudah kalian lakukan, kalian sering loh tidur bersama!!". Shasha meluapkan rasa penasarannya.
"Cuma tidur. Nggak ngapa ngapain!!!". Jawab Vio dengan sedikit salah tingkah.
"Yakin??". Shasha mencari sebuah kebohongan dari mata Vio.
Vio menganggukan kepalanya.
"Gila gila.. Kamu beruntung banget bisa pacaran sama Andika. Aku yang dulu naksir berat sama dia, nggak di lirik sama sekali".
"Kakak udah sama kak Yoga ya, jangan gitu!!!". Ada sedikit kecemburuan di hati Vio, saat mengingat bagaimana Shasha tergila gila pada Andika.
__ADS_1
"Iya iya, aku juga inget kalik, Dek!!!". Shasha melemparkan sebuah bantal ke wajah Vio.
"Apaan sih, Kak???". Vio membalas lemparan Shasha, dan terjadilah perang bantal di antara mereka.
Sebuah dering ponsel menghentikan tawa mereka.
"Halo, Sayang???". Vio menyapa kekasihnya.
"Cepat kemari dan ajak Shasha. Kita mau buat api unggun!!!". Suara Andika terdengar.
"Dimana???". Tanya Vio sebab Andi tidak memberi tahu pasti tempatnya.
"Di taman belakang penginapan ini!!!". Andika lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
Blussshh.
Pipi Vio malah merona karena malu.
"Ciee pipinya merah!!!". Ledek Shasha lagi.
__ADS_1
"Apaan sih, Kak???". Vio menutup wajahnya karena benar benar merasa malu.
"Udah deh, ayo kita keluar. Udah di tunggu sama mereka!!!".
Akhirnya mereka menuju ke taman belakang dan benar, semua orang sudah menunggu dua kakak beradik itu disana.
Api unggun yang di kelilingi oleh Andika dan para sahabatnya dan juga ada Rani disana.
Tiba tiba Yoga berdiri dari antara mereka lalu mendekati Shasha dan Vio yang baru sampai.
"Shaphira, aku sungguh mencintaimu. Bersediakah kamu menjadi istriku setelah aku selesai dengan kuliahku kelak???". Yoga berjongkok di hadapan Shasha sembari mengeluarkan sebuah cincin yang terbuat dari emas putih.
Sorak sorai terdengar dari mereka yang menyaksikan. Kecuali Andika, yang memang bukan tipe orang yang banyak bicara.
"Sha???". Yoga menatap Shasha yang sedang mematung di tempat itu.
"I ya!!". Jawab Shasha malu malu.
Yoga sangat bahagia, lalu menyematkan cincin itu di jari manis kekasihnya kemudian berdiri dan memeluk Shasha dengan erat.
__ADS_1
"Aku tunggu kamu datang menemui ayah dan ibuku, untuk melamarku secara resmi!!!". Shasha berkata dengan lancar.
"Tentu, setelah pulang dari tempat ini aku akan mengajak orang tuaku untuk melamarmu dengan resmi!!!". Jawab Yoga dengan senangnya.